Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 8



Cia terdiam sejenak menatap keluar ruangan tamu yang ternyata ada mamanya di situ yang tengah sibuk menjahit baju pesanan tetangga.


Jika ia meneriaki Devan dengan namanya pasti mamanya mengoceh lagi dan mengatakan kalau cia anak yang kurang ajar lah, kurang rasa menghormati orang yang lebih tua dan entah lah cia pun tak mengerti.


"Ayah !!!!" teriak Cia sambil mengetuk pintu kamar Devan dengan pelan.


Tak ada jawaban dari dalam sana. Apakah pria itu masih tidur ?


   


"Ayah !!!!" Teriak cia sambil memukul pintu dengan keras.


   


"Ci !"


Suara itu terdengar dari belakang cia. suara yang menurutnya tak asing lagi di telinga cia membuat cia menoleh lalu, betul saja pria tampan yang selalu mengajaknya berkelahi itu kini berada di hadapannya.


"Katanya mau ajakin gue ketemu black pink ? mana ?"


   


"Ya udah ayo !"


   


"Beneran ?" Tatap cia masih tak percaya.


Devan melangkah mendekat sambil mengeluarkan sleep mask berwarna pink polos dari jaket hitamnya.


   


"Ih, apa ni ?" Cia melangkah mundur sambil mendorong pelan tangan kanan Devan yang memegang sleep mask.


   


"Tutup mata Cia biar Surprise !"


   


"Oh bilang dong gue kira mau diCekkek."


   


"Makanya kalau punya otak tu jangan suka Suudzon sama orang."


Devan mulai memakaikan sleep mask untuk menutup kedua mata Cia.


   


"Apa lagi sama ayah sendiri !" Sambung Devan. 


   


"Iya."


   


"Yuk jalan !"


   


"Mau kemana ?"


   


"Katanya mau ketemu Black pink ya udah ayo !"


"Beneran yah ?"


   


"Iya, Cia.


   


"Kalau bohong ?"


   


"Nggak bakalan bohong, Ci. Ya udah jalan aja dulu !" ujar Devan penuh tekanan.


   


"Ah, lu kan suka bohong sama gue."


   


"Berisik lu, yah" tatap Devan kesal.


Devan mengerutkan dahinya kesal. dengan cepat ia meraih kain panjang dari saku celananya lalu menutup mulut cia yang super berisik itu.


   


"Emmmmm" Teriak cia tak jelas membuat Devan tertawa jahat.


   


"Oi cepetan !!!" Teriak Devan menatap Haikal, Deon dan Adam yang nampaknya sudah dari tadi menunggu aba-aba dari Devan di ruang tamu.


Dengan serentak mereka berlari menuju Devan serta cia yang nampak menggeliat berusaha melepas kain yang menutupi mulutnya namun, dengan sekuat tenaga Devan memegang kedua tangan cia.


"Siap bos !!!" Ujarnya kompak ketika sudah berada di hadapan Devan.


   


"Angkat !!!"


   


"Apanya bos?" Tatap Haikal polos.


   


"Kakinya !" Perintah Devan membuat Haikal mengangguk paham lalu mengangkat kaki kanan cia membuat cia ambruk di lantai, kepala cia nyaris terhempas di lantai namun dengan sigap Devan melindungi kepala Cia dengan tangannya.


"Maksud Lo apa, kal?" Tatap devan sedikit emosi.


   


"Kenapa bos ?"


   


"Angkat kakinya yang bener!"


   


"Kan tadi udah bos."


   


"Dua-duanya bego!!!" Teriak Devan yang kini kesabarannya sudah habis. Mendengar hal itu Haikal memegang kedua kaki Cia dan...


PLAK


Tendangan bertubi-tubi mengenai pipi kanan Haikal membuatnya terhempas ke lantai. Sementara Deon dan Adam yang menyaksikan Haikal yang terhempas dilantai mulai tertawa cekikikan.


"Nendang bos," aduh Haikal bangkit dari lantai sambil memegang pipi kanannya.


   


   


"Talinya mana bos?"


Devan terdiam berusaha mengingat dimana terakhir kali ia menyimpan tali yang ia beli untuk mengikat kardus berisi peralatan bengkel. Tak lama Devan melirik Deon dan Adam yang hanya jongkok di sampingnya sambil terdiam.


   


"Lo pada ngapain ?"


   


"Jongkok bos," ujarnya lugu.


   


"Cari tali !"


   


"Siap bos."


Deon bangkit lalu berlari ke arah dapur.


"Cepetan, Deon !!!" Teriak haikal yang sudah kewalahan menahan kaki Cia yang mengamuk.


