Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 199



Devan menatap satu persatu wajah para montir yang nampak masih terdiam. Mereka semua pasti sangat syok dan yah itu bisa Devan lihat dari wajah mereka. Rasanya Devan sangat sedih kali ini, ia berusaha mencoba untuk menghapus air matanya namun kedua mata yang kini telah memerah tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.


Devan melangkahkan kakinya pelan menuju jejeran para montir yang kini terlihat berbaris dengan tatapan mereka yang begitu sangat sedih bahkan Tara yang terkenal pemarah itu kini dengan susah payah menahan tangisannya.


"Kenapa ini bisa... bisa terjadi Bos Ceo? Kenapa? Saya datang pagi-pagi keadaan bengkel udah kayak gini," tanya Mamat.


"Kenapa Bos?" tanya Mamat lagi.


"Gue nggak tahu," Devan sedikit tertawa lalu menoleh menatap bengkel yang sudah rata dan hangus.


Devan melipat bibirnya ke dalam lalu tersenyum. Senyumnya kini berubah menjadi tangisan namun dengan cepat Devan menahan, ini agak sedikit memalukan jika ia menangis di depan para montirnya.


"Bos baik-baik aja kan?" tanya Mamat..


Devan tersenyum lalu mengangguk pelan seakan ingin memberitahu kepada para montirnya jika dirinya baik-baik saja lalu tak lama Devan menyentuh bahu Mamat dengan rasa penuh kehangatan dan menepuknya beberapa kali.


"Saya tahu Bos sedih tapi-" ucapan Mamat terhenti, rasanya ia tak mampu untuk bicara kali ini.


Mamat mengigit bibir bawahnya berusaha untuk tak menangis namun apa boleh buat Mamat melepas tangannya lalu dengan cepat ia memeluk tubuh Devan sambil menangis. Devan tersenyum, rasanya dia juga ingin menangis sekarang tetapi ia berusaha untuk tegar.


"Bos, saya minta maaf, Bos. Saya minta maaf mungkin saya kurang bagus matiin apinya pas acara bakar ikan selesai. Saya minta maaf Bos," ujar Mamat.


Devan melepaskan pelukannya lalu menepuk bahu Mamat sambil menggeleng.


"Lo ngomong apaan sih? Ini bukan salah lo, Mat!" ujar Devan sambil menepuk bahu Mamat yang kini mengusap matanya dengan lengan bajunya.


"Tapi Bos-"


"Udahlah! Nggak usah dipikirin," ujarnya berusaha menenangkan dan meyakinkan Mamat jika kebakaran ini bukan karena kesalahannya.


"Bos Ceo, Oe minta maaf Bos Ceo," ujar Yuang yang kini melangkah ke arah Devan sambil kedua telapak tangannya yang menyatu memberikan gerakan maaf kepada Devan.


"Maaf apa lagi sih?" kesal Devan sambil berusaha untuk tersenyum.


Devan mengelus punggung Yuang yang kini menangis sesenggukan persis seperti Anak kecil.


"Bos, uang...uang bengkel penghasilan kemalin ada di dalam laci lemali, Bos. Oe udah cali di lemali tapi oe lihat telnyata lemali punya Bos Ceo udah hancul, Bos. Uangnya udah ilang," jelas Yuang.


Devan menghela nafas, ia tak menyangka jika Yuang baru saja memeriksa uang di lemari tempat terakhir kalinya Yuang menyimpan uang.


"Udah tenang aja!" ujar Devan menangkan.


Jojon yang sedari tadi mengusap pipinya yang basah itu kini ikut menepuk pelan bahu Devan, Jojon tahu disaat ini Devan butuh dukungan dari orang terdekatnya. Jojon tahu jika Bosnya itu baru saja telah kehilangan Mak Fatima dan sekarang bengkelnya itu telah hancur karena terbakar.


Devan menoleh menatap Jojon dengan senyuman.


"Lo ngapain nangis sih?" tanya Devan sambil ikut menepuk bahu Jojon.


"Saya sedih, Bos," ujar Jojon.


"Saya juga, Bos," sahut Deon sambil mengangkat tangan kanannya.


"Sabar Bos! Allah tahu apa yang terbaik buat Bos Ceo," ujar Adam lalu ikut mengusap punggung Devan yang kini mengangguk.


Mamat kini mengusap pipinya yang basah itu lalu menoleh menatap Tara yang sudah sesegukkan sedari tadi.


"Bos, si Tara nangis Bos." Tunjuk Mamat ke arah Tara yang kini menoleh menatap Devan dengan kedua matanya yang memerah.


Devan tersenyum walau rasanya ini berat.


"Jon, Jojon!" panggil Devan membuat Jojon menoleh.


"Iya Bos," sahut Jojon cepat sambil melajukan langkahnya mendekati Devan.


"Tuh, tuh si Tara nangis! Masa udah gede nangis," jelas Devan membuat Jojon mengusap pipinya yang basah itu dengan telapak tangannya lalu menoleh menatap Tara yang masih sesegukkan.


"Heh!!! Ngapain lo nangis?" tanya Jojon sambil memukul lengan Tara.


"Badan doang yang gede tapi cengeng," cerocos Jojon.


"Noh liat si Baby, Baby yang lembek aja nggak nangis." Tunjuk Jojon ke arah Baby yang kini tersenyum lebar membuat para montir menoleh menatap Baby.


