
"Yuhuuuu!!!" teriak Ogi kegirangan sambil melompat-lompat seakan sangat bahagia.
"Dah sahabat Ogi!!!" teriak Ogi melambaikan tangannya menatap Cia dengan wajah datarnya lalu kembali melangkah pergi meninggalkan Cia.
Cia menghembuskan nafas berat sambil terus menatap kepergian Ogi, Ogi memang sangat menyusahkan nya hari ini. Cia tak mengerti entah mengapa otak Ogi menjadi gila seperti itu.
Cia kini memutar tubuhnya melangkahkan kakinya menjauhi perpustakaan. Langkah Cia yang pelan itu melangkah melewati lorong kelas sambil sesekali menatap bunga mawar merah yang telah layu di tangannya itu.
Senyum tipis Cia kini membias dari bibirnya mengigat tingkah konyol Ogi. Cia tak tahu mengapa sifat Ogi tiba-tiba berubah sangat derastis seperti itu ditambah lagi bunga mawar yang telah layu ini, entah mengapa Ogi menyimpan bunga mawar yang telah Cia tolak kemarin di halte.
Cia kini memejamkan matanya cukup kuat sambil menggeleng seakan menyingkirkan pikiran bodohnya tentang ogi dengan sikapnya itu. Cia harus ingat jika Ogi adalah raja fuckboy yang sering memperlakukan ribuan wanita dengan sikap manisnya itu.
"Cia." Suara teriakan itu terdengar memanggil nama Cia dari belakang sana.
Cia dengan cepat menghentikan langkahnya ketika suara panggilan itu terdengar cukup jelas diiringi suara ketukan sepatu yang terdengar seperti berlari dan kini semakin mendekat.
Cia kini menoleh menatap ke sumber suara. Cia kini menghela nafas lelahnya sambil melipat kedua tangannya menatap Ogi yang kini masih berlari mendekati Cia.
"Cia," ujar Ogi ngos-ngosan ketika telah tiba di hadapan Cia.
"Lo ngapain lagi sih?" tanya Cia, Ganas.
Ogi kini menelan ludahnya sambil terus berusaha mengatur nafasnya yang sesak itu.
"Ahhhh!!!" teriak Ogi melepas lelahnya.
Cia mengkerutkan alisnya menatap Ogi yang ngos-ngosan itu yang kini tak kunjung membalas pertanyaan yang baru saja ia lontarkan kepada Ogi.
"Lo ngapain lagi ke sini lagi?" tanya Cia lagi.
Tanpa sepatah kata dan hanya diiringi senyuman yang dibuat semanis mungkin, Ogi kini menjulurkan sebuah tiket nonton di bioskop berwarna biru ke arah Cia membuat Cia terheran.
"Apa nih?" tanya Cia, masih melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Ogi yang tersenyum itu kini memasang wajah datar, menyingkirkan senyuman itu.
"Ini tiket bioskop," ujar Ogi sambil mengangkat tiket itu.
"Terus?"
"Yah nonton lah, terus lo kira apa?"
"Siapa yang mau nonton sih?"
Ogi mendecapkan bibirnya lalu menurunkan jari-jarinya yang masih memegang tiket itu ke posisi semula.
"Lo nggak liat tiketnya ada dua?" tanya Ogi melambai-lambaikan tiket biru itu ke arah wajah Cia.
Cia yang yang mendengar ucapan mengenai tiket itu kini menatap ke arah jari tangan Ogi, benar saja tiket yang Ogi pegang sebanyak dua lembar. Mungkinkah Ogi akan mengajak Cia untuk nonton bersama di bioskop?
"Terus kenapa?"
Ogi menghela nafasnya berat diiringi decapan dari bibirnya.
"Yah nonton, kita berdua," jelas Ogi sambil mengerakkan telunjuknya ke arah wajahnya dan wajah Cia.
Cia begitu syok kali ini setelah mendengar ajakan Ogi, namun Cia berusaha bersikap biasa-biasa saja agar Ogi tak besar kepala. Cia sama sekali tak menyangka jika untuk pertama kalinya ada seorang pria yang mengajaknya untuk nonton bersama di bioskop. Seumur hidup Cia, Cia tak pernah pergi dan nonton film layar lebar di bioskop dan kali ini pria yang terkenal fuckboy kini tengah mengajaknya.
