
Suara bel berbunyi menandakan jam pelajaran berakhir dan menandakan jam pulang telah di mulai. Semua siswa dan siswi SMA Garuda bangsa segera bergegas keluar dari ruangan kelas ditambah lagi Pak Martin yang kini telah membuka pagar sekolah dengan lebar-lebar sehingga para Siswa dan Siswi lebih leluasa keluar dari sekolah.
Cia melangkah dengan rasa kesal, bagaimana bisa akhir percakapan yang Cia harapkan panjang itu hanya berakhir dengan kata 'syukurlah' Hanya itu, tak lebih.
"Hah," keluh Cia, entah mengapa ia bisa suka dengan pria yang selalu bersikap dingin kepadanya. Rasanya pria itu memang tak memiliki sikap romantis sedikit pun.
Cia yang sedari tadi melangkah ke arah gerbang sekolah kini tatapannya beralih menatap Adelio yang nampak memasang helm ke kepalanya. Tak sadar ujung bibir Cia terangkat, pria dingin itu sepertinya enak untuk dipukul agar mengerti dengan perasaanya. Cia tak mengerti dengan Adelio yang bersikap biasa-biasa saja tanpa menunjukkan rasa sukanya kepada Cia. Cia tak mengerti dengan jalan pikiran Adelio yang sulit untuk ditebak.
"Cia!!!" Suara teriakan itu terdengar membuat Cia beralih menatap Devan yang kini tengah melambaikan tangannya.
Kedua mata Cia kini membulat karena terkujut, entah sejak kapan Devan ada di sana dan kini dengan santainya dia melambaikan tangan membuat semua orang menoleh menatap Devan.
"Cia!!! Cia Anak Ayah!!!" teriak Devan lsgi membuat Cia dengan cepat berlari ke arah Devan, Cia takut jika Devan kembali meneriakinya dengan sebutan anak lagi dan lagi, ini memalukan. Cia tahu jika Devan berteriak seperti itu karena Devan ingin menunjukkan bahwa dia adalah Ayah yang baik, tapi seumur hidup Cia, Cia tak pernah melihat sosok Ayah yang meneriaki Anaknya dengan panggilan seberlebihan itu.
"Ayah-"
"Selama siang menjelang sore Anak Aya-"
"Hust!" tahan Cia cepat sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya berusaha agar Devan tak kembali bicara.
"Ada apa Anak Ayah? Apakah pelajaran hari ini lancar? Hm? Oh iya bagaimana mi goreng dan surat yang Ayah-"
"Bisa diam nggak?" tanya Cia cepat sambil memasang wajah datarnya.
Devan mengangguk lalu segera menjulurkan helm ke arah Cia. Dengan wajah datarnya Cia meraih helm itu dan segera memasangnya dengan cepat. Rasanya Cia tak mau berlama-lama di sini, apalagi semua orang masih menatapnya dengan serius.
"Ayo cepetan pulang!" pintah Cia yang kini sudah duduk di atas jok motor.
Devan kini terdiam dengan kedua bola matanya yang meraba ke segala arah seakan mencari seseorang.
"Kok jalan?" tanya Cia.
"Tunggu!" suruh Devan yang kini masih sibuk mencari.
Cia mengkerutkan dahinya dan ikut menatap ke segala arah seakan ikut mencari sesorang yang Devan cari.
"Cari apaan sih? Cari si Ogi? Ogi udah masuk penjara tadi Cia dengar gosipnya dari teman Cia," jelas Cia memberitahu.
"Bukan, kalau itu Ayah juga tahu."
"Yah terus cari apa?"
"Nah itu," ujar Devan yang kini tersenyum menatap sosok orang yang sedari tadi ia cari.
"Siapa sih?"
"Adelao!!!" teriak Devan sambil mengerakkan tangannya ketika melihat Adelio yang nyaris melintas tepat di hadapannya dengan motor miliknya.
Cia terbelalak, entah apa yang Devan pikirkan saat ini hingga meneriaki Adelio dengan nama yang salah dan membuat Adelio menghentikan motornya agak jauh di hadapan Devan.
"Sini lo!" panggil Devan sambil mengerakkan jari-jarinya.
"Saya?" Tunjuk Adelio ke arahnya.