"Yah itu mah si Baby lagi pake bulu mata palsu terbaru jadi dia nggak nangis," jelas Haikal.


"Loh kok tempe?"


"Tahu!!!" teriak Jojon, Yuang dan Mamat membuat Deon tersentak kaget.


"Yah gue kan selalu lihat di IG nya si Baby," jawab Haikal.


"Ih ketahuan sering kepoin IG aku cieeeeee," goda Baby.


Haikal mendecapkan bibirnya kesal, sepertinya ia telah salah bicara.


Cia tersenyum walau air matanya sudah sejak tadi menetes membasahi pipinya. Cobaan seperti apa kali ini yang begitu sangat berat. Apakah ia bisa melewati semua ini.


"Baris semua!" pintah Devan dengan suaranya yang sudah serak.


Semuanya kini bergegas berdiri dengan rapi di hadapan Devan yang sudah tak menangis lagi. Semuanya kini menghentikan tangisannya dan memaksakan diri untuk berdiri dengan tegak.


"Siap semua?" tanya Devan.


"Siap!!!" teriak para montir dengan kompak.


Devan menarik nafas panjang dan terasa begitu sesak.


"Hari ini bengkel kebakaran dan itu berarti...itu berarti tak ada tempat untuk kalian bekerja hari ini dan mungkin seterusnya."


"Te...te...terima kasih atas kerja sama kalian selama ini."


"Sekali lagi terimakasih."


"Gue bangga punya kalian."


"Gua tahu kalian semua udah lama kerja disini dan pasti banyak kenangan yang kita punya di tempat ini."


"Gue minta maaf jika gue punya salah selama kalian semua kerja di bengkel ini."


"Untuk itu kalian semua gu...gue...gue pecat," ujar Devan seakan tak sanggup untuk mengatakan hal itu.


Para montir yang mendengarnya kini terbalalak kaget. Mereka rasanya belum siap untuk berhenti di bengkel yang penuh banyak cerita seru. Di bengkel ini mereka semua yang berbeda kepribadian itu disatukan menjadi sebuah keluarga.


"Bubar!" pintah Devan.


Semuanya terdiam, tak ada satupun yang membubarkan barisan setelah diperintah oleh Devan.


"Kenapa lo semua nggak bubar?" tanya Devan.


Semuanya kini terdiam, tak ada satupun yang menjawab pertanyaan Devan.


"Baby!" panggil Devan membuat Baby menoleh.


"Lo sekarang udah bisa kerja di salon dan gabung sama teman-teman lo! Gue tahu kok kalau setiap jam istirahat pasti lo ke salon."


"Terimakasih atas semuanya," jelas Devan membuat Baby tersenyum.


"Jojon, Terimakasih karena lawakan lo kita semua jadi nggak bosan di bengkel."


"Mamat, Gue salut sama lo yang cerdas dan terimakasih atas buku Trisakti perbengkelan," ujar Devan.


"Hidup buku tri sakti perbengkelan!!!" teriak Mamat membuat para montir tersentak kaget.


"Yuang, gue tahu lo udah lama kerja disini dan gue tahu selama lo kerja disini pasti uang tabungan lo udah cukup buat lo pulang ke Cina," jelas Devan.


"Deon, gue tahu lo satu-satunya montir yang paling ngeselin tapi lo punya banyak jasa disini."


"Dan Adam, lo satu-satunya yang paling soleh disini dan terimakasih untuk ilmu agama yang lo kasih ke kita semua."


"Tara."


"Iya Bos!!!" teriak Tara.


"Terimakasih untuk suara lo yang keras banget."


"Sama-sama Bos!!!" teriak Tara.


Devan kini terdiam beberapa saat sambil tertunduk lalu tak lama ia kembali mengangkat pandangannya menatap semua para montirnya.


"Ayo bubar!" pintah Devan lagi.


Semua para montir kini berpaling satu persatu meninggalkan Bosnya dengan langkah yang pelan dan terasa berat.


Devan terdiam menatap kepergian para montirnya. Mereka semua sudah seperti saudara baginya. Mamat yang merupakan montir paling cerdas di bengkel ini lengkap dengan buku tri saktinya. Jojon, si pria lucu yang setiap hari hanya sibuk membuat orang tertawa dengan ucapan konyolnya. Tara, si pria gondrong yang selalu berteriak setiap hari. Deon, si bocah dengan otak lalotnya. Yuang, si pemuda China yang selalu menjaga bengkel dengan cukup baik, Baby si pria yang merasa paling cantik disini dan Adam, si pria sholeh yang setiap hari selalu ceramah di bengkel.


Tatapan Devan kini beralih menatap Haikal yang nampak berdiri tepat di hadapannya.  Tatapannya kini nampak kosong dengan gitar di tangannya.


Devan tersenyum lalu menghampiri Haikal yang masih terdiam. Kini keduanya saling bertatapan beberapa saat diakhiri oleh Devan yang tertunduk.


Haikal menghembuskan nafas berat lalu segera menepuk pelan bahu Devan. Haikal tersenyum walau Devan tak melihat ke arah Haikal. Haikal tertunduk lalu menoleh dan melangkah pergi meninggalkan Devan.


Devan menoleh menatap bengkel yang sudah rata itu dengan kedua sorot matanya yang sudah kabur karena dihalang oleh air mata.


Rasanya ini sangat sakit.