Cia tak tahu harus menjawab apa.
"Lo mau kan?" tanya Ogi sambil tersenyum paling manis.
Cia terdiam, memikirkan sesuatu. Jika Cia menerima tawaran Ogi lalu bagaimana degan Devan, Devan pasti tak akan mengizinkannya pergi di bioskop.
"Cia," panggil Ogi.
"Cia," panggil Ogi lagi yang kesekian kalinya.
"Lo mau kan?"
"Gue-"
"Ah pokoknya lo harus mau," potong Ogi lalu meraih paksa telapak tangan Cia dan meletakkan tiket itu ke gengaman tangan Cia.
"Nih! Gue tunggu lo di depan rumah lo malam minggu jam delapan malam," ujar Ogi.
"Tapi-"
Ogi kini melangkah pergi meninggalkan Cia yang kini tak melanjutkan ucapannya menatap kepergian Ogi yang kini telah menjauh.
Cia yang masih terpatung itu kini tertunduk menatap tiket nonton yang telah berada di gengamannya. Sekarang Cia harus apa?
...____***____...
Cia kini melangkah turung dari angkot biru yang telah ia tumpangi dan kini telah menepi di pinggir jalan tepat di depan rumah Fika. Kini niat Cia telah bulat, Cia kini telah memutuskan untuk bertemu dengan Fika.
Cia sangat gelisah degan sahabat terbaiknya itu. sekarang Cia tak perduli jika kini Fika telah berpacaran dengan Adelio, lagian mereka memang saling suka jadi untuk apa Cia merasa kesal degan hubungan mereka. Mungin ini yang terbaik baginya.
Cia kini menelan ludahnya menatap ke arah rumah Fika yang nampak terbuka, sudah tentu pasti ada orang di rumah Fika.
Degan memberanikan diri Cia kini membuka pagar besi rumah Fika lalu segera mendorongnya pelan dan melangkah masuk degan hati-hati.
Degan langkah yang penuh ketelitian Cia menaiki beberapa anakan tangga yang tak terlalu banyak itu lalu kini terdiam tepat di hadapan pintu masuk rumah Fika yang nampak terbuka lebar. Tak ada suara di sana.
Tok Tok Tok
Ketukan punggung tangan Cia kini mendarat di permukaan pintu yang kini telah bersuara itu. Tak ada sahutan dari dalam sana.
Sesekali Cia celingak-celinguk tak jelas memantau situasi di dalam bahkan di luar rumah Fika yang masih sangat sunyi itu.
"Fika!!!" panggil Cia dengan nada ragunya.
Tak ada jawaban.
"Fika !" Panggil cia lagi diiringi ketukan di permukaan pintu.
Tetap tak ada jawaban.
"Cari siapa Nak?" tanya wanita tua yang tinggal di sebelah rumah Fika.
Cia menoleh menatap wanita itu, wanita yang sama yang cia selalu temui setiap kali Cia datang berkunjung ke rumah Fika .
"Emm." Cia melangkah maju mendekati wanita tua itu lalu sesekali Cia mengerakan kepalanya menatap ke arah pintu masuk rumah Fika, berharap Fika ada di sana.
"Emm, si Fika ada nggak, Bu?" sambung Cia.
"Fika?" Tatap wanita itu serius.
"Nek!!!" Suara bocah laki-laki itu memangil wanita itu lagi, tak ada bedanya disaat Cia datang kerumah Fika dan disaat Fika pulang kampung.
"Tunggu!!!" teriak wanita itu terdengar serak sambil menatap cucunya laki-lakinya yang kini tengah memegang sebuah piring putih.
Wanita tua itu kini menggerakkan kepalanya menatap Cia sambil tersenyum.
"Apa tadi?" tanya wanita itu lagi.
"Fika ada di rumahnya nggak Bu? Soalnya Cia udah ketuk-ketuk tapi nggak ada yang nyaut," jelas Cia.
"Nek!!!" panggil bocah itu lagi setengah menjerit.
Cia dan wanita tua itu kini dengan kompak menatap ke arah bocah laki-laki yang sejak tadi memanggil dengan piring putihnya.
"Itu Fika!" Tunjuk wanita tua itu ke arah belakang Cia.