
Semua orang yang berada di sekitar area gerbang sekolah dan sekitarnya langsung terdiam dan menoleh menatap Cia dan Devan. Kini mereka menjadi sorotan para murid-murid sekolah. Cia menggerakkan kedua bola matanya, ia mampu menatap wajah-wajah siswa dan siswi yang menatapnya dengan serius. Cia tahu mereka semua ikut terkejut dengan ucapan Devan baru saja Devan dia lontarkan .
Namun di sisi lain Cia merasa bingung. Apakah mereka terkejut dengan teriakan Devan atau mereka terkujut melihat rambut Cia dengan model seperti ini
"Cia Anak Ayah!!!" panggil Devan lagi.
Cia mengigit bibirnya lalu menarik nafasnya cukup dalam dan segera menoleh menatap Devan yang nampak melambai-lambaikan uang sepuluh ribu sambil tersenyum begitu bahagia.
Cia melirik ke sekeliling, mereka masih menatap Cia dengan sangat serius. Cia benar-benar malu sekarang. Cia tak mengerti mengapa Devan bisa senekat ini memanggilnya dengan sebutan Anak di depan orang banyak. Sejujurnya Cia belum siap jika semua teman-temannya tahu jika Devan yang pernah ia akui sebagai pacar ternyata adalah Ayahnya tapi apakah mereka akan percaya begitu saja.
"Cia, sini!" panggil Devan yang masih melambaikan uang ke arah Cia.
"Pergi!" bisik Cia sambil membulatkan kedua matanya ke arah Devan.
Devan tak perduli. Di sana ia tetap saja berteriak memanggilnya dengan sebutan Anak Ayah sambil melambaikan uang.
"Sini!" panggil Devan.
"Nggak! Apaan sih? Udah sana pulang!" suruh Cia dengan nada tertekan lalu kembali membalikkan badannya dan melangkah seakan ingin lari dari tempat ini dimana semua orang masih menatapnya.
"Cia Anak Ayah!!!" teriak Devan namun kali ini Cia tak menghentikan langkahnya.
"Cia!!!"
"Heh!" tegur Pak Martin membuat Devan menoleh menatap pria si penjaga keamanan sekolah yang pernah Devan temui bersama dengan Tara saat ia datang untuk mengantar tugas batik milik Cia.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Pak Martin.
Cia yang mendengar percakapan Devan dan Pak Martin dengan cepat menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Devan dan Pak Martin yang kini saling bertatapan.
"Kalau mau ngebucuin jangan disini! Disini tempat sekolah."
"Bucin apaan?" tanya Devan tak mengerti.
"Bucin, budak cinta," jawab Pak Martin.
"Ih siapa yang budak cinta?" tanya Devan.
"Lah kamu lah masa saya? Kalau udah nganter pacar yah udah pulang aja nggak usah teriak-teriak disini!"
"Enak aja, saya nggak ngantar pacar saya tapi-"
"Yah!" panggil Cia membuat Pak Martin dan Devan menoleh secara bersamaan.
"Nah ini, ini pacar kamu," ujar Pak Martin sambil menunjuk Cia.
"Hust sini!" panggil Pak Martin sambil menggerakkan jari-jarinya ke arah Devan membuat Devan menganga tak mengerti.
"Udah sini!" panggil Pak Martin membuat Devan melangkah turun dari motor dan melangkah mendekati Pak Martin.
"Itu pacar kamu?" tanya Pak Martin dengan nada berbisik.
"Dia-"
"Hust!" potong Pak Martin membuat Devan menghentikan ujarannya.
"Kok kamu mau sama Cia, eh si Cia itu Anaknya berandal," bisik Pak Martin membuat Devan melongo.
"Berandal?" Tatap Devan.
"Iya, kayak nggak dididik gitu sama orang tuanya. Kamu jangan mau sama dia!" bisiknya.
Devan tersenyum kecut lalu ikut merangkul bahu Pak Martin dan mengelusnya dengan lembut.
"Si Cia Anak berandal yah?" tanya Devan membuat Pak Martin mengangguk.
"Aduh, jadi gini Cia itu sebenarnya Anaknya itu baik, sopan, sabar karena ayahnya itu selalu mendidiknya dengan baik," jelas Devan.
"Oh yah?"
"Lah iya dong. Asal Pak... Pak Martin tahu..." ujar Devan menyebut nama Pak Martin setelah melirik nama yang terpajang di seragam putih Pak Martin.
"Jadi sebenarnya Ayahnya Cia itu ganteng, masih muda, keren dan-"
"Kamu ini menceritakan Ayah Cia atau menceritakan diri kamu sendiri?" tanya Pak Martin.
Devan tertawa lalu kembali menepuk bahu Pak Martin yang kini juga ikut tertawa seperti Devan.
