
Abraham menoleh menatap Cia yang kini tak menatapnya lagi. Abraham tak mengerti dengan jawaban gadis ini yang baru saja mengatakan tidak dan menolak ujarannya.
"Dia tidak gila!"
Abraham menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan hingga ia kini tersenyum.
"Banyak orang yang mengatakan itu."
Cia masih terdiam.
"Aku selalu menolak perkataan orang yang selalu mengatakan jika putri ku itu gila."
"Setelah sekian lama kini aku sadar jika perkataan orang itu benar."
Cia melirik menatap pemilik mall itu tertunduk dengan nada suaranya yang terdengar lemah.
"Dia gila!" sambung Abraham.
"Dia tidak gila!" Ujar Cia cepat.
Abraham menggeleng pelan dengan senyuman di bibirnya.
"Menurutku, dia tidak gila."
"Kenapa?" tanya Abraham.
Cia menggeleng lalu berujar, "Aku tidak tahu!"
Plak
Tamparan keras mengelegar di dalam ruangan kamar sebelum Naini terhempas ke lantai setelah mendapati tamparan keras yang mendarat di pipinya. Kasya mengigit ujung jarinya lalu bertelungkup seperti orang yang sangat ketakutan.
"Naini!!!" teriak Abraham.
Naini bangkit dari lantai lalu menoleh menatap Abraham yang kini menggerakkan kepalnya seakan menyuruhnya untuk keluar.
Naini mengangguk lalu melangkah keluar sambil memegang pipinya yang kini memerah.
Abraham kini terdiam melirik cia yang masih menatap putrinya itu dengan raut wajah sedih.
"Saya melihat kamu menyentuh tangan putri saya kemarin dengan mudah tanpa membuat putri saya memberontak."
Cia menoleh.
"Biasanya putri saya selalu marah dan bahkan memukul orang yang berada di dekatnya-"
"Tapi dia tidak memukul saya kemarin," ujar Cia membuat Abraham mengangguk.
"Itu sebabnya saya menyuruh Jef untuk membawa kamu ke sini, sepertinya kamu bisa merawat putri saya sampai saya benar-benar menemukan perawat yang baik untuknya," jelas Abraham.
"Tapi kenapa harus saya?"
Abraham menghela nafas berat dan berujar, "Hanya kamu yang tau jawabannya."
Cia mengkerutkan alisnya seakan tak mengerti dengan perkataan Abraham yang kini melangkah pergi meninggalkan Cia yang terpaku menatap wanita itu.
Cia melangkahkan kakinya dengan pelan menuju masuk ke dalam kamar mendekati wanita yang masih bertelungkup di sudut kamar.
Cia menelan ludah menatap wanita yang nampak masih bertelungkup, tak menyadari kehadiran Cia.
Cia menatap mangkuk kaca berisi bubur yang tergeletak di lantai, mungkin Cia bisa menyuapi bidadari itu. Dengan pelan Cia menjulurkan jari-jarinya berusaha meraih mangkuk itu yang semakin dekat dengan gapaiannya.
"Hah!!!" kaget Cia ketika wanita itu menoleh menatap cepat ke arah Cia dengan sorot mata yang tajam.
Cia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan berusaha bersikap tenang di hadapan wanita yang Cia anggap bidadari itu. Cia tersenyum menatap wanita itu yang kini menatapnya dengan tajam.
"Kamu mau makan?" tanya Cia.
Wanita itu nampak terdiam dan kini ia tak lagi menatapnya dengan tajam. Cia meraih mangkuk berisi bubur itu lalu mengaduknya dengan sendok secara perlahan.
"Aaa." Cia membuka mulut menjulurkan sesendok bubur ke arah bidadari itu yang kini memasang wajah datar tanpa ekspresi.
"Ayo buka mulut!"
Bidadari itu masih terdiam menatap Cia yang sangat berharap jika bidadarinya membuka mulut.
"Kamu nggak suka bubur?"
Dia masih terdiam sementara Cia masih mendekatkan sendok itu ke depan bibir Bidadari.
"Aku suka bubur," ujar Cia dengan senyuman.
Perlahan gadis itu membuka mulut membiarkan suapan itu mendarat masuk kedalam mulutnya membuat Cia tersenyum bahagia.
"Kamu tau nggak? Ayah ku juga nggak suka bubur," jelas Cia sambil mengaduk bubur itu.
"Nama ku, Cia." Cia kembali menjulurkan suapan itu.
Bidadari itu terdiam tak membuka mulut, Cia tersenyum lalu mengangguk pelan seakan menyuruh bidadari itu untuk membuka mulut.
"Cia sekarang tinggal sama Ayah dan Mama di rumah-" Cia menghentikan ucapannya lalu menjulurkan suapan itu lagi.
Bidadari itu membuka mulut membuat Cia kian bahagia.
