
Cia duduk melamun di sofa ruang tamu sembari menatap Fatima yang masih sibuk menjahit baju sesuai dengan pesanan tetangga sebelah.
Wajah itu nampak pucat tak seperti biasanya. Cia tau wanita yang seharusnya ia panggil Nenek itu sakit tetapi, harus bagaimana lagi baju itu harus siap sesuai waktu yang telah ditentukan dan batas waktunya adalah besok jadi, bajunya harus selesai malam ini.
Rasanya Cia ingin membantu wanita tua itu tapi, harus bagaimana lagi? Cia tak mengerti dengan dunia jahit-menjahit. Kini Cia hanya mampu menatap Mamanya itu dengan raut wajah yang terlihat sedih.
Cia kagum dengan Mamanya itu, yah walaupun dia hanya sekedar Nenek tapi, yang Mamanya lakukan selama ini melebihi tugas seorang Ibu pada umumnya. Begitu banyak yang Mamanya itu lakukan untuknya seperti mencuci pakaian milik Cia, memasak makanan untuk Cia, membagunkan Cia setiap pagi, mengantar Cia ke sekolah dan masih banyak lagi.
Fatima menoleh menatap Cia yang kini tersenyum setelah tersadar dari lamunannya ketika Fatima menghentikan jahitannya.
"Kenapa?" tanya Fatima.
Cia menggeleng sembari tersenyum manis.
Suara mesin itu kembali berbunyi membuat Cia kembali menatap jarum yang menjahit erat kain biru itu.
"Ma!" panggil Cia.
Fatima menatap ke arah Cia setelah menghentikan jahitannya.
"Ada apa?"
"Emmm, Mama tau nggak waktu Cia pergi ke mall Cia liat gaun cantik banget," jelas Cia dengan semangat.
"Terus?" Fatima kembali menunduk dan fokus menjahit kain biru itu yang kini sudah berbentuk seperti baju.
Cia tersenyum mendengar perkataan Fatima mungkin jika, ia mengatakan tentang gaun itu kepada Mamanya, ia akan membelikan gaun itu untuknya. Apa lagi Cia tau Mamanya sangat sayang kepadanya.
"Cia suruh Ayah buat beliin gaun buat Cia."
"Terus dibeliin?"
"Nggak," jawab cia cemberut lalu tertunduk.
"Loh kok bisa?"
"Mahal."
"Berapa?"
Cia terdiam sejenak seakan ragu untuk memberi tahu harga gaun itu kepada Fatima yang kini terdiam menanti jawaban darinya.
"Ci!" panggil Fatima membuat Cia mengangkat pandangannya.
"Berapa?"
"Lima juta."
"Hah!!!" teriak Fatima terkejut sambil membelalakkan kedua matanya.
"Ya ampun mahal banget. Lima juta bisa beli berapa mesin jahit tuh."
Cia menghembuskan nafas berat jika, gaun yang jelas-jelas kualitasnya terjamin dengan harga segitu diberi harga lima juta lalu bagaimana jika, Cia mengatakan mempunyai utang bakso di Mang Adang sebanyak lima juta.
"Pantesan ajah Ayah kamu nggak beliin, mahal banget."
Cia menatap Mamanya itu yang kini sedang mengoceh tentang harga gaun itu. Apa mungkin Cia meminta uang lima juta kepada Mamanya dan membayar utang Cia. Jika, Cia tidak minta malam ini pasti mang Adang akan menagihnya seperti tadi saat di sekolah, lagian Cia malu jika, harus dikejar-kejar seperti pencuri di sekolah.
"Ma!"
"Emm," sahut Fatima tak menoleh.
Cia engigit bibirnya pelan. Kini rasanya Cia tak berani meminta uang sebanyak itu kepada Mamanya, bahkan kini Cia berharap agar Mamanya tidak terkena serangan jantung.
"Em, anu, Ma. Ci...cia punya temen di...dia itu punya utang, Ma di kantin."
"Yah nggak apa-apa dong, kalau temen kamu punya utang yang pentingkan nanti juga di bayar.".l
Cia menggaruk pelan kepalanya yang tak gatal seakan tak tau lagi apa yang harus ia katakan kepada Mamanya yang membuatnya pusing.