   


"Bantu gue, Dam !"


   


"Iya, Kal" Adam mengangkat kedua telapak tangannya kearah wajahnya lalu sedikit menunduk sambil memejamkan matanya.


 


"Lo ngapain?"


   


"Bantu !" jawab Adam polos menatap Haikal.


   


"Ih, goblok lu. Maksud gue bantu pegang kakinya si Cia ! goblok !"


   


"Saya nggak biasa lagian si cia bukan muhrim saya ingat kal dalam hadist menjelaskan ...."


   


"Seseorang ditusuk kepalanya dengan jarum besi lebih baik dari pada menyentuh wanita yang bukan mahramnya" Jelas Adam.


   


"Lo diem ! Lagian gue nggak tau masalah yang kayak gituan !"


   


"Loh makanya saya kasi tau biar masnya tau."


   


"Lo bisa diam nggak ? jangan sampai lo yang takut ditusuk pake besi di neraka entar gue yang tusuk Lo di dunia nyata, mau lu!"


   


"Loh, maksudnya surga dan neraka itu nggak nyata?".


   


"Lo bisa diam nggak dan jangan sam...."


   


"Bos !" Deon melangkah mendekat membuat Devan, Haikal dan Adam menatapnya dengan serentak.


Devan menatap tangan Deon yang kosong tak membawa tali sesuai yang ia perintahkan tadi.


   


 "Pisaunya nggak ada," jawabnya dengan tatapan yang suci tanpa dosa.


Devan mengigit bibirnya seakan tak kuasa menahan amarah, ia memang salah seharunya ia tak menyuruh pria yang punya otak lalot seperti Deon untuk melakukan tugas yang perlu dengan kelincahan.


   


"Eh pucuk kelor, bos nggak nyuruh Lo nyari pisau bego."


 


"Loh katanya si cia mau dipotong ?"


Devan menggeleng pelan tak kuasa mendengar perkataan Deon. ia tak tau sejak kapan ia mengatakan jika akan memotong putri satu-satunya itu.


"Ih ngeselin lu, yah ?" Haikal melepas kaki Cia lalu bangkit berniat untuk mencekek pria lalot ini.


   


PLAK


Tendangan keras meghantam wajah Adam membuatnya terhempas di lantai.


   


"Eh, ngapain lu lepas ?" Ujar Devan Panik membuat Haikal kembali jongkok lalu memegang erat kaki Cia yang memberontak.


Devan, Haikal dan Deon mulai menatap bokong Adam yang masih tersungkur dilantai seperti orang yang sedang sujud, entah apa yang terjadi dengan Adam sehingga ia tak bergerak sedikit pun. Apakah adam pingsan setelah di tentang oleh Cia sehingga ia tak kunjung bangkit dari lantai.


"Dam, Adam !" Ujar Haikal sedikit panik. tak ada respon dari Adam.


   


"Adam, Lo nggak apa-apa kan, Dam?" Tambah Devan.


   


"Si Adam mati bos!"


Haikal membulatkan matanya menatap Devan yang ikut panik.


"Allahu Akbar," ujar Adam terdengar seperti suara rintihan lalu bangkit dengan pelan dan menoleh menatap kearah Devan dan yang lainnya.


   


"Alhamdulillah, saya nggak papa kok," ujarnya sambil tersenyum lebar.


Devan, Haikal dan Deon ikut tersenyum mengetahui jika adam masih hidup namun, mereka semua dengan terkejut terbelalak menatap darah segar yang mengalir dari lubang hidung Adam dan menetes di dagunya ditambah lagi peci putihnya yang nampak miring, dahinya pun nampak memerah karena terhempas tadi.


Devan, Haikal dan Deon mulai mengankat tubuh cia melintasi jalan raya yang nampak ramai di penuhi kemacetan. Sementara Adam ikut berlari di belakang sambil menutup hidungnya yang terus mengeluarkan darah.


Orang-orang yang melintas menatap heran dengan apa yang baru saja ia lihat. Seorang gadis yang mata dan mulutnya di tutup di tambah lagi tangan dan kakinya di ikat dengan tali dan yang lebih parah dibawa oleh 3 orang laki-laki berpakaian serba hitam.


Apakah wanita itu dicuri dan mau dibunuh dan ditambah lagi sosok yang membuat para pengendara yang melintas terkejut adalah pria berpakaian serba putih yang hidungnya berdarah bahkan sampai merembes ke giginya. Apakah ia sosok malaikat yang ingin menolong gadis itu tapi dihajar dengan 3 orang itu atau bagaimana ?.