Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 225



Sudah sejam lebih mereka semua menunggu hasil tes golongan darah, membuat semuanya nampak gelisah sering waktu berjalan yang bergerak begitu terasa lambat.


Cia sesekali bangkit dari kursi panjang dan melangkah ke arah pintu berusaha untuk melihat apa yang terjadi di dalam sama. Sementara yang lainnya juga melakukan hal yang sama.


Mamat tak henti-hentinya melangkah mondar-mandir di depan Tara, Jojon dan Adam yang kini terlihat sedang duduk melamun di kursi panjang sementara Haikal nampak tertidur di pangkuan Deon yang kini juga ikut tertidur sambil menyandarkan kepalanya di bahu Baby yang kini sibuk memoles wajahnya dengan make up yang sudah tebal itu.


Di satu sisi lain Yuang kini terlihat termenung sambil menyadarkan punggungnya ke dinding rumah sakit sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Kok lama banget sih?" tanya Mamat yang kini menghentikan langkahnya lalu terdiam menatap pintu laboratorium dan tak berselang lama ia kembali melangkah mondar-mandir tak jelas kiri dan kanan.


"Kira-kira golongan darah saya apa yah Mas?" bisik Adam gelisah ke arah Jojon yang kini melirik Adam sebentar dan kembali fokus menatap permukaan pintu.


"Mana gue tahu, gue aja udah deg deg gini nunggu hasil tes darah gue," ujar Jojon sambil menyentuh dadanya.


"Deg deg? Apa itu Mas?" tanya Adam.


"Nih lo nggak liat?" tanya Jojon sambil menunjukkan jari-jari tangannya yang gemetar.


"Oh iya kasian," ujar Adam yang kini menyentuh penuh lembut jari-jari tangan Jojon yang kini dengan spontan terbelalak. Keduanya kini saling bertatapan cukup lama membuat Jojon kini menghempas tangan Adam.


"Ih jijik gue, sana lo!" kesal Jojon lalu mengusap jari-jari tangannya di permukaan celananya.


"Emang saya taik," jawab Adam lalu menghembuskan nafas berat.


"Hah? Siapa yang taik?!!" teriak Tara membuat semuanya tersentak kaget dalam keheningan kecuali Deon dan Haikal yang masih tertidur lelap.


"Iiiihhhh bikin khaget aj ha ni orang deh ehhhh, bikin e Kye kaget aja, nyebelin," kesal Baby yang dengan cepat menutup alat make up nya.


"Heh, mulai lagi deh!!!" tegur Cia membuat semuanya kini kembali terdiam dan membuat suasana kembali sunyi.


"Lo tuh," bisik Jojon sambil menyikut Adam yang kini menoleh.


"Astagfirullah," ujar Adam sambil mengusap dadanya.


Adam bangkit dari kursi lalu melangkah mendekati pintu dan mengintip.


"Mas Mamat, kira-kira golongan darah saya apa yah?" tanya Adam.


Mamat mengangguk lalu menepuk pelan bahu Adam yang masih gelisah itu.


"Sabar aja, enggak lama lagi hasilnya keluar kok. Cuman tunggu waktu aja. Mungkin nggak lama lagi," jelas Mamat membuat Adam mengangguk.


"Semoga ajah ada yang golongan darahnya AB yah," ujar Cia gelisah.


Tak berselang lama semuanya kini menoleh menatap ke arah Julia dan Fika yang terlihat melangkah mendekati Cia, beberapa montir lainnya dan Kasya serta Firdha. Tatapan para montir kini terlihat berbinar menatap kresek hitam yang di bawa oleh Julia serta Fika.


"Wah, sepertinya saya mencium bau-bau aroma makanan nih," ujar Jojon semangat sambil tersenyum penuh gembira.


"Hasilnya sudah keluar?" tanya Julia setiba nya di samping Cia yang kini mendongak menatap Julia.


"Belum Tante," jawab Cia.


"Tante, Tante bawa apa?" tanya Jojon yang kini tersenyum penuh harap.


Julia tersenyum lalu mengangkat keresek hitam itu.


"Ini roti," jawab Julia membuat Jojon bangkit dengan wajah berbinar.


"Wah makasih Tante," ujar Jojon semangat lalu melangkah mendekati Julia.


"Heh mau ke mana lo?!!" tanya Tara dengan suara teriakannya yang kini dengan cepat memegang pergelangan tangan Jojon.


"Apaan sih lo?" tanya Jojon yang berusaha untuk menghempas tangan kekar Tara yang masih memegangnya.


"Mau ke mana lo?!!"


"Mau ambil roti lah, yah masa gue mau pawai emang gue Anak mahasiswa," cerocos Jojon.


"Eh Tante Julia nggak beliin elo!!!" teriak Tara.


"Enak aja," kesal Jojon yang masih berusaha untuk melepas genggaman Tara seakan menjerat pergelangan tangannya.


"Permisi Mas, Mbak," ujar suster yang berpakaian putih dan kini ia terlihat berdiri di hadapan semua nya yang kin menoleh menatap suster itu dengan tatapan serius.


