
"Ngomongin orang di belakang," lanjut Devan.
"Apa sih? Emang bener kok," ujar Cia lalu melangkah keluar dari kamar Fatima sambil membawa piring dan gelas bekas makannya.
Devan menoleh menatap Fatima yang nampak menggeleng dengan senyum penuh keibuannya.
"Loh bohong itu! Mama jangan percaya!" bantah Devan lalu mengikuti langkah Cia.
Langkah Cia tertahan ketika dengan tatapan sekilas cia menatap kertas di tangan Devan.
"Itu tugas kelompok aku kan?" Tunjuk Cia.
Devan menunduk lalu menatap keras yang telah ia gulung dan kini berada di gengamannya.
"Iya," jawab Devan singkat.
"Yeeee!!! Wah, lo baik banget sama gue," ujar Cia lalu melangkah maju mendekati Devan.
Cia yang masih tersenyum itu kini mulai mengerakkan tangannya berniat untuk meraih kertas itu namun, dengan cepat Devan menghempas tangan Cia.
"Kok gitu sih?" Tatap Cia melotot.
"Piring lo bawa masuk dulu! Terus k*tang sama cel*n* d*l*m lo, lo jemur dulu!" puntah Devan tanpa jeda membuat Cia meghembuskan nafas berat. Lagi dan lagi hal itu yang Devan perintahkan kepadanya. Memangnya apa pentingnya menyuruh seorang gadis menjemur barang pribadinya sendiri.
"Lo mikir apa lagi sih?" tanya Devan menatap Cia yang meliriknya tajam.
"Lo jangan harap bisa dapat kertas gambar ini kalau lo nggak ngelakuin apa yang gue suruh."
Devan melangkah ke arah meja lalu meletakkan gulungan kertas itu ke atas meja.
"Nih gue simpan di sini! Lo jangan pernah nyentuh kertas ini kalau lo belum jemur ku-"
"Hust!!!" potong Cia sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
"Berisik banget sih lo, kayak emak-emak," oceh Cia.
"Ngelawan aja lo terus! Punya anak gini amat sih. Gue kutuk juga lo," oceh Devan.
"Kutuk aja, Cia!" jawab Cia dengan wajah cemberutnya.
"Ngejawab mulu lo."
"Kan Cia punya mulut."
Devan mendecapkan bibirnya. Rasanya beradu mulut dengan bocah ini tak ada akhirnya. Hanya membuatnya lelah dan tak akan menang.
"Emang ini kapang di kumpul?" tanya Devan.
"Jam delapan," jawab Cia lalu melangkah masuk ke dalam ruangan dapur.
Devan mengagguk lalu segera melangkah meraih kunci pagar bengkel yang tergantung di sebuah paku, tempat biasa Devan meletakkannya.
"Cia, gue ke bengkel dulu yah!" teriak Devan lalu melangkah keluar dari rumah.
"Ke mana?!!!" teriak Cia.
"Bengkel!!!" teriak Devan.
"Tunggu!!!" Teriak Cia.
...____***____...
Cia terdiam menatap Adam yang kini terbaring sakit di kasurnya nampaknya ia benar-benar sakit. Wajahnya nampak sangat pucat ditambah lagi kelopak matanya nampak bengkak seperti orang yang telah menangis cukup lama.
Para montir yang berniat untuk mempersiapkan diri untuk bekerja harus tertunda karena mendapat kabar jika Adam sedang sakit dan tak bisa datang untuk bekerja. Sebagai teman kerja yang baik mereka memutuskan untuk menjenguk Adam.
"Ini," ujar Yuang lalu meletakkan sebuah roti ke meja. Ini sebuah tradisi dalam dunia sakit dan menjenguk. Setiap mereka datang menjenguk, maka mereka akan membawa roti.
"Dam!" panggil Jojon membuat Adam menoleh.
"Nanti rotinya bagi dua, yah!"
"Heh porguso! mulut lo, yah dijaga!" Tunjuk Tara dengan suara teriakannya.
"Iya nih si Jojon. Kamu nggak ingat pasal tujuh ayah delapan tentang proses menjenguk para montir," ujar Mamat.
"Tuh dengel tuh!" tambah Yuang.
"Udah berapa hari lo sakit?" tanya Devan setelah sekian lama terdiam membiarkan para montirnya itu mengoceh, membahas tentang masalah roti.
