Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 201



Cahaya mentari nampak begitu malu-malu untuk menampakkan sinarnya pagi yang begitu cerah ini. Keindahan itu membuat Cia tersenyum saat membuka kain gorden kamarnya. Kini Cia telah siap untuk berangkat ke sekolah lengkap dengan seragam sekolahnya yang telah ia kenakan.


Kejadian kebakaran kemarin cukup membuatnya syok hingga ia tak berangkat ke sekolah. Cia sedih tapi ia tak mungkin harus terus-terusan sedih.


Cia kini meraih tas ransel hitamnya yang telah ia siapkan di malam tadi, kali ini bukan Devan yang menyiapkannya. Langkah kaki Cia kini melangkah keluar mendapati Devan yang kini tengah asik menatap layar handphonenya.


Cia mengkerutkan alisnya menatap Devan yang begitu sangat serius, baru kali ini Devan terlihat sangat serius memainkan handphonenya.


"Ngapain sih?" tanya Cia yang kini berdiri di belakang kursi.


Devan terdiam, ia tak menanggapi pertanyaan Cia. Cia mendecapkan bibirnya lalu ikut duduk di samping Devan.


"Ngapain sih, Yaaaah?" tanya Cia memperpanjang kalimat akhirnya.


"Lagi chat sama si Neng Mita yah?" tebak Cia membuat Devan menoleh dengan wajah terkejutnya.


"Kok Mita sih?" tanya Devan kebingungan.


"Yah mana tahu kan Ayah chat-chatan sama dia," cerocos Cia.


"Enak aja, nggak!"


"Terus lagi apa?"


"Ayah Cari kerja," jawab Devan singkat lalu beberapa detik kemudian Devan menoleh menatap Cia yang kini masih terdiam dengan wajahnya yang terlihat sedih.


"Kenapa ?" tanya Devan.


Cia tersenyum singkat lalu tertunduk. Kini Cia tahu Devan tak punya lagi pekerjaan dan semua barang-barang peralatan bengkel sudah hangus terbakar, tak ada lagi yang bisa dijadikan uang.


"Cia kenapa?"


Cia menoleh menatap senyum Devan yang terlihat begitu sangat tulus.


"Cia mau berangkat ke sekolah, siapa yang mau nganterin Cia?" tanya Cia lalu beberapa detik kemudian ia kembali tertunduk.


Devan terseyum lalu melirik jam yang berada di dinding.


"Tunggu! Entar juga sampai."


"Siapa?" tanya Cia heran.


PIP


PIP


PIP


Suara klakson motor terdengar membuat Devan tersenyum, akhirnya orang yang ia tunggu datang juga.


"Tuh orangnya datang," ujar Devan tanpa menatap Cia, ia masih fokus pada layar handphonenya.


"Siapa?" tanya Cia.


"Liat aja sendiri!" pintah Devan.


Cia mengkerutkan alisnya lalu segera berlari ke luar rumah. Langkah Cia terhenti ketika berhasil menatap Adelio yang sudah menunggu di depan pagar rumahnya.


"Adelio?" Tatap Cia heran.


Cia benar-benar tak menyangka jika Adelio bisa ada di depan pagar rumahnya sepagi ini dan apa yang sedang Adelio lakukan.


"Udah sana pergi!" bisik Devan yang sudah berada di samping Cia.


Cia menoleh menatap Devan yang masih tersenyum. Apa maksud ini semua?


Devan tersenyum pelan. Semalam dengan sengaja Devan telah menelfon Adelio hanya untuk menyuruh Adelio menjemput dan mengantar Cia pulang ke sekolah. Jika bukan dengan Adelio, Devan minta tolong, entah dengan siapa Devan minta tolong untuk melakukan hal ini.  


Menurut Devan, Adelio merupakan pria yang baik dan dia juga bisa menjaga Cia. Devan tahu bagaimana sifat dan sikap Adelio.


