
Devan melangkahkan kakinya melintasi jalan beraspal diterangi lampu jalan yang nampak menyinari tubuh Devan.
Devan sama sekali tak mengerti mengapa dia yang harus ke warung untuk membeli sebuah pembalut, Devan tak tahu, apakah itu nama benda atau sejenis nama makanan yang lezat yang Cia perintahkan untuknya. Jujur Devan tak tahu pembalut itu apa dan mengapa Cia menyuruhnya untuk membeli barang yang tak pernah ia beli sebelumnya.
Devan terus melangkah kan kakinya menuju warung milik Neng Maya yang berada tak jauh dari bengkel. Kini malam semakin larut, menujukkan pukul sebelas malam, Yap malam ini semakin sunyi, sepi dan sangat menenangkan bagi Devan. Suasana kesejukan hembusan angin malam sangat terasa di malam ini.
Devan harap semoga saja Neng Maya, si gadis pujaan hati Adam belum menutup warungnya.
Langkah Devan memelan menatap para montirnya yang kini saling tertawa sambil menikmati secangkir kopi di warung Neng Maya. Ternyata setelah bengkel ditutup, mereka tak langsung pulang melainkan duduk bersenda gurau di warung milik Neng Maya.
"Eh bos Ceo!" Mamat terseyum menatap Devan yang kini semakin mendekat.
"Bos traktir gue, bos," ujar Jojon sambil tertawa cengengesan.
"Cih, nggak punya malu lu." Sikut Yuang menghantam keras perut Jojon membuat Jojon meringis.
"Apa sih? Orang lagi usaha juga," ujar Jojon dengan wajah seriusnya.
"Usaha tuh, yah kelja, bukan malah molotin olang. Paham lu?" oceh Yuang.
"Kopi Bos?!!!" teriak Tara semangat sambil mengangkat cangkir yang berisi kopi.
Devan hanya mengangguk lalu menghentikan langkahnya tepat di hadapan Neng Maya yang baru saja meletakkan sepiring pisang goreng di atas meja.
Neng Maya terdiam lalu, tertunduk malu ketika Devan menatapnya. Jilbab pink yang menutupi rambutnya membuatnya terlihat semakin cantik, itulah mengapa Adam sangat mendambakan gadis berhijab ini.
"Mau beli apa Kak Ceo?" Suara lembut Neng Maya terdengar membuat wajah-wajah para montir tersenyum terasa digelitik.
"Aaaaaaaah neng maya." Geliat Jojon yang kini berada di samping Tara yang tak tahan mendengar suara lembut Neng Maya yang seakan berbisik di telinganya.
"Sadar lo!" Sikut Tara keras menyadarkan Jojon dari tingkah bodohnya itu.
"Em, kayak olang gila," tutur Yuang yang kini asik menyantap pisang goreng buatan Neng Maya yang masih panas.
"Kak Ceo mau beli apa?" tanya Neng Maya lagi.
"Gue mau beli... em-" ucapan Devan tertahan, ia lupa dengan nama aneh itu.
"Beli apa Kak Ceo?" tanya Neng Maya.
Devan memejamkan matanya berusaha mengingat mengenai apa yang Cia perintahkan tadi untuknya. Devan lupa dengan itu. Sementara Neng Maya terdiam menatap wajah Devan dengan sangat serius, masih menutup mata entah apa yang Devan pikirkan.
"Beli apa?" tanya Neng Maya.
Devan membuka mata menatap Neng Maya dengan tatapan bingung. Devan benar-benar lupa dengan hal itu.
"Tunggu!" ujar Devan lalu berpaling membelakangi Neng Maya yang kini mengangguk serta para montir yang kini menatap Devan bingung.
Devan meraih handphonenya lalu menyentuh layarnya cepat dan mendekatkannya ke telinga.
Berdering.
Suara nada dering handphone terdengar berbunyi dari dalam tas kecilnya yang ia gantung di paku tak jauh dari dirinya. Suara itu berhasil membuat Cia tersentak kaget di tengah keheningan.
"Siapa sih? Bikin kaget aja!!!" teriak Cia melampiaskan kekejutannya.
Cia merogoh tas kecilnya dan meraih handphonenya menatap nama Devan di sana.
