
Cia menghentikan putarannya lalu tersenyum menatap Adelio yang sedari tadi menatapnya dengan wajah keherangan.
"Lo tau nggak?"
Adelio terdiam dengan wajah datarnya.
"Hari ini gue seneng banget, karena utang gue udah lunaaaaaaaaas!!!" sorak Cia dengan penuh gembira.
Adelio ikut tersenyum lalu mengangguk pelan menanggapi hal tersebut.
"Huh, gue seneng banget ya ampun."
Cia menyentuh kedua pipinya seakan tak menyangka utangnya kepada mang Adang sudah lunas. Kini tak ada lagi yang akan mengejar dan menagih utang kepadanya. Cia benar-benar telah bebas.
"Cia!!!" panggil seseorang dari belakang Cia membuat Cia menoleh.
Mata Cia terbelalak diiringi senyum yang merekah di bibir Cia menatap Fika yang sekarang berdiri di hadapannya.
"Fika!!!" teriak Cia kegirangan lalu berlari memeluk tubuh Fika.
Fika tertawa menyambut pelukan hangat dari Cia yang begitu jarang Cia lakukan kepadanya, ini sudah pasti jika, Cia rindu dengannya sehingga memeluknya cukup lama dan begitu erat.
Fika yang tersenyum itu kini terdiam menatap pria yang berdiri tak jauh darinya, Jujur Fika tak pernah melihat pria tampan ini di kelas bahkan di sekolah. Wajah tampan itu berhasil membuat Fika terpaku di pelukan Cia. Tubuh Fika memang telah berada dipelukan Cia tapi pikirannya sedang memikirkan tampan pria tampan itu.
Adelio tak mengerti dengan gadis ini yang menatapnya seperti itu. Apa yang salah dengan wajahnya sehingga ditatap seperti itu.
Cia melepas pelukannya lalu mengerutkan alisnya menatap Fika yang nampak terdiam. Cia menoleh menatap sorotan mata Fika yang menatap Adelio.
"Dia Adelio murid pindahan dari Makassar."
Fika menoleh menatap Cia ketika mendengar perkataan itu. Jadi, pria tampan ini murid baru!
"Adelio ini Fika, sahabat aku. Em, yang itu loh yang kita ke rumahnya tapi, nggak ada orang."
Adelio hanya mengangguk tanpa ekspresi. Adelio ingat betul dengan hari itu di mana ia pertama kalinya keliling kota Jakarta bersama dengan seorang gadis.
"Ha...Hay" Fika mengulurkan jari-jarinya ke arah Adelio dengan gemetar.
Adelio masih terdiam. Apakah ia harus membalas uluran tangan gadis itu sementara ia sudah janji dengan Harni untuk tidak terlalu dekat dengan seorang gadis di Jakarta.
"Ih lama lo, yah!" Kesal Cia.
Dengan kesal Cia meraih tangan Adelio dan menjabatnya dengan jari-jari Fika yang masih gemetar.
"Nama aku, Syafika Sulastika bisa di panggil Fika," jawabnya cepat seakan tak kuasa menahan getaran tangannya yang mampu merasakan telapak tangan Adelio yang begitu lembut.
"Saya Adelio Dzaky Aruf, salam kenal."
Adelio mengkerutkan alisnya ketika gadis itu yang memegang jari-jarinya begitu erat bahkan ia tak memberi ruang bagi Adelio untuk melepas jari-jarinya. Adelio sedikit menghempas tangannya tetapi itu tak membuat Fika melepas jabatannya.
"Heh!" Cia menyikut perut Fika cepat membuat Fika tersentak.
"Aa?" Tatapnya bodoh.
"Lepasin bego! Malu-maluin ajah lo!" bisik Cia.
Fika tertawa cengengesan lalu segera melepas jabatan tangannya. Fika tersipu malu sembari menutup mulutnya yang sedang tertawa membuat Cia terdiam heran tak mengerti dengan alasan Fika yang tertawa.
"Lo kenapa sih, Fik?"
"Ci ganteng banget," bisik Fika sambil melirik Adelio yang terus menatapnya.
"Ganteng dari mana sih?" Tatap Cia sinis.
Senyum Fika sirna setelah mendengar ujaran Cia yang sangat di luar dugaannya.
"Ci mata lo di mana? Lo nggak liat mukanya mirip oppa korea tau nggak!"
"Gila lo yah?"
