Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 100



Cia menatap bunga mawar yang ada di pelukannya serta titipan lainnya. Titipan ini mau disimpan di mana? Sementara tas Cia kini telah penuh ditambah lagi dengan boneka beruang yang ukuranya lebih besar dibandingkan tubuhnya. Cia tak tau lagi harus berbuat apa.


Langkah berat Cia yang menginjak lantai sekolah dengan susah payah sambil menggendong tas hitamnya nampak terlihat besar dipenuhi titipan untuk Ayahnya. Sebuah kresek hitam besar yang diberi oleh Mang Adang, si penjual bakso itu nampak Cia jinjing berserta boneka beruang yang Cia peluk dengan tangan kanannya.


"Lo mau gue bantu nggak, Ci?"


Cia menggeleng menolak tawaran Fika yang nampak khawatir menatap Cia yang nampak kewalahan menahan beban berat itu. Beberapa siswa dan siswi yang berniat keluar dari sekolah setelah bel dibunyikan nampak terdiam dan menghentikan langkahnya dan fokus menatap Cia.


"Tuh Adelio." Tunjuk Fika.


Cia yang sedari tadi hanya sibuk dengan kresek hitam itu kini menatap ke arah tunjuk Fika di mana dari kejauhan ada Adelio yang nampak melangkah menuju keluar dari gerbang sekolah setelah memotong jalan melewati lapangan upacara.


"Lo suruh aja si Adelio angkat kresek itu!" ujar Fika.


"Hah?" Tatap Cia tak menyangka


"Lagian kan si Adelio udah jadi sahabat kita, pasti si Adelio mau-"


"Nggak ah," potong Cia cepat.


"Aaaaaaaaa!!!"


"Itu siapa?"


"Awwwwww!!!"


"Ah ganteng banget!!!"


Para gadis-gadis berteriak sambil berlari ke arah luar sekolah seperti melihat hal yang sangat indah di luar sana.


Fika yang sibuk menatap Adelio dari kejauhan kini menatap gerombolan gadis yang nampak berteriak histeris sambil berlari ke arah luar gerbang. Apakah mereka mau mengejar Adelio?


"Ci, liat deh! Mereka kok teriak gitu?" Tunjuk Fika.


Cia mengangkat pandangannya menatap ke arah tunjuk Fika, betul saja gerombolan gadis-gadis nampak berlari sambil menjerit meneriaki seseorang.


Fika terdiam sejenak mendengar suara keributan di luar sana. Entah apa yang terjadi di luar sana sehingga teriakan itu terdengar bahkan Fika yang masih ada di lorong kelas mampu mendengarnya.


"Cia, lo denger nggak?" Tatap Fika serius.


"Apa?"


"Itu suara!"


"Nggak ada tuh," jawab Cia lemas.


"Cek, ih lo denger dulu, Ci!"


Cia mendecapkan bibirnya lalu terdiam berusaha mendengar sesuatu yang dimaksud oleh Fika. Suara keributan itu kini terdengar oleh Cia cukup jelas. Cia tak tau mengapa mereka seperti itu.


"Mereka mau ngejer-ngejer si Adelio?" Tatap Fika heran.


"Mana gue tau," jawab Cia dengan wajah lesuh.


Fika menganga. Fika takut jika gadis-gadis dan teriakan itu sedang menyerbu Adelio dan Fika tak mau itu terjadi.


"Cepetan, Ci!!!" Tarik Fika di ujung baju Cia dan membawanya lari menuju arah gerombolan gadis-gadis itu.


Lari gerombolan gadis-gadis itu semakin mendekat ke arah Adelio sambil berteriak histeris.


Adelio menghentikan langkahnya tepat di samping pagar yang terbuka. Adelio yang penasaran itu menoleh menatap gerombolan gadis membuatnya sangat terkejut.


Tubuh Adelio terhempas ke pagar ketika gadis-gadis itu menyenggol tubuh Adelio yang berdiri menghalangi jalan mereka.


"Apaan sih, Fik?" Hempas Cia menghentikan larinya.


Fika terdiam menatap gerombolan itu yang ternyata tak menghampiri Adelio, lalu siapa yang telah membuat gadis-gadis ini menjerit seperti itu dan membuat mereka berlari.


