
Suara kicauan burung-burung kecil yang berteger di dahan pohon terdengar merdu mengiringi sang matahari pagi yang suap untuk terbit. Pagi ini langkah kaki lelah Cia melangkah melewati pintu-pintu kelas yang kini sudah semakin ramai dengan siswa dan siswi yang berdatangan.
Hari ini Cia sengaja membawa kresek hitam di dalam tasnya, yah, hanya sekedar persiapan jika gadis-gadis itu membawa titipan lagi untuk Ayahnya. Mungkin mereka akan datang lagi dan membawakan titipan berupa coklat, biskuit atau mungkin boneka beruang lagi.
Hari ini Cia sudah memberi tahu Devan agar tidak menjemputnya lagi, Cia tak mau jika ia berlari lagi seperti kemarin. Yah kejadian kemarin adalah mimpi buruk baginya. Sungguh melelahkan.
"Cia!!!"
"Cia!!!"
"Cia!!! Tunggu!!!"
"Kak Ciaaaa!!!"
Suara teriakan gadis-gadisĀ itu terdengar dari belakang Cia membuat Cia menoleh dengan senyuman menyambut gerombolan gadis-gadis itu yang berlari ke arah Cia. Sudah Cia duga ini kembali.
Gadis-gadis itu lagi-lagi berlari mengerumuni Cia sambil membawa bunga dan coklat bahkan ada kotak makan berwarna ungu di sana.
"Cia, ini buat pacar lo, yah!"
"Cia, ini bunga buat pacar kamu, yah!".
"Kak Cia, aku titip salam yah sama pacar kamu."
"Cia, aku juga yah?"
"Kak Cia, kamu kapan putus sama pacar kamu?"
"Cia, kalau lo putus kabarin gue yah!"
"Kak Cia, aku suka banget sama pacar kakak!!!"
Ucapan itu lagi-lagi terdegar di telinga Cia. Gadis-gadis itu menjulurkan titipan itu di pelukan Cia dengan wajah yang berbinar.
Cia terdiam di kursi tepat di samping Fika yang kini menyalin catatan di buku Cia. Yah sifat rajin Fika kini muncul membuatnya menyalin catatan yang seharusnya dilakukan oleh Cia.
Kantong kresek hitam Cia kini telah penuh diisi coklat dan makanan lainnya yang disiapkan untuk idola mereka, yah siapa lagi jika bukan Devan.
Plak plak plak
Suara pemecah keheningan itu berbunyi membuat papan tulis itu bergetar di hantam pukulan tangan oleh Bu Lia yang telah menulis sesuatu dengan spidolnya hitamnya.
Semua murid-murid itu kini menatap fokus ke arah Bu Lia yang kini terdiam menanti murid-murid yang lain benar-benar menatapnya dengan serius.
"Sudah berisiknya?" tanya Bu Lia membuat semua murid-murid melongo dan saling bertatapan.
"Padahal dari tadi nggak ada yang ngomong!" bisik Cia ke arah Fika dan Adelio.
"Huust!" tegur Fika meletakkan telunjuknya di ujung bibirnya.
"Hari ini Bu Lia akan memberikan tugas dan dari itu Ibu akan membagi kalian dalam bentuk kelompok!"
"Yah kelompok lagi." Sedih Cia sementara yang lainnya nampak terlihat tersenyum seakan kalimat Ibu Lia adalah kabar baik, berbeda dengan Cia yang merasa jika hal itu adakah kabar buruk baginya.
"Kalian ada 30 orang dalam satu kelas jadi Ibu akan membentuk enam kelompok yang terdiri dari lima orang."
"Dalam satu kelompok terdiri dari empat perempuan dan satu laki-laki, setuju?"
"Setuju, Bu," jawab mereka kompak.
"Baiklah kalau begitu kalian bisa dilihat apa yang ibu tulis di papan tulis?"
"Bisa, Bu," jawab mereka kompak.
"Besok ibu mau tugas kelompok kalian selesai dan mempresentasikannya di depan Ibu dan teman-teman kalian," jelas Bu Lia.
Semuanya berbisik satu sama lain membicarakan tentang tugas kelompok itu.
"Baiklah Ibu akan membacakan nama kelompok kalian!"
