Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 218



"Ayaaaah!!!" panggil Cia lagi.


Tangis Cia kembali pecah saat Devan seakan tak memperdulikannya.


"Ayah!!! Ci...Ci...Cia sayang sa...sa...sa...sama Ayah!!!" jerit Cia.


langkah Devan terhenti ketika teriakan dengan suara isak tangis itu terdengar membuatnya langsung menoleh dan menatap Cia yang kini sudah terisak dengan air mata yang sudah tumpah ruah membasahi kedua pipinya.


Cia yang masih menangis itu dengan cepat menghempas tangan tuan Abraham dengan sangat keras dan begitu sangat tiba-tiba membuat tuan Abraham tak dapat mencegah hempasan itu. Cia segera berlari menuju Devan yang kini terlihat mematung menanti Cia yang kini segera memeluknya cukup erat hingga menangis begitu dalam di pelukan Devan.


Devan yang sedari tadi berusaha menahan tangisnya itu pun pecah begitu saja, membuatnya terisak. Ia gagal bersikap tak peduli.


"Ayah jangan ninggalin Cia, Yah! Cia mohon masa Ayah!" mohon Cia sembari menatap kedua sorot mata Devan yang telah banjir dengan air mata.


Devan tak menjawab, hanya air matanya yang terus mengalir dan kedua telapak tangannya yang memegang pipi Cia yang basah.


"Ayah jangan ninggalin Cia! Ci...Cia nggak bisa kalau nggak ada Ayah."


"Cia janji nggak bakalan marah lagi ka...ka...kalau Ayah nasinya hangus te...terus."


"Cia ma...mau kok makan masakan buatan Ayah."


"Cia janji, Cia bakalan janji bakalan jadi Anak baik."


"Cia nggak pernah nakal kok yah. Cia bakalan berubah, Cia mohon jangan serahin Cia sama Pak Brahmana!"


"Cia janji sama Ayah," mohon Cia.


Bahu Devan terasa terguncang karena tangisan yang begitu menguncang-nya. Ini sungguh berat baginya, melepaskan seorang Anak yang ia besarkan sendiri dengan susah payah dan kini harus ia serahkan.


"Ayah kan sudah Janji sama Cia kalau Cia bakalan sama Ayah terus ta...tapi kenapa Yah? Kenapa sekarang kayak gini? Ayah ngelangggar janji Ayah sama Cia."


"Cia nggak mau di sini, Cia mau sama Ayah."


"Ayah sayang kan sama Cia?" tanya Cia sembari terus menatap wajah Devan yang kini hanya diam membisu.


"Yah! Ayaaah!!!" Guncang Cia di kedua bahu Devan yang tak kunjung bicara sedikit punm


Devan tak menjawab, Devan masih tetap menangis.


"Yah!" panggil Cia.


"Tolong bilang sama mereka kalau Ayah nggak mau nyerahin Cia! Ayo Yah bilang!!!" jerit Cia begitu ketakutan.


Cia memukul dada Devan dengan keras berusaha untuk menyadarkan Devan dari diam nya.


"Ayo Ayah bilang!!!" jerit Cia.


Devan menarik nafas berat lalu segera menatap ke arah tuan Abraham dan Jef.


"Saya minta maaf tuan Abraham," ujar Devan membuat tuan Abraham menghentikan senyumnya lalu diam terheran.


"Kenapa?" tanya tuan Abraham serius.


"Apakah kamu tidak akan memberikan Cia kepada ku?" tanya tuan Abraham.


Devan menggeleng pelan lalu segera menepuk kedua telapak tangannya hingga segerombolan polisi berlari masuk ke dalam rumah.


Tuan Abraham terbelalak dengan apa yang telah ia lihat. Entah dari mana gerombolan polisi itu masuk ke dalam rumahnya.


Salah satu dari gerombolan polisi itu dengan cepat menangkap tuan Abraham dan membaringkannya di permukaan lantai dengan kedua tangannya yang diborgol persis seperti seorang buronan yang telah ditangkap basah.


"Maaf tuan Abraham, Anda dan dan Anak buah anda kami tangkap akan kasus perencanaan tindak kejahatan mengenai kebakaran yang terjadi di bengkel saudara Devan," jelas salah satu polisi itu.


Jef yang mendengar hal itu dengan cepat berlari namun dengan cepat salah satu polisi itu mengarahkan pistol ke arah depan wajah Jef. Jef menelan salivanya menatap takut pistol itu.


