Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 69



Devan tersenyum manis lalu menutup pintu kamar Cia dengan rapat. Cia masih terdiam setelah mendengar perkataan Devan.


Cia melangkah ke arah pintu kamar lalu membukanya dengan cepat, menatap Devan yang melangkah ke arah kamarnya.


"Woy!!!" teriak Cia.


Devan tetap melangkah tanpa memperdulikan teriakan Cia.


"Lo jelek !!!" teriak Cia.


"Lo dengar gue nggak?!!! Lo tuh jelek!!!" teriak Cia lebih keras.


Devan tak menghentikan langkahnya, dengan santai Devan membuka pintu kamar lalu melangkah masuk ke dalam kamar tak lupa juga pintu kamarnya ia tutup dengan rapat.


"Van!!!"


"Lo belum ketemu sama idola gue si Ogi yang lebih ganteng dari pada lo!!!" teriak Cia sembari menatap pintu kamar Devan yang tertutup rapat.


"Van!!!" teriak Cia.


Devan mengeluarkan setengah tubuhnya di celah pintu yang ia buka sembari menatap Cia yang masih berdiri di sana.


"Kita liat ajah! Siapa yang paling ganteng, gue atau idola lo itu di acara ulang tahun. Bweeeee!!!" teriak Devan lalu menjulurkan lidah ke arah Cia dan menutup pintu dengan sekali tarikan.


"Bweeeeee!!!" Cia ikut menjulurkan lidahnya.


"Kita liat ajah siapa yang paling ganteng!!!" teriak Cia lalu ikut membanting pintu cukup keras.


Cia menghempaskan tubuhnya ke kasur lalu menarik nafas lelah, menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.


Cia sangat berharap semuanya baik-baik saja.


Tuhan tolong Cia!


Cia mohon!


..._____***_____...


Cia memasang seragam pramukanya itu sambil menatap wajahnya di pantulan cermin. Pagi ini Cia sengaja bangun lebih pagi sebelum Devan mengagetkannya dengan wajah tampannya itu persis seperti Devan yanh membuatnya terkejut disaat membagunkannya kemarin.


Cia teringat dengan bidadari itu, hampir saja Cia lupa dengan janjinya untuk memotong kuku, menyisir rambut dan menghias kamar bidadari.


Cia menyisir rambutnya yang basah sambil merogoh laci meja riasnya mencari pemotong kuku yang Cia simpan satu minggu yang lalu.


Setelah mendapat pemotong kuku itu. Cia memasukkannya ke dalam tas hitam beserta sisir bekas pakainya. Cia melangkah lagi ke arah meja rias meraih minyak kemiri yang kini sisa sedikit tapi masih cukup untuk meluruskan rambut bidadari yang panjang.


"Ciii!!!" teriak Devan bersamaan ia mendorong pintu.


Devan terdiam menatap Cia yang kini berdiri di samping kasur sambil memegang tas hitamnya, entah apa yang baru saja Cia masukkan kedalam tas.


Baru kali ini Devan melihat Cia yang bagun lebih pagi, bahkan telah siap dengan seragam pramukanya. Biasanya setiap pagi Fatima akan teriak-teriak membangunkan Cia dengan suara kerasnya bahkan suaranya kerasnya itu mampu didengar sampai ke bengkel sebrang.


Cia mematung di sana menatap Devan yang terdiam menatapnya. Tatapan macam apa itu?


"Ehem, maaf. Cia mana, yah, Bu? Kok nggak ada di kasur?" tanya Devan.


Cia yang mendengar hal tersebut kini tersenyum sombong lalu meletakkan kedua tangannya di depan dada.


"Sorry, yah. Sekarang Cia udah pinter bagun sendiri jadi nggak perlu lagi dibangunin," ujar Cia lalu tersenyum sambil memakai tas hitamnya.


"Oh gitu?" tanya Devan sembari mengangguk paham.


"Iya dong."


"Oh, iya gue lupa. Selamat pagi, pacar bohongan Devan." Senyum Devan sambil menatap Cia yang kini melangkah ke arah pintu keluar kamar.  


"Diem lo!!!" bentak Cia dengan kesal ketika berpapasan dengan Devan.


