
"Ayo dong, Dev! makan! Aaaaaa." Cia membuka mulutnya agak lebar sambil menggerakkan sendok itu ke arah mulut Devan yang masih tertutup rapat.
"Nggak, Ci!"
Devan menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang lalu menatap ke arah pintu seakan menjauhi tatapan Cia yang memohon dengan sendok buburnya itu.
Cia menghembuskan nafas berat lalu kembali menaruh sendok itu di mangkuk putih lalu kepala Cia tertunduk, kecewa.
Devan melirik Cia secara diam-diam. Devan kini berharap semoga saja Cia menyerah dan tidak memaksanya untuk menakan bubur.
Cia mengangkat pandangannya membuat Devan mengalihkan tatapannya lagi.
"Van liat ini!" pintanya sembari tersenyum.
Cia bangkit dari kasur masih dengan sendok di tangannya lalu berlari pelan di lantai kamar.
"Tut Tut Tut Tut Tut...!!!" Cia memutar tubuhnya sambil meninggikan tangan kanannya mengerakkan sendok, meliuk-liuk di udara membuat Devan menatap heran.
"Lo apaan sih?"
"Kapal siap meluncur, Tut Tut Tut!!!"
Cia dengan semangat itu mengitari sekeliling ruangan kamar membuat Devan menggerakkan kepalanya mengikuti ke arah mana sendok itu mendarat.
"Baiklah kapal siap mendarat! Syuuuuu, Oh tidak di mana, yah kira-kira kapalnya mendarat?"
Cia mendekati Devan yang kini sudah tau jika, ini trik Cia memancingnya untuk makan. Huh! tapi, tetap saja Devan tak akan mau memakan bubur itu.
Cia merangkak di atas kasur bersprai heloKity sambil meliuk-liukkan sendok itu ke arah Devan.
"Syuuuuuuut!" Ujung Sendok besi itu kini menempel di bibir Devan yang tertutup rapat serta wajah Devan yang terlihat datar.
"Kapalnya mau masuk goa!"
Cia tersenyum menatap Devan membuat Devan menghembuskan nafas berat seakan tak kuasa menahan tatapan harap Cia yang seakan mengetarkan hatinya yang paling dalam.
Devan membuka mulut, terpaksa membuat Cia tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Hap!!!" girang Cia ketika satu suapan itu mendarat di mulut Devan.
Devan mengunyah pelan bubur itu diiringi tatapan bahagia Cia. Belum sempat Devan menelan bubur yang ada di mulutnya, Cia kembali mendekatkan sendok berisi bubur itu lagi ke depan bibir Devan.
"Makan!" Bisik Cia dengan nada menghasut.
Devan meraih sendok serta mangkuk berisi bubur itu dari tangan Cia membuat Cia terheran.
"Loh, kok-"
"Gue makan sendiri ajah."
Devan menyendok bubur itu dan menyantapnya dengan pelan membuat Cia tersenyum lalu merangkak dari kasur dan meraih obat yang berada di atas meja tak jauh dari gelas berisi air yang telah disediakan oleh Fatima.
Cia meraih obat itu lalu tanpa sengaja ia menatap obat-obat berwarna putih di lantai. Kini Cia tau mengapa demam Devan belum turung juga, itu semua karena Devan tak pernah meminum obat.
Mungkin di mata Fatima Devan setiap hari minum obat tapi, kenyataannya Devan membuang obat-obat itu di lantai.
Devan mengkerutkan alisnya menatap Cia yang nampak terdiam membelakanginya. Apakah Cia melihat obat-obat yang ia telah buang ke lantai.
Devan memegang bahu Cia cepat sebelum Cia memikirkan tentang hal itu membuat Cia menoleh dengan mata melototnya.
"Oh ternyata-"
"Husst!!!"
Devan gugup menatap tatapan itu yang begitu tajam dan menyeramkan.
"Jadi selama ini-"
"Yah sorry, Ci. Lo kan tau kalau, gue nggak suka minum obat."
Rasanya Cia ingin berubah menjadi monster tapi, dengan cepat Cia tersenyum. Cia tak boleh marah, cia harus meluluhkan hati Devan agar Devan tidak marah jika, Cia memberi tau bahwa dia punya utang bakso lima juta kepada Mang Adang.
Senyum itu? Mengapa Cia tersenyum? Itu semua seakan berbisik di telinga Devan mencurigai senyuman yang terasa aneh itu.
"Emm, nggak apa-apa kok."
"Lo kenapa sih, Ci?" Tatap Devan heran dengan sikap Cia yang berubah tak seperti biasanya yang selalu marah-marah.
"Enggak!" Cia menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Ih kesambet lo, yah, Ci?"
"Enggak! Cia nggak kesambet kok."
Cia mendekat sambil membawa obat dan segelas air di tangannya.
"Nih minum obat!" Cia tersenyum menjulurkan gelas dan obat itu membuat Devan terheran.
"Yuk minum obat!" Senyum Cia merekah membuat Devan melongo.
