
"Yang lain mana ?"
"Siapa ?"
"Mamat, baby, si Jojon si-"
"Loh emangnya mereka nginep bukannya semalam mereka cuman nonton bola yah ?"
"Nginap kok, Ma orang mereka tidur di sini," ucap Cia yakin sambil menatap Fatima yang kini mengangkat bantal yang montir-montir susun di pinggir dinding.
"Waktu Mama keluar kamar jam tiga subuh cuman ada cia disini nggak ada siapa-siapa."
Cia kini terdiam mendengar ucapan Fatima. Cia sadar betul mereka nonton bola sampai jam satu malam dan setelahnya mereka tidur Lalu, jika mereka semua tak tidur di karpet ketika jam tiga subuh seperti apa yang dikatakan Fatima lalu kemana mereka semua.
Cia bangkit dari karpet melangkah cepat ke arah kamar Devan yang kini nampak tertutup.
"Ayaaaa....eh!!!" pintu nampak terbuka ketika Cia berniat untuk mengetuknya.
Perlahan cia melangkah masuk menatap kamar Devan yang nampak gelap tak ada sedikit pun cahaya di sana. Jari tangan cia kini mengetuk pelan saklar lampu berwarna putih yang terdapat di dinding dekat jaket-jaket hitam dengan lambang bulat dan terdapat kobaran api yang mengelilingi bulatan putih tersebut yang merupakan lambang terhormat Exoplanet.
Cahaya dari lampu itu kini menyinari tubuh ideal Devan yang berbaring di atas kasur tanpa mengunakan baju. Wajah tampan itu nampak begitu bercahaya diterpa cahaya lampu, wajah tampan Devan nampak begitu letih entah apa penyebabnya. Cia kini terdiam menatap wajah tampan itu, ayahnya memang tampan tak heran memang jika, para perempuan yang melihat Devan akan tergila-gila.
'kalau ajah devan Bukan Ayah gue pasti udah gue jadiin pacar' pikir cia lalu menggeleng cepat menyingkirkan pikiran bodoh itu.
Kini cia terfokus dengan punggung jari-jari Devan yang nampak memar bahkan terdapat luka di sana yang mengeluarkan darah segar.
Cia berlutut menatap luka itu lebih dekat. Cia kini yakin jika, Ayahnya yang baru berusia 29 tahun itu telah berkelahi. Cia sudah berapa kali untuk memperingati Devan untuk tidak berkelahi ataupun tauran antar geng motor tapi apa boleh buat hari ini devan berjanji besok tetap saja di lakukan.
Dengan pelan cia mengangkat jari-jarinya mendekati punggung jari-jari Devan yang masih tertidur lelap di atas kasurnya. Jari-jarinya kini berhasil menyentuhnya dengan pelan membuat darah segar itu menempel di ujung jari-jari cia.
Mata Devan terbelalak cepat ketika punggung jari-jarinya terasa lebih perih dan terasa lebih sakit entah apa penyebabnya. wajah Cia terpampang jelas di hadapannya sambil menatapnya dengan tatapan terkejut sambil bangkit dari lantai.
"Emm, kenapa Ci ?" Tanyanya ketika sudah duduk di pinggir kasur.
"Tangan Lo kenapa ?" Menatap Devan yang nampak terdiam sambil menatap jari-jarinya.
"Lo berantem lagi ?"
"Sama siapa ?" Ujarnya lagi lalu terdiam menanti jawaban dari Devan yang masih terdiam.
"Dah lah Lo mandi sana ! Gue janji mulai sekarang gue antar Lo ke sekolah."
"Gue udah bilang kan sama Lo nggak suka berantem ! Tapi Lo berantem juga, sama siapa ?"
"Enggak Ci."
"Enggak apa ?" Tatap cia serius membuat Devan kini terdiam tak berani berkata apa-apa.
"Apa sih untungnya berantem ?"
"Sok jago lo !"
"Nggak gitu, Ci!"
"Terus apa ?"
Devan terdiam tak harus berkata apa kepada Cia yang kini berdiri di hadapannya sambil menatapnya serius.
"Cia mandi ! Hari ini hari senin" ujar Fatima yang muncul dari pintu masuk kamar.
'oh iya ini kan hari Senin' batin Cia.
Cia kini baru sadar jika, hari ini hari Senin dimana upacara penaikan bendera dimulai. Cia melirik jam putih yang terpampang di kamar Devan yang kini sudah menunjukkan pukul 6:30.
"Sana mandi entar gue antar Lo ke sekolah!"
"Enggak usah ! mending Lo istirahat gue tau Lo capek udah berantem !"
Cia melangkah keluar kamar meninggalkan Devan dan Fatima yang kini saling bertatapan.
Fatima melangkah lalu duduk di samping Devan yang kini sudah berbaring di kasurnya.
"Semalam kamu kemana ?"
"Dimana ?" Tanya Fatima yang kini mengecilkan suaranya agar Cia tak mendengar suaranya.
