Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 234



Firdha kini mendecapkan bibirnya kesal lalu meraih tas dari kursi dan melangkah pergi meninggalkan Cia dan Adelio.


Cia kini menghembuskan nafas berat lalu melangkah duduk di samping Adelio yang kini terlihat tak nyaman. Yah rasanya ia merasa bersalah ketika Cia harus bersitegang dengan Firdha karena kehadirannya di sini.


Adelio menoleh menatap Cia yang kini duduk di sampingnya sambil menyandarkan kepalanya di permukaan kursi. Cia menghela nafas lalu menoleh menatap Adelio yang kini terlihat sedang menatapnya.


Keduanya kini saling bertatapan begitu dalam membuat suasana menjadi sunyi, tak ada diantara mereka yang kini bicara.


Cia menatap dalam kedua mata Adelio yang terus menatapnya. Entah mengapa dengan perasaan ini yang begitu sangat nyaman menatap Adelio dan begitu juga sebaliknya.


"Ada apa?" tanya Adelio membuat Cia terperanjat kaget.


Dengan cepat Cia menatap ke depan berusaha untuk menjauh tatapan Adelio.


"Nggak," jawab Cia yang kini menggeleng lalu tertunduk.


Kini suasana rumah sakit kembali menjadi sunyi seiring waktu berjalan. Cia menoleh menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 1 malam. Sesekali Cia bangkit dari tempat duduknya untuk menatap Devan yang tak kunjung sadarkan diri. Entah mengapa harus selama ini.


"Lo kok nggak tidur?" tanya Cia yang kini menatap Adelio yang sejak tadi beberapa kali menguap dengan kedua mata yang memerah.


"Tidak," jawab Adelio dengan nada lembutnya nyaris berbisik.


"Adelio," panggil Cia membuat Adelio kini menoleh.


"Ada apa?"


"Lo boleh pulang kok, gue nggak apa-apa kok di sini sendiri."


"Gue bakal nunggu Ayah gue sadar dan-"


"Aku tidak bisa," potong Adelio membuat ujaran Cia terhenti.


"Aku bakalan nemenin kamu di sini sampai Ayah kamu sadar. Aku tidak mungkin meninggalkan kamu di sini sendiri tanpa ada orang di samping kamu."


"Iya gue tau tapi kan-"


"Cia, rumah sakit ini luas. Di sini bukan hanya ada kamu dan Ayah kamu kalau pergi dan ninggalin kamu tapi si rumah sakit ini ada banyak orang. Aku tidak mau kalau ada orang jahat yang akan ganggu kamu, aku tidak mau," jelas Adelio lalu menggeleng.


Cia tersenyum lalu kembali menatap ke arah depan. Ujaran Adelio berhasil membuat jantung Cia ingin terbang keluar dari tempatnya dan ingin terbang ke langit dengan bebasnya, ini rasa bahagia yang kelewatan batas. Sejujurnya ia baru pertama kali mendengar suara yang begitu sangat lembut berbicara dengannya. Sikap lembut inilah yang membuat Cia gemas kepada Adelio dan dengan rasa keberaniannya mengecup pipi Adelio.


"Cia," panggil Adelio membuat Cia kini menoleh menatap Adelio.


"Ada apa?"


Adelio menghela nafas lalu tersenyum. Adelio menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dengan kedua mata tertutup.


Cia mengkerutkan alisnya menatap heran pada Adelio yang memilih diam. Baru saja Adelio memanggilnya kini Adelio malah diam dan tak bicara sedikit pun.


"Adelio!" panggil Cia sembari menatap wajah Adelio.


"Adelio!" panggil Cia lagi dengan nada berbisik.


Tak ada jawaban dari Adelio yang kini terlihat masih menutup kedua matanya. Kini suasana kembali menjadi sunyi. Cia terdiam menatap setiap inci wajah Adelio yang terlihat begitu sempurna.