Adam terdiam tak menjawab pertanyaan bosnya itu.
"Sejak kapan lo sakit?" tanya Devan lagi.
"Woy, Adam dijawab dong!" ujar Jojon yang gemas sendiri.
"Bisu kali nih anak!!!" teriak Tara.
"Para montir! Dalam dunia persakitan memang seperti ini. Adam pasti sakit dan sulit untuk menjawab, iya kan Dam?" tanya Mamat dengan suara lembut.
Adam masih terdiam tak menjawab pertanyaan Mamat.
"Woy jawab dong!!!" teriak Mamat yang kini ikut emosi dan berniat untuk memukul Adam.
"Sabar Mat!!!" Tahan Jojon.
"Yuhuuuu!!!" Suara jeritan manja terdengar membuat semua para montir menoleh menatap pintu hingga Baby muncul dengan penampilan ciri khasnya.
Seperti biasa, rok pink sebatas paha, kos kaki ungu bergaris ungu dan kuning sampai ke lututnya, baju seksi yang memperlihatkan pusat dan perut berlemakny serta wajah penuh make-upnya.
"Ada si babi lagi," ujar Tara dengan wajah tak nyamannya.
"Heh!!! Mulut lo, yah! Gue geprek juga you," ancamnya dengan mata melotot.
"Adam, kamyu sakit apha?" desah Baby.
"Heh!!! Mulut lo tuh bau!" Tarik Jojon membuat Baby yang berniat mendekati Adam tertahan.
"Apa sih?" tanya Baby dengan wajahnya yang terlihat marah membuat Jojon menelan ludah seakan tak sanggup menyaksikan betapa menyeramkannya wajah Baby.
"Lo sakit apa, Dam?" tanya Devan.
"Setelah Adam pulang diantar oleh bocah setan ini." Tunjuk Pak Haji sulaiman ke arah Haikal yang nampak bersandar di dinding kamar.
"Gue?" Tunjuk Haikal ke arah wajahnya, heran.
"Yah iyalah kamu. Si Adam langsung nangis terus sholat sambil nangis sampai pagi Ndak tau karena apa," sambung Pak Haji sulaiman.
"Kok saya sih Pak Haji?"
"Emang kamu, Mas Kal!" Tunjuk Adam yang akhirnya angkat bicara.
"Loh kok gue sih?"
Adam menangis lagi sambil sesekali mengucapkan istighfar dan mengusap dadanya .
"Kalau aja Mas Haikal nggak ngajak saya ke pesta itu, mungkin saya nggak akan melihat sesuatu yang-" ucapan Adam terhenti beberapa saat dan bayangan bentuk dada gadis itu terbayang jelas.
Semua para montir kini terdiam seakan begitu tak mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Adam hingga membuatnya melamun seperti orang bodoh.
"Astagfirullah," sambung Adam lalu dengan tiba-tiba suara tangisannya pecah begitu saja, yah, Adam sedang menangis sekarang. Lagi dan lagi ia mengingat dada gadis itu. Adam ingat betul dengan bau dada gadis yang menghantam wajahnya dan membuatnya merasa sangat kotor.
Bagaimana ia tak menangis jika sesuatu yang seharusnya tak berhak untuk ia lihat malah terlihat jelas dan bahkan wajahnya menyentuh benda kenyal itu. Ini sebuah dosa.
"Lo liat apa?" tanya Tara penasaran dengan teriakannya membuat semua para montir terperanjat kaget termasuk Pak Haji Sulaiman yang nampak menyentuh dadanya karena kaget. .
"Wahhh!!! Saya tahu kamu liat apa," ujar Jojon sambil menunjuk Adam membuat para montir menoleh menatap Jojon.
"Liat apa, Jon?" tanya Deon yang sedari tadi hanya diam kini angkat bicara.
"Heh!!! Yang kecil diam!" suruh Mamat membuat Deon melipat bibirnya ke dalam dan mengurungkan niatnya untuk bicara lagi.
"Lo liat yang aneh-aneh yah?" Tunjuk Jojon curiga.
Adam menangis lagi bahkan semakin kencang.
"Loh kok nangis?" tanya Yuang keherangan.
"Yah iyalah nangis, orang si Adam liat t*te," ujar Haikal tanpa dosa.
"Apa?!!!" teriak semoga orang terkejut.
"Astagfirullah ampuni mata hamba yang berdosa ini ya Allah!!!" teriak Adam.