"Depan bengkel."
"Kok bisa sih, Van ?"
"Dah lah ma nggak usah dibahas?"
"Eh, Mama tanya Loh ini!" Fatima mengusap pelan rambut hitam Devan yang kini terdiam sambil menutup kedua matanya.
"Van ! Devan ! Mama tanya Loh ini !"
Devan terdiam tak menanggapi ucapan Fatima.
...____*****____...
Tatapannya menatap layar handphonenya membuatnya terdiam. centang satu. Adelio menghembuskan nafas berat seakan tak mampu menghadapi cobaan ini. Harni gadis yang ia cintai belum membalas chatnya selama ia berada di Jakarta. Adelio tau jika, meninggalkan Harni ke jakarta adalah salah satu perbuatan yang bodoh tapi, Adelio tak mungkin membiarkan ibunya pergi sendiri ke Jakarta.
Adelio membaringkan tubuhnya ke kasur, mendekatkan handphonenya ke telinga berharap Harni mengangkat telfon darinya yang entah sudah berapa kali ia menghubungi Harni.
Tut Tut tut
Nomornya kini tak dapat dihubungi entah apa yang terjadi dengan Harni.
"Adelio !"
Julia kini berdiri di pintu menatap Adelio yang kini telah duduk di pinggir kasur setelah mendengar ucapan ibunya itu.
"Hari ini hari pertama kamu sekolah ! Ibu mau kamu tidak terlambat, biar ibu antar yah ?"
Devan bangkit meletakkan handphonenya di kasur lalu bangkit dari kasur meraih pelan tas hitam dari meja hitam yang telah di siapkan sejak malam tadi.
"Ibu tidak usah antar aku, aku kan udah pernah ke sekolah jadi Adelio udah tau jalan ke sekolah," Ujar Adelio yang telah berdiri di hadapan Julia.
"Aku pamit dulu, Bu !" Adelio meraih jari-jari ibunya lalu menciumnya pelan dan menatapnya dengan senyuman.
*****
"Stop stop stop !!!" Cia menepuk bahu Fatima membuat Fatima menghentikan motor metiknya di bawah dahang-dahang mangga yang daunnya nampak lebat. Tempat dimana cia selalu menyuruh Fatima untuk berhenti disini.
"Nih !" Cia menjulurkan helm yang ia gunakan tadi.
"Entar nggak usah jemput cia yah, kan ada si Fika," ujar cia lalu melangkah pergi setelah Helm itu berada di tangan Fatima yang menatapnya bingung.
"Ini sekolah punya berapa gerbang sih kok si cia nggak lewat depan tapi kok lewat di samping ?"
Cia berlari melewati deretan rumah yang berada di belakang tembok sekolah yang tinggi, sudah tak terdengar suara aktivitas murid-murid yang melaksanakan pengibaran bendera merah putih. Cia yang masih berlari kini menatap jam biru yang ada di tangannya yang kini menunjukan pukul 8:20 pasti upacara telah selesai dan kemungkinan pelajaran telah dilaksanakan.
"Eh, Cia !" Tegur salah satu pria dengan seragam putih abu-abu yang sedang nongkrong bersama 3 temannya di teras rumah bercat ungu sambil ngerokok ketika cia melintasi mereka. Andi pria yang kira-kira berumur 15 tahun, kelas X IPS itu yang meneriaki Cia merupakan teman baik cia.
"Gue buru-buru !" Teriak cia tanpa menghentikan larinya menuju tempat dimana ia sering memanjat untuk masuk ke sekolah.
***
Adelio terdiam di kursi tepat di hadapan pria dengan seragam guru itu yang tak lain adalah Pak Rarjo yang merupakan kepala sekolah di SMA Garuda bangsa.
"Permisi pak, bapak panggil saya ?"
Adelio menoleh menatap wanita yang kini sudah berdiri di pintu sambil tangan kanannya masih menggengam ganggang pintu.
"Ini Adelio murid baru untuk kelas XII IPA pindahan dari Makassar. Tolong diantar ke kelasnya, yah !"
"Baik pak. Mari Adelio biar saya antar," Ujar wanita itu yang tak lain adalah Bu Nani yang merupakan wali kelas di XII IPA yang berarti merupakan wali kelas Adelio juga.
Adelio bangkit lalu dari kursi tersenyum sedikit menatap pak Rarjo dan melangkah pergi mengikuti Bu Nani yang kini telah melangkah agak jauh darinya.
Tatapan siswa dan siswi kini menatap sosok pria berwajah tampan yang melangkah di belakan Bu Nani dengan gagahnya. mereka semua nampak terpanah menatap wajah pria tampan itu bahkan jika di bandingkan dengan Ogi pria itu ini jauh lebih tampan.
Adelio melirik ke sekelilingnya menatap para gadis-gadis yang menatapnya penuh serius. Ia tak tau apa yang salah dengan wajahnya sehingga mereka menatapnya seperti itu.
"Nama kamu siapa ?"