Bulu mata yang lentik, kulit wajah yang putih, bersih dan mulus tanpa ada bekas ataupun jerawat di sana. Kedua mata Cia kini beralih menatap kedua alis Adelio yang hitam dan terlihat indah seakan telah di lukis dengan indahnya. Kini tatapan Cia beralih menatap hidung Adelio yang terlihat mancung. Cia tak mengerti mengapa hidung Adelio terlihat begitu sangat indah jika di lihat seperti ini.


Beberapa detik kemudian kini Cia menatap bibir Adelio yang terlihat sedikit terbuka. Warna pink segar itu membuat Cia yakin jika bibir Adelio belum terkena batang rokok dimana umumnya seusia Adelio pasti sudah banyak yang merokok. Ukuran bibir Adelio yang tipis itu seakan membuat Cia gemas untuk menciumnya.


Menciumnya?


Kedua mata Cia terbelalak sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Apa yang baru saja ia pikirkan? Apakah ia berpikir untuk mencium bibir Adelio?


Bodoh!


Dadar bodoh!


Benar-benar bodoh!


Bagaimana bisa otaknya berpikir seperti itu? Sudah cukup ia membuatnya malu di depan supermarket ketika ia kehilangan kontrol dan tanpa rasa malu mencium pipi Adelio. Seharusnya ia juga harus berpikir, Apakah Adelio suka atau malah ia jijik dengannya dan berpikir jika Cia adalah gadis murahan yang sering mencium pipi seorang pria padahal baru kali ini Cia mencium pipi seorang pria.


"Adelio! Lo tidur yah?" tanya Cia.


Tak ada jawaban.


Cia menghela nafas panjang dan tersenyum menatap Adelio.


"Katanya mau nemenin gue tapi malah tidur duluan, gimana sih?"


Tak ada jawaban lagi.


Cia menoleh ke kiri dan kanan menatap suasana koridor rimah sakit yang terlihat sangat sunyi.


"Ih kok horor banget sih," ngeri Cia yang kini menggeliat ngeri.


Cia kembali menatap Adelio yang masih tertidur begitu pulas membuat Cia yang merasa ketakutan itu kini kembali merasa nyaman.


Cia tersenyum malu lalu dengan gerakan yang penuh hati-hati ia mendekatkan kepalanya ke arah dada Adelio. Detak jantung Cia kini berdetak sangat kencang saat kepalanya bersandar di dada Adelio yang terasa kokoh dan hangat. Yap sepertinya Adelio cukup tertidur pulas dan tak akan merasakan kepala Cia yang sedang bersandar di dada Adelio.


Cia mengigit bibirnya dengan rasa malu. Ini kesempatan yang tak mungkin ia lewatkan begitu saja. Kapan lagi ada waktu seperti ini, dimana ia bisa bersama dengan Adelio hanya berdua di tempat yang sunyi.


Cia melirik ke arah jari-jari tangan Adelio yang kini sedang ia pegang dan terasa hangat membuat Cia ingin menjerit karena rasa bahagia.


Cia mendongak menatap wajah Adelio yang begitu sangat dekat dengannya. Cia tak mengerti bagaimana bisa ada pria setampan Adelio yang bisa jatuh cinta dengannya. Bagia Cia, ia hanyalah gadis pemarah dan tak punya sopan santun jika berbicara. Wajahnya pun tak sesempurna Adelio yang begitu sangat mulus dan bersih.


Cia tak tahu mengapa ada pria sebaik Adelio. Jika di pikir tempat rumah sakit ini sunyi dan mereka berdua juga saling mencintai hingga kemungkinan Adelio bisa saja melakukan hal yang tidak-tidak pada Cia. Pikiran laki-laki pada umumnya pasti akan mengarah ke arah negatif jika seperti ini tapi tidak bagi Adelio. Adelio benar-benar berbeda dari pria yang pernah Cia temui di dunia.


Bagaimana dengan Devan?


Hah, pikir saja! Devan juga melakukan hubungan terlarang dengan wanita yang telah melahirkannya dan yang lebih parahnya mereka melakukannya di dalam gudang sekolah.