
"Saya terima nikah dan kawinnya Sasya Brahmana dengan...".
"Heh!" tegur pria yang merupakan penghulu yang siap untuk menikahkan Devan diacara pesta pernikahan ini.
Cia menggaruk kepalanya kesal dengan Devan yang selalu salah mengucapkan ijab kabul. Ini bukan kesalahan sekali yang Devan lakukan tapi kesalahan ini sudah belasan kali terjadi.
"Ini kapan jadinya, sih?" tanya Jojon kesal sambil mengacak-ngacak rambut yang sengaja dibelah tengah itu.
"Yang bener dong, Yah!" bisik Cia penuh tekanan dengan tatapannya yang dibuat melotot menatap Devan yang kini terlihat mengenakan jas putih serta peci putih.
Hari ini merupakan hari pernikahan Devan dan Kasya yang dihadiri para tetangga dan beberapa orang terdekat. Sebuah pesta pernikahan yang terbilang sederhana tapi sangat bermakna bagi Cia.
Devan menarik nafas panjang sambil mengusap dahinya yang sudah sejak tadi mencucurkan keringat dingin dengan detak jantungnya yang berdetak cepat dari biasanya.
Devan melirik menatap wajah cantik Kasya yang telah dipoles dengan make up membuatnya semakin cantik di hari sakral ini. Sebuah gaun putih bertabur kerlap-Kerlip hiasan indah yang sepadan dengan warna jas Devan membuat mereka terlihat serasi.
Kasya yang kini nampak duduk di samping Devan tersenyum, Kasya tahu jika Devan sedang gugup sekarang.
"Ayah serius nggak sih mau nikah sama Mama?" bisik Cia dengan mengerutkan rahangnya.
"Serius dong, Ci," jawab Devan cepat.
"Kalau serius yang bener dong ijab Kabulnya!" ujar Cia melorotkan mata.
"Yah, ini udah percobaan ijab kabul yang ke dua belas tau ngga, sih. Tetap ajah masih salah.".
"Kan baru pertama, Ci," ujar Devan membela diri.
"Baik kita ulang sekali lagi, yah!" ujar Bapak penghulu itu sembari menjulurkan tangannya.
"Bos Ceo!" panggil Jojon.
Devan yang masih berusaha mengatur nafasnya itu langsung menoleh menatap ke arah dimana para montirnya tengah asik menyantap hidangan yang tersedia.
"Semangat bos!" ujar Mamat menyemangati.
"Ingat bos malam pertama!" Tambah Jojon lalu tertawa cekikikan.
Devan menggeleng seakan menyingkirkan kalimat bodoh Jojon yang baru saja terlontar.
"Bisa dimulai?" tanya Bapak penghulu itu lagi.
Deon melangkah pelan sembari membawa sebuah piring berisi nasi dengan tatapannya yang menatap ke arah hidangan yang tersedia.
"Bisa cepet nggak sih, Deon? Gue laper, nih," ujar Haikal kesal yang sedari tadi berdiri di belakang Deon.
"Sabar, Kal," ujar Deon sembari menatap ke arah hidangan seakan mencari sesuatu.
"lu cali apaan, sih?" tanya Yuang agak emosi.
Sudah dua puluh menit mereka berbaris di belakang Deon untuk menunggu giliran untuk mengambil hidangan yang tersedia di meja panjang.
"Cari tempe," ujar Deon dengan raut wajah datarnya tanpa dosa.
"Eh bego, ini kawinan bego. Mana ada tempe di sini yang ada noh..." Tunjuk Haikal ke arah hidangan daging sapi yang telah diolah dan diberi bumbu sedemikian rupa.
"Nih daging lo makan biar sehat, tempe mulu yang dicari," cerocos Haikal sembari meletakkan sesendok daging sapi berbumbu ke piring Deon.
Jojon melirik ke arah sekelilingnya sambil tersenyum bahagia sembari mengaduk-aduk pelan nasi serta lauk yang nampak membumbung tinggi.
"Gila si Deon, cari tempe di sini," ujar Haikal lalu duduk di samping Jojon.
"Nih lo liat daging ayam gue, Kal!" Pinta Jojon sembari mengangkat daging ayam yang berada di tangannya.
"Hati-hati mas Jon! kadang itu tipuan," ujar Adam mengingatkan.
"Bener tuh yang Adam bilang, kadang daging yang paling gede biasanya lengkuas," tambah Mamat.
"Ah yang bener lo?" Tatap Jojon tak percaya.
"Coba lo gigit!" pinta Mamat.
Jojon terdiam lalu menatap daging dengan bumbu yang begitu menggiurkan. Jojon yang penasaran itu dengan penuh hati-hati mengigit daging itu yang terasa keras lalu segera mengunyah membuat Jojon melotot ketika rada pedas itu menghantam lidahnya.
"Buee!!!" teriak Jojon sambil mengeluarkan lengkuas dari mulutnya.
"Cih, Taik banget tuh yang masak, segala lengkuas dimasak terus di campur sama daging, maksudnya apa coba?" Cerocos Jojon.
Semua yang melihat hal tersebut langsung tertawa melihat kejadian yang begitu memancing gelak tawa yang melihatnya.