
Cia kini menyentuh satu persatu buku yang berjejer rapi di rak buku perpustakaan yang kini nampak sunyi walau cukup banyak orang di sana.
Cia menarik satu-persatu buku novel dan menatap judul bukunya, mungkin ada buku novel yang menarik untuk Cia baca agar dapat mengisi waktu luangnya di jam istirahat ini.
Jika di perpustakaan Fika lah yang selalu bersemangat untuk mengacak-acak buku di rak perpustakaan itu sementara Cia hanya bisa berdiri sambil menyandarkan kepalanya di sisi rak dengan mengeluh lelah itu sambil menanti Fika mencari buku novel atau buku pelajaran, namun kini Cia hanya sendiri, tak ada lagi sahabatnya itu. Mungkin sepulang sekolah Cia akan datang ke rumah Fika untuk melihat keadaan Fika. Rasanya hatinya tak tenang jika tak melihat Fika.
"Dor!!!" teriak Ogi di balik rak buku.
"Hah!!!" kaget Cia memegang dadanya sambil menjauh dari rak buku.
Ogi tertawa setelah berhasil membuat Cia terkejut di sana. Ogi kini melangkah lalu mendekati Cia yang menatapnya dengan tatapan tajam yang siap untuk melahap Ogi. Tawa Ogi terhenti ketika tatapan Cia agak menyeramkan itu menyorotnya.
"Lo kenapa sih selalu ganguin gue melulu? Udah sana! Sana!" Dorong Cia dengan kasar.
"Kenapa sih marah-marah mulu?" tanya Ogi.
"Gue nggak suka diganggu!"
"Yah lagian lo kenapa sih nggak mau jadi sahabat gue? Lagian apa susahnya coba jadi sahabat gue?"
"Yah gue nggak mau."
"Ehem." Suara teguran itu terdengar dari pria penjaga perpustakaan yang kini melangkah ke arah Cia dan Ogi.
"Kalian mau baca buku atau ngobrol sih?" tanya pria itu sambil menopang pinggang.
"Si Ogi tuh, Pak." Tunjuk Cia.
"Kok gue sih? kan lo yang teriak."
"Yah lo yang salah, kalau lo nggak ngagetin gue yah gue nggak bakalan teriak tadi."
"Hussst! Diam! Kalian ini bikin ribut aja di perpustakaan."
"Ini perpustakaan bukan pasar," sambung penjaga perpustakaan itu.
"Emang yang bilang ini pasar siapa?" tanya Ogi lalu mendecapkan bibirnya.
Cia yang mendengar ucapan Ogi itu kini mendecapkan bibirnya lalu segera meraih buku novel dan segera beranjak pergi menuju meja baca.
Ogi yang melihat kepergian Cia kini ikut beranjak pergi meninggalkan penjaga perpustakaan itu sambil menggerak-gerakkan bibirnya seakan sedang mengejek penjaga perpustakaan.
Cia kini menopang dagunya sambil sesekali membuka lembaran kertas buku novel yang kini terbuka lebar di atas meja baca.
"Cia," bisik Ogi.
Cia mulai melirik Ogi yang kini duduk di kursi tepat di sebelahnya. Cia tak tahu mengapa Ogi begitu sangat mengganggunya hari ini hanya untuk memintanya menjadi sahabat. Cia hanya diam dan tak mengabaikan Ogi.
"Ciaaaa," bisik Ogi penuh tekanan.
Cia masih terdiam.
"Gue itu kalau jadi sahabat bagus banget lo," bisiknya.
Tak ada respon dari Cia.
"Gue sering traktir si Bastian sama si dirga, baik kan gue?"
"Kalau lo mau jadi sahabat gue, gue bakalan antar lo pulang sekolah setiap hari terus bayarin bakso lo di mang Adang," ujarnya .
"Terus gue bakalan nemenin lo baca buku di perpustakaan, ya kayak sekarang ini. Em jadi lo mau kan, Cia jadi sahabat gue?" Tatap Ogi menatap serius kearah Cia yang yang masih terdiam.
"Cia," panggil Ogi lagi.
Cia kini hanya menghela nafas sambil membuka lembaran kertas.
"Ciaaa."
"Ciaaaaaaaa!!!"
"Ciaaaaaaaaaaaa!!!"
"Ciaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!"
PLAK
Suara pukulan yang cukup nyaring itu terdengar ketika Cia yang tiba-tiba bangkit dari kursinya sambil memukul permukaan meja kayu cukup keras.
"Lo bisa diam nggak?" bentak Cia.
Semua penghuni perpustakaan yang sedari tadi sibuk membaca buku dan ada beberapa yang menulis itu kini menghetikan kegiatannya menatap Cia dengan tatapan terkejut.
