Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 203



Kedua mata Devan terbelalak setelah mendengar apa yang Tuan Abraham katakan kepadanya. Lagi dan lagi Tuan Abraham meminta Cia.


"Bagaimana?" tanya Tuan Abraham sambil tersenyum, senyum yang terlihat begitu sangat licik.


Devan tersenyum diiringi hembusan nafas yang begitu sangat panjang membuat Tuan Abraham ikut tersenyum, sepertinya Devan akan memberikan Cia untuknya.


"Anda mau Cia?" tanya Devan.


"Iya, saya mau Cia," jawab Tuan Abraham sambil mengangguk cepat.


"Kamu mau kan memberikan Cia untuk saya?" tanya Tuan Abraham.


"Tidak!" jawab Devan cepat dan berhasil membuat senyum Tuan Abraham lenyap dari bibirnya, sepertinya Devan masih keras kepala . Kini Abraham tersenyum sinis lalu mengangguk pelan.


" Kenapa tidak mau? Ayolah Devan? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Tuan Abrahan sementara Devan hanya terdiam.


"Saya orang kaya, saya bisa memberikan kebahagiaan untuk Cia, Cia juga cucu sayakan? Cia juga Anak dari Kasya."


"Devan, dengar kan saya! Saya punya rumah yang besar, megah, mewah dan itu bisa membuat Cia bahagia jika Cia tinggal di sana. Sementara kamu hanya punya rumah yang sempit dan jelek seperti ini." Tunjuk Tuan Abraham ke arah rumah Devan sementara Devan masih terdiam.


"Devan buka mata kamu! Lihat Cia! Cia butuh kemewahan dan kemewahan itu hanya bisa di rasakan jika Cia tinggal bersama saya.".


"Di rumah saya ada banyak pelayan yang bisa melayani Cia seperti halnya seorang putri di sebuah istana kerajaan."


"Apa yang Cia rasakan jika Cia tinggal bersama kamu? Hah apa? Tidak ada keistimewaan."


"Derajat Cia akan terangkat juga di sekolahnya karena semua orang akan tahu kalau Cia adalah keturunan dari keluarga besar Brahmana. Sebuah keluarga terpandang di negeri ini."


"Devan coba lah berpikir dulu dengan matang-matang. Cia akan bahagia tinggal bersama saya dan dia tidak akan menderita tinggal di sini bersama kamu."


"Coba pikir lagi dan jangan terlalu memikirkan diri kamu sendiri! Ingat Devan! Kamu sekarang tidak punya apa-apa lagi. Harta dari sumber pencaharian kamu yakni bengkel yang penghasilannya tidak seberapa itu sudah lenyap, phum hangus terbakar, hahaha." Tuan Abraham tertawa sejenak lalu tak berselang lama ia menghentikan tawanya.


"Maaf saya terbawa suasana jadi saya agak sedikit-"


"Maaf Tuan Abraham," ujar Devan berhasil membuat Tuan Abraham terdiam.


"Maaf," ujar Devan lagi membuat Tuan Abrahan mengkerutkan dahinya.


"Saya tahu Anda orang kaya, saya sangat tahu dan paham tentang bagaimana kondisi Anda."


Tuan Abraham mengangguk sambil tersenyum, akhirnya Devan mengakui jika dia adalah orang yang kaya. Kalimat yang sederhana tapi itu mampu membuat Tuan Abraham tersenyum puas.


"Saya tahu Anda punya segalanya, Tuan."


"Anda punya mobil mewah yang berjejer rapi di garasi Anda yang bahkan sangat luas dibandingkan rumah yang kecil ini."


"Anda punya rumah besar, megah dan mewah yah saya tahu seperti istana hahaha, ada AC, pintu lift, ruangan besar dimana-mana, guci emas dan semuanya."


"Saya tahu menurut Anda kemewahan adalah sumber kebahagiaan bagi seseorang dan menurut Anda Cia akan bahagia jika diberikan kemewahan yang seperti Anda sampaikan kepada saya."


"Tapi Tuan sepertinya Putri saya sudah bahagia walaupun dia tidak hidup dalam kemewahan tapi, melainkan dia bahagia dalam rumah kecil kami. Rumah kecil yang penuh dengan kebahagiaan."


"Oh iya Tuan, Anda bilang kalau kemewahan, kekayaan adalah sumber kebahagiaan bagi seseorang tapi mengapa Anda tidak bahagia, sepertinya Anda terlihat sangat sedih."


