Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 49



Keringat Ogi terlihat bercucuran membasahi tubuhnya yang terlihat berotot ketika ia berpanas-panasan di lapangan bola basket. Bola itu terhempas ke permukaan lapangan lalu terpantul secara beraturan. Ogi begitu lihai memainkan bola basket itu sampai-sampai pria yang di depannya begitu kewalahan untuk menandingi Ogi yang merupakan ketua tim bola basket di sekolah ini.


Cia tersipu malu begitu terpesona melihat Ogi yang bagaikan pangeran dengan sayapnya yang berwarna putih. Begitu tampan dan indah.


"Sampai kapan kita di sini?" bisik Adelio tak kuasa menahan keram di kakinya setelah setengah jam jongkok di belakang semak-semak sembari memperhatikan dua tim yang tengah bermain bola basket.


"Diam lo!!! Berisik banget sih?" bisik Cia kesal.


"Adelio, Cia emang kayak gitu. Dia itu nggak mau diganggu sama orang kalau dia lagi serius ngeliat orang yang dia suka," jelas Fika lagi sambil menyantap keripik pisang yang ia beli di kantin.


"Kalau kamu suka kenapa nggak kasih tau sih?"


Mata cia dan Fika terbelalak menatap Adelio yang berada di tengah-tengah mereka.


"Loh, kenapa?"


"Adelio, perempuan itu dikejar bukan mengejar, ya kan, Ci?" tanya Fika masih mengunyah kripik singkong.


"Hah?" Kedua mata Cia terbelalak dan menepuk-nepuk bahu Adelio sembari mengangguk.


"Gue setuju sama lo."


"Aa?" Tatap Fika tak mengerti.


"Gue bakalan kasih tau Ogi, kalau gue suka sama dia."


"Ci, lo jangan aneh-aneh deh."


"Tuh bukan aneh-aneh Fika, itu pembuktian."


"Pembuktian dari mana sih, Cia? Astaga! Heh, si Ogi itu playboy dan suka mainin cewek."


"Enak ajah lo," sinis Cia.


"Emang kayak gitu, si Ogi?"


"Iya," jawab Fika.


"Nggak!" jawab Cia cepat.


"Heh, nanti lo bantuin gue, yah buat ngungkapin perasaan gue sama si Ogi." Cia tersenyum menatap Adelio yang kini menganggukkan kepalanya.


Fika kini melongo, Bagaimana bisa Cia ingin mengungkapkan perasaanya kepada si Ogi, padahal sudah jelas jika, si Ogi  adalah pria yang fuckboy di tambah lagi Adelio yang akan membantunya.


"Ih, nyebelin deh," kesal Fika lalu beranjak pergi meninggalkan Adelio dan Cia.


"loh, kok pergi? Fika!!!" teriak Cia.


Fika tak menoleh ataupun menanggapi teriakan Cia di bekang sana.


"Fika!!!" teriak Cia dengan nada cemprengnya lalu berlari mengejar kepergian Fika meninggalkan Adelio yang kembali memejamkan kedua matanya dan menutup kedua telinganya menghindari suara teriakan Cia yang akhir-akhir ini selalu menyakiti gendang telinganya.


Adelio menghembuskan nafas berat. Adelio tak mengerti mengapa mereka semua suka sekali berlari ke sana ke sini tanpa letih. Menurut Adelio yang kemarin saja sudah melelahkan setelah dia dan Cia dikejar-kejar oleh mang Adang, sekarang apakah ia harus berlari lagi mengejar Cia yang berlari pergi meninggalkannya sendiri di semak-semak seperti orang bodoh.


"Huh!" Adelio bangkit dari semak-semak lalu melangkah pergi menyusul kepergian Cia dan Fika membuat dua gadis terbelalak Menatap pria keluar dari semak-semak.


Langkah Adelio melambat menatap Cia yang kini berhadapan dengan pak Yanto. Dari kejauhan pak Yanto nampak menjulurkan beberapa lembar kertas berserta uang, entah berapa jumlahnya, Adelio pun tak tau.


Cia menoleh ketika pak Yanto kini ikut berpaling melangkah pergi meninggalkannya. Cia menatap Adelio dengan wajah yang cemberut, entah apa yang pak Yanto katakan kepada Cia sehingga Cia nampak sedih seperti itu .


