
Cia melangkah turung dari motor metik milik Fika lalu tersenyum manis menatap Fika yang sedang tersenyum begitu lebar.
Senyum Cia sirna menatap tatapan aneh serta tatapan Fika yang terlihat menyimpan sesuatu yang membuat Cia tidak enak.
"Kenapa lo?" tatapnya sinis.
"Em, hehehe, lo nggak ajak gue minum teh gitu di rumah lo?"
"Hah?"
"Yah, sekali-sekalilah, Ci. Masa lo nggak pernah ngajak gue mampir ke rumah lo?"
"Terus?"
"Yah, astaga, Cia! Heh, gue ini udah antar lo pergi sekolah sampai pulang sekolah dari SMP sampai sekarang. Bagaimana?"
"Nggak usah!" jawab Cia cepat membuat Cia cemberut.
Jujur Cia tak mau jika, Fika masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Devan, Cia tak mau itu terjadi. Apa lagi kalau sampai Fika tahu jika, Cia punya Ayah yang masih muda dan berparas tampan, huh pasti akan menjadi sumber masalah baginya dan juga untuk Ayahnya.
"Ya, udah deh."
Fika kini melirik ke arah rumah Cia yang nampak tertutup rapat seakan tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Semenjak Fika bersahabat dengan Cia dari SMP sampai sekarang, Cia tak pernah mengajaknya berkunjung ke rumah Cia.
"Eits!" halang Cia cepat berdiri tepat di hadapan Fika berusaha untuk menghalangi pandangan Fika ke arah rumahnya.
"Kenapa sih, Cia?"
"Ya, udah sana lo balik!"
"Ci, gue-"
"Apa lagi sih?"
"Air putih ajah, Ci, nggak apa-apa kok!"
"Nggak usah!"
"Yah, udah deh, gue nggak usah minum deh, Ci!"
"Enggak, Fika!!!" teriak Cia membuat Fika tersentak.
"Pelit banget sih lo."
"Udahlah lain kali ajah lo mampir!" ujar Cia.
Fika menghela nafas lalu mengangguk-angguk kepalanya lalu tersenyum menatap Cia. Tak berselang lama motor Fika kini melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalan beraspal meninggalkan Cia yang terpaku di depan pagar rumah.
"Hah, untung ajah si Fika nggak maksa buat masuk ke rumah, kalau dia masuk terus ngeliat Devan, wah bisa kacau."
..._____*****______...
Cia mengoles wajah Devan dengan cairan pencerah wajah berwarna hijau yang ia beli dari Baby dua bulan yang lalu. Jari tangan Cia menggosok pelan masker hijau itu, meratakannya di wajah Devan yang begitu sangat mulus.
Masker di wajah Cia nampak telah mengering di tiup hembusan pelan angin yang berasal dari kipas angin yang berputar tak jauh dari meja belajar yang berada di kamar Cia.
Sebenarnya Cia tak berniat untuk mengolesi wajah Devan dengan masker tetapi, karena cairan masker Cia tersisa banyak jadi, mau tak mau wajah Devan jadi sasaran empuk bagi Cia.
"Udah belum, Ci?"
"Hust! Jangan ngomong goblok! Nanti maskernya pecah!" pintah Cia berusaha tak mengerakkan bibirnya.
"Kalau pecah kenapa?" tanya Devan.
"Yah, hasilnya nggak bagus! Hest," Cia menarik air liurnya cepat yang nyaris menetes di bibirnya membuat Devan menoleh.
"Hahaha." Devan tertawa geli membuat Cia terdiam sambil menutup kedua matanya.
Cia berusaha menahan tawanya agar masker hijau di wajahnya tidak retak. Memang bodoh jika, harus berhadapan dengan Devan yang selalu berhasil membuat Cia tertawa namun, kini Cia berusaha menghindari tatapan konyol Devan yang masih tertawa di sana.
"Emmmm, diem!" ujar Cia sambil memukul tubuh Devan cukup keras lalu berpaling membelakangi Devan.
"Ci, hahaha air liur lo, haha!!!" Devan kembali tertawa.
Bahu Cia bergetar berusaha menahan tawa dari godaan Devan yang seakan menggelitik perutnya.
Devan menarik nafas panjang lalu terdiam dan meraih cermin kecil berwarna biru itu dari kasur lalu menatap wajahnya yang telah diolesi masker hijau.
Dahi Devan berlipat-lipat menatap aneh wajahnya di permukaan cermin.
"Ci!" panggil Devan membuat Cia melirik menatap Devan sesaat lalu menghadapkan wajahnya ke arah kipas.
"Kenapa, lo?" tanya Cia tanpa menoleh.
"Kok gue nyeremin, Ci?"
"Hahaha!" Devan tertawa menatap wajah Cia yang kini berwarna hijau setelah diolesi masker wajah itu.
Cia kembali menutup matanya cepat lalu berpaling membelakangi Devan yang masih tertawa di sana.
"Ci, gila lo jelek banget sumpah, hehehe!!!" tawa Devan.
"Emm enak ajah!" pukul Cia lagi.
Devan bangkit dari kasur lalu duduk tepat di samping Cia setelah menyikut Cia membuat Cia terhempas ke kasur.
"Aa!!! Devaaaaan!!!" teriak Cia.
Devan tersenyum merasakan sensasi dingin dari angin yang berhembus oleh kipas angin yang masih berputar. Devan menutup kedua matanya merasakan sensasi dingin dari masker tersebut yang seakan menembus lapisan kulit wajahnya.
"Minggir lo!!!" teriak Cia sembari mendorong tubuh Devan yang tak bergerak sedikitpun.
Cia mendecapkan bibirnya lalu meraih bantal dan memukul kepala Devan dari belakang membuat Devan.
"Duh!!! Apaan sih lo?" kesal Devan
"Pikir sendiri!!!" kesalnya lalu membaringkan tubuhnya ke permukaan kasur membuat suasana menjadi sunyi.
"Van!" panggil Cia, namun Devan tak merespon ujaran Cia.
"Devan!!!" teriak Cia.
"Apa sih?" kesal Devan menoleh menatap Cia tengah melotot menatapnya.
"Van, tau nggak tadi gue ketemu bidadari."
"Bidadari?"
"Iya." Cia menoleh menatap Devan yang nampak menikmati hembusan angin dari kipas.
"Ada sayapnya?"
"Nah itu Van, sayangnya dia nggak punya sayap."
Cia terdiam menatap Devan yang masih terdiam di sana menatapnya dengan tatapan bodoh.
"Tau nggak Van? Dia itu cantiiiiiiiiiik banget."
"Oh, yah?"
"Iya, Van"
Devan menyiram wajahnya dengan air yang mengalir jernih dari kerang air lalu menatap wajahnya di cermin kamar mandi.
"Hidungnya itu mancung, Van," jelas cia dengan nada seperti menghasut sambil mengusap wajahnya yang basah dengan handuk kecil
"Terus?"
"Alisnya cantik, matanya itu, Van indaaaaaaaaah banget. Beneran, Van, Cia nggak bohong!"
"Rambutnya panjang terus hitam, lebat, pokoknya keren deh kayak di film Rapunzel gitu Van." jelas Cia sambil mengikuti langkah Devan menuju sofa di ruangan TV.
Devan kini duduk di sofa mulai meraih remote dari meja lalu menekan pelan tombol berwarna abu-abu itu, memunculkan gambar di layar TV.
"Kulitnya itu putih banget kayak nggak pernah kena matahari," tambah Cia lagi sambil menatap Devan yang nampak serius menatap layar TV tanpa memperdulikan ujaran Cia.
"Dia itu wah banget, Van!"
"Dia itu seperti sosok bidadari yang benar-benar nyata di mata Cia."
"Nih, yah, Van. Lo harus percaya sama gue kalau bidadari itu ada dan nyata dan buktinya gue udah lihat dengan mata gue sendiri," jelasnya begitu semangat sementara Devan melongo.
"Terus, yah, Van, bajunya itu putih, kukunya panjang dan-"
"Ci!" Devan menoleh menatap Cia yang kini terdiam.
"Lo dari tadi ngomong tentang dia tapi, yang ada dipikiran gue itu lain, Ci!"
"Lain gimana?"
"Yah, yang lo jelasin semuanya!"
"Emang kenapa?"
"Ci!"
"Em," sahut Cia.
"Ini bidadari atau kuntilanak sih?"