Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 157



Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Bastian dan Dirga kini segera berlari mengejar kepergian Cia.


Nafas Cia terengah melajukan larinya diiringi kakinya yang gemetar hebat menembus kegelapan malam yang begitu amat sangat gelap dan terlihat sangat menyeramkan . Cia tak mampu melihat apa-apa, yang ada di pikirannya adalah ia harus menjauh dari Ogi, Bastian dan Dirga yang kini masih mengejarnya.


Lari Cia itu semakin kencang ketika Cia mendengar teriakan mereka menyerukan nama Cia, menyuruh Cia untuk berhenti berlari.


Cia yang masih berlari itu kini membuka dan meraih handphone yang ada di dalam tas kecilnya.


Mata Cia yang berair itu kini menatap layar handphonenya yang menyala, mengotak atik daftar nomor di handphonnya.


Sesekali Cia menoleh kebelakang memastika mereka tak mengejar Cia lagi, namun sayangnya mereka tak menyerah bahkan Cia masih bisa melihat mereka yang terus berlari di dalam kegelapan.


Cia hanya dapat menangis lalu kembali menatap layar handphonenya dan menemukan nomor kontak Adelio di sana. Cia tak tahu mengapa dipikiranya saat ini adalah Adelio, tapi rasanya Adelio bisa menolongnya.


Dengan cepat Cia dan tanpa pikir panjang ia menghubungkan panggilannya dan meletakkan ke telinganya berharap Adelio mengangkat telfonnya.


Handphone Cia terdengar berdegung,  Cia mampu mendengar hal itu membuatnya memanjatkan doa agar Adelio segera mengangkatnya.


"Ayo Adelio! Angkat!"


"Angkat! Cia mohon."


"Kali ini Cia butuh bantuan Adelio."


...___***___...


Suara handphonenya itu masih terdengar menghubungkan membuat Cia terisak sambil terus berlari menjauhi mereka.


Suara nada dering handphone Adelio berdering dengan nada panggilan ciri khasnya membuat Adelio yang tengah asik memaingkan gitarnya itu mulai terhenti lalu menatap layar handphonenya.


"Cia?" Tatap Adelio keherangan.


Adelio tak mengerti mengapa Cia untuk yang pertama kalinya menghubunginya. Apakah Adelio harus mengangkat telfon Cia, tapi bagaimana dengan pacar Cia yang telah menyuruhnya untuk menjauhi Cia.


Adelio menghela nafas berat lalu membaringkan tubuhnya ke atas kasur sementara handphonenya masih berdering di sisinya.


"Maaf, Cia tapi sepertinya saya tidak bisa mengangkat telpon kamu. Pacar kamu melarang saya untuk dekat dengan kamu," ujar Adelio sambil menatap handphonenya yang masih menyala lalu tak lama handphonenya itu mati, telpon itu telah mati.


...___***___...


Cia melepaskan tangisannya saat telponnya tak kunjung di angkat oleh Adelio.


"Ayo angkat Adelio! Cia mohon!" gumam Cia.


Cia yang masih berlarih itu kembali menelfon Adelio dan meletakkannya di telinga berharap Adelio mengangkatnya.


Di waktu yang sama Adelio kini menghembuskan nafas panjang saat handphonenya itu berdering dan memperlihatkan nama Cia di sana. Adelio tak mengerti mengapa Cia terus menghubunginya. Mungkinkah ada sesuatu yang penting.


Adelio kini menghela nafas lalu segera  mengangkat panggilan Cia.


"Ha-" Ucapan Adelio terhenti ketika suara samar-samar orang yang tengah berlari terdengar.


"Adelioooo to...tolongin Ciaaaa!!!" teriak Cia dengan nafas yang terengah-engah saat ia mendengar suara Adelio.


Adelio terbelalak setelah mendengar suara Cia yang gemetar diiringi tangisan di sebrang sana.


"Kamu kenapa Cia?" tanya Adelio panik lalu bangkit dari kasurnya.


"Tolongin Cia!!! Ci...Cia mau diapa-apain sama si Ogi, sekarang Cia di ke....kejar sama mereka semua," jelasnya cepat.


"Tolongin Cia!!!" teriak Cia.


"Kamu dimana sekarang?" tanya Adelio.


Cia yang masih berlari itu kini menatap ke sekelilingnya dan terlihat cukup gelap hingga tak mampu membuat Cia tahu dimana ia sekarang.  