Cia melangkah menghampiri Adelio masih dengan beberapa kertas dan uang lima ribu di tangannya.


"Gila tuh, pak Yanto," Ujar Cia dengan wajah kesalnya.


"Kenapa?" tanya Adelio tanpa ekspresi.


"Nih buta mata lo?!!!" Teriak Cia sembari mengibaskan kertas itu tepat di wajah Adelio.


"Lo tau nggak? pak Yanto nyuruh gue foto copy terus ini gue cuman dikasih uang lima ribu, gila tuh, yah," oceh Cia.


"Cia!!!" Teriak Fika menghampiri.


"Eh, apa tuh?"


"Loh? Bukannya di sekolah ada mesin foto copy yah?"


Cia menghembuskan nafasnya berat lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding yang tak jauh darinya.


"Kata pak Yanto, mesinnya rusak jadi, harus ke depan sana buat foto copy."


"Oh, gitu."


Cia mengangguk membuat Fika berfikir sejenak.


"Terus lo sama siapa?"


"Apanya?"


"Yah, pergi foto copy lah."


"Em, gue sendiri ajah deh, pinjam motor lo yah?" Cia tersenyum nyengir.


"Yah, bensin gue udah mau habis, Ci. Gimana dong?"


Cia terdiam lalu tak lama ia melirik Adelio yang kini masih berdiri tak jauh darinya.


Adelio tersadar dari tatapan Cia yang menatapnya dari tadi seperti memikirkan sesuatu, entah apa itu?


"Ke...ke...kenapa?" tanya Adelio gugup.


...____****____...


Rambut Cia nampak berayun-ayun ketika ditiup angin yang berhembus menghantam lembut wajah Cia. Helm hitam itu di pangku di pangkuan Cia sambil terus menatap bangunan-bangunan kota Jakarta yang menjulang tinggi.


Adelio mengendalikan laju motor dengan kecepatan sedang melintasi aspal kota Jakarta. Ini yang kedua kalinya bagi Adelio membonceng gadis ini lagi, yah andai saja Cia tidak marah dan mengancam akan mengusir dirinya dari kursi, mungkin Adelio pasti tak akan melakukan ini.


Yang lebih meresahkan bagi Adelio adalah gadis bernama Cia ini tak mau mengalah bahkan Cia tak mau memakai helm yang di berikan olehnya dan lebih memilih untuk memangkunya.


"Di depan sana tuh!" Tunjuk Cia.


Adelio menatap ke depan. Dari kejauhan sudah nampak sebuah toko khusus foto copy bercat putih yang nampak ramai.


Adelio menghentikan motornya tepat di depan toko tersebut membuat Cia segera turung dari motor Adelio.


"Nih." Cia menjulurkan helm hitam itu ke arah pelukan Adelio, dengan cepat Adelio menyambut helm itu lalu menatap Cia yang kini melangkah pergi.


Adelio menghembuskan nafas berat lalu menatap wajahnya di kaca spion motor, merapikan rambutnya yang nampak acak-acakan dengan jarinya setelah dipasangi helm.


Adelio menoleh menatap Cia yang nampak masih mengantri dan berhimpit dikerumunan. Entah sampai kapan Adelio akan menunggu Cia di sini.


Adelio mulai menatap pria berjas hitam yang nampak berdiri di samping pria berkepala botak berseragam hitam yang nampak menekan ban mobil bermerek itu.


Kini yang ada di pikiran Adelio adalah mungkin ban mobil pria itu kempes atau entahlah Adelio pun tak mengerti.


"Kempes bos!" Ujar Jef menatap Abraham.


"Hah, kamu gimana sih?"


"Maaf bos."


Abraham menghembuskan nafas berat lalu melangkah mengitari mobilnya memeriksa ban mobil yang lain.


"Cuman ban yang ini bos yang kempes!" Tambah Jef lagi.


"Yah, udah kamu urus!"


"Tapi bos."


"Apa lagi?"


"Kitakan masih satu bulan di sini jadi, saya belum tau area sini bos."


Abraham terdiam, memang benar yang dikatakan Jef, mereka masih baru di Jakarta dan yang pastinya tidak tau di mana tempat bengkel yang dekat di area dekat sini.


Adelio melangkah Turun dari motor lalu melangkah membelah jalan menghampiri pria berjas itu.