"Em Tuan Abraham, Anda ini begitu sangat membingungkan. Anda meminta Cia untuk membahagiakannya tapi Anda sendiri tidak bahagia lalu bagaimana caranya Anda membahagiakan Cia."


"Coba berpikir sedikit! Buatlah diri Anda bahagia dulu baru Anda buat Cia Bahagia. Hem sepertinya Anda sudah lama tidak bahagia."


"Saya bisa menghidupi Cia."


Tuan Abraham tersenyum sinis, ujaran Devan benar-benar membuatnya terasa malu.


"Maksud kamu hidup dalam kemiskinan, begitu?" tanya Abraham mencoba untuk mempermalukan Devan.


Devan menggeleng pelan sambil tersenyum.


"Keluarga kecil?" tanya Tuan Abraham lalu ia tertawa begitu licik bahkan terdengar seperti tawa meledek.


"Keluarga kecil, hahahaha!!! Astaga hahahah. Jef apa kamu dengar itu? Katanya keluarga kecil, hahaha."


Devan ikut tersenyum dengan tatapannya yang masih menatap sorotan mata Tuan Abraham.


"Apa yang Anda tertawai Tuan Abraham?" tanya Devan membuat Tuan Abraham menghentikan tawanya lalu tersenyum bahagia.


"Apa yang lucu di sini? Anda tertawa hanya karena kata keluarga kecil? Saya bingung Anda ini menertawai saya atau menertawai Anda sendiri karena tak punya keluarga kecil yang bahagia."


"Anda tidak tahu kan arti kebahagiaan dari keluarga kecil? Yah mana Anda tahu karena yang hanya anda tahu adalah merusak keluarga kecil."


"Katanya Cia bahagia dengan Anda tapi, saya lihat anda belum bahagia lalu mengapa Anda sibuk ingin membahagiakan Cia sementara Anda belum bahagia," jelas Devan.


Abraham yang sedari tadi tersenyum kini terdiam dengan wajahnya yang nampak syok mendengar penjelasan Devan yang benar membuatnya geram.


"Dan untuk pria yang ada di belakang Anda," ujar Devan beralih menatap Jef yang kini mengekerutkan alisnya.


"Anda sudah punya keluarga kecil?" tanya Devan.


Jef kini terdiam, tak tahu harus menjawab apa saat ini. Pertanyaan ini cukup memalukan baginya .


"Kenapa? Kenapa Anda terdiam Pak Jef?"


"Anak buah saya belum menikah," jawab Abraham.


"Oh yah?" Tatap Devan dengan tatapan mengejek.


"Belum menikah? Setua ini? Hahaha," tawa Devan.


"Kenapa tidak menikah hah Pak Jef? Kenapa belum menikah? Anda ini sudah tua kenapa belum menikah?"


Devan melipat bibirnya ke dalam menatap Jef yang nampak tak nyaman dengan pertanyaan Devan.


"Ah tak perlu dipikirkan Pak Jef! Anda sih yang terlalu sibuk mengurus orang lain sampai-sampai tidak sempat menikah," ejek Devan.


"Pantas saja Anda tidak mengerti apa itu sebuah keluarga kecil karena Anda juga tidak punya rasa kasih sayang."


"Anda juga bahkan tega menembak seseorang hanya kerena uang."


"Sekarang Anda sudah punya uang Pak Jef lalu apakah Anda sudah bahagia dengan uang itu?"


"Hentikan!" pintah Tuan Abraham dengan rahangnya yang menegang.


 


Devan melirik menatap Tuan Abraham yang kini terlihat sangat marah.


"Maaf jika saya terlalu banyak bicara!" ujar Devan diiringi senyuman.


Devan menarik nafas panjang dan tersenyum.


"Maaf Tuan Abraham, saya tak akan pernah bisa memberikan putri saya kepada Anda," ujar Devan lalu membalikkan tubuhnya.


"Devan!" panggil Abraham membuat Devan menghentikan langkahnya.


"Saya yakin kamu sendiri yang akan memberikan Cia kepada saya, tidak sekarang tapi secepatnya."


"Saya akan menunggu kamu memberikan Cia kepada saya di rumah besok dan beberapa hari ke depan jadi masih ada waktu untuk berpikir! Semoga kamu bisa mengambil jalan yang terbaik," jelas Tuan Abraham lalu segera melangkah masuk ke dalam mobilnya.


Devan melangkahkan kakinya seiring suara mobil Tuan Abraham terdengar. Devan menyadarkan kan tubuhnya di balik pintu setelah menutup pintu cukup rapat.


"Cia harus tetap sama gue," ujar Devan dengan nafasnya yang ngos-ngosan.