
Mata Cia terbelalak. Cia lupa memasukkan kertas itu ke dalam tasnya dan kini Cia ingat jika kertas batik itu ia tinggalkan di atas meja. Kini Cia sangat bingung, entah apa yang akan Cia katakan kepada teman-temannya itu jika kertas itu ketinggalan di rumahnya.
"Baiklah silahkan duduk perkelompok!" pintah Bu Lia.
Suasana yang sedari tadi sunyi kini menjadi bising dengan suara gesekan kursi dan meja yang diatur berbentuk beberapa kelompok sesuai dengan kelompok yang telah ditentukan kemarin oleh Bu Lia.
"Lo kenapa Ci?" tanya Yuna menyentuh bahu Cia pelan.
"Lo ingat perut sixpacknya pacar lo itu yah? Sama gue juga." Tunjuk Faririn dengan wajahnya yang menyebalkan itu.
"Ih lo tu yah, pikiran lo kayak nggak pernah bersih." tatap Yuna agak kesal setelah mendengar ujaran sahabatnya itu.
Cia terdiam, rasanya Cia ingin menghilang dari tempat ini sekarang juga dan membawa keras itu ke sekolah.
"Gue... gu...gu...gue minta maaf," ujar Cia dengan raut wajah sedih.
Semuanya nampak terdiam dengan tatapan kebigungan.
"Kenapa Cia?" tanya Fika.
"Kertasnya." Tatap Cia keseluruh teman-temanya itu.
"Kenapa kertasnya, Cia?" tanya Yuna lagi.
"Gue...gue ...gue lupa."
"Hah?!!!" Kejut mereka kompak.
Motor yang melaju dengan kecepatan tinggi itu kini berhenti tepat di depan gerbang sekolah yang nampaknya masih sepi, hanya ada pria berseragam putih di sana. Mungkin dia adalah penjaga keamanan di sekolah ini.
"Bos serius mau masuk?!!!" teriak Tara menoleh menatap Devan yang kini berada di sampingnya setelah turung dari motor dengan tatapannya yang terus memperhatikan ke arah sekolah.
Devan meghembuskan nafas sesaknya yang seakan sukar untuk ia keluarkan dari hidungnya. Devan sangat takut jika gadis-gadis itu mengejarnya lagi seperti hari itu, hari di mana paling melelahkan untuknya. Kali ini ia harus berhati-hati dan tak boleh ceroboh.
"Bos!!!" teriak Tara lagi.
PLAK
Pukulan keras menghantam kepala gondrong Tara cukup keras membuat Tara tersentak ke depan mendapat pukulan itu.
"Kok saya dipukul bos?!!!" teriak Tara membuat Devan mengusap wajahnya kasar.
"Lo bisa diam nggak sih?" Bisik Devan kesal.
"Maaf Bos!!!" teriak Tara lagi lalu tertunduk sedih, ia merasa bersalah kali ini.
Devan mendecapkan bibirnya, rasanya ia ingin memukul kepala Tara sekali lagi tapi kini ia teringat jika Tara memang suka berteriak di manapun dan kapanpun Tara berada. Berteriak sudah jadi ciri khas dari Tara dan tak mungkin menyuruhnya untuk berbisik. Yakinlah jika sebuah kata teriak ada pada Tara.
Pak Martin mengkerutkan alisnya menatap heran ke arah dua pria yang nampak menatap ke arah bangunan sekolah yang bertingkat itu. Rasanya Pak Martin pernah melihat pria tampan dengan topi di kepalanya itu, pria yang nyaris mati karena dikerumuni oleh ribuan gadis beberapa hari yang lalu.
Mengenai pria berambut Gondrong yang lebih mirip preman pasar itu, Pak Martin tak pernah melihatnya. Apakah keduanya ingin maling atau entahlah ia juga tak mengerti. Namun, gerak gerik mereka terlihat sangat mencurigakan.
Pak Martin kini melangkah mendekati kedua pria itu yang terlihat mencurigakan itu.
"Heh!!! Mau apa kamu?" bentak Pak Martin setelah tibanya ia di sana.
Devan dan Tara tersentak kaget mendapatkan bentakan itu dari pria yang entah datang dari mana.
"Woy santai aja dong!!!" bentak Tara dengan wajah sangarnya.
Pak Martin yang berniat untuk mengeluarkan taringnya itu kini terhenti mendapat bentakan dari pria gondrong dengan tubuh besar dan kekar itu.
"Sa...sabar Tar!" pintah Devan mengusap dada kekar Tara yang masih memasang wajah sangar di sana.
Tara menarik nafas panjang lalu menghembuskannya lewat mulutnya berulang kali, berusaha untuk bersabar kali ini sementara Pak Martin nampak terdiam dengan mulut menganga. Pria gondrong ini begitu sangat menyeramkan.
"Begini Pak-" Ucapan Devan terhenti setelah melirik nama yang tertera di seragam putih pria ini, Martin.
"Pak Martin," sambung Devan lalu tertawa garing sementara Pak Martin melongo seakan tak mampu bergerak setelah dibentak oleh Tara.
"Emm, saya mau titip ini untuk anak, eh maksud saya pa...pacar saya," ujar Devan lalu menjulurkan gulungan kertas putih itu sambil tersenyum kaku. Apa yang baru saja ia katakan? Pacar? Oh Tuhan, maafkanlah pria ini yang telah mengakui anaknya sebagai pacar.
"Lo ambil aja!!!" bentak Tara lagi sambil memukul motor metik millik Adam yang sengaja di pinjam oleh Devan.
Pak Martin kembali tersentak kaget mendengar bentakan dari Tara yang seakan menyambar begitu saja seperti petir di siang bolong.
"Tar!" tegur Devan sedikit menyenggol tubuh kekar Tara agar tak berteriak lagi.
Tara kini tertunduk. Ucapan bosnya itu kembali membuatnya terdiam.
"Ini tugas kelompok Pak," ujar Devan, memberitahu sambil tangganya masih menjulurkan kertas itu.
"Siapa?" tanya Pak Martin.
"Ashia Akanksha."
"Hah?"
"Ashia Akanksha, Pak, Cia! Cia!" sebut Devan, memperjelas.
Pak Martin membuka mulutnya dengan kedua mata yang perlahan melebar setelah mendengar nama gadis itu disebut, ia ingat betul dengan gadis berandal yang selalu membuatnya marah disetiap hari.
"Oooh, si berandal itu," ujarnya membuat senyum Devan menghilang dari bibirnya.
"Be...be...berandal?" Tatap Devan tak mengerti.
"Iya si gadis berandal itu. Siapa yang nggak kenal gadis bocah sialan itu yang sering manjat tembok sekolah. Saya yakin dia itu nggak pernah dididik sama orang tuanya," jelas pak Martin.
Devan begitu sangat terkejut mendengar ucapan pak Martin yang berani mengatakan jika Cia tak pernah dididik. Rasanya Devan ingin memukul kepala pria ini sampai lupa cara bernafas yang benar. Tapi Devan kini berusaha bersabar walaupun hatinya kini sedang mengabsen nama hewan mengatai Pak Martin.
"Maksud Pa...Pak Martin apa yah? Tidak dididik orang tuanya, maksudnya apa yah, Pak?" tanya Devan tak mengerti.
"Gadis berandal itu selalu bikin ulah di sekolah. Manjat di dinding belakang sekolah, terlambat setiap hari, tauran dan selalu melanggar peraturan sekolah. Kamu mana tahu, kamu kan cuman pacarnya. Saya yakin Ayahnya itu tak mampu mendidik anaknya itu," jelas Pak Martin.
"Apa?!!!" Kaget Devan dengan suara teriakannya membuat Pak Martin tersentak kaget.
"Heh! Aku menceritakan tentang Ayahnya bukan kamu jadi tak perlu kaget seperti itu," jelasnya.
Devan menghela nafas. Ia harus ingat jika pria ini tak tahu kalau ia adalah Ayah dari gadis yang baru saja di jelek-jelekkan oleh Pak Martin.
Sabar Devan! Sabar!
"Maaf, Pak. Tapi asal Pak Martin tahu, Cia itu punya Ayah yang baik, sopan, tampan dan dermawan, yah mirip malaikat lah."
"Jika dia sudah bicara maka semua kupu-kupu akan berterbangan untuk menghinggapi seluruh tubuh pria itu karena kelembutan suara dan ketampanan wajahnya," jelas Devan.
"Kamu ini membicarakan tentang Ayahnya atau membicarakan dirimu sendiri?" tanya Pak Martin.
"Ini Pak," ujar Devan mengalihkan pertanyaan Pak Martin sambil menjulurkan kertas batik itu lagi.
"Ah, kamu saja yang kasih! Saya tidak mau berurusan dengan dia, " ujar Pak Martin lalu melangkah pergi sambil mengoceh tak jelas.
"Wah, bener-bener lo!!!" Tunjuk Tara sambil berteriak membuat pak Martin menoleh lalu berlari ketakutan.
Devan mendecapkan bibirnya lelah, bagaimana bisa Devan masuk ke dalam sekolah itu, di luar saja ia di kerumuni oleh gadis-gadis, apa lagi jika ia masuk ke dalam sana, ini sama saja Devan menggali lubang kuburnya sendiri.
"Gimana nih bos?!!!" tanya Tara.
Devan masih terdiam memikirkan sesuatu.
Devan kini menatap Tara yang masih menatapnya dengan tatapan serius, mungkin Tara bisa masuk ke dalam sana lagian wajah galak Tara tak akan membuat gadis-gadis itu menjerit kagum dengan ketampanannya melangkah menjerit karena ketakutan.
"Lo masuk!"
"Apa bos?!!!" teriak Tara.
Devan mendecapkan bibirnya, ini mungkin bisa menambah masalahnya jika Tara masuk dengan suara teriakannya itu.
"Ikut gue!" ajak Devan singkat lalu melangkah masuk sambil memperbaiki topi yang nyaris menutup seluruh wajahnya itu.