Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 179



"Mereka semua menembak dokter Yusuf, Cia," ujar Devan lalu menatap Cia yang kini tengah duduk di hadapannya sambil memeluk lutut dengan tatapan kosong.


Cia tak menduga jika kisah Devan begitu sangat tragis. Pantas saja ia tak pernah melihat Kakek ternyata pria itu telah tiada.


Cia menangis tersedu-sedu setelah mendengarnya. Tenyata pria berhati malaikat itu telah meninggal sudah lama tanpa ia ketahui.


"Dokter Yusuf meninggal?" Tatap Cia tak percaya.


Devan mengangguk pelan membuat Cia menangis.


"Jadi dokter Yusuf nyuruh gue masuk ke dalam koper biar gue nggak liat dia di tembak?" tanya Cia.


Devan mengangguk membuat Cia melepaskan tangisannya lagi.


"Dokter Yusuf sengaja nuker baju Devan biar bisa ngelidungin Devan, harus nya Devan yang ditembak Cia, bukan dokter yusuf," jelas Devan.


Cia menggeleng lalu memeluk erat tubuh Devan yang terasa hangat .


"Jangan! Jangan bilang gitu!" ujar Cia yang kini telah berada di pelukan Devan.


"Harusnya gue yang mati Cia, bukan Dokter Yusuf."


"Nggak!" bantah Cia sambil menggeleng.


"Karena gue, Bapak sama Dokter Yusuf meninggal, Cia. Gue yang salah," ujarnya sambil terisak.


Cia menyentuh kedua pipi Devan dan menggeleng berusaha untuk memberitahu Devan jika ini bukan salahnya.


"Gue minta maaf," ujar Devan.


Cia kini menghentikan tangisannya lalu ia terdiam membuat Devan ikut terdiam. Tatapan Cia terlihat bergerak-gerak seakan sedang memikirkan sesuatu membuat Devan terheran.


"Lo kenapa?" tanya Devan ragu.


"Gue...gu...gu...gue Anak haram, Van! Gue Anak haram!!!" teriak Cia sambil memukul dadanya.


"Nggak Cia! Nggak!" bantah Devan sambil menggeleng dan menyentuh kedua pipi Cia yang telah basah.


Cia menghempas tangan Devan dengan keras seakan tak mau disentuh oleh Devan yang kini ikut menangis.


"Gue Anak haram!!!" teriak Cia.


"Nggak!"


"Gue Anak haram!!!"


"Jangan bilang gitu Cia!"


"Gue Anak haram, Van!!!" teriak Cia membuat Devan memejamkan kedua matanya karena suara teriakan Cia.


"Jangan sentuh gue!!!" teriak Cia lalu menarik tangan Devan agar tak menyentuh wajahnya.


Sekuat apapun Cia berusaha untuk melepasnya semakin kuat pula Devan menahannya. Ia tak mau melakukannya. Devan yang masih menangis itu kini menarik Cia dan memeluknya dengan erat membuat Cia memberontak dalam dekapannya.


"Gue Anak haram!!!" jerit Cia di dalam pelukan Devan sambil memukul dada Devan dengan keras membuat Devan merasa sesak.


"Harusnya lo nggak usah bawa gue kabur!!! Biar aja gue mati di tangan orang jahat itu!!!"


"Nggak Cia!"


"Gue harusnya mati aja!!!"


Devan menggeleng kencang berusaha menolak ujaran Cia.


"Harusnya gue nggak ada di dunia ini, gue ini Anak pembawa sial!!! Gue Anak pembawa sial!!!" teriak Cia.


"Karena gue Kakek meninggal!!! Karena gue Dokter Yusuf juga meninggal!!!" teriak Cia.


"Nggak Cia."


"Ini semua karena gue!!!"


"Ini karena gue!!!" teriak Cia.


"Nggak!!! Nggaaaak!!!" teriak Devan membuat Cia menghentikan tangisannya lalu menatap kedua mata Devan yang memerah dengan kedua tangan Devan yang kini memegang m kedua pipi Cia.


"Ini bukan salah lo, Cia."


"Yah gue tahu menurut lo, lo itu Anak haram dan Anak pembawa sial tapi menurut gue lo adalah alasan gue untuk hidup."


"Kalau bukan lo, Cia. Gue udah bunuh diri dan udah gila karena rasa takut disetiap malam yang menghantui gue."


"Lo adalah alasan kenapa gue masih ada di dunia ini, Cia."


"Lo adalah alasan satu-satunya bagi gue."


"Lo." Tunjuk Devan ke arah dada Cia dengan jari telunjuknya.


"Lo adalah Anak gue dan tetap akan seperti itu sampai kapan pun."


"Lo adalah sumber kehidupan dan kebahagiaan bagi gue."


Devan terdiam sejenak lalu mengelus pipi Cia dengan lembut.


"Gue nggak mau sampai gue kehilangan lo, Cia. Gue sayang sama lo. Di dunia ini cuman lo yang gue punya, Cuman lo."


Cia melepaskan tangisannya dan kembali memeluk tubuh Devan.


"Cia minta maaf," ujar Cia sambil terisak pedih .


Devan hanya mengangguk sambil mengusap lembut rambut panjang Cia.


"Maafin Cia. Cia selalu berpikir buruk tentang Devan."


"Cia udah kurang ajar sama Devan.".


"Kurang ajar apa Cia?" tanya Devan.


"Seharusnya Cia itu manggil Devan dengan sebutan Ayah tapi Cia malah manggil Devan dengan sebutan lo," jelas Cia membuat Devan tersenyum lalu mengangguk.


"Devan," ujar Cia lalu melepas pelukan Devan dan menatapnya dengan serius.


"Apa?" tanya Devan berusaha untuk tersenyum.


"Dengar Cia!"


"Iya," sahut Devan.


"Mulai hari ini Cia bakalan manggil Devan dengan sebutan Ayah, bukan Devan ataupun Ceo," ujar Cia membuat Devan mengangguk.


"Cia minta maaf. Bahkan Cia selalu marah dengan Tuhan karena diberi sosok Ayah yang masih muda-"


"Dan ganteng," tambah Devan membuat Cia tertawa.


"Tapi, di balik ini semua ternyata Cia nggak pernah tahu kalau Cia punya sosok Ayah selalu ngelindungin Cia."


"Cia minta maaf, Ayah."


"Ayah?" Tatap Devan tak percaya.


Cia mengangguk membuat Devan tersenyum bahagia.


"Ayah mau kan maafin Cia?" Tatap Cia, menyandarkan pipinya ke dada Devan.


Devan mengangguk sambil terus mengelus rambut Cia yang lembut.


"Cia sayang Ayah," bisik Cia sambil mengelus rambut Cia.


"Ayah juga sayang sama Cia," jawab Devan lalu mengecup rambut Cia. Gadis kecilnya itu masih menangis.


"Yah." Tatap Cia yang kini telah memburam di halang air mata.


"Jagan pernah tinggalin Cia," ujar Cia membuat Devan menggelengkan kepalanya.


"Nggak akan, Cia. Gue...em maksudnya-"


"Ayah," ujar Cia membenarkan membuat Devan tertawa.


"Em iya Ayah. Ayah nggak akan pernah ninggalin Cia sampai kapan pun."


Cia tersenyum bahagia sambil terus menyandarkan pipinya ke dada Devan.


"Jangan pernah tinggalkan Cia! Cuman Ayah yang Cia punya di dunia ini," tambah Cia lagi.


Devan mengangguk sambil mengelus rambut Cia lagi dan lagi.


"Tidak akan Cia. Cia akan tetap bersama Ayah sampai kapan pun dan Ayah tidak akan pernah membiarkan orang jahat itu menyakiti Cia."


Cia yang mendengar hal itu kini melepas pelukan Devan dan menatapnya dengan senyuman.


"Janji?" tanya Cia sambil mengangkat jari kelingkingnya di hadapan Devan yang kini mengkerutkan dahinya.


"Janji apa?"


"Janji kalau Ayah nggak bakalan ninggalin Cia," jawab Cia lalu mengger-gerakkan jari kelingkingnya membuat Devan tertawa.


"Janji," ujar Devan lalu melingkarkan jari kelingkingnya di jari kelingking Cia yang terlihat agak kecil.


Devan kini menarik selimut Cia yang kini menutupi tubuh Cia sampai ke dadanya membuat Cia kini tersenyum.


"Selamat tidur," ujar Devan lalu mengelus pipi Cia dengan lembut.


"Selamat tidur, Ayah," ujar Cia.


Devan tersenyum lalu melangkah ke arah pintu dan tangan kanannya yang mematikan saklar lampu membuat suasana kamar Cia yang kini menjadi gelap.


Devan tersenyum lalu melangkah keluar dan menutup pintu dengan rapat. Cia membuka mata menatap langit-langit kamarnya yang kini terlihat gelap.


"Semuanya telah aku tahu tapi satu yang belum aku tahu, Ibu. Dimana Ibu Cia?" tanya Cia di kesunyian itu.