Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 87



Devan tak menghiraukan teriakan Cia yang disertai pukulan di belakang sana.


"Gue bilang berhenti!!!" teriak Cia lagi.


Devan mengkerutkan alisnya nampaknya teriakan dari Cia itu cukup serius. Entah apa yang terjadi oleh Cia. Devan menggerakkan motornya pelan lalu berhenti di sebuah gang sempit.


"Lo kenapa?" tanya Devan khawatir sembari menatap Cia yang meringis kesakitan sambil memegang perutnya.


Tak lama mobil polisi melintas dengan cepat melewati gang itu. Devan menghembuskan nafas lega, polisi itu tak melihat dirinya dan Cia.


"Lo kenapa?" tanya Devan lagi.


"Perut gue sakit," aduh Cia kesakitan.


"Kok bisa?"


"Van!" Mata Cia terbelalak menatap Devan setelah menatap bercak darah di jok motor.


"Lo kenapa sih?"


Cia terdiam, masih dengan tatapan yang terbelalak, Syok.


"Gue Haid, Van." Tangis Cia pecah.


"Haid?" Tatap Devan tak mengerti.


Cia menangis menyandarkan tubuhnya di tembok toko baju bercat biru yang nampaknya tak lama lagi akan tutup.


Cia mengangguk.


"Kok nangis?"


"Gue Haid," ujar Cia lagi masih menangis.


Devan mengkerutkan alisnya. Jujur ia tak tahu arti haid yang dikatakan Cia kepadanya barusan. 


"Terus lo kenapa nangis?"


Cia terisak lalu, menunjuk takut ke arah jok motor hitam Devan yang kini basah terkena darahnya.


Devan menggerakkan kepalnya menatap arah telunjuk Cia. Mata Devan terbelalak menatap cairan merah yang mengotori jok motornya.


"Ih apaan tuh?" Tatap Devan jijik lalu melompat menjauhi motornya.


Plak


Pukul Cia cepat menghantam kepala Devan sambil menangis.


"Kok gue dipukul?"


"Yah lo kayak gitu."


"Yah ini apa?" Tunjuk Devan ke jok motornya.


Cia tertunduk malu. Ia terdiam sambil memaingkan jari-jari kakinya yang sudah tak beralas sambil mengayunkan high heelsnya yang tengah ia jinjing.


"Ini apa, Ci?" Tunjuk Devan.


"Itu... em-"


"Apa?"


Cia mengigit bibir.


"Itu darah," bisik Cia.


"Hah?" Tatap Devan syok lalu menjauhi Cia yang tak jauh darinya. 


"Ih jorok lo, Ci."


"Cia nggak jorok."


"Terus itu apa? Lagian lo kenapa ngeluarin di sini sih?"


"Yah gue mana tau kalau darahnya mau keluar di jok motor lo."


"Yah lo bisa tahan kan?"


"Yah itu nggak bisa ditahan, Van."


"Kenapa nggak bisa?"


Cia menghembuskan nafas kesal. Memang sulit menjelaskan hal pribadi kepada pria bodoh ini yang masih memasang wajah lugu di sana.


"Lap jok motor gue!" Pintah Devan menunjuk.


"Nggak!"


"Lo kenapa nggak mau? Siapa suruh lo keluarin nya di jok motor."


"Yah gue kan udah bilang, gue nggak tahu darahnya mau keluar di jok motor lo," jelas Cia.


"Yah tahan!"


"Devan Alwiyora, dengerin gue!!!" bentak Cia membuat Devan terdiam.


"Kalau mau keluar, yah, keluar ajah. Lagian lo nggak bakalan ngerti masalah kayak ginian."


Cia kini terdiam tak lagi berteriak di hadapan Devan yang kini terdiam menatanya dengan wajah datar.


"Gue nggak mau tahu. Lo lap sekarang!" Tunjuk Devan lagi.


Cia terdiam, membuang muka tak menatap Devan. Devan menghela nafas kesal menatap Cia yang tak memperdulikannya.


"Sini!" ujar Devan singkat.


Devan meraih ujung gaun hitam Cia lalu mengosokkan di permukaan jok motor menghilangkan darah segar yang berada di jok.


"Iihh itu gaunnya si Baby, lepasin!!!" teriak Cia.


Cia menarik gaunnya itu cepat namun, tak berhasil melepas pegangan Devan yang kuat dari Unjung gaunnya.


"Lepasin!"


"Bodoh amat, gue nggak peduli."


"Jangan gitu dong, Van!"


Tarik Cia dengan kuat berusaha menghentikan Devan yang masih mengosokkan Jok motor itu.


