
Cia mematung menatap layar handphonenya yang sedari tadi ia tatap tanpa rasa bosan, bahkan ia tak menghiraukan rasa pegal yang menjalar di sekujur tangannya yang terus memegang handphonenya.
Kini waktu telah menunjukkan pukul delapan membuatnya beberapa kali menghembuskan nafas berat, Adelio belum juga mengechat-nya sampai sekarang padahal sekarang sudah jam delapan. Cia sudah menunggu sudah sejam lebih dengan mata perih menatap layar handphonenya.
"Ini kenapa sih si Adelio nggak nge-chat gue? Hah kenapa? Padahal kan gue udah lama nunggu kayak orang gila nggak jelas kayak gini. Hah?" oceh Cia kesal.
Cia memoyongkan bibirnya, ini sebuah penantian yang tak memiliki sebuah kepastian di malam ini. Apakah ia akan terus menunggu seperti ini?
"Hah," keluh Cia lalu membaringkan tubuhnya ke permukaan kasur, tetap menatap layar handphone yang masih menyala itu.
Cia dengan sengaja tetap menyalakan handphonnya dan berada di dalam sebuah akun media sosial yakni 'my-chat' yang berfungsi untuk mengirim pesan ke sesama penguna akun.
"Aaaaah!!!" teriak Cia kesal lalu menghempas handphone secara bersamaan dengan tumbangnya tangan yang tak sanggup lagi untuk menopang handphonenya itu. Penantian ini sungguh melelahkan yah tangannya terasa pegal. Cobaan apa ini? Apa Adelio sedang menguji kekuatan tangannya untuk terus memegang handphone.
Kediaman Adelio~
Adelio melangkah ke kiri dan ke kanan dengan handphone yang sudah sejak tadi berada di tangannya. perasaan Adelio kini begitu sangat gugup. Hal bodoh dengan mondar-mandir ini sudah sejak tadi ia lakukan untuk mengurangi rasa geroginya yang berlebihan. Saat memikirkan Cia saja sudah membuatnya gemetar apalagi jika ia mengirimkan pesan untuknya, yah mungkin ia bisa saja mengigil.
Adelio menghentikan langkah kakinya lalu segera duduk di pinggir kasur sembari terus menatap layar handphonenya. Ia belum berniat untuk membuka akun my chat untuk mengirim pesan pada Cia. Jujur saja rasanya ia begitu sangat gugup.
Adelio menarik nafas pajang dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Ayo Adelio! Kamu pasti bisa!"
"Kamu pasti bisa!" ujar Adelio menyemangati dirinya sendiri.
Adelio lagi dan lagi menarik nafas panjang lalu segera menyentuh aplikasi my chat. Akun my chat itu terbuka membuat Kedua mata Adelio melebar ketika menatap nama Cia yang ternyata sedang online.
"Online!!!" Kaget Adelio sambil menunjuk layar handphonenya dengan tatapan yang begitu histeris seperti melihat sosok hantu.
Deg
Adelio merasakan jantungnya sudah lenyap dari tempatnya. Tubuhnya terasa mengigil dan terasa dingin.
Oh Tuhan apa yang harus ia lakukan?
"Si Cia online." Tunjuk Adelio lagi sembari mengerakkan telunjuknya berulang kali ke arah layar handphonenya.
Adelio terdiam. Sekarang entah apa yang akan Adelio ketik untuk mengirim chat kepada Cia. Adelio sama sekali tak tahu mencari topik pembicaraan. Bicara langsung dengan Cia saja bisa dihitung dengan jari tangan lalu bagaimana bisa ia menggerakkan jari tangannya untuk mengirimkan pesan kepada Cia.
Kediaman Cia~
"Aaaaaa!!!" Kesal Cia yang kini sudah bertiarap di atas kasurnya sambil terus menatap layar handphonenya.
Cia mengkerutkan alisnya dengan senyuman yang membias ketika menatap kata online di akun my chat yang tertera di bawah nama Adelio.
"Dia online," ujar Cia lalu dengan cepat bangkit dari kasurnya dengan handphone yang sudah berada di depan wajahnya.
"Tu kan gue nggak salah liat."
"Dia beneran online tapi dia nggak nge-chat gue," ujarnya dengan senyum yang perlahan meredup dari bibirnya.
"Aduh!!!" Kesal Cia yang kini merebahkan tubuhnya ke kasur.
"Lo kenapa sih nggak nge-chat gue?
"Hah?"
"Lo kenapa?"
"Jan bikin gue emosi!"
