
"Adelio yang ajak Om, Cia sahabat Adelio," jelas Adelio lalu kemudian tersenyum seakan begitu sangat bahagia memperkenalkan Cia di hadapan Julia dan Pak Yanto.
Cia yang awalnya tersenyum kaku kini dengan tatapan mengejeknya ia menatap Pak Yanto karena telah berhasil dibela oleh Adelio dan Pak Yanto tak akan berani mengusirnya.
Pak Yanto kini menghembuskan nafas panjang lalu menyipitkan kedua matanya seakan menatap Cia seperti orang yang telah mencuri.
"Oh coba sini," panggil Julia sambil tersenyum dengan tangan kanannya yang direntangkan ke arah Cia.
"Saya?" Tunjuk Cia ke arah wajahnya.
"Iya," jawab Julia dengan nada lembut.
Cia yang masih tak percaya itu kini menoleh menatap Adelio yang kini nampak mengangguk. Dengan langkah pekan Cia mendekati Julia yang masih merentangkan tangannya.
Cia mengulurkan tangan dan menyentuh jari-jari lentik Julia yang terasa hangat. Julia menarik pelan jari-jari Cia dan membawa Cia duduk disebuah kursi besi bekas duduk Adelio yang kini nampak berdiri membiarkan Cia duduk di sana.
Cia terdiam menatap wajah Julia yang begitu sangat cantik, wajah yang nampak keibuan dengan sifat lemah lembutnya. Kini Cia tak heran jika Adelio memiliki wajah yang tampan, itu semua karena wajah Ibunya yang begitu sangat cantik.
Julia mengerakkan jari-jarinya lalu menyentuh pipi Cia yang begitu sangat lembut diiringi senyuman.
"Awas Lia! Anak itu suka mengigit," sahut Pak Yanto membuat Cia menoleh menatap tajam pada pria botak yang kini ikut menatapnya begitu sadis.
"Mengigit bagaimana? Gadis ini terlihat sangat cantik," ujar Julia sambil menyentuh dagu Cia mengusapnya lembut membuat Cia yang sedari tadi masih mengoceh di dalam hati mengatai Pak Yanto langsung terdiam setelah mendengar ujaran Julia.
Sentuhan lembut ini tak pernah Cia rasakan dari tangan seorang Ibu seperti apa yang Julia lakukan kepadanya. Apa seperti ini rasanya kasih sayang seorang Ibu? Bahkan Cia tak tahu bagaimana rasa itu. Jika saja sosok Ibu itu ada di kehidupan Cia, mungkin ia tak akan merasakan rasa ini.
Tatapan Cia memburam diselimuti genangan air yang membuat matanya menjadi memerah dan terasa hangat hingga tanpa diminta air mata Cia menetes membasahi pipinya.
"Loh kenapa nangis?" tanya Julia lembut.
Cia tersenyum lalu segera menghapus air yang kini telah menetes membasahi pipinya yang masih disentuh oleh jari-jari lembut Julia. Oh Tuhan mengapa harus menangis di depan Ibu Adelio?
"Pipinya sakit? Tante pegangannya kuat yah?" tanya Julia lagi.
"Enggak Tante," jawab Cia sambil menggeleng cepat dan mengusap pipinya dengan punggung tangan.
"Jagan nangis dong! Kasian sama mukanya Cia yang cantik kalau kena air mata," ujar Julia lembut sambil mengusap pipi Cia dengan lembut.
Cia menggeleng lalu mengusap kembali pipinya yang basah itu.
"Tante," suara serak Cia terdengar.
"Iya?" jawab Julia dengan nada lemas.
"Cia-" Cia menghentikan ucapannya seakan ragu untuk menyampaikan apa yang Cia ingin sampaikan kepada julia.
"Kenapa?" Tatap Julia perhatian.
"Cia mau dipeluk sama tante," ujar Cia ragu.
Julia tersenyum memperlihatkan gigi putihnya yang rapi lalu segera mengangguk sambil merentangkan tangannya seakan siap menyambut pelukan dari Cia.
Cia terseyum dengan raut wajah sedihnya lalu dengan perasan yang masih ragu Cia melangkah mendekatkan tubuhnya me arah Julia.
"Awas jangan digigit!" ujar Pak Yanto membuat Cia meledakkan tawanya lalu segera memeluk tubuh Julia yang kini ikut tertawa.