"Apa lagi sih, Van? Gue kan nyuruh lo beliin gue pembalut, bukan malah telfon gue," oceh Cia sembari menatap layar handphonenya.
"Halo," ujar Cia ketika telfon dari Devan telah ia angkat.
"Cia," ujat Devan cepat.
"Lo kenapa telfon gue sih? Sekarang lo bawa ke sini deh!"
"Yah itu masalahnya."
"Masalah apa sih?"
"Em, tadi lo suruh gue beli apa sih? Gue lupa."
"Iihhh lo kebiasaan banget sih." Kesal Cia sambil meremas perutnya yang terasa sakit.
"Yah emang gue lupa!!!" Bela Devan seakan tak memiliki dosa dan salah dengan meninggikan nada suaranya.
Para montir-montir yang menatap bosnya terlihat marah-marah itu hanya terdiam tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi kepada bosnya itu.
"Berisik banget sih lo!!!" kesal Devan.
"Lo tuh yang berisik, udah cepetan beliin gue!"
"Iya, iya Cia, yah udah cepetan ngomong! Lo nyuruh gue tadi beli apa?"
Cia terdiam, menarik nafas panjang. Lagi-lagi ia harus mengumpulkan kebenarannya untuk mengatakan itu.
"Pembalut," bisik Cia nyaris tak mengeluarkan suaranya.
Devan mengkerutkan alisnya tak mengerti dengan apa yang ia dengar dari handphonenya itu.
"Aa?"
"Pembalut," bisik Cia lagi.
Devan memejamkan matanya penuh degan tekanan lalu, menarik udara malam dengan mulutnya yang kini bergerutuh kesal. Suara Cia itu masih terdengar tak jelas.
"Lo ngomong apa sih Cia? Yang jelas dong kalau ngomong!" Kesal Devan.
"Ih makanya kalau gue ngomong itu di denger!"
"Yah mana gue ngerti. Lo ngomongnya emang nggak jelas."
"Yah makanya denger!"
"Cih, ya udah cepetan ngomong!" putus Devan yang telah lelah berdebat dengan Cia.
Kali ini Cia terdiam, membisu.
"Pembalut," jawab Cia secepat kilat.
Devan mengkerutkan alisnya tak mengerti apa yang Cia barusan katakan kepadanya dengan ucapan yang begitu sangat cepat.
"Pelan-pelan dong Ci!"
"Yah lo denger dong!"
"Ci, lo sebenarnya niat nggak sih nyuruh gue, kalau lo nggak bilang bagus, jelas dan benar gue balik sekarang nih!" ancam Devan kesal.
"Ya, ya, ya jangan gitu dong!" ujar Cia cepat.
Cia menarik nafas panjang.
"Beliin gue pembalut!" ujar Cia dengan jelas hingga membuat kedua pipinya memerah karena malu.
Devan menganggukkan kepalanya, mengerti dengan apa yang Cia katakan barusan. Semudah itu cara menyebutnya akan tetapi, mengapa Cia sangat lama untuk mengucapkannya.
"Yang ada sayapnya," tambah Cia membuat Devan melongo.
"Apa?"
"Yang ada sayapnya, Devan!!! Lo tuli atau gimana sih?" Kesal Cia.
Tut Tut Tut
Sambungan terputus.
Devan menjauhkan handphone dari telinganya lalu menggaruk kepalanya kebingungan. Devan tak mengerti mengenai sayap yang Cia maksud tadi.
"Yang ada sayap, maksudnya apa sih?" bisik Devan yang kini bertanya pada dirinya sendiri.
"Hewan apaan tuh?"
"Emang ada orang jual kayak gituan?"
Devan memutar tubuhnya berhadapan dengan neng maya yang nampaknya sudah sejak tadi berdiri di belakangnya. Devan harap Neng Maya tak mendengar percakapan mereka. Devan melirik ke arah montir yang kini sejak tadi menatapnya.
"Gue mau beli," ujar Devan.
Neng Maya tersenyum penuh kelembutan, menatap Devan beberapa detik lalu tertunduk..
"Mau beli apa kak?"
"Pembalut," jawab Devan santai.