Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 163



"Semuanya kumpul pesan dan kesannya di atas meja!" pintah salah satu anggota OSIS.


Semuanya kini bangkit dari lapangan setelah sejak tadi mereka beristirahat setelah membersihkan pekarangan sekolah yang dengan sengaja deretan pohon yang sudah tua ditebang. Mereka semua kini mengumpulkan sebuah surat berisi pesan dan kesan untuk anggota osis mereka dengan berbaris rapi cukup panjang.


Devan tak ikut berbaris dengan mereka. Tatapannya kini mengarah ke arah Kasya yang nampak sesekali mencuri pandang untuk menatap Devan. Devan sadar akan hal itu membuat Devan tersenyum bahagia.


"Kamu tidak kumpul?" tanya sahabat Devan yang kini telah mengumpulkan surat untuk anggota OSIS.


"Tidak," jawab Devan.


"Loh kenapa?"


"Tidak sekarang," jawabnya.


Jam telah menunjukkan pukul 5 sore membuat semuanya kembali berhambur dari barisannya setelah Kasya membubarkan barisan yang telah lelah untuk berdiri.


Kini Devan terdiam menanti semuanya pergi sambil duduk di bawah pohon mangga, tempat kemarin ia menatap Kasya. Kini Devan kembali menatap Kasya dari kejahan yang kini tengah merapikan tasnya. 


Sebuah surat berwarna pink berisi tulisannya sendiri kini berada di gengamannya. Devan sengaja tak mengumpulkan surat berisi pesan dan kesan itu langsung ke arah tumpukan surat yang di kumpul di atas meja. Devan kini berniat untuk memberikannya langsung kepada Kasya, surat ini penting bagi Devan.


Kasya kini melangkah berniat untuk beranjak pergi dari tempat itu, yah memanglah kini waktunya jam pulang. Devan yang melihat hal itu dengan cepat berlari mengejar Kasya sambil menyerukan namanya. Tak ada bedanya di saat Devan mengejar kasya kemarin.


"Kak ketua OSIS!!!"


"Kak ketua OSIS tunggu!!!"teriak Devan kesekian kalinya sambil berlari berusaha untuk menghampiri Kasya.


Kasya menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuhnya menatap Devan sambil memasang wajah datar walau sebenarnya hatinya sangat senang ketika Devan kembali mengejarnya.


"Apa lagi sih? Kan gantungan kunci aku nggak jatuh lagi," ujar kasya ketika Devan kini telah berdiri di hadapannya sambil bernafas ngos-ngosan.


Tanpa sepata kata Devan menjulurkan surat berwarna pink itu ke arah Kasya membuat Kasya bungkam.


"Surat," ujar Devan memberitahu.


"Loh, kok nggak di kumpul di meja tadi?"


"Ini khusus buat orang yang aku suka," ujar Devan sambil tersenyum malu-malu


Kasya tersenyum pelan sambil menatap surat yang Devan julurkan kepadanya. Sebuah surat pink dengan pola merah berbentuk hati.


"Ini buat Kakak ketua OSIS," ujar Devan semakin mendekatkan langkahnya.


Kasya tak menjawab apa-apa namun, tangannya dengan pelan meraih surat itu.


"Terima kasih," ujar Kasya dengan pipinya yang terlihat memerah seperti kepiting rebus karena malu.


Kasya kini memutar tubuhnya membelakangi Devan yang kini terlihat sedih saat Kasya hanya mengatakan hal itu. Langkah Kasya kini berhenti lalu menoleh menatap Devan yang kini tersenyum.


"Nama saya Kasya, bukan Kakak ketua OSIS," ujar Kasya sambil menunjuk membuat Devan mengangguk.


"Siapa nama saya?" tanya Kasya.


"Kakak ketua eh maksudnya Kak Kasya," ujar Devan berusaha membenarkan.


Kasya mengangguk lalu segera berpaling dan baru selangkah ia kembali menoleh menatap Devan serius.


"Nama kamu siapa?" Tunjuk Kasya.


"Devan, Devan Alwiyora," jawab Devan semangat.


Kasya mengangguk lalu segera membalikkan badan membelakangi Devan lalu tak berselang lama Kasya melangkah dengan senyuman yang membias di bibirnya.


"Jangan lupa di baca!!!" teriak Devan.


Kasya tersenyum setelah mendengar suara teriakan Devan. Entah mengapa Kasya merasa bahagia setelah mendapat surat dari seorang pria yang jauh lebih muda darinya. Kasya telah berusia 14 tahun sementara Devan masih berusia 12 tahun.


...____***____...


