Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 172



Devan kini mulai berlari keluar kamar berniat untuk menghampiri Bapaknya yang sudah terkulai bersimpah darah, namun baru selangkah Devan mendekat dengan cepat Jef mengarahkan pistol itu ke arah Devan, membuat Devan kini menghentikan langkahnya lalu segera masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintu dengan rapat.


"Tangkap dia Jef!!!" teriak Abraham sambil menunjuk.


Jef yang telah mendengar perintah Bosnya itu dengan cepat berlari ke arah pintu yang kini sudah tertutup rapat.


BRUK BRUK BRUK


Pukulan yang keras itu kini memukul permukaan pintu dengan cukup keras sembari Jef berteriak memanggil nama Devan. Tubuh Devan gemetar sambil menyandarkan tubuhnya ke permukaan pintu yang kini telah dikunci dengan rapat.


Kasya yang masih lelah itu kini bangkit dan duduk di kasurnya menatap Devan dengan kedua mata sayupnya, suara teriakkan itu berhasil membuat Kasya mengumpulkan kekuatannya untuk bangkit dan berusaha melihat apa yang sedang terjadi.


"Ada apa? Itu tadi suara apa?" tanya Kasya menatap Devan serta Naini yang masih mengendong bayi mungil secara bergantian.


"Tidak tahu, Non," jawab Naini.


"Bapak, Bapak ku telah ditembak, Kasya," ujar Devan lalu tangisannya pecah begitu saja.


BRUK BRUK BRUK


Pintu itu kembali dipukul sambil suara teriakkan Jef yang terdengar dari luar membuat Devan menjauh dari pintu dan berlari hingga ia memeluk tubuh Kasya.


"Sya!!! Tolong beritahu Ayah mu! Jangan bunuh aku!" ujar Devan penuh harap dengan iringan suara tangisannya yang begitu menyakitkan.


Naini kini berlari ke arah Kasya dan segera memberikan bayi yang sudah dibalut dengan sarung batik itu ke pangkuan Kasya.


"Pergi! Jika kalian berdua ingin hidup bersama dan bersatu dengan bayi ini maka pergi sekarang juga!" bisik Naini dengan suara gemetar.


"Tapi Bi-"


"Pergi Non!" pintah Naini yang kini telah menangis membuat Kasya tak melanjutkan ujarannya.


"Devan, tolong! Tolong bawa Kasya pergi dari sini!" mohon Naini.


Kasya dan Devan kini saling bertatapan seakan bingung harus melakukan apa.


"Ayo cepat!" suruh Naini lalu menarik Kasya turun dari tempat tidur dan membantunya berdiri.


"Cepat pergi! Kalau tidak kalian berdua akan dibunuh oleh Tuan Abraham. Saya kenal betul dengan Abraham, dia tidak akan membiarkan kalian hidup bersatu," suruh Naini.


"Lewat sini!" ujar Naini sambil membuka jendela kamar.


Devan kini mengangguk lalu segera menyentuh Kasya dan membantunya untuk berjalan.


"Aaaaa!!!" teriak Kasya sambil menopang lutut dan meringis hebat. Rasa sakit pada area bawahnya masih sangat perih.


Bruk


Bruk


Bruk


Suara pukulan pintu terdengar sangat keras diiringi dengan suara teriakkan Abraham dan Jef dari luar.


"Ayo cepat!!!" teriak Naini begitu sangat panik.


"Ayo Kak Kasya!" ujar Devan yang kini sudah menangis ketakutan. Ia memegang pergelangan tangan Kasya dan menariknya.


Kasya mengigit bibir berusaha menahan sakit namun sayangnya Kasya tak mampu untuk melangkah.


"Ayo Kak Kasya! Kak Kasya pasti bisa!" ujar Devan.


Kasya mengangguk lalu kembali melangkah dengan kakinya yang gemetar.


"Aaaa!!!" teriak Kasya lalu terjatuh ke lantai.


"Devan, a...aku tidak bisa. Bawa pergi bayi ini!" ujar Kasya yang kini telah terisak.


Devan terbelalak setelah mendengar hal tersebut.


"Tapi-"


"Devan dengar aku!!! Ayahku tidak akan membunuhku tapi dia akan membunuhmu," ujar Kasya dengan kedua matanya yang kini telah memerah.


Kasya kini menunduk menatap wajah bayi mungil yang kini terlihat sedang tertidur dengan nyenyaknya. Kasya menyentuh lembut wajah bayi itu dengan ujung jari tangannya membuat Kasya tersenyum.


"Devan, hidungnya persis sepertimu," ujar Kasya lalu ia tertawa dan kemudian Kasya menangis.


Kasya kini mengecup kedua pipi, hidung dagu dan bibir mungil bayi itu lalu tersenyum.


"Bawa dia pergi! Ku mohon!" harap Kasya lalu segera menyerahkan bayi itu ke pelukan Devan.


Devan kini terbelalak ketika bayi yang masih terdapat bercak darah di tubuhnya itu kini berada di gendongannya.


"Pergi! Pergi dari sini Devan! Bawa bayi ini pergi jauh!" suruh Kasya dengan nada suaranya yang terdengar gemetar.