"Yah lo, siapa lagi?" kesal Devan.
"Namanya Adelio bukan Adelao," ujar Cia membenarkan.
"Iya iya. Heh sini lo!!!" teriak Devan.
Adelio yang mendengar hal tersebut segera melangkah turun dari motornya setelah mematikan mesin motor miliknya ia melangkah mendekati Devan. Adelio tak tahu mengapa Devan sampai memanggilnya, apakah ia ada salah?
"Ada apa Kak...eh maksudnya Om?"tanya Adelio canggung seakan tak tahu harus memangil Devan dengan sebutan apa.
Adelio tak mungkin memanggil Devan dengan sebutan Kakak karena Devan adalah Ayah dari Cia yang seumur dengannya tapi lebih tak mungkin lagi jika ia memanggil Devan dengan sebutan Om, Devan terlalu muda untuk dipanggil dengan gelar itu.
"Panggil aja Bang Ceo," ujar Devan.
"Muka lo udah nggak apa-apa kan setelah gue pukul dulu?"
"Pukul?" Tatap Cia heran.
"Iya itu loh yang Ayah kasih tahu dulu, Ayah khilaf," jelas Devan sambil tersenyum.
"Oh iya muka lo udah nggak apa-apa kan?" tanya Devan lagi.
"Nggak apa-apa kok Kak eh maksudnya Bang Ceo. Muka saya sudah sembuh juga," jelas Adelio sambil melirik sesekali berusaha menatap wajah Cia lalu ia tertunduk.
"Emmm ngomong-ngomong lo orang Makassar kan?"
Adelio mengangguk, "Iya Om, eh Bang Ceo."
"Om mulu, gue keluarin biji mata lo yah!" ancam Devan.
"Maaf Bang," ujar Adelio cepat.
"Nah mumpung lo orang Makassar, entar malam lo datang ke bengkel depan rumah!"
"Buat apa Bang?"
"Kita nonton bola."
"Bola?"
"Iya bola. Makassar lawan Jakarta nanti malam lo datang yah di bengkel Mobepan!" ujar Devan sambil menepuk bahu Adelio dengan hangat.
Adelio tersenyum lalu tak lama ia mengangguk cepat menandakan ia setuju.
"Nah gitu dong."
"Emm, jam berapa Bang Ceo nonton bolanya?" tanya Adelio.
"Jam delapan," jawab Devan membuat Adelio mengangguk lagi.
"Lo datang yah!"
Adelio mengangguk lagi sambil tersenyum.
"Ngangguk mulu lo kayak burung beo."
"Maaf Bang, kalau begitu saya pulang dulu Bang," ujar Adelio lalu tersenyum, tak lama iya melirik Cia yang diam-diam tersenyum menatapnya. Cia yang sedari tadi hanya terdiam dengan wajah murungnya langsung tersenyum seakan membalas senyum Adelio yang begitu indah.
Tak lama Adelio menaiki motornya lalu segera menancapkan gas setelah menyalakan mesin motornya. Cia masih terpatung sambil terus tersenyum menatap kepergian Adelio.
"Nah terus! Terus! Teruuuuus! Senyuuuuum mulu dari tadi," goda Devan sambil menatap serius ke arah Cia.
"Apaan sih?" Tatap Cia kesal lalu kembali tersenyum malu.
"Ngomong-ngomong Ayah kenapa tiba-tiba ajak si Adelio nonton bola?"
"Yah biar seru aja, kan gue sama Anak-anak montir dukung Jakarta nah biar seru si Adelio juga ikut nonton biar dia tahu kalau pesepak bola jakarta jago main bola."
"Jago? Tapi kalah tuh dua Minggu yang lalu waktu tanding."
"Yah itu kan Minggu lalu, entar malam beda," jelas Devan lalu segera menstarter motornya.
"Kita langsung pulang kan Cia?"
"Eh nggak, kita kan udah janji sama Tuan Brahmana kalau kita mau ketemu sama dia," ujar Cia mengingatkan.
"Oh iya," ujar Devan yang baru ingat dengan hal itu.
Motor kini melaju dengan kecepatan sedang melintasi para bangunan kota Jakarta yang tinggi menuju kediaman rumah Tuan Brahmana.