"Kok Adelio ada di sini?" tanya Cia.


Devan tersenyum lagi lalu menatap Adelio yang kini telah melepaskan helm dari kepalanya.


"Adelao, sini!!!" teriak Devan sambil mengerakkan tangannya membuat Adelio mengangguk.


"Adelio, bukan Adelao!" tegur Cia.


"Iya, iya tahu."


"Tapi kok bisa sih Adelio ada di sini?" tanya Cia heran.


"Yah bisa lah," ujar Devan dengan sombong.


Adelio yang sedari melangkah menuju Devan dan Cia kini sesekali menoleh menatap bengkel yang sudah rata dengan tanah. Entah bencana apa yang telah menghantam bengkel ini hingga hancur dan hangus terbakar.


"Pagi," sapa Adelio sambil menatap Devan dan Cia saling bergantian.


Devan mengangguk pelan seakan membalas sapaan Adelio.


"Pagi," sapa Cia sambil tersenyum.


"Itu kok bengkelnya-" Tunjuk Adelio ke arah bengkel.


"Kebakaran," jawab Devan cepat berhasil membuat Adelio menghentikan ucapannya yang baru saja ingin menanyakan tentang bengkel.


"Kebakaran tapi kenapa bisa terbakar?" tanya Adelio membuat Devan menggeleng, ia pun tak tahu mengapa bengkelnya bisa terbakar seperti itu.


Devan terdiam menatap Adelio yang nampak mematung di tempatnya berdiri.


"Eh ini mau bengong atau mau ke sekolah sih?" tegur Devan membuat Adelio dan Cia menoleh.


"Cepetan, nanti kamu telat!" suruh Devan.


"Tunggu! Tungu! Cia ambil sepatu dulu!" ujar Cia cepat lalu ia segera berlari masuk ke dalam rumah untuk mengambil sepatunya.


Devan kini terdiam sambil menatap Cia yang kini telah duduk di atas jok motor tepat di belakang Adelio yang kini telah siap untuk melakukan motornya.


"Cia pamit dulu yah!" ujar Cia lalu tersenyum sambil melambaikan tangan .


Senyum Cia terlihat berbeda kali ini, terlihat penuh kegembiraan yang mendalam. Rasanya Ayahnya itu tahu saja apa yang selalu bisa membuat hati Cia jadi bahagia. Yap Adelio, siapa lagi?


"Nih salim dulu!" pintah Devan sembari menjulurkan tangannya.


Cia tersenyum, memperlihatkan giginya yang putih di hadapan Devan. Saking senangnya ia sampai lupa untuk menyalimi Ayahnya sendiri. Cia kini meraih jari-jari Devan dan segera mengecupnya ditambah lagi Devan yang mengelus rambut Cia persis seperti mengelus Anak kucing.


Adelio sedikit merasa aneh setelah melihat apa yang Devan dan Cia lakukan. Bukan malah seperti Ayah dan Anak tapi mereka seperti pasangan suami dan Istri. Devan terlalu tampan dan muda untuk menjadi seorang Ayah. Kini Adelio tak heran dan ragu lagi jika semua gadis-gadis sekolah sampai menggila-gilai Devan, Devan adalah pria yang terlihat sangat sempurna.


"Nih kamu juga!" suruh Devan sembari menjulurkan jari-jarinya ke arah Adelio membuat Adelio yang sedari tadi terdiam kini membelalakkan kedua matanya karena terkejut.


"Kenapa Om, eh maksudnya Bang?" tanya Adelio.


"Ayo salim!" pintah Devan sambil mengerak-gerakkan jari-jarinya ia julurkan ke arah Adelio.


"Saya juga?"


"Yah iya lah," jawabnya cepat.


Adelio kini menoleh menatap Cia yang kini mengangkat kedua alisnya seakan menyuruh Adelio untuk cepat menyalimi tangan Devan.