Cia melangkah pergi lalu segera duduk di kursi milik Fika membuat Fika menatap heran.
"Loh terus gue duduk di mana?"
Cia menoleh menatap Fika yang kini menatapnya dan Adelio yang sedang duduk di kursi milik Cia.
"Heh!!! Kampret minggir lo tuh kursi gue!" teriak Cia sambil menepuk bahu Adelio yang duduk sedang di kursinya.
"Loh jangan gitu dong, Ci!"
"Terus gimana? Masa lo nggak duduk?"
"Terus gimana?"
Fika menoleh menatap Yena yang nampak merapikan meja yang terlihat berantakan sambil mengawasi murid-murid yang bertugas menyapu kelas sesuai jadwal kebersihan.
"Tuh di sana tuh! Kamu sapu!" pintanya sambil menunjuk ke arah lantai bawah meja guru.
"Yena!" panggil Fika membuat Yena menoleh menatap Fika.
"Loh Fika? Lo dari mana ajah?"
"Gue sakit terus balik kampung."
"Loh, kalau lo sakit kenapa nggak kirim surat sih supaya lo nggak dialfa."
"Yah gue lupa, Na. Eh itu nggak ada kursi kosong ap gue mau duduk nih."
"Emang kursi lo mana?"
"Yah, lo liat ajah sendiri!"
Yuna menatap kursi Fika yang kini di duduki oleh Cia sedangkan kursi Cia sedang dihuni oleh Adelio.
"Yah lo duduk bertiga ajah! lagian nggak ada kursi kosong. Kata Bu Nani kursi kosong udah habis."
"Masa kita duduk bertiga?!!! Kursinyakan cuman dua!!!" teriak Cia.
Adelio yang berada di samping Cia langsung tersentak kaget setelah mendengar teriakan Cia, si gadis pemarah. Adelio tak mengerti mengapa gadis yang menjadi teman sebangkunya sejak pertama kali ia masuk ke sekolah ini selalu berteriak.
"Yah duduk ajah cia, lagian ini juga nggak akan lama kok, kata Bu Nani kursi barunya bakalan sampai ke sekolah."
"Nah tuh bagus tuh nanti kalau kursinya udah ada lo pindah, yah, Adelio!" ujar Cia.
Adelio hanya mengangguk.
"Nah, cakep. Yena kapan kursinya datang?"
"Yah, udah nggak lama lagi sih."
"Yah, berapa lama?"
"Em, yaah palingan tiga hari lagi."
"Hah!!! Tiga hari?!!! Ngelawak lo?!!!" teriak Cia membuat Adelio kembali tersentak kaget.
Cia mengeluh cepat mendengar perkataan Yena yang sangat membuatnya pusing tujuh keliling. Ini melelahkan.
"Terus gue duduk di mana?" tanya Fika.
"Masa gitu ajah ribet sih? Kalian duduk bertiga ajahlah."
"Hah?!!!" teriak Cia.
..._____****_____...
"Minggir dong, Ci! Pantat gue nggak duduk semua" Bisik Fika sambil menyenggol tubuh Cia.
Cia tersentak, matanya terbelalak ketika Pinggangya bersentuhan dengan pinggang Adelio.
"Fika lo bisa nggak sih nggak nyenggol-nyenggol gue?" Bisik Cia kesal.
Nafas Adelio terasa sesak seakan tak sanggup bernafas lagi, entah mengapa perasaan yang begitu aneh ini muncul ketika bersama dengan gadis pemarah ini.
"Baiklah jadi, kalian harus menyelesaikan tugas tersebut seperti pada contoh!" jelas Bu Nani sambil menujuk papan tulis.
"Baik, Bu!!!" ujar mereka kompak.
Marisa yang sedari tadi sibuk menatap Bu Nani kini teralihkan perhatiannya menatap Cia dan si murid baru itu yang terlihat duduk berdekatan.
"Pst." Sikut Marisa di lengan Loli membuat menoleh.
"Apa?" bisik Loli.
Tanpa suara Marisa melirik ke arah Cia dan Adelio membuat Loli menatap kesal ke arah mereka, di tambah lagi Cia yang kini semakin dekat dengan Adelio.
"Udah lah Li! nggak udah dipikirin!" Usap Marisa di bahu Loli.
" Kenapa sih tuh si berandal duduk sama si Adelio? Nyebelin tau nggak!"
"Iya, sabar!"