Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 36



Para murid-murid nampak terpaku menatap wajah Adelio yang nampak terlihat sangat tampan, bahkan jika, dibandingkan dengan Ogi yang telah mendapat julukan pangeran tampan oleh murid-murid di SMA Garuda bangsa. Jika, seperti ini, maka pria tampan bernama Ogi akan tersingkirkan dengan kedatangan Adelio yang memiliki paras wajah yang tampan.


Cia terdiam menghentikan langkahnya membuat langkah Adelio juga terhenti dengan tiba-tiba. Lagi-lagi tatapan itu mengarah ke arahnya, tatapan ini seperti orang yang sedang menghakimi. Bagi Cia tatapan ini seperti mereka yang menagih hutang dengan seluruh penghuni kantin, yah, kecuali dengan pria berkulit sawo matang yakni Mang Adang. Jujur Cia punya banyak utang bakso dengan Mang Adang.


"Gi!" Panggil Yevano sambil menyikut lengan Ogi yang nampak asyik mengobrol dengan seorang gadis yang ada di sampingnya.


"Apa?" Tanya Ogi.


"Tuh!" Bastian menunjuk pria yang belum sama sekali ia lihat di sekolah yang kini menjadi sorotan publik.


Ogi menghentikan obrolannya lalu menatap serius ke arah pria yang terlihat asing baginya. Sepertinya dia murid baru.


"Siapa tuh?" Tanya Ogi.


"Namanya Adelio," Jawab Dirga membuat Ogi dan Bastian ikut menatap Adelio


"Lo tau dari mana?" Tanya Ogi.


"Yah, info tentang murid baru itu udah tersebar satu sekolah. Dia masuknya kemarin," ujarnya.


"Pindahan dari mana?" Tanya Bastian.


"Dia murid pindahan dari Makassar," tambah Dirga.


"Ok, juga tuh."


Cia menoleh menengadahkan wajahnya menatap Adelio yang kini menatap Cia dengan wajah kebingungan. Ada apa dengan tatapan ini? Apakah gadis pemarah ini akan marah lagi?


"Muka gue kenapa?" Bisik Cia.


Adelio menatap wajah itu yang nampak terlihat cantik.


Plak! Plak! Plak!


Rasanya Adelio ingin memukul mulutnya itu dengan sekuat tenaga. Jangan katakan itu lagi Adelio! Jangan! Apa yang baru saja ia pikirkan tentang gadis ini?.Ingat Adelio masih ada Harni! yah walaupun dia belum membalas chatmu tapi, statusmu masih pacaran dengannya.


Adelio dengan cepat mengalihkan pandangannya lalu menggeleng berusaha meyakinkan Cia bahwa tak ada yang aneh dengan wajah Cia.


"Liat lagi!" Pintanya dengan nada berbisik.


Adelio menghela nafas dan melirik wajah Cia sesaat, hanya dua detik lalu Adelio kembali mengalihkan pandangannya.


"Nggak ada!" jawabnya gugup.


"Taik mata gue nggak ada?" Bisik Cia lagi.


Adelio kembali menggeleng tanpa menatap wajah Cia.


"Taik idung?"


Adelio kembali menggeleng.


Cia mengangguk lalu menoleh menatap para penghuni kantin yang masih menatap ke arahnya. Apa yang salah dengan dirinya?


Cia melangkah pelan ke arah meja kantin berwarna hitam dengan nomor meja 115 yang ada di ujung sana sembari tatapannya yang sesekali menatap para penghuni kantin yang kini masih menatapnya.


Cia duduk di kursi besi lalu kembali menatap Adelio yang nampak ikut duduk di sampingnya.


"Muka gue emang nggak kenapa-kenapakan?" Tanya Cia lagi dengan nada berbisik.


Adelio kembali mengeleng.


"Huh." Cia menghembuskan nafas berat, mungkin mereka lupa dengan sikap Cia yang asli sehingga mereka berani menatapnya seperti itu.


Ujung bibir Cia terangkat seakan tak tahan dengan tatapan mereka.


Bruak


Dengan sangat keras Cia memukul meja menghasilkan suara keras yang menggelegar satu ruangan membuat semua orang tersentak kaget, termasuk Adelio yang terbelalak kaget dengan bibirnya yang menganga di samping Cia.


