
Suasana kantin nampak sudah ramai walaupun jam istirahat masih lama. Sekarang jam masuk pun belum di mulai membuat siswa dan siswi memiliki kesempatan untuk mengisi lambungnya di pagi hari ini.
"Jadi Adelio yang udah cerita semua?" tanya Cia sembari menatap serius ke arah Fika yang kini tengah menyantap semangkuk bakso buatan mang Adang, yah lagi-lagi bakso buatan mang adalah salah satu andalan santapan mereka.
Fika mengangguk sambil mengunyah bakso yang berada di dalam mulutnya.
"Adelio udah cerita semuanya Ci."
"Semuanya?" tanya Cia tak percaya dibalas anggukan oleh Fika.
"Yang bener?" tanya Cia lalu menoleh menatap Adelio yang kini mengaduk-aduk kuah baksonya, Adelio bisa mendengar pembicaraan mereka. Tak lama Cia kini kembali menatap Fika yang terlihat tersenyum penuh tulis.
"Cia sekarang gue sadar kalau cinta itu ternyata nggak bisa di paksain yah."
Fika terdiam sejenak hingga helaan nafas panjang berhasil berhembus.
"Kalau kita cinta sama seseorang dan orang itu nggak suka sama kita maka kita nggak bisa maksain orang untuk cinta sama kita."
"Aku bahkan udah merasa bodoh karena udah hampir bunuh diri gue sendiri."
"Gue minta maaf banget," ujar Fika lagi.
Cia tersenyum lalu menggenggam dengan penuh rasa kehangatan di jari-jari Kiri Fika.
"Aku minta maaf banget. Aku udah ngebentak lo dan bahkan memaki lo di depan rumah gue."
"Fika-"
"Cia please!" potong Fika.
"Aku mau ngejelasin semuanya, biar gue bisa ngerasa nggak punya kesalahan sama lo lagi," sambung Fika.
"Cia gue minta maaf, karena gue nggak ada di samping lo disaat mama lo meninggal."
Cia mengangguk sambil tersenyum dan menggenggam erat tangan jari-jari Fika.
"Gue minta maaf banget, Ci," ujar Fika lagi dengan wajahnya yang terlihat begitu sangat sedih.
"Iya Fikaaaa, gue selalu maafin lo kok," ujar Cia lalu tersenyum.
"Makasih yah Cia."
Cia mengganggukkan kepalanya lalu melepas genggamannya di tangan Fika lalu berujar, "Udah yuk makan! Nanti keburu masuk."
Fika kini mengganggukkan kepalanya lalu kembali menyantap bakso di mangkuknya yang masih banyak. Suasana kini menjadi sunyi, yang terdengar hanya suara dentingan sendok yang bergesekan.
"Em Cia."
"Iya," sahut Cia yang kini dengan cepat menoleh menatap Fika yang kini terlihat sangat serius.
"Gue mau nanya."
"Lo nih kebiasaan, tadi manggilnya aku sekarang gue, nggak pendirian lo," cerocos Cia membuat Fika tertawa.
"Lo mau nanya apa sih?" tanya Cia.
"Em tapi lo jangan marah yah!"
"Iya."
"Eh sebenarnya Ceo itu Ayah lo? Beneran?" tanya Fika dengan perasan takut, ia tak ingin kena semprot lagi oleh Cia.
Cia tersenyum, ini semua pasti karena Adelio telah memberitahu Fika yang sebenarnya. Perlahan Cia mengangguk membuat Fika terbalalak.
"Hah? Serius? Tapi beneran si Ceo itu bukan pacar lo tapi dia Ayah lo?" tanya Fika membuat Cia tertawa.
"Ya iya lah Fika astaga udah dari tadi gue bilangin nggak percaya banget sama gue."
"Yah ini nggak mungkin aja gitu, si Ceo itu masih muda terus ganteng banget dan nggak mungkin kalau Ceo itu Ayah lo," jelas Fika.
"Ya ampun, Fika! Lo liat dong muka gue! Masa nggak ada mirip-miripnya sama Ayah gue sih?" tanya Cia sembari menyentuh ujung dagunya lalu tersenyum.
Fika melongo, menatap serius ke arah wajah Cia.
"Em kalau gue liat-liat."
Fika terhenti sejenak lalu menatap setiap inci wajah Cia yang kini masih tersenyum.
"Em yaaah mirip sih tapi ya masa sih Cia? Nggak mungkin banget," ujar Fika lagi.