"Em, jadi gini, Ma. Masalahnya temen Cia nggak punya uang, Ma."
"Loh nggak bisa gitu dong, utang itu harus di bayar."
"Iya sih, Ma, hehehe."
Ini saatnya! Sekarang katakan Cia! Cia memejamkan kedua matanya lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Lima juta."
"Apa?!!!" teriak Fatima sembari membulatkan kedua matanya menatap Cia.
"Astaga Bener-bener itu temen kamu punya utang kok segitu banyaknya. Lima juta itu banyak banget kalau, Mama jadi, Mamanya temen kamu, mama udah bejek-bejek tuh anak," Ocehnya membuat Cia menelan ludah.
Cia menghembuskan nafas berat mendengar perkataan Mamanya itu jika, seperti ini saja Mamanya sudah emosi bagaimana jika, Cia mengatakan jika, yang sebenarnya memiliki banyak utang sejumlah lima juta adalah dirinya.
Fatima menoleh menatap jam yang menunjukkan pukul delapan malam di mana Devan harus minum obat demamnya. Demam Devan belum turun juga walau telah dikompres dan diberi obat penurun demam.
Fatima bangkit dari kursinya berniat untuk melangkah pergi.
"Mau kemana?" tanya Cia cepat.
"Sekarang waktunya Ayah kamu minum obat."
"Biar Cia ajah, Ma."
"Oh, yah udah tapi, ingat jangan berantem lagi!"
"Siap, Ma!!!"
Cia bangkit dari sofa lalu memutar tubuhnya membelakangi Fatima berniat untuk segera melangkah menuju kamar Devan.
"Kalau bubur Ayah kamu belum habis tolong suruh dia habiskan buburnya, yah! Mama tau Devan nggak suka makan bubur."
"Iya, Ma."
Cia melangkah ke arah pintu kamar Devan yang nampak tertutup rapat. Apakah Devan sudah tidur atau belum? Jujur Cia tak suka jika, melihat Devan sakit dan wajahnya yang terlihat pucat, itu sebabnya setelah Cia menangis tadi sore ia segera ke kamar dan tertidur lelap.
Cia berdiri tepat di depan pintu kamar Devan
Tangan Cia bergerak berniat untuk mengetuk pintu kamar Devan namun, Cia mengurungkan niatnya.
Cia mendekatkan telinganya ke permukaan pintu berusaha mengetahui apa yang Devan lakukan di dalam sana.
Tak ada suara yang terdengar dari dalam membuat Cia memegang gangang pintu itu dengan erat lalu menekankannya dan mendorong pintu itu membuat Devan menoleh menatap Cia yang kini terdiam di pintu masuk.
"Hay!" sapa Cia sembari mencengirkan senyumnya.
Alis Devan mengkerut nyaris menyatu menatap Cia yang kini masih nyengir di pintu.
"Kenapa, Ci?"
"Nggak!" Cia menggeleng lalu melangkah mendekati Devan.
Cia menatap bubur di mangkuk putih yang nampak masih utuh seakan belum disentuh sedikitpun oleh Devan. Cia duduk di pinggir kasur lalu tersenyum manis menatap sosok Ayahnya.
Jika, Mamanya tak dapat menolongnya untuk membayar utangnya kepada mang Adang mungkin, Devan bisa membantunya tapi, apakah Devan tidak akan marah jika, tahu Cia punya utang sebanyak itu.
"Kenapa sih lo senyum-senyum gitu?" Tatap Devan.
Cia menggeleng lalu mulai menggaruk kepalanya yang tak gatal seakan tak tau lagi apa yang ia harus katakan kepada Ayahnya itu.
"Em, kok buburnya nggak dihabisin?"
"Gue nggak suka!"
"Emm, gue suapin, yah?"
"Nggak usah!" Jawab Devan cepat.
Cia yang tak memperdulikan ucapan devan Meraih mangkuk itu dengan cepat dari meja lalu mengaduknya di atas pangkuannya.
"Nih!" Senyum Cia terbias sembari menyodorkan sendok itu ke arah mulut Devan.
"Ci nggak usah aneh-aneh deh!"
"Aneh apanya sih? lo belum makan, yok makan buka mulutnya!"
"Nggak!"