Bu Lia melangkah mendekati mejanya lalu meraih sebuah buku dan kembali melangkah ke depan murid-murid yang masih berbisik.
"Heh!!! Diam-diam!!!" tegur Bu Lia membuat semuanya terdiam.
"Dengar baik-baik karena Ibu tidak mau mrngulang-ulang untuk membacakan nama kalian!"
"Baik, Bu," jawab mereka.
"Kelompok satu..."
Cia terdiam di atas meja sambil menopang dagunya itu dengan malas, lagi-lagi ada tugas kelompok yang diberikan oleh Bu Lia untuk mereka semua. Entah siapa lagi yang akan menjadi teman kelompoknya nanti.
Jika pembagian kelompok, biasanya banyak yang menolak keberadaan Cia di dalam kelompok yang telah ditentukan. Ada yang bilang Cia nggak asik diajak kerja kelompok, ada yang tak terima, karena Cia hanya kumpul uang kelompok terus menghilang dan masih banyak lagi alasan mereka.
"Baiklah selanjutnya kelompok dua!" ujar Bu Lia setelah menyebut nama-nama yang berada di kelompok satu.
"Adelio Dzaky Aruf," sebut Bu Lia membuat Adelio menghentikan gerakan pulpen dari jarinya sementara semua murid-murid yang mendengar nama Adelio disebut langsung menoleh menatap Adelio.
Adelio mengangkat pandangannya menatap Bu Lia setelah mendengar namanya disebut. Entah siapa yang akan menjadi teman kelompoknya nanti tapi Adelio berharap jika ia bersama dengan...... Adelio melirik Cia yang nampak terdiam sambil menopang dagunya menatap serius ke arah Bu Lia.
Rasanya Adelio hanya mengharapkan Cia yang menjadi teman kelompoknya, harus bagaimana lagi rasanya Adelio sudah merasa nyaman dengan gadis pemarah itu. Itu semua karena dari awal Adelio masuk sekolah yang dekat dengan Adelio hanya Cia, tak ada yang lain.
"Selanjutnya siapa, Bu?" tanya Fairing yang ternyata sibuk mencatat nama kelompok.
"Selanjutnya, Yena!" sebut Bu Lia membuat Yena si ketua kelas itu terbelalak.
"Saya,Bu?" tunjuknya tak percaya.
"Iya, lalu siapa lagi?" jawab Bu Lis sinis.
"Alhamdulillah," ujar Yuna tersenyum bahagia.
"Ih gue juga mau," ujar Faririn dengan wajah sedihnya.
Adelio mengkerutkan alisnya setelah mendengar nama itu di sebut. Adelio melirik Yena pelan yang kini terlihat menggoda Faririn karena telah berhasil bergabung dengan kelompok Adelio.
Adelio kenal dengan gadis bernama Yena, si ketua kelas itu, yah, walaupun Adelio tak pernah bertegur sapa dengan dia.
"Syafika sulastika!"
Fika membulatkan matanya. Rasanya Fika ingin melompat kegirangan ketika namanya disebut oleh Bu Lia. Fika tak menyangka jika ia satu kelompok dengan Adelio. Sepertinya Tuhan mengabulkan doa-doa Fika yang sedari tadi ia panjatkan dan sekarang Tuhan menjabah doanya.
Fika merapikan kaca mata bulatnya sambil tersenyum malu dan melirik Adelio yang nampak tertunduk. Sepertinya Adelio tak merasa senang karena tak ada senyum di sana.
Cia terseyum sambil menatap sahabatnya itu.
"Cieee, Fika!" Goda Cia sambil mencubit pelan perut Fika.
Fika sedikit menggeliat menghindari cubitan yang membuatnya geli. Kedua pipi Fika memerah, rasanya ia sangat malu ditambah lagi Cia yang menggodanya.
"Faririn!" sebut Bu Lia lagi.
Gadis bernama Faririn itu kini tertawa dan memukul lengan Yuna. Bukan hanya Yuna yang bergabung dengan kelompok Adelio tapi dia juga. Menurutnya tak masalah jika ia ada di dalam kelompok ini lagian ada Yuna di kelopak itu yang tak lain adalah teman sebangkunya.
"Yang terakhir adalah...." ujar Bu Lia membuat semuanya terdiam menanti nama itu disebut.