Devan yang masih kebingungan itu dengan ragu meraih obat dan memasukkannya ke dalam mulut dan meneguk air di gelas yang Cia pegang.
Cia yang masih tersenyum meraih gelas yang telah kosong itu dari tangan Devan lalu meletakkannya ke meja dan kembali tersenyum.
"Lo capek?"
"Aa?"
"Gue pijitin, yah?" Cia merangkak berusaha meraih kaki Devan.
"Nggak usah!" Jawab Devan cepat sambil menjauhkan kakinya dari Cia.
"Devan Alwiyora, gue cuman mau pijitin lo!"
"Gue mau dan lo harus mau!"
Cia merangkak lagi lalu meraih kaki kanan Devan sementara Devan berusaha menahan kakinya tetapi tenaga Cia lebih kuat dari tubuhnya yang kini terasa lemas.
Cia memangku kedua kaki Devan lalu memijitnya dengan bersemangat. Ciaberharap semoga saja dengan cara ini Devan tidak marah jika, ia mengatakan utang baksonya yang lima juta itu.
Ada sesuatu yang mencurigakan oleh sikap cia! Entah apa itu. Devan pun tak mengerti.
"Lo kenapa?"
"Aa, haha, nggak!"
Devan menatap curiga. Cara bicara Cia saja sudah mencurigakan, tak biasanya Cia tertawa seperti ini. Ditambah lagi Cia yang pemalas itu mau memijitnya, ini pasti ada sesuatu.
"Tas lo hilang lagi?"
"Nggak!" jawab Cia tersenyum semangat 45.
"Enak nggak, Dev?"
Cia yang masih semangat itu memukul-mukul betis Devan dengan tenaga kuat berusaha membuat Devan puas dengan pijitan, yah di sertai pukulan. Mungkin tenaga Cia tak ada apa-apanya menurut Devan tapi, Cia berusaha membuat Devan puas dengan pijitan Cia.
"Emm," sahut Devan masih curiga.
Devan yang masih bersandar itu mulai memejamkan kedua matanya jika, tas Cia tidak hilang lalu Cia mau apa darinya. Tapi sekarang Devan yakin Cia meminta sesuatu yang mahal jika, tidak Cia pasti tak mau melakukan ini kepadanya.
Cia mengigit bibirnya pelan menatap Devan yang terus menatapnya mungkin, ini saatnya Cia mengatakan tentang utang itu. Tapi jujur Cia sangat takut, takut jika Devan marah kepadanya.
"Van!"
Tak ada respon dari Devan yang kini memejamkan kedua matanya menikmati pijatan itu.
"Devan!"
"Emm," sahutnya dengan wajah menikmati.
"Gue mau cerita," ujar Cia ragu.
"Emm."
Cia menarik nafas panjang dan berharap semoga saja Devan tidak marah.
"Tapi lo jangan marah!"
"Emang, gue pernah marah sama lo?"
Cia tertunduk mendengar pertanyaan Devan, memang selama ini Devan tak pernah marah kepadanya walaupun Cia sering berbuat kesalahan tapi, apakah Devan tidak marah kalau, tau cia punya utang bakso sebanyak lima juta.
"Pernah nggak gue marah?" tanya Devan yang masih menutup kedua matanya.
"E...enggak."
"Ya udah cerita!"
Cia menghentikan pijitannya lalu mengusap dahinya yang berkeringat. Rasanya ia seperti mengikuti tes tanya jawab yang sulit.
"Ja...jadi gini deh, gu...gue punya temen terus dia punya utang gitu."
Cia menghentikan ucapannya menatap Devan yang masih menutup matanya.
"Em, terus dia mau bayar utangnya tapi, dia nggak punya duit."
"Utang apa?"
"Em, itu apa sih itu namanya-" Cia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Em, utang bak...so sama mang Adang di kantin."
Tiba-tiba Devan terbelakkan kedua matanya lalu menggerakkan tubuhnya menatap Cia penuh serius.
Cia tersentak kaget, wajahnya nampak shok menatap tatapan itu yang menyorot Cia dengan tiba-tiba. Cia menunduk lalu memijit betis Devan dengan kuat, berusaha menghindari tatapan itu.
"Ci!"
Cia tak menoleh.
"Cia!"
"Apa?" jawab Cia cepat masih menunduk.
"Liat gue dulu!"
"Engga!" ujarnya diiringi gelengan yang cepat.
"Ci liat gue dulu!"
"Nggak mau!"
Devan terdiam lalu dengan cepat memegang kedua pipi Cia dan berusaha mendekatkan wajahnya ke arah wajah Cia, tatapan Cia masih menunduk tak menatap wajah Devan.
"Liat gue, Ci!".
Cia terdiam tak menatap Devan.
"Gue janji nggak bakalan kasi tau
Mama".
Cia sebenarnya ragu untuk menatap mata Devan pasalnya, Cia tau jika Devan bisa menembak hanya dari matanya.
"Ashia Akankasha liat gue!"