"Kok mereka ngelewatin si Adelio?"


"Terus kalau mereka nggak ngejer-ngejer Adelio terus yang mereka kejar siapa dong?" tanya Fika tak menatap Cia yang nampak masih kualahan menjinjing kresek hitam dan boneka beruang.


"Mungkin si Ogi kali." Tebak Cia sambil melangkah pelan di samping Fika yang nampak kebingungan.


"Ah masa sih?"


Cia mengangguk lemah.


"Ah nggak mungkin deh kalau mereka teriak kayak gitu karena si Ogi."


"Yah terus siapa lagi?" ujar Cia malas.


"Mungkin mereka kayak gitu karena.....em-" Fika menghentikan ucapannya lalu mengerakkan kepalanya menatap Cia.


Cia menghentikan langkahnya lalu ikut menatap wajah Fika dengan serius. Jika mereka semua tidak mengejar-ngejar Adelio atau pun Ogi apakah....


Cia membulatkan matanya, memikirkan suatu yang kini menjalar di otaknya. Tanpa pikir panjang Cia berlari meningalkan Fika yang kini berteriak memanggilnya.


Lari Cia begitu cepat bahkan melupakan beban berat titipan siswi-siswi di tas hitam, kresek hitam dan boneka beruang itu.


"Ciaa!!!" teriak Fika ikut berlari mengejar Cia.


Adelio yang terdiam di samping pagar menatap Cia yang berlari begitu cepat disusul Fika yang berteriak memanggil Cia. Entah mengapa mereka semua berlari, tak jauh beda dengan gerombolan gadis-gadis itu yang telah membuatnya terhempas di pagar besi.


"What?"


Lari Cia terhenti cepat menatap segerombolan gadis-gadis yang nampak mengerumuni seseorang sambil berteriak histeris.


Nafas Cia sesak setelah berlari cukup kencang tadi, mulutnya nampak terbuka sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan menatap ke arah gerombolan itu. Entah siapa yang mereka kerumuni di sana? Suara hatinya seakan berteriak memanjatkan doa-doa agar yang mereka kerumuni bukanlah Devan melainkan orang lain.


"Ci, lo kenapa lari sih?" tanya Fika yang kini telah berdiri di samping Cia yang nampak gelisah.


Fika menoleh menatap gerombolan gadis-gadis itu yang masih menjerit sambil mengerumuni seseorang.


"Itu siapa tuh yang dikerumunin? Udah kayak artis aja," bisik Fika.


Cia masih terdiam menatap serius ke arah orang yang dikerumuni itu. Rasanya sangat sulit melihat orang di balik kerumunan itu. Gerombolan itu terlalu banyak menutupi orang itu bahkan gerombolan itu bertambah semakin banyak ketika siswi-siswi yang baru keluar dari kelas juga berlari menuju kerumunan.


"Yuk Ci!" ajak Fika menarik ujung baju putih Cia.


Cia mengangguk membiarkan Fika menariknya ke arah parkiran. Mungkin, orang yang mereka kerumuni bukan Devan, lagipula Ayahnya itu tak pernah mejemputnya jadi sudah pasti Bukan Devan di sana.


"Tolong!!!" teriak seseorang yang kini telah ditarik paksa oleh salah satu gerombolan siswi.


Langkah cia terhenti. Cia sangat kenal dengan suara itu, suara yang selalu Cia dengar setiap hari. Dengan mata yang nampak membulat sempurna Cia menoleh menatap ke arah kerumunan. Betul saja, dari kejauhan Cia mampu melihat Devan yang di tarik paksa oleh gadis-gadis itu dan di bawa masuk ke dalam kerumunan dan kembali di kerumuni, kini Devan seperti sebuah butiran gula yang ditarik oleh gerombolan semut dan dipaksa masuk ke dalam sarang.


"Ciaaaa!!!" teriak Devan sambil merentangkan tangannya berusaha meminta tolong kepada Cia yang berdiri cukup jauh darinya.


Rambut hitam Devan nampak acak-acakan, di wajah pucat Devan banyak bekas kecupan listip berwarna merah yang menghiasi pipinya, yang lebih parah lagi baju hitam Devan sobek di bagian bahu karena ditarik dengan kuat oleh gadis-gadis itu ketika Devan berusaha kabur.