"Betul Devan. Pergi sekarang sebelum kamu menyesal," tambah Naini.


Devan terbelalak setelah mendengar hal itu.


"Non, Tuan Abraham bilang kalau bayi ini akan dibuang jika ia telah lahir dan akan memisahkan Non Kasya dari bayi Non," jelas Naini.


Kasya menutup mulutnya cepat ketika kabar buruk itu terdengar membuat Kasya menangis. Kasya tak menyangka jika Ayahnya bisa sejahat itu kepadanya.


Bruk


Bruk


Bruk


"Devaaaan!!!" teriak Abraham.


"Buka pintunya!!!" teriak Jef.


Suara pukulan pintu dari luar kembali terdengar diiringi suara teriakan Jef serta Abraham dari luar membuat mereka kembali menatap pintu.


"Cepat Van!!!" teriak Naini lalu menarik dengan cepat pergelangan tangan Devan.


"Tapi-" Tatap Devan kebigungan, memaksakan tubuhnya bangkit dari lantai sambil menggendong bayi itu.


"Dobrak pintunya!!!" teriak Abraham, hingga suara yang cukup keras menabrak permukaan pintu, membuat mereka kembali menatap pintu yang kini terlihat hampir ambruk.


"Cepat Van!!!" teriak Naini.


Tubuh Devan gemetar ketakutan, membuatnya kini menangis.


"Sya." Tatap Devan ke arah Kasya yang kini ikut menangis.


Kasya kini memaksakan tubuhnya yang lemas itu bangkit dari lantai dan segera memeluk tubuh Devan yang masih mengendong bayi yang berparas cantik itu.


"Sya, aku tidak mau pergi!" ujar Devan sambil menggeleng lalu ia terisak.


"Pergi Van! Ayahku akan membunuhmu bersama dengan bayi ini," ujar Kasya sambil mengelus pipi bayi yang masih basah itu.


Naini kini melangkah dan segera membuka jendela kamar Kasya cukup lebar membuat kasya dan Devan menatap ke arah Naini.


"Pergi cepat!" pintah Naini.


"Devan!!!" teriak Kasya membuat Devan menoleh.


"Cepat pergi!!!" suruh Kasya.


"Kapan kita bisa bertemu?" tanya Devan.


"Jika tuhan sudah menentukan waktunya," ujar Kasya dengan nada pelannya.


Devan kini mengangguk lalu segera melompat melewati jendela kamar Kasya dan segera berlari cukup kencang sambil memeluk tubuh bayi yang kini sedang tertidur.


Plak


Hempasan pintu yang terbuka itu berhasil membuat Naini dan kasya tersentak kaget di tambah lagi Abraham, Jef dan Firdha yang berlari masuk ke dalam kamar.


Jef menatap ke seluruh ruangan sambil mengarahkan pistol itu ke arah seluruh kamar.


Mereka kini menatap ke seluruh ruangan mencari sosok Devan dan bayi itu membuat Kasya dan Naini melangkah mundur dan berdiri menutupi jendela. Masih ada Devan di sana yang masih berlari.


"Dimana Devan?!!!" teriak Abraham.


"Dimana Devan?!!! Cepat katakan!!!" teriak Abraham lagi.


Jantung Kasya berdetak cepat, Kasya sangat takut jika Abraham melihat ke arah jendela dan melihat Devan di sana.


Abraham kini melangkah ke arah jendela namun belum sempat ia membuka kain gorden yang menutupi jendela, Kasya kini mendorongnya.


"Ayaaaah!!!" teriak Kasya yang kini memeluk kaki Abraham.


"Jangan, Yah!!! Jangan sakiti Devan!!!" teriak Kasya sambil menangis.


Tanpa rasa iba kini dengan cepat Abraham mendorong tubuh Kasya untuk menyingkir dari kakinya membuat Kasya terhempas ke lantai. Naini yang melihat hal itu dengan dengan cepat menyingkir dan segera membantu a untuk bangkit.


Dengan sangat cepat Abraham membuka kain gorden dan betul saja, Abraham mampu melihat Devan berlari cukup jauh berusaha melewati pagar besi yang kini tak dijaga oleh siapa-siapa. 


"Kurang ajar!" Marah Abraham penuh tekanan lalu segera merampas begitu saja pistol dari tangan Jef dan mengarahkannya ke arah Devan.


"Devaaaaaaan!!!" teriak Abraham sambil mengarahkan pistol itu ke arah Devan yang masih berlari.


Bruk


Tubuh Abraham terhempas ke dinding ketika dengan cepat Kasya mendorong tubuh Abraham hingga peluru yang barasal dari pistol itu menghantam dinding kamar.


Plak


Tubuh kasya ikut terlempar hingga kepalanya mengenai dinding kamar, tatapan Kasya kini memburam ditambah lagi tatapan yang memburam itu berubah menjadi gelap hingga kepalanya bergeser ke bawah membuat sebuah garis berdarah di permukaan dinding  dan Kasya jatuh tak sadarkan diri ke lantai.  


"Kasyaaaaaaaa!!!" teriak Firdha lalu segera berlari dan memeluk tubuh putrinya itu.