"Heh, kalau di rumah berarti gue adalah Ayahnya Cia tapi kalau di luar rumah berarti kita temenan jadi sekarang panggil gue Om!" jelas Devan.


Adelio kini tersenyum lalu segera menyalimi tangan Devan.


"Etis, Cium!" suruh Devan saat Adelio berniat untuk melepaskannya.


"Cium?"


"Iya cium. Lo nggak mau?"


"Mau Om, mau," jawabnya cepat lalu segera mencium punggung tangan Devan membuat Devan kini mengelus rambut Adelio, tak ada bedanya disaat Devan mengelus rambut Cia. 


Devan kini terdiam sambil menatap serius ke arah keduanya yang sudah siap untuk berangkat.


"Kami pamit dulu yah Bang, eh Om," ujar Adelio.


"Eits! Tunggu dulu!" tahan Devan cepat lalu meraih tas hitam milik Cia dan meletakkannya di tengah-tengah Adelio dan Cia.


"Aa?" Tatap Cia tak mengerti dengan apa yang Devan lakukan.


"Batas!" ujar Devan sembari melototkan kedua matanya cukup lebar, ini seperti tatapan peringatan agar dua Anak ini tak bersentuhan.


Cia mendecapkan bibirnya lalu mengangguk, jujur saja ini terlalu berlebihan .


"Heh!!!" Pukul Devan pelan ke bahu Adelio yang kini tersentak kaget.


Adelio menoleh setelah pukulan itu membuat Adelio menatap wajah Devan yang nampak sangat serius dengan sorot mata tajam dan menikam.


"Anak gue ini, jangan macam-macam lo!" ancam Devan sambil menunjuk ke arah wajah Adelio yang kini ketakutan.


"Iya, i...iya Om," jawab Adelio dengan gugup.


"Hati-hati lo bawa anak gue! Jangan tutup mata lo bawa motor, nanti Anak gue jatuh terus kepalanya berdarah terus lupa ingatan, nggak kenal gue lagi, awas lo!" ancam Devan.


"Iya Om," jawab Adelio.


"Jangan ngebut-ngebut lo bawa motor! Yang pelan-pelan aja!"


"Eh awas lo yah kalau sampai ada apa-apa sama Cia! Itu juga awas mata Cia jangan sampai kemasukan debu gara-gara kamu yang bawa motornya nggak bener!"


"Pelan-pelan bawa motor!"


"Jangan ngebut! Jangan langgar rambu lalu lintas!"


"Kalau lampu merah, berhenti! Kalau orange hati-hati! kalau hijau-"


"Jalan," potong Adelio.


"Heh!!! Buru-buru amat, liat dulu kiri kanan! Nggak ada kendaraan atau nggak? Baru lo jalan!" jelas Devan membuat Adelio mengangguk.


"Kalau ada mobil yang mau nyalip biarin aja! Nggak usah ikut nyalip, Nanti Anak gue jatuh, gue gantung lo di Monas!"


Cia mendecapkan bibirnya. Entah sampai kapan ia akan ada di sini dan mendengarkan ocehan Devan.


"Ini kapan jalannya sih?" kesal Cia


Devan yang masih mengoceh itu langsung terdiam dan segera menepuk pelan bahu Adelio, seakan menyuruhnya untuk beranjak pergi.


Beberapa detik kemudian motor itu melaju pergi meninggalkan Devan yang kini melambaikan tangannya ke arah Cia yang sesekali menoleh menatap Devan sambil ikut melambaikan tangannya untuk Devan.


"Pegang yang kuat! Eh awas nanti kamu jatuh!!!" teriak Devan membuat Cia menghentikan lambaiannya dan segera berpegangan pada tas hitam yang ada di tengah-tengah antara ia dan Adelio.


"Pelan-pelan lo Adelao eh A...Adelio!!! Anak Gue tuh!!!" teriak Devan sambil melambaikan tangannya.