Kasya kini merebahkan tubuhnya ke kasur lalu segera membuka surat yang telah Devan berikan kepadanya tadi. Dengan tatapan yang nampak berbinar Kasya membuka lipatan kertas yang menutupi isi tulisan bertinta hitam itu.


Senyum Kasya tercipta menatap tulisan yang berbaris rapih dan terlihat indah. Kasya tak menyangka jika tulisan Devan sama dengan wajahnya, keduanya sama-sama indah.


...Dear kasya...


...Sebuah pengakuan yang ku tulis di atas sebuah kertas yang ku buat semalam....


...Tapi ini ungkapan isi hati ku....


...Hati ku rasanya mulai menyukaimu setelah mataku berhasil menemukan mu di tepian jalan sore itu. Apa Kak Kasya masih ingat?...


...___***___...


"Sore itu? Kapan?" tanya kasya bertanya kepada dirinya sendiri.


Kasya menurungkan kedua tangannya dari arah wajahnya dengan tubuhnya yang masih direbahkan di kasur. Tatap Kasya kini menatap serius pada langit-langit kamarnya. Dengan rasa penasaran kini kasya kembali menatap kertas itu dan membacanya.


...Lupa?...


...Haha, biarku ingatkan....


...Aku melihatmu sedang duduk dan berteduh dari guyuran hujan di sore itu, membuat hatiku bergerak memberikan payung yang kugunakan dan kuberikan pada gadis kecil yang telah membawakanmu payung untukmu...


...Apa kamu masih ingat dengan payung itu?...


Kasya menurungkan kertas dari pandanganya lagi lalu kembali menatap langit-langit kamar berusaha mengigat sesuatu. Tak berselang lama Kasya terbelalak saat ia mengingat kejadian tersebut dua bulan yang lalu.


"Oh, jadi Devan yang udah kasi payung itu," ujar Kasya.


Kasya tersenyum. Ternyata Devan telah mengenalnya sudah lama. Dengan semangat Kasya kembali membaca kertas itu.


...Yah itu dariku....


...Aku mencintaimu....


...Sungguh...


...Aku........


Kasya kembali membalik keras itu yang nampak kosong. Sepertinya ini bukan akhir kalimat yang tepat, masih ada lanjutan membuat Kasya kembali mencari kertas di dalam tempat surat Devan. Tak ada surat lagi di sana namun, tatapan kasya yang masih mencari sambungan kalimat Devan kini mengarah pada sebuah tulisan yang terdapat di dalam permukaan tempat keras itu.


...Yap kamu menemukan ku...


Kasya tertawa setelah membaca tulisan Devan. Entah mengapa pria itu begitu sangat lucu.


...Aku tidak akan melanjutkan ucapanku lagi....


"Loh kenapa?" tanya Kasya cemberut lalu kembali membaca kertas itu.


...Mengenai Hadiah, tenang saja!...


...Aku akan menunggumu di gudang sekolah setelah jam pulang sekolah ....


...Sampai jumpa....


^^^Devan^^^


Kasya menarik nafas panjang dan menghembuskan nafas panjang juga. Senyum indah itu kini kembali tercipta dari bibir mungil Kasya. Tanpa sadar ia memeluk kertas itu dengan sangat erat.


Baru kali ini ada yang menulis hal seindah ini untuknya. Kasya tak tahu mengapa ia merasakan hal yang aneh di hatinya kepada Devan. Jantung Kasya kini berdetak sangat cepat membuat suhu tubuhnya meninggi.


"Apa ini?" tanya Kasya lalu menyentuh dadanya yang berdebar-debar itu.


"Ada apa dengan jantungku?"


"Kenapa rasanya seperti ini?"


"Apakah aku telah jatuh cinta?"


Kasya menghela nafas. Hal seperti ini pernah ia lihat di sinetron tv dimana seorang gadis akan mencintai seorang pria jika telah diberi surat oleh seorang pria.


Mungkin inilah yang dikatakan cinta monyet, sebuah rasa suka yang kini muncul pada seorang anak perempuan berusia 14 tahun dan seorang pria yang berusia 12 tahun.


Di tempat lain nampak seorang pria yang kini sedang menatap bintang, Yap dia Devan. Ia terlihat sangat bahagia sampai-sampai ia tak pernah berhenti tersenyum.


"Bintang, apa dia telah melihat isi surat itu?" tanya Devan.


"Ku mohon, tolong buat dia suka padaku!"


Devan tersenyum malu-malu lalu berlari dan menghempaskan tubuhnya ke kasur dan ia tertawa seperti seorang pria gila yang dimabuk cinta.