Disatu sisi lain Adelio nampak tersenyum menatap dua makhluk yang sangat ia cintai kini saling berpelukan tepat di hadapannya. Rasanya Adelio sangat bahagia.
Cia terdiam duduk mematung disebuah kursi panjang khusus yang berada di depan ruangan pasien. Cia yang tertunduk itu kini mengangkat pandangannya setelah mendengar suara tangisan dari dua wanita yang nampak menangisi seseorang yang terbaring dengan kain putih yang menutupi tubuhnya di atas brangkar yang disorong oleh dua perawat pria berbaju putih ke arah ruangan mayat.
Cia tertunduk lagi ketika gerombolan dengan suara tangisan itu kini telah menjauh. Tubuh Cia sedikit bergerak ketika Adelio kini telah duduk di sampingnya sambil merapikan jaket abu-abunya. Cia menoleh menatap Adelio yang nampak menyandarkan kepalanya di dinding sambil menatap langit-langit rumah sakit dengan tatapan sedih.
"Lo kenapa?" tanya Cia sambil menyentuh bahu Adelio.
Adelio menoleh lalu menghembuskan nafas panjang. Adelio menggeleng dan tersenyum berusaha memperlihatkan Cia jika ia baik-baik saja.
"Lo bohong yah?"
Adelio tak menoleh kini ia menutup matanya dengan telapak tangannya dan mengusap wajahnya dengan kuat.
"Dari tadi pagi lo kayaknya keliatan sedih, lo kenapa?" tanya Cia lagi.
Adelio melirik, menatap Cia yang kini begitu tulis menatapnya.
"Kalau lo mau cerita nggak apa-apa, gue mau kok denger."
"Lo juga kan selalu bantu gue disetiap saat dan sekarang gue juga mau bantu lo, yah, bantu sebagai pendengar yang baik, hehehe."
"Gue janji kok nggak bakalan ngasih tahu orang apa yang buat lo sedih sampai kayak gini."
Adelio menghembuskan nafas panjang dari mulutnya hingga Cia mampu mendengarnya. Terlihat sangat berat.
Cia masih terdiam menanti Adelio bicara diiringi senyum manis yang begitu amat tulus menatap Adelio yang masih tertunduk sambil meremas jari-jarinya.
"Pacar aku," ujar Adelio singkat.
Seketika senyum Cia menghilang dari bibirnya setelah mendengar ujaran singkat Adelio mengenai kata pacar itu. Cia sama sekali tak pernah menyangka jika Adelio selama ini ternyata punya pacar.
"A...a ..apa?" tanya Cia berusaha meyakinkan jika ia salah dengar.
"Pacar aku," ujar Adelio lagi namun kini ia menoleh menatap Cia yang kini dengan cepat tersenyum.
Cia mengangguk lalu tertunduk dan membuat senyumnya kembali menghilang dari bibirnya. Ternyata ia tidak salah dengar.
Adelio meghembuskan nafas berat lalu menghapus air mata yang mengalir dari pipinya. Pria pendiam itu ternyata menangis.
"Aku sayang sama dia," ujar Adelio lagi menatap Cia yang kini masih tertunduk sambil meremas roknya dengan tatapan kosong.
Cia terdiam tak mengatakan apa-apa. Adelio pasti sangat sayang kepada pacarnya itu, Cia mampu merasakan itu dari air mata yang mengalir membasahi pipi Adelio.
"Sebelum aku ke sini, dia bilang aku tidak boleh dekat-dekat dengan perempuan yang ada di Jakarta dan aku lakukan semua itu untuk dia tapi..." Adelio menghentikan ucapannya seakan berat untuk mengatakannya.
"Tapi dia tidak angkat dan balas chat aku sesampainya aku di sini."
"Aku tidak tahu kesalahan aku di mana dan ketika aku berusaha mencari kabar akhirnya aku tahu kalau dia-" Adelio menghembuskan nafas lalu kembali menatap langit-langit rumah sakit berusaha menahan air matanya untuk tidak kembali menetes.
"Dia sudah punya pacar," sambung Adelio sedikit tertawa dan suara tawanya berubah menjadi suara tangisan.
"Kamu tahu tidak dia pacaran sama siapa?" tanya Adelio menatap Cia dengan tatapan sedihnya.
Cia mengangkat pandangannya menatap Adelio dan kembali tersenyum lalu menggeleng cepat.
"Sama sahabat aku sendiri," ujar Adelio.