"Angkat tangan!!!" teriak salah satu polisi itu.


"Tapi saya-"


"Angkat tangan dan jangan bicara!!!" teriaknya membuat Jef tak mampu melawan dan segera mengangkat kedua tangannya disusul salah satu polisi yang mendorong Jef dan membaringkannya ke lantai.


"Kalian semua salah paham dan saya tidak pernah melakukannya!!!" tepak tuan Abraham.


"Kami punya bukti tuan," ujar polisi itu lagi sambil memperlihatkan sebuah vidio dimana percakapan dengan Jef yang membahas tentang bengkel yang telah terbakar itu.


Kedua mata Devan terbelalak. Entah siapa yang telah berani merekam dirinya saat melakukan hal itu.


"Itu semua bohong!!! Itu sudah direkayasa!!! Ini tidak benar!!!" bantah tuan Abraham.


"Anda bisa menjelaskannya di kantor polisi!"


Rahang tuan Abraham menegang dengan amukan di sorot matanya.


"Dasar bajingan, Siapa yang telah-"


Suara high heels terdengar membuat ucapan tuan Abraham terhenti lalu terdiam menatap seorang wanita yang tak lain adalah Firdha, istrinya sendiri yang kini melangkah masuk ke dalam rumah sambil membawa handphonenya yang memperlihatkan Vidio tentang percakapan rahasia itu.


Tuan abraham menganga, ini tak mungkin terjadi. Ini tak mungkin.


"Aku yang telah melakukannya. Aku, Mas. Aku yang telah merekam mu secara diam-diam di luar ruangan mu saat kamu menceritakan semuanya," jelas Firdha.


Tuan Abraham terbelalak kaget dan tak menyangka, Ini tak mungkin terjadi jika Firdha lah yang telah merekamnya secara diam-diam.


"Aku yang telah merekam mu dan memperlihatkannya kepada Devan di halte. Aku sengaja memberikan handphone berisi bukti ini kepada Devan dan menyuruhnya melaporkan kamu ke polisi," jelas Firdha.


"Tega kamu firdha," ujar tuan abraham sambil menggeleng tak percaya setelah mendengar semuanya.


Firdha tertunduk. Jujur saja ia tak sanggup untuk melakukan ini kepada suaminya sendiri tapi, apa yang telah suaminya itu lakukan sudah kelewatan batas.


"Lepaskan!!! Lepaskan saya!!!" teriak Jef yang berusaha untuk diborgol oleh beberapa polisi.


"Jangan sentuh saya!" teriak Jef sembari berusaha memberontak dari pengangan tangan polisi itu yang seakan menjeratnya.


"Dia yang bersalah!!!" Tunjuk Jef ke arah tuan Abraham.


"Dia yang telah menyuruh saya untuk melakukan hal ini. Dia yang telah menyuruh saya untuk menembak Farhan dan dokter Yusuf!!!" teriak Jef sembari terus memberontak.


"Cukup Jef!!!" bentak tuan Abraham yang tak menyangka jika Jef mengungkap kasus lamanya yang bisa membawanya dalam bencana besar.


"Tangkap dan penjarakan dia, dia yang harus membayar apa yang telah selama ini pernah ia lakukan!!!" Tunjuk Devan dengan tubuh gemetarnya yang masih memeluk tubuh Cia.


"Devan!" panggil Firdha.


Semuanya menoleh menatap ke arah Firdha yang kini tersenyum.


"Lihat itu!" tunjuk Firdha ke arah sebuah pintu kamar yang terbuka perlahan hingga seseorang muncul.


Kedua mata Devan terbelalak kaget menatap sosok yang melangkah dengan kaki pincang ke arahnya. Wanita itu nampak berpakaian serba putih dengan rambutnya yang nampak acak-acakan dengan kondisi yang terlihat tidak baik-baik saja.


Pandangan Devan memburam menatap sorot mata wanita itu yang terlihat menampung genangan air mata. Tetesan air mata Devan kini tanpa sadar menetes membasahi pipinya. Kenangan 18 tahun yang lalu itu kini bermuculan memenuhi pikirannya saat melihat iris mata indah itu. Devan kenal dengan wanita ini. Dia adalah Kasya, gadis yang sejak dulu ia cintai dan membawanya dalam dunia yang membuatnya tidur dalam sebuah penderitaan.