Cia yang tadi tersenyum kini menghembuskan nafas berat lalu segera fokus menyantap baksonya. Sementara Adelio kini hanya sibuk meminum segelas jus. Cia melirik Adelio beberapa saat, pria pendiam ini hanya terdiam sejak tadi seperti pria bisu.
"Cia, beneran?"
"Yah iyalah beneran, masa gue bohong sama lo?"
Fika menghela nafas panjang dengan otaknya yang terasa pusing memikirkannya.
"Ceo, Ayah Cia? Ya ampun. Cia!" panggil Fika membuat Cia melirik.
Fika menggeleng cepat membuat Cia menghela nafas panjang.
"Terserah deh!" putus Cia.
"Masalahnya Cia, Ceo itu ganteng banget kayak aktor luar negeri terus dia tinggi, perut sixpack, berotot, muda dan-"
"Heh!!! Lo sadar nggak sih kalau orang yang lo kagumi Anaknya ada di sini?" tanya Cia.
"Hah mana?" kaget Fika lalu menoleh kiri dan kanan.
Cia mendecapkan bibirnya lalu memukul meja dengan keras membuat Fika tersentak kaget sementara Adelio menunduk menatap bulatan bakso miliknya yang ingin ia masukkan ke dalam mulutnya terjatuh dari sendoknya dan terhempas ke meja lalu mengelinding ke lantai.
"Yah gue lah." Tunjuk Cia ke arah wajahnya tanpa menyadari jika Adelio kini sedang menatapnya.
"Ya ampun, jadi beneran?"
"Em," sahut Cia lalu kembali menyantap baksonya.
"Wah, terus-terus gimana rasanya punya Ayah kayak Ceo? Eh ini gue manggilnya apa sih? Ceo, Mas Ceo atau Om Ceo?"
"Lo ngapain manggil Ayah gue dengan sebutan Mas? Panggil Om aja!"
Fika tersenyum jahil lalu memajukan sedikit badannya dan berbisik, "Boleh nggak gue daftar?"
"Daftar?"
Fika kembali duduk sambil mengangguk.
"Daftar apaan?"
"Em itu, mana tahu kan gue bisa jadi Istri Om Ceo, hehehe," tawa Fika.
"Nggak yah! Enak aja lo. Kalau lo nikah sama Ayah gue berarti lo jadi Mama gue dong. Ih nggak mau gue," oceh Cia membuat Fika mendecapkan bibirnya kesal.
"Nggak seru lo, Cia."
"Biarin."
Cia terdiam sejenak lalu tersenyum.
"Gue nggak tahu, gue harus senang punya Ayah yang kayak Ceo atau nggak."
Cia menghela nafas panjang dan tersenyum.
"Gue seneng punya Ayah yang baik, lucu, perhatian kayak Ayah Ceo tapi disatu sisi lain gue juga merasa sedih."
"Sedih apa, Ci?" tanya Fika yang kini menggenggam jari-jati tangan Cia. Entah mengapa Cia terlihat sangat sedih kali ini.
"Fika, gue ngerasa menderita. Yang pertama gue nggak pernah liat Ibu kandung gue dan gue ternyata Anak haram," bisik Cia sembari menatap bola mata Fika.
Fika terbalalak dengan wajahnya yang tak menyangka.
"Apa?" bisik Fika.
"Gue Anak haram. Ayah dan Ibu gue nggak pernah menikah sampai sekarang."
"Maafin gue Cia," ujar Fika.
"Kenapa lo minta maaf?"
"Yah karena pertanyaan gue lo jadi jawab ini dan gue nggak mau lo sedih."
Cia tersenyum lalu mengganggukkan kepalanya dan kembali sibuk pada baksonya.
"Terus beneran kalau lo hampir diperkosa sama si Fuckboy itu?" tanya Fika lagi dan kini ia kembali berbisik.
"Emm," sahut Cia dengan malas.
"Ya ampun, Gue kan udah bilang sama lo kalau lo itu nggak boleh deket-deket sama cowok fuckboy cap linta kayak gitu."
"Yaaa terus aja ngoceh!"
"Yah gue kan peduli sama lo," ujar Fika dengan wajah cemberutnya.
"Peduli sih peduli tapi nggak usah dimarahin juga dong!"
"Yah sorry Ci, eh tapi sekarang si Fuckboy itu dimana?"
"Di penjara," jawab Cia santai.
Fika melongo.
"Alhamdulillah, gue seneng banget biar aja tuh si fuckboy digodain sama nyamuk dipenjara," ujar Fika dengan wajahnya yang begitu berbinar.
Fika kini terdiam menatap Cia dan Adelio yang nampak duduk berdampingan.
"Kalian udah pacaran?"