"Hasilnya sudah keluar?" tanya Mamat yang menghampiri suster itu.


"Hasil apa yah Mas?" tanya suster itu.


"Itu hasil golongan darah," jawab Mamat.


"Lah terus?" tanya Jojon.


"Begini Mas, Mbak, mohon maaf sebelumya, kedatangan saya disini untuk memberitahu Mas dan Mbak yang ada di sini untuk tidak berteriak. Ini rumah sakit dan para pasien yang ada di ruangan rawat bisa terganggu jadi saya harap Mas dan Mbak nya bisa mengerti," jelas Suster wanita itu dengan lembut dan penuh perhatian.


"Oh iya Sus, saya minta maaf," ujar Adelio membuat suster itu mengangguk.


"Eh hehehe maaf yah sus, ini nih biasa teman saya baru lepas dari kandang," ujar Jojon sambil melangkah mendekati suster itu dan tersenyum cengengesan.


"Heh!!! Mulai lagi nih bocah!!!" teriak Tara sambil menarik Jojon hingga terhempas ke dinding membuat semuanya kini menoleh menatap Tara dengan tatapan tajam hingga membuat Tara menelan salivanya dan segera duduk.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Mas, Mbak," pamit suster itu lalu melangkah pergi.


"Bay bay bay sayang, calon istri dari Anak-anak ku," ujar Jojon sambil melambai.


"Cuih mimpi lo, dia mana mau sama lo!!!" teriak Tara yang kini dengan cepat mulutnya di tutup oleh Yuang.


"Belisik amat sih lu punya mulut," kesal Yuang.


"Udah! Udah ini mending makan roti! Ini roti buat kalian semua," ujar Julia sambil melangkah mendekati kursi di mana para montir duduk di sana.


"Wah," girang Jojon yang dengan cepat berlari mendekati Julian.


Para montir yang melihatnya kini dengan cepat bangkit dari kursi lalu mengerumuni Jojon yang telah memeluk keresek hitam itu. Baby yang melihat hal tersebut segera bangkit dari kursi membuat kepala Deon yang bersandar di bahu Baby kini terhempas ke kursi.


"Aduh," adu Deon yang kini membuka kedua matanya sambil mengelus kepalanya yang telah terbentur.


Deon menoleh menatap Jojon yang kini mengangkat roti yang berusaha untuk di raih oleh Baby yang kini melompat-lompat.


Tanpa pikir panjang kini Deon bangkit dari kursi setelah meletakkan kepala Haikal dengan pelan ke kursi.


Julia tersenyum simpul menatap tingkah lucu para montir yang kini saling berebut roti yang telah ia beli. Julia bahkan tertawa saat Jojon menyuruh Baby untuk bergoyang agar dapat di beri roti oleh Jojon dan bodohnya Baby menurut dan bergoyang seperti cacing kepanasan.


"Maaf yah Tante, teman-teman Ayah saya memang seperti itu," ujar Cia membuat Julia mengangguk.


"Seru yah punya teman dekat seperti mereka," ujar Julia yang kini di balas angguk kan oleh Cia.


Suasana yang sedang bercanda gurau itu kini terdiam dan menoleh ke arah pintu yang kini di buka oleh seorang wanita.


Semuanya segera melangkah dan mendekati wanita yang kini memegang sebuah kertas putih di  tangannya.


"Bagaimana Suster?" Tanya Mamat penuh keseriusan sambil menghampiri wanita itu.


"Hasilnya sudah keluar," jawab wanita itu.


"Hasilnya bagaimana?" tanya Cia.


"Setelah menjalani pengecekan maka hasil yang muncul golongan darah atas nama pak Adam adalah B," jawab wanita itu sambil menjulurkan kertas putih.


Adam yang mendengar hal tersebut dengan cepat meraih kertas dan segera membukanya.


"Kalau Golongan darah AB?" tanya Cia cepat.


"Ada kok," jawab wanita itu membuat semuanya tersenyum bahagia.


"Siapa?" tanya semuanya dengan kompak.


"Atas nama Rudi," jawab wanita itu.


"Hah?" Tatap mereka heran.


"Rudi?" tanya beberapa dari mereka.


Haikal terbelalak lalu menoleh menatap Baby yang nampak syok dengan hal itu.


"Alhamdulillah," ujar mereka semua dengan kompak.


"Hah ulala, E Kye?" panik Baby sambil menyentuh dadanya.


"Masuk cepetan By, darah lo sekarang di butuin!" ujar Mamat lalu segera menarik pergelangan tangan Baby dan memaksanya masuk ke dalam ruangan.


"Aaaaaa e kye takut!!!" jerit Baby sambil menggeliat di kursi panjang.  


"Angkat! Angkat!" teriak para mantan montir-montir lalu berusaha untuk mengangkat tubuh Baby yang masih mengeliat di kursi panjang.


"Bu, ambil darahnya Bu! Kalau perlu sepuluh kantong Bu!" ujar Jojon lalu tertawa cekikikan seakan sangat bahagia.


"Eh taik lu yah!!!" jerit Baby yang masih di tarik oleh para montir dengan sekuat tenaga.