Pukulan dan suara keras serta bentakan dari Cia kini memecahkan keheningan perpustakaan.
"Cia!" Suara teguran itu terdengar dari lorong rak buku memperlihatkan pria penjaga keamanan perpustakaan itu.
Cia kini terdiam menatap tatapan sorot mata pria itu, bagaikan tatapan seekor burung hantu yang siap menerkam seekor tikus kecil. Sekarang Cia kini tak tau bagaimana nasib Cia selanjutnya.
Penjaga keamanan perpustakaan itu kini mendorong tubuh Cia dan Ogi secara bersamaan keluar dari perpustakaan.
"Sana kamu!" Tunjuk pria itu kejam.
Cia kini mendecapkan bibirnya. Baru kali ini Cia diusir keluar dari perpustakaan degan cara yang memalukan.
"Sudah sana!" usir pria itu kejam.
"Ok, Ok, Apaan sih pake dorong-dorong segala," ujar Ogi tak kalah kejam lalu segera memegang pergelangan tangan Cia berniat untuk menariknya pergi.
"Ayo Cia!" ajak Ogi.
"Jagan sentuh gue!"
Cia yang masih kesal itu kini menghempas tangan Ogi degan kasar membuat Ogi membulatkan matanya dengan sempurna seakan masih tak percaya jika Cia kembali menghempas tangannya, ini sudah yang kedua kalinya.
"Lo itu kenapa sih? Gue punya salah apa sama lo?" tanya Ogi tak tahan dengan sikap Cia.
"Lo yang kenapa?"
Ogi terdiam.
"Gue nggak tahu kenapa akhir-akhir ini lo selalu ngikutin gue dan apapun alasannya gue nggak suka! Ngerti nggak?"
"Kalau lo ngelakuin ini cuman karena mau gue maafin, ok, gue udah maafin lo, bahkan udah dari kemarin gue maafin lo tapi kenapa lo masih ngikutin gue dan minta gue jadi sahabat lo," oleh Cia.
"Lo mau apa dari gue?"
"Hah?"
"Gi, dua sahabat gue sekarang udah ngejauh dari gue dan itu berarti gue nggak layak punya sahabat."
"Please, jauhi gue!"
"Gue nggak butuh sahabat," ujar Cia lagi lalu segera membalikan tubuhnya membelakangi Ogi yang kini terdiam.
"Cia," panggil Ogi.
Cia menghentikan langkahnya lalu segera menoleh menatap Ogi yang kini mengeluarkan bunga mawar yang kini telah layu. Cia kenal dengan bunga mawar itu, bunga yang Ogi julurkan kepadanya di saat Ogi berlutut kemarin.
Ogi kini melangkah mendekati Cia yang masih terdiam, menanti Ogi angkat bicara.
"Gue minta maaf, yah gue tahu gue salah karena maksa lo jadi sahabat gue dan gue minta maaf," ujar Ogi.
Ogi kini menjulurkan bunga mawar yang telah layu itu di hadapan Cia, bunga yang sama yang Ogi julurkan pada saat di halte.
"Gue nggak tahu sih sebenarnya gue kenapa," ujar Ogi
"Gue harap lo mau jadi sahabat gue."
"Kalau lo mau jadi sahabat gue, gue janji nggak bakalan ganggu lo lagi dan lo nggak bakalan diusir keluar dari perpustakaan kayak tadi."
"Yah gue nggak bakalan ganggu lo lagi. Gue sengaja simpan bunga ini, yah gue harap lo...lo mau jadi sahabat gue."
"Gue harap lo mau nerima bun-" Ucapan Ogi terhenti ketika Cia meraih bunga mawarnya yang layu itu dari jari-jari Ogi.
"Emm, gue mau jadi sahabat lo," ujar Cia dengan nada pelan.
Ogi tersenyum kegirangan memperlihatkan giginya yang putih.
"Beneran?" Tatap Ogi tak percaya.
Cia mengangguk pelan membuat Ogi kini melompat-lompat sambil tertawa.
"Tapi lo janji kan nggak bakalan ganggu gue lagi?" tanya Cia.
Ogi menghentikan lompatannya lalu mengangguk mengiyakan ucapan Cia.
Cia kini meghembuskan nafas legah, akhirnya Cia bisa terlepas dari gangguan Ogi yang selalu menghantuinya.
"Iya gue janji bakalan nggak gangguin lo hari ini tapi besok gue ganggu lo lagi," ujar Ogi tertawa lalu segera membalikan tubuhnya membelakangi Cia lalu melangkah pergi.
Cia membulatkan matanya setelah mendengar ucapan Ogi yang sama sekali tak ia sangka.
"Ini penipuan!!!" teriak Cia tak terima.