"Kakak ini bidadari, yah?"
Bidadari itu langsung terdiam menghentikan kunyahannya membuat Cia tertawa.
"Soalnya kakak cantik sih, tapi boleh kan kalau aku panggil kakak, bidadari?" ujar Cia.
Bidadari itu hanya terdiam tak menanggapi ujaran Cia. Cia menunduk dan kembali sibuk mengaduk buburnya.
"Tau nggak? Semalam aku kasih tahu Ayah ku, kalau Cia ketemu sama bidadari, tapi ternyata Ayah Cia nggak percaya dan bilang kalau yang Cia lihat itu kuntilanak," jelas Cia.
Wanita itu tiba-tiba tersenyum membuat senyum Cia menghilang setelah menatap senyum yang terbias di bibir bidadari itu.
Sangat cantik!!!
Rasanya bidadari mengerti dengan ujaran Cia.
"Cia nggak percaya kalau bidadari itu gila."
Cia menoleh menatap ruangan kamar yang begitu sunyi, tak ada jendela, tak ada lukisan, tak ada hiasan dinding dan yang ada hanyalah sebuah ranjang tua dengan satu bantal bersprei putih.
"Kamar bidadari jelek."
"Sebenarnya kamar bidadari ini kalau dipoles sedikit sajah pasti cantik, kayak kamar Cia."
Cia menatap bidadari itu yang terlihat ikut menatap sekeliling kamarnya seakan mengerti dengan perkataan Cia.
"Kuku bidadari kok kotor banget?" tanya Cia sambil menyentuh jari-jari lentik bidadari.
"Kata Ayah Cia, kuku nggak boleh kotor terus nggak boleh panjang juga."
"Bidadari nggak pernah potong kuku, yah?"
Bidadari itu terdiam, yah mungkin pertanyaan Cia agak basi, tapi, yah Cia hanya penasaran. Lagi pula Cia hanya ingin mendengar bidadari itu berujar. Cia kini melirik rambut panjang dan rambut panjang bidadari itu yang nampak terlihat kusut.
"Rambut bidadari nggak pernah disisir, yah?" tanya Cia lagi.
Cia mendekat lalu mengulurkan jari-jarinya menyentuh rambut panjang itu lalu mengelusnya dengan lembut.
"Rambut bidadari kusut banget."
"Tapi kalau dikasih minyak kemiri pasti rambutnya mulus lagi dan nggak rontok kalau di sisir," jelas Cia menghentikan elusannya.
Bidadari itu masih terdiam tak bicara sedikit pun kepada Cia.
"Coba deh sentuh rambut Cia!" pintah Cia sambil mendekatkan kepalanya.
"Rambut Cia mulus loh pake minyak kemiri."
Cia kini terdiam menanti bidadari itu menyentuh kepalanya.
"Ayo sentuh!"
Cia tersenyum menatap bidadari itu yang hanya terdiam di saja. Dengan pelan Cia meraih jari-jari lentik bidadari itu lalu meletakkannya ke atas kepalanya.
Dengan bersamaan kedua mata bidadari itu terbelalak dengan wajah yang terlihat syok membuat tubuhnya bergetar hingga air matanya menetes membasahi pipinya.
"Cia!"
Cia menoleh menatap Abraham yang nampak berdiri di pintu masuk dan tengah menatapnya dengan tatapan serius.
Abraham tersenyum menatap putrinya yang kini bisa bersikap baik kepada orang lain. Tak ada lagi pukulan di sana ditambah lagi mangkuk berisi bubur itu kini sudah habis.
Cia menjauhkan jari-jari bidadari itu dari kepalnya lalu tersenyum membalas senyuman Abraham.
"Oh, iya hampir ajah lupa, bidadari kan belum minum, yuk minum!"
Bidadari itu nampak terdiam menatap Cia yang mengangguk sambil mendekatkan segelas air ku ujung bibirnya. Bidadari itu membuka mulut lalu meneguk habis air di dalam gelas itu.
Cia meletakkan gelas kosong itu ke lantai lalu kembali tersenyum.
"Besok Cia ke sini lagi. Cia bakalan bawa sisir, minyak kemiri, pemotong kuku teruuuuus-" Cia menatap sekeliling kamar.
"Hiasan kamar," Sambung Cia dengan semangat.
"Cia pulang dulu, yah nanti Ayah sama Mama Cia nyariin Cia."
Cia bangkit dari lantai lalu melangkah keluar kamar sambil sesekali menoleh ke belakang menatap wajah cantik itu yang kini tertunduk.
"Terima kasih."
Cia tersenyum menatap Abraham yang nampak mengeluarkan air mata di sana. Cia tak tau mengapa pria bertubuh tegak itu menangis.
Cia hanya mengangguk lalu kembali berujar, "Cia boleh kan ke sini lagi?"