"Saya Ayahnya Cia," ujar Devan membuat Pak Martin menghentikan tawanya dengan kedua matanya yang terbelalak kaget setelah mendengarnya.
"Apa?" tanya Pak Martin yang kini melempar tangan Devan jauh darinya.
"Ayah," ujar Cia membuat Devan menoleh sementara Pak Martin melongo.
"Apa sih?" Tatap Cia melototkan kedua matanya, rasanya Devan harus tahu jika yang semua orang tahu adalah Devan bukanlah Ayahnya melainkan yang mereka semua tahu adalah Devan merupakan pacarnya.
"Loh itu-"
"Hust!" suruh Devan sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya membuat Pak Martin menghentikan ujarannya. Pak Martin masih tak percaya dengan hal ini.
"Cia Anak Ayah, Nggak baik loh itu ngelotot sama Ayah sendiri! Itu namanya do-"
"Sa," sambung Cia.
"Nah itu tahu nanti kalau suka melotot nanti biji matanya keluar."
"Kayak burung hantu di MNCTV," tambah Pak Martin.
"Eaaaa, suka nonton juga yah?" Tunjuk Devan.
"Iya dong, tapi saya suka Upin Ipin," ujar Pak Martin.
"Eaaaa, tapi saya sukanya si Mail," ujar Devan.
"Eaaaa," sahut Pak Martin.
"Eh tapi pinter kan Anak saya Pak Martin?" tanya Devan menatap Pak Martin sambil tersenyum.
Pak Martin mengangguk cepat membuat bibirnya bergetar yang masih menganga.
"Anak saya juga pinter matematik loh, Pak. Mau lihat? Iya mau lihat Anak saya jawab soal matematika?" tanya Devan bersemangat.
Pak Martin menggeleng pelan membuat Devan tertawa. Ia tak tertarik untuk mendengarnya.
"Wah, bilang aja kalau mau dengar! Hahaha. Eh ini satu tambah satu berapa Cia? Ayolah jawab Pak Martin mau dengar!" tawa Devan sambil mengangkat dua jari telunjuknya sementara Cia dan Pak Martin melongo.
"Ayo loh jawab!" suruh Devan.
"Udah ah nggak usah!" tolak Cia.
"Loh jawab dulu dong! Ayo berapa?"
"Tau ah, empat," jawab Cia asal-asalan.
"Tuh kan Pak, Anak saya pinter," ujar Devan lalu kembali tertawa.
"Yah, apaan sih? udah deh! ketawa melulu kayak orang gila," kesal Cia membuat Devan menghentikan tawanya.
"Ini," ujar Devan sambil meraih telapak tangan Cia dan meletakkan uang ke telapak tangan Cia.
Cia hanya menghembuskan nafas berat lalu segera memasukkan uang jajannya itu ke saku bajunya lalu melangkah pergi meninggalkan Devan.
"Cia!!!" panggil Devan namun tak berhasil membuat Cia menghentikan langkahnya.
"Cia!!!" panggil Devan.
"Cia Anak Ayah!!!" panggil Devan lagi membuat Cia memejamkan matanya sambil menghentikkan langkahnya dengan cepat. Lagi dan lagi Devan memanggilnya dengan sebutan Anak membuat semua orang saling berbisik. Mereka pasti sedang membicarakan tentangnya.
Cia mengusap wajah lelahnya lalu segera menoleh menatap Devan yang kini menggerakkan jari-jarinya.
"Apa lagi?" tanya Cia tanpa mengeluarkan suaranya.
"Salim dulu dong sama Ayah! ujar Devan sambil menggerak-gerakkan jari-jarinya.
Rasanya Cia ingin berguling di jalan tempat ia berdiri agar Devan tahu jika ia sedang kesal. Dengan langkah malas Cia mendekat ke arah Devan dan meraih jari-jarinya.
"Cium!" pintah Devan.
Cia melotot, namun apa lah daya Devan tatap saja Ayahnya.
"Yah, semua orang tahu kalau Ayah ini bukan Ayah Cia tapi pacar Cia terus kalau Cia cium tangan Ayah nanti mereka bisa salah paham," jelas Cia memberitahu.
Devan mengangguk paham lalu menatap semua orang yang kini masih menatapnya.
"Perhatian!!!" teriak Devan sambil menatap ke arah siswa dan siswi yang nampak terdiam dengan tatapan herannya.
Mata Cia terbelalak, entah apa yang akan di katakan oleh Devan hingga harus melibatkan semua orang.
"Ayah!"
"Hust!"
"Ayah mau ngapain?" bisik Cia takut.
"Udah tenang aja!"
"Yah tapi mau ngapain?" tanya Cia.
"Ehem untuk semuanya yang ada disini!!! Saya ingin mengumumkan sesuatu tentang Cia!!!" teriak Devan membuat Cia terbelalak kaget dengan wajahnya yang kini memucat.