"Wisssss, galak banget sih pacar bohongan Devan." Goda Devan lagi sambil berusaha menahan tawanya.


Devan menutup pintu kamar lalu mengikuti langkah Cia sambil menjinjing sepatu hitam di tangannya.


"Lo mau kemana?"


Cia menoleh menatap Devan yang nampaknya masih mengikut kemana Cia pergi.


Devan tersenyum. Walaupun Cia kini bisa bangun lebih pagi secara mandiri tapi tetap saja Cia masih belum lihai mengikat rambutnya sendiri dengan benar.


"Yah udah, kalau rambut lo udah diikat, lo sarapan, yah, nasi bungkusnya ada di meja."


"Em," sahut Cia.


"Gue mau buka bengkel!!" teriak Devan.


"Emm," sahut Cia lagi yang kini sudah berada di dalam kamar.


Fatima menyisir rambut Cia dengan pelan, jujur saja tubuh Fatima masih terasa lemas namun, Fatima berusaha menguatkan jari-jarinya untuk menyisir rambut hitam Cia, cucu kesayangannya.


Cia yang duduk di lantai hanya mampu terdiam menanti rambutnya diikat.


"Kenapa Cia nggak suruh Ayah buat sisir rambut cia?" Suara kecil Fatima terdengar.


"Kalau ada Mama kenapa harus Ayah yang ikat rambut Cia?"


Fatima tersenyum manis lalu segera mengikat rambut Cia yang masih basah dengan pengikat rambut berwarna hitam.


"Loh, bukannya Ayah yang selalu ikat rambut Cia kan waktu Cia masih kecil? kenapa sekarang Mama yang ikat rambut Cia?"


Cia tersenyum tipis.


"Cia harus bisa ikat rambut sendiri!"


Cia menoleh menatap Fatima yang sudah sejak tadi duduk di pinggir kasur.


"Cia nggak mau belajar ikat rambut Cia!"


"Kenapa?"


"Kan ada Mama yang ikat rambut Cia, jadi Cia nggak perlu belajar buat ikat rambut sendiri!"


Fatima tersenyum dengan tatapan sayup lalu membelai rambut Cia dengan lemah lembut.


"Mama sering kok liat Cia ikat rambut sendiri, yah walaupun suka miring." Fatima tertawa.


"Ah Mama." Pukul Cia pelan.


"Pokoknya Cia harus pinter ikat rambut sendiri!"


"Emangnya Mama mau kemana?" tanya Cia membuat Fatima terdiam.


Cia membaringkan kepalanya di atas paha Fatima lalu mengengam jari-jari Fatima dengan erat.


"Jangan tinggalin Cia, yah, Ma!" bisik Cia.


...____***____...


Cia duduk di meja Fika sambil menatap Fika yang sudah sejak tadi menyalin jawaban ke buku tugas Cia, entah karena Fika yang terlalu rajin atau Cia yang terlalu pemalas sehingga Fika yang mengerjakan tugas Cia.


"Ci, kalau gue udah bantuin kerjain tugas lo, lo kasi tau gue, yah tentang pacar lo itu," ujar Fika sambil menulis jawaban di buku Cia dengan semangat.


Cia melirik tak mengerti.


"Yah, Ci?" kini Fika menatap Cia dengan serius setelah menghentikan tulisnya.


"Nggak ah!" tolaknya.


"Yah, Cia kok gitu sih?" ujar Fika tak terima dengan wajah cemberutnya.


"Guekan cuman mau tau pacar lo itu siapa, Bagamana, yah kan Adelio?"


Fika menatap ke arah Adelio yang berada di sampingnya sambil memaingkan pulpen di jari kanannya.


Di sekolah ini memang tak diisinkan membawa handphone jadi Adelio harus pintar-pintar menyibukkan diri dari murid-murid perempuan apalagi Fika dan Cia yang kini selalu ada di samping Adelio di mana pun ia berada.


Adelio menoleh menghentikan gerakan pulpen di jarinya lalu memasang wajah tak mengerti setelah pertanyaan itu terlontar dari mulut Fika untuknya.


"Adelio mau taukan pacar Cia itu siapa? Mukanya bagaimana? Iyakan?" tanya Fika.