Cia kini terdiam lalu bangkit dengan wajahnya yang seakan memikirkan sesuatu.
"Atau gue aja yang chat si Adelio?" tanya Cia sambil menatap jahil ke arah layar handphonenya.
"Ah tapi masa sih cewek yang chat duluan, harusnya kan cowok yang chat duluan bukannya cewek."
"Nggak! Nggak! Gue nggak boleh nge-chat Adelio duluan! Nggak boleh!"
"Pantang bagi cewek kalau harus chat cowok duluan."
"Harusnya cowok yang chat duluan. Ok! Gue nggak boleh nge-chat dia!"
"Nanti gue dikira murahan lagi kalau gue yang chat duluan sama Adelio."
Cia terdiam sembari mengigit bibir bawahnya. Pikiran ini kini membunuhi otaknya.
"Aaaaaah!!!" Kesal Cia yang begitu sangat prustasi membuatnya kembali bangkit.
"Lagian lo tuh kenapa sih Adelio? Hah? Jari tangan lo copot jadi nggak bisa chat gue?"
Cia kembali membaringkan tubuhnya di atas kasurnya yang begitu empuk dengan perasan kacaunya.
Kediaman Adelio~
Adelio menarik nafas panjang dan menghembuskannya lewat ujung bibirnya. Ia harus segera menge-chat Cia sekarang lagipula ia sudah janji dan memberitahu Cia tadi jika ia akan mengirimkan pesan untuk Cia di malam ini.
"Aku harus chat sekarang," putus Adelio begitu semangat sambil mengangguk yakin dan segera menyentuh nama Cia yang tertera di sana .
"Bilang apa yah ke Cia?"
ketik
"Tidak! Ini kayaknya kaku banget."
Hapus
Ketik
Hapus
"Ini sulit, Tuhan!"
Kediaman Cia~
"Mengetik!!!" kaget Cia begitu sangat panik dengan suara histerisnya dan segera bangkit dari kasur, membuatnya kini terduduk di atas kasur. Tatapan Cia kini tak berkedip menatap layar handphonenya. Entah apa yang akan Adelio katakan kepadanya lewat chat ini.
Jantung Cia berdetak tak menentu saat menatap kata mengetik di bawah nama Adelio.
"Lama banget sih lo. Nulis apaan sih pake lama segala?"
"Nulis daftar nama satu RT lu," cerocos Cia.
Ting
Nada tanda chat masuk terdengar membuat Cia tersenyum bahagia.
"Ya ampun udah terkirim," ujar Cia begitu panik dengan senyuman lebar. Cia lalu segera bangkit dari kasurnya, membuatnya terpatung menatap layar handphonenya.
"Gue buka aja nggak yah chat Adelio?"
"Eh jangan! Jangan!" tahan Cia cepat sambil menggeleng.
"Ok, jangan Cia!"
"Tahan dulu!"
"Tahan untuk beberapa saat!"
"Kalau gue bukanya cepat nanti ketahuan dong kalau dari tadi gue nungguin chat dia."
Cia mengeluh membuatnya kini meletakkan handphone ke arah dadanya dengan pola nafasnya yang tidak menentu.
"Tunggu!"
"Satu!"
"Dua!"
"Ti-ga!"
Cia kembali menatap layar handphonenya dan segera membuka chat Adelio.
____
Adelio Dzaky Aruf.
Online .
| Hay |.
20.20 ✓✓
____
"Aaaaaa!!!" jerit Cia begitu kegirangan sambil melompat-lompat bahagia di atas kasurnya untuk merayakan kebahagiaan ini.
"Yeeeeee!!!" teriak Cia yang masih melompat.
"Heh!!!" teriak Devan yang kini telah membuka pintu dengan tangan kanannya yang memegang ganggang pintu.
Cia menoleh menatap Devan yang kini terlihat begitu aneh dengan penampilan yang biasanya. Peci putih, baju kokoh putih, sarung hitam dan tasbih di tangannya. Bahkan sekarang Devan mirip dengan Adam si pria sholeh itu.
Kedua mata Cia menatap dari ujung atas sampai ujung bawa dan kembali ke atas.
"Kok pake baju kayak gitu?" tanya Cia.
Mimik wajah Devan yang ingin marah kini berubah saat ia mendengar ujaran Cia.
"Iya nih keren nggak?" tanya Devan sambil merapikan peci putihnya.
Cia mengganggukkan kepalanya dengan kaku.
"Em Ayah mau kemana?"
"Mau kemana? Ayah mau tobat, eh tapi Ayah keren kan pake peci kayak gini?"
"Hah, tobat?"