Ada apa lagi dengan gadis ini yang kembali membuat onar?


"Heh!!! ngapain lo ngeliatin gue?!!! Bosan hidup lo?!!!" Teriak Cia setelah bangkit dari kursi.


Semuanya nampak terkejut mendengar geretakan itu, degan cepat mereka mengalihkan pandangannya sebelum Cia semakin marah.


Adelio melongo menatap Cia dengan wajah yang menyeramkan itu. Apakah gadis yang marah-marah itu masih tetap Cia atau ada makhluk astral yang hinggap di tubuh Cia hingga sangat menyeramkan seperti ini.


Seketika wajah Cia mempias seakan tak bernafas lagi. Dengan cepat Cia duduk kembali ke kursi seakan tak percaya jika, Ogi telah melihatnya berteriak di kantin. Rasanya Cia masih belum percaya dengan hal ini. Andai saja Cia punya kekuatan untuk menghilang mungkin Cia sudah menghilang dari kantin ini.


Adelio terheran, entah apa yang terjadi dengan Cia yang kini tiba-tiba terdiam dengan wajah yang nampak sangat shock. Kedua mata Cia terbelalak sambil membaringkan pipinya ke permukaan meja.


"Menurut lo tadi gue nyeremin nggak?" Bisik Cia sambil menatap Adelio tetap menyandarkan pipinya di meja.


Adelio mengangguk dengan wajah datarnya.


"Hah, sial," sesal Cia sambil menyembunyikan wajahnya di meja. Ia benar-benar menyesal kali ini.


"Kenapa harus teriak sih? Bodoh banget gue!"


"Kamu kenapa?" Tanya Adelio.


"Lo tau nggak? Idola gue ada di sini!" Jelas memberi tau lalu mengigit bibir bawahnya di akhir kalimat.


Adelio celingak-celinguk menatap para wajah yang ada di dalam kantin sambil mencari sosok yang Cia maksud sebagai idola. Entah bagaimana rupa sosok idola Cia yang sampai-sampai membuat Cia seshock itu.


"Yang mana?" Tanya Adelio.


"Heh!" tegur Cia lalu menarik kerah baju Adelio agar ikut menyandarkan pipinya ke permukaan meja.


"Kenapa?" Tanya Adelio.


"Hust!" tegurnya dengan kedua matanya yang melotot sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


"Kenapa?" tanya Adelio ikut berbisik.


"Nanti Ogi liat!"


"Yang mana?"


Cia menoleh menatap ke arah Ogi yang kini nampak asyik mengobrol dengan para gang motornya.


"Yang pake pengikat kepala," Jawab Cia masih meletakkan pipinya di permukaan meja.


Adelio kembali mengangkat pandangannya mencari sosok pria dengan pengikat kepala itu.


Tatapan Adelio kini berpusat menatap seorang pria berkulit putih dengan pengikat kepala sesuai yang Cia beritahu kepadanya. Apa betul pria ini yang Cia jadikan idola tapi, siapa gadis yang pria itu rangkul.


"Itu pacarnya?" Bisik Adelio.


"Iya," jawab Cia santai.


Adelio mengangguk.


"Pacar ke 322."


"Apa?" tanya Adelio terkejut.


Adelio tak mengerti bagaimana bisa seorang pria sampai mempunyai pacar sebanyak itu dan Cia masih menjadikan pria itu sebagai idola?


"Fuckboy dong," ujar Adelio


Dengan cepat Cia mengangkat kepalanya menatap tajam Adelio. Ternyata Adelio dan Fika sama saja yang berpendapat jika, Ogi adalah Fuckboy.


"Nggak!" Jawabnya cepat.


"Cowok kayak gitu kamu jadiin idola?"


"Emang kenapa?"


"Yah, tidak apa-apa. Emangnya nggak ada yang lain?"


"Eh, sekali idola tetep idola. Namanya juga orang ganteng jadi, banyak yang mau dong."


"Ganteng sih tapi, Fuckboy!" ujar Adelio membuat Cia terbelakak.


"Diam lo! Dia idola gue dan dia bukan fuckboy!"


"Lah, buktinya punya pacar sebanyak itu!"


"Kok, lo jadi, banyak nanya sih?" Tatap Cia heran dengan Adelio yang kini banyak bertanya sangat jauh berbeda dengan Adelio yang ia kenal pertama kali .