
Devan terdiam lalu ikut mengendus mencium bau hangus. Devan terbelalak kini ia teringat dengan nasi yang ia sedang masak.
"Nasi, Ci," ujar Devan lalu berlari masuk ke dalam dapur.
Sesampainya Devan mematikan kompor itu degan cepat. Devan menarik nafas panjang menatap panci yang kini menghitam.
"Yah Devan kok hangus sih?" ujar Cia yang kini sudah berada di samping Devan.
"Gue lupa."
Cia membuka penutup panci menghasilkan bau hangus yang meyerbak ke seluruh ruangan rumah. Cia terdiam menatap pinggir nasi putih itu yang kini berwarna coklat. Baru kali ini Cia melihat nasi sehangus ini.
Devan meletakkan nasi hangus itu di piring putih milik Cia disertai telur goreng dengan rasa hambar, tak ada garam di sana.
Cia mengigit bibir rasanya ia tak yakin dengan masakan Devan yang membuatnya ingin menangis. Bagaimana bisa Cia memakan makanan hangus seperti ini.
"Waaaah nasi coklat," ejek Cia sambil mengangkat piring putih itu seakan memperlihatkan kepada Devan jika nasinya itu benar-benar hangus.
Devan yang tengah membuka mulutnya berniat memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya terhenti ketika kalimat ejekan itu terdengar.
"Udah lah nikmatin ajah!"
"Ahh, Mama kapan sembuh sih?" tanya Cia sambil mengaduk nasi setengah hangus itu.
Devan tak menanggapi ucapan Cia. Dengan lahap Devan menyantap makanan hangus itu seakan menunjukkan jika masakannya tak seburuk apa yang Cia pikirkan.
Cia memoyongkan bibirnya lalu ikut menyuapi mulutnya dengan masakan Devan. Cia mengkerutkan alisnya ketika nasi yang ia makan itu terasa hangus.
"Emmm rasa hangus," ujar Cia meningikan nada suaranya agar Devan mendengar namun, Devan hanya terdiam dan terus menyantap makanan itu dengan lahap.
Cia cemberut lagi. Mungkin, Tuhan memberikan lelah di hari ini tetapi, entah esok mungin harinya lebih membahagiakan. Yah, semoga saja Cia harap seperti itu.
...___***___...
Suara kicauan burung-burung terdengar bernyanyi seakan menyambut sang mentari yang malu-malu untuk menampakkan sinarnya pagi ini.
Suara bel berbunyi menandakan upacara di hari Senin ini akan segera dimulai. Semua para siswa dan siswi SMA Garuda bangsa bergegas keluar kelas menuju lapangan upacara.
"Heh keluar kamu!"
"Heh!!! Kamu juga, pacaran kok di sekolah?"
"Heh, itu baju kamu rapih kan dulu!"
"Mana topi kamu?"
"Kamu dasi kamu mana?"
"Sana keluar!"
Suara teriakan Pak Yanto mengusir satu persatu siswa dan siswi yang masih berada di dalam kelas. Pak Yanto terus melangkah menyusuri ruangan-ruangan kelas memastikan semuanya ikut dalam upacara di hari ini.
Di tangan kanan Pak Yanto terdapat sebuah gunting besi dengan ukuran sedang yang selalu ia gunakan untuk menggunting rambut para siswa yang panjang.
Barisan rapi siswa dan siswi Garuda bangsa nampak tersusun rapi sesuai dengan kelas masing-masing. Hari ini kelas IPS yang mendapat giliran bertugas untuk mengibarkan bendera merah putih di hari Senin ini. Semua puluhan guru-guru nampak berbaris rapi sambil menatap ke arah barisan rapi para siswa dan siswi yang nampak siap melaksanakan upacara.
Beberapa Jejeran siswa dan siswi nampak berdiri dengan tugas masing-masing. Ada yang bertugas membacakan doa, UUD dan susunan acara pelaksanaan upacara. Gerombolan para pemusik nampak sudah siap dengan alat musik seperti pianika, drum kecil serta beberapa alat musik lainnya yang nantinya akan mengiringi pengibaran bendera merah putih.