"Woy!!! Kalau mau mesum jangan disini!!!" teriak pria bertubuh gemuk sambil berdiri menopang pinggang.


Devan terdiam masih memegang Unjung gaun Cia. Devan tak mengerti dengan maksud pria ini yang mengatakan hal tersebut. Devan mulai melirik ke bawah menatap betis Cia yang mulus itu terlihat. Pria gemuk ini pasti salah paham dengan apa yang Devan lakukan kepada Cia. Degan cepat Devan melepas pegangannya dari ujung gaun Cia. Cia terdiam sambil merapikan gaunnya yang berantakan itu.


Ban motor itu berputar dengan kecepatan sedang melintasi jalan beraspal yang nampak masih ramai.


Devan memasang wajah datar sambil duduk di ujung jok depan. Devan tak mau jika darah Cia itu mengalir dan mengenainya.


Cia melipat kedua tangannya di depan perut sambil memasang wajah cemberut di jok motor bagian belakang bahkan, pantat Cia hanya duduk di bagian besi bagian belakang.


Ini semua atas perintah Devan yang menyuruhnya untuk memberi jarak antara dia dan Devan, menghasilkan ruang yang cukup untuk dua orang di tengah-tengah jok motor. 


Lampu hijau kini berubah menjadi merah membuat semua para pengendara berhenti.


Devan menghentikan motornya tepat di sebelah pria dan wanita yang nampak berboncengan. Gadis itu nampak memeluk pria itu degan erat sambil menatap heran ke arah Devan dan Cia yang memberi jarak di tempat duduknya.


"Cie marahan, yah?" ujar gadis itu lalu tertawa.  


Cia membuang muka menghindari tatapan ejek gadis itu yang kini masih tertawa.


"Gila, duduknya jauh banget," bisik pengendara bermotor yang berada tak jauh dari Cia dan Devan.


Lampu merah itu kini berganti menjadi lampu hijau membuat semua para pengendara berhambur dari barisan menancapkan gas. Begitu pula dengan Devan.


Cia berlari ke arah pintu rumah  setelah turung dari motor yang kini berhenti tepat di pekarangan rumah. Baby yang duduk di sofa ruangan tamu tersentak setelah mendengar suara motor yang sangat ia kenal. Baby berlari keluar dari rumah degan cepat menatap Devan yang kini telah memarkir motornya di pekarangan.


"Bos Ceooo!!!" Jerit Baby seakan kegirangan melihat kepulangan Devan.


Bruk


Tabrak Cia membuat Baby terhempas ke lantai.


"Ih kenapha swih?" Kesal baby yang kini terbaring di lantai.


Cia tak memperdulikan teriakan Baby. Dengan lari yang cepat Cia berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Baby yang masih terbaring di lantai menatap Cia bingung.


Devan mendecapkan bibirnya kesal menatap darah bekas duduk Cia yang nampak membasahi jok motonya.


Devan memejamkan matanya seakan tak sanggup melihat darah segar yang kini membasahi jok motornya. Devan menarik nafas panjang lalu...


"Ciiiii, darah lo!!!" teriak Devan kesal.


Cia terpaku. Duduk mematung di closed putih sambil menatap dinding putih wc. Sekarang Cia tak tahu harus berbuat apa, persediaan Pembalut di lemarinya sudah habis. Cia tak mungkin keluar rumah dan membeli pembalut itu dengan keadaan tanpa mengunakan pembalut. Darahnya pasti...


"Hah," desah Cia tak sanggup berfikir lagi.


"Ci!" Panggil seseorang dari luar


Cia menatap ke arah pintu WC yang tertutup rapat. Itu Devan, Cia kenal dengan suara itu.


"Ci!" panggil Devan lagi.


"Apa?" jawab Cia kesal.


"Lo ngapain di dalem sih?"


Cia terdiam. Apa pertanyaan bodoh Devan harus ia jawab. Cia menunduk menopang dahinya, lelah.


"Ci!" teriak Devan lagi.


Devan terdiam menatap pintu WC yang masih tertutup rapat. Devan tak mengerti mengapa Cia begitu lama di dalam wc. Apa gadis itu tidur di dalam sehingga tak kunjung keluar? Devan menggeleng, entah pikiran bodoh apa yang mendarat di otaknya itu.


Devan mengangkat jari-jarinya berniat mengetuk pintu putih wc itu. Namun, belum sempat ia mengetuk pintu Cia langsung membuka pintu membuat Devan terdiam tetap dengan jarinya yang berniat mengetuk pintu itu.


"Lo-"


"Van," ujar Cia cepat sambil memasang wajah sedih membuat Devan terdiam tak melanjutkan ucapannya.


"Bantuin gue!" Tatap Cia penuh harap.