"Adelioooo to....tolongin Ciaaaa!!! Ci...Cia nggak tahu Cia ada dimana! Tolongin Ci...Cia! Di sini gelap dan Cia takut Adelio," adu Cia yang masih terus berlari.


"Cia berhenti lo!!!"


"Cia jangan lari!!!"


"Ciaaa!!!"


Kedua mata Adelio terbelalak saat mendengar suara teriakan laki-laki, bukan ada satu tapi banyak suara di sana. Sekarang Cia kini terancam.


"Adelio!!! Tolongin Cia!!!" teriak Cia.


"Share look sekarang Cia!" pintah Adelio cepat. 


Panggilan terputus membuat Cia dengan cepat menekan layar handphonenya dan segera melakukan apa yang telah diperintahkan oleh Adelio.


TING


Suara nada pesan masuk membuat Adelio dengan cepat membuka pesan Cia.


"Pabrik gula Kusuma?" Tatap Adelio heran membaca lokasi di tempat Cia sekarang.


Adelio benar-benar tak tahu dengan nama tempat ini, Adelio masih baru di Jakarta dan kini entah bagaimana bisa ia menolong Cia. 


...___***___...


"Berhenti lo, Cia!!!" teriak Ogi yang masih berlari mengejar Cia.


Cia kini mematikan handphonenya, masih berlari. Sorot mata Cia kini mengarah pada sebuah tembok besar membuat Cia berlari dan bersembunyi di balik tembok itu.


Nafas Cia terengah-engah dan sesak berusaha mengatur nafasnya yang kini seakan tak mampu ia kontrol lagi. Jantung Cia berdetak cepat di kala langkah Ogi dan kedua sahabatnya itu berhenti tak jauh dari tempat persembunyiannya. Kali ini Cia benar-benar sangat takut.


Rasanya Cia ingin menjerit dan melepas tangisannya untuk menghilangkan rasa takutnya namun dengan sekuat tenaga telapak tangannya menyumbat mulutnya sendiri. Bibir Cia bergetar dan begitu pula dengan sekujur tubuhnya yang mengigil karena takut.


Kini Cia teriingat dengan Devan dan dengan cepat Cia kembali menyalakan handphonnya. Jari Cia seakan tak mampu untuk di atur agar dapat menekan layar handphonenya berusaha mencari nomor kotak Devan. Saat ini tubuh Cia gemetar hebat bahkan otaknya sendiri tak mampu mengatur pergerakan tangannya.


Tubuh Cia yang gemetar itu membuat Handphone Cia terjatuh ke lantai dan membuat Cia terbelalak. Betapa cerobohnya dia saat ini. Dengan jari yang gemetar itu Cia menunduk dan meraih handphonenya dengan jari yang gemetar.


Cia mengigit bibir bawahnya saat ia berusaha untuk menggenggam handphonenya tapi itu tak semudah yang dipikirkan. Tubuh Cia kini terasa tak bertulang sehingga tak mampu menggerakkannya. Tetap dengan Handphonenya yang masih tergeletak itu membuat Cia kembali menggerakkan jari telunjuknya dan menggerakkanya cepat berusaha mencari nomor Kontak Devan di sana.


Bastian kini menghembuskan nafas lelah sambil menopang pinggang menatap ke sekeliling. Kini tatapannya itu berhenti menatap pantulan cahaya yang menerpa langit-langit sebuah bangunan tua.


"Ogi," panggil Bastian sambil menyentuh bahu Ogi dengan pelan.


Ogi yang sedari tadi sibuk menatap ke sekeliling kini menoleh menatap Bastian yang kini meletakkan telunjuk di depan bibirnya seakan menyuruh Ogi untuk tidak bicara.


"Apa?" tanya Ogi tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


Bastian kini menunjuk ke arah pantulan cahaya itu sambil tersenyum sinis membuat Ogi dan Dirga tertawa jahat. Sudah jelas jika ada Cia di sana.


"Pelan-pelan!" bisik Ogi yang nyaris tak terdengar.


Ketiganya kini segera melangkah dengan langkah yang amat sangat pelan. Sorot mata ketiganya hanya fokus ke arah tembok itu. Langkah yang begitu sangat tenang melewati rerumputan basah dengan sorot mata yang masih menatap pantulan cahaya di langit-langit bangunan tepat di belakang tembok.