Suasana masih riuh dari siswa dan siswi yang nampak menanti upacara dimulai. Ada yang saling berbisik, ada yang nampak jongkok di barisan paling belakan menghindari paparan matahari yang masih hangat dan masih banyak kesibukan yang dilakukan para siswa dan siswi.
Andi dan Tegar, yah, siapa lagi jika bukan mereka. Mereka merupakan salah satu sampah sekolah SMA Garuda bangsa yang selalu mengisi daftar buku di ruang BK. Hari ini mereka ditangkap basah tengah memanjat tembok sekolah.
"Sini kalian berdiri!" Tegas Pak Yanto melepas pegangannya dari kerah baju keduanya.
Andi menggaruk rambutnya seakan malu ketika ribuan siswa dan siswi menatapnya. Sementara Tegar kini merapikan seragamnya yang kusut sambil menundukkan pandangannya menghindari tatapan tajam Pak Yanto.
"Ini rambut kamu panjangnya minta ampun." ujar Pak Yanto sambil menyentuh rambut Andi dengan ujung jari telunjuknya.
"Mau jadi perempuan kamu?"
"Tidak, Pak," jawabnya.
"Banyak omong kamu." Tatap Pak Yanto tajam sambil menjambak rambut Andi yang memang terlihat agak panjang dan ini melanggar peraturan tata tertib sekolah. Dengan ganas pak Yanto memotong rambut Andi dengan kejam menghasilkan potongan yang tak rata di sana.
Beberapa gumpalan rambut Andi berjatuhan di tanah ketika pak Yanto memotongnya. Andi hanya terdiam membiarkan rambutnya itu dijambak dan dipotong oleh Pak Yanto.
Tegar tertawa cengengesan sambil mengisap air liurnya yang nyaris jatuh tak kuat menahan tawa melihat Andi yang begitu sangat pasrah.
"Loh? Kamu kenapa ketawa?"
"Rambut kamu, mau saya potong juga?"
Tegar menggeleng cepat lalu menghentikan tawanya ketika Pak Yanto menunjuknya kejam.
"Hah, gila kamu ketawa sendiri?"
Tegar kembali menggeleng. Rasanya wajah bodoh Andi yang pasrah di rambutnya di jambak dan dipotong itu seakan membayanginya.
"Ini rambut kamu kenapa warna merah ini?" Jambak Pak Yanto lagi dengan kejam.
"Hah kenapa ini?"
"Saya pirang, Pak." Suara kecil Tegar terdengar.
"Cuih, sok ganteng kamu." Tatap Pak Yanto sinis.
Andi melipat bibirnya ke dalam berusaha menahan tawanya sambil melirik sahabatnya itu.
"Tunduk!" Tunjuk Pak Yanto.
"Jangan, Pak!"
"Eh tunduk nggak?!!!" Nada suara Pak Yanto meninggi lalu mendorong pelan kepala Tegar ke depan lalu memotong rambut pirangnya.
"Potong rambut kamu besok! Kamu juga!" ujar Pak Yanto setelah memotong rambut kedua siswa itu.
"Iya, pak." Andi dan Tegar mengangguk mengiyakan sebelum Pak Yanto kembali mengoceh.
Suara lantang pemimpin upacara melaporkan kepada pembina upacara jika upacara siap untuk dimulai. Duasana nampak sunyi tak ada lagi suara bisikan dari siswa dan siswi ketika upacara telah dimulai.
Pak Yanto melangkah menyusuri para siswa dan siswi yang nampak terdiam ketika Pak Yanto melintas. Pak Yanto masih menyimpan dendam dengan orang yang telah melempar kepala botaknya di acara ulang tahun Loli semalam.
Di tempat lain Fika terdiam sambil melirik Adelio yang kini berada di sampingnya. Adelio ternyata sangat tinggi sehingga tubuh Fika hanya sampai di bawah keteak Adelio.
Fika masih berfikir mengenai ucapan yang di lontarkan dari mulut Adelio jika mereka benar berpacaran tapi apakah itu serius? Apakah ucapan itu benar adanya? Ini sangat membuatnya menjadi ambigu.