
"Tuh bertempur sama debu dan kotoran di rumah." Tunjuk Devan lagi.
"Apa?!!!" teriak Cia syok.
...___***___...
Cia menggerakkan sapunya asal-asalan dengan wajah yang cemberut sambil menatap Devan yang kini sibuk membersihkan kursi dari debu dengan kemoceng.
Hari ini pasti akan menjadi hari yang sangat melelahkan bagi Cia. Ucapannya semalam itu tak terkabulkan oleh Tuhan dan membuatnya harus bertempur di dalam rumah sendiri, yah, bertempur melawan kotoran rumah.
Devan mengkerutkan alisnya lalu menutup hidungnya dengan cepat ketika sofa yang ia bersihkan dengan kemoceng nampak sangat berdebu.
Devan menghentikan kemoceng ketika ia berhasil menatap sekilas ke arah Cia yang tak menyapu lantai dengan benar.
"Ci, lo ngapain sih?"
"Makan, lo buta? Nih gue lagi nyapu," ujar Cia menghentikan sapunya menatap Devan tajam.
"Yah kalau nyapu yang bener dong."
"Terus ini apa?" Cia menghentikan sapunya ke lantai tetap menatap Devan kesal.
"Yah nyapu nya nggak kayak gitu."
Devan melangkah dengan cepat ke arah Cia sambil mengoceh, layaknya seorang ibu yang memarahi anaknya.
"Sini!" Tarik Devan, emosi.
"Sapunya kayak gini... nih... nih." Kesal Devan sambil mengerakkan sapu itu memberikan contoh menyapu dengan benar.
Cia cemberut. Di mata Cia, Devan kini bertindak seperti seorang ibu yang memarahi anaknya yang baru belajar menyapu.
"Ngerti nggak?" Devan terhenti.
Cia menghembuskan nafasnya lalu mengangguk dengan wajah cemberutnya.
"Ngerti nggak?" tanya Devan lagi.
"Gue ngerti Devan Alwiyora!" Tegas Cia memajukan wajahnya ke arah Devan.
Devan memundurkan wajahnya menjauhkan wajah Cia dengan tatapan melotot nya itu, yang siap melahapnya.
"Yah udah sapu!"
Devan melangkah, kembali ke tempat semulanya tetap dengan kemoceng di tangan kanannya.
Cia kembali menggerakkan sapunya itu dengan asal-asalan tak melakukan hal yang Devan contohi tadi membuat Devan menggerutu kesal.
"Yang bener dong, Ci!" Kesal Devan lagi.
"Iya, iya, nih...nih... nih puas lo? puas?"
Tak!!!
Batang sapu itu patah di tangan Cia ketika Cia menekannya dengan sangat kuat membuat Cia terbelalak kaget menatap batang sapu yang kini terbelah dua dan jatuh ke lantai menyisahkan potongan batang sapu di tangannya.
"Ciaaaaaaaaa!!!" teriak Devan.
...___***___...
Devan kini mengucek pakaian kotor di dalam sebuah baskom hitam yang telah diisi dengan deterjen menghasilkan busa putih di sana sementara Cia mengangkat pakaian yang berbusa itu dan membilasnya disebuah baskom berukuran besar yang telah diisi dengan air bersih.
Devan memeras pakaian berbusa itu lalu melemparnya ke baskom hitam tepat di depan Cia yang kini sibuk menguap lebar.
Prak!!!
Air dari baskom itu terhempas ke arah wajah Cia yang begitu sangat mengantuk.
"Aaaaah Devan ah!!!!" Kesal Cia sembari mengeringkan wajahnya dengan ujung bajunya itu dengan cepat.
"Yah maaf," ujarnya tak menoleh.
"Lo niat nggak sih nyuci baju?"
"Yah terus ini apa?" Tunjuk Devan ke arah bakul berisi pakaian kotor.
"Lagian tuh di baskom baju lo semua."
"Terus kenapa kalau baju Cia?"
Cia melirik wajah Devan dengan tatapan berfikir, apakah Devan benar-benar tidak sengaja melakukannya atau dia hanya balas dendam karena Cia telah mematahkan sapu tadi. Huh, ini tidak mungkin dibiarkan.
Syur
Siram Cia dengan jari-jarinya ke arah wajah Devan dengan tatapan licik.
Devan menutup kedua matanya dengan cepat sebelum air bekas bilas itu mengenai matanya. Wajah Devan serta bajunya kini basah kuyup karena siraman Cia.
"Gila lo, yah?" Tatap Devan kesal.
"Ini yang namanya baru pertempuran," ujar Cia penuh tekanan.
"Maksud lo apa sih?"
"Devan kan tadi nyiram Cia, yah, udah Cia siram balik."
"Gue nggak sengaja."
"Yah terserah gue. Gue nggak mau tau, kalau gue basah, yah, lo harus basah juga."
Devan mengigit bibirnya dengan kesal . Rasanya Devan ingin mencekik leher anaknya itu setelah jawaban itu terlontar dari mulut Cia.
Anak macam apa ini?
Devan melempar pakaian kotor yang berbusa itu ke dalam baskom hitam dengan sangat kesal bahkan berlipat-lipat kesalnya membuat air di dalam baskom khusus membilas itu terhempas membasahi wajah Cia.
"Ah Devan!!!" jerit Cia yang kini memejamkan mata.
"Sana lo keluar ngepel!" pintah Devan kesal.
Cia terdiam lagi-lagi Devan menyuruhnya sebelum pekerjaan itu selesai di tangannya. Cia menggerutu kesal lalu bangkit dari bangku kecil yang ia duduki.
"Dasar bawel!!!" teriak Cia sembari melangkah pergi.
...___***___...
... ...
"Ah!!!" teriak Cia sambil memeras pel degan kuat yang berada di dalam ember hitam berisi air.
"Ah capek banget." Cia cemberut, mengusap keringat yang bercucuran dari dahinya.
Cia menghempas pel itu ke lantai lalu mengosokkan dengan pelan. Rasanya Cia sudah tak tahan membersihkan rumah di tambah lagi, hari ini hariĀ pertamanya haid dan ini sungguh melelahkan.
Cia kembali memeras pel itu di atas mulut ember dengan air yang kini berwarna kecoklatan.
"Ih kotor banget." Tatap Cia jijik.
Cia kini terdiam. Jika hal yang ia lakukan sungguh melelahkan lalu bagaimana dengan Mamanya itu yang selalu melakukan hal ini setiap pagi bahkan tak lupa menyiapkan sarapan untuknya.
Devan berlari keluar melewati lantai yang baru saja Cia pel dengan susah payah sambil membawa ember hitam berisi pakaian bersih yang siap untuk dijemur di luar.
Cia menganga menatap lantai bersih itu yang kini terdapat bekas kaki Devan ketika Devan berlari.
"Ah Devan ah!!!" teriak Cia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sorry, Ci!!! Sorry!!!" teriak Devan tak menghentikan larinya.
Cia mengeluh berat kali ini rasanya ia benar-benar sangat lelah. Lantai yang ia pel dengan penuh tenaga kini harus mengepelnya lagi dari awal.
"Ih kalau ajah Devan bukan ayah gue ihhh gue udah cekik tuh orang!!!" Kesal Cia.
"Yah Tuhan, mengapa engkau memberikan aku Ayah seperti Devan?"
Cia menarik nafas panjang berusaha untuk bersabar dengan cobaan ini. Dengan senyuman Cia kembali mengepel lantai bekas injak Devan.
Devan memeras dan mengibaskan nya membuat pakaian berwarna putih itu yang tak lain adalah seragam Cia mengeluarkan bercik air lalu menjemurnya di tali jemuran yang terbentang dari batang kayu yang di tancapkan ke dalam tanah.
Devan menjemur cuciannya itu yang berada di ember dengan penuh serius tak menyadari jika sedari tadi gerombolan gadis-gadis yang tengah joging pagi itu menatapnya.
"Ih gemes banget deh."
"Iya yah."
"Aduh, udah ganteng, rajin lagi ahhh idaman gue banget," bisik mereka sambil berpura-pura memanaskan tubuhnya dengan gerakan pemanasan di sebrang jalan.
Mita berlenggak-lenggok sambil memaingkan ujung rambut cacingnya yang ia taruh di depan dadanya. Mita menghentikan langkahnya lalu menatap serius ke arah gerombolan gadis-gadis yang saling berbisik menatap Devan yang masih menjemur cuciannya.