
Adelio duduk terpaku menatap ka arah luar jendela menanti gadis itu yang tak kunjung datang. Adelio ingin sekali mengatakan kepada gadis itu bahwa tas hitamnya ada di rumahnya dan tasnya masih basah.
"Hay Adelio," sapa Loli lalu duduk di samping Adelio yang tak lain merupakan bangku Fika yang tak kunjung datang ke sekolah. Adelio menoleh menatap gadis itu yang nampak memaingkan ujung rambutnya.
"Adelio entar kita ke kantin bareng, yuk. Biar gue anter, Lo kan belum tau jalan ke kantin."
"Bener tuh, Adelio," tambah Marisa yang berdiri di samping Medika yang kini hanya terdiam.
Adelio terdiam tak menanggapi ucapan mereka, kini ia tertunduk memaingkan jarinya kepermukaan meja yang nampak dipenuhi coretan pulpen, entah apa itu. Mungkin kunci jawaban.
"Kotor, yah ? Yah iyalah itu bangkunya, si Cia yang udah buat Lo dihukum kemarin."
Adelio menghentikan jarinya jadi, nama gadis pemarah itu adalah Cia.
"Adelio !" panggil Loli lagi. Adelio menoleh menatap Loli lalu tak berselang lama ia kembali tertunduk.
"Ya, ampun !!!" Jerit Loli kegirangan ketika berhasil bertatapan dengan pria tampan itu.
"Kok kamu ganteng banget sih ?"
Cia berlari dengan cepat ketika menatap Bu Lia dari kejauhan melangkah masuk ke dalam kelasnya. Dengan sekuat tenaga Cia berlari sebelum Bu Lia mengabsen murid-murid.
Bruk
Tubuh dua siswi yang membawa buku pelajaran itu terhempas ke lantai setelah di tabrak oleh Cia.
"Nggak sengaja !" Teriak Cia tanpa menoleh melihat korban yang kini meringis di lantai.
"Pagi anak-anak." Bu Lia melangkah masuk sambil membawa beberapa buku di pelukannya. Semua murid-murid yang melihat kedatangan bu Lia segera berlari menuju bangku masing-masing.
"Pagi Bu," Jawab mereka serentak.
Adelio kembali menoleh ke jendela memastikan Cia sudah ada di jendela seperti pertama kali Adelio bertemu dengannya.
"Baiklah anak-anak ibu absen dulu, yah."
"Iya Bu," Jawab mereka kompak.
"Abhi Syaputra !"
"Hadir, Bu !" Sahut pria paling depan dengan tubuh gemuk itu sambil mengangkat telunjuknya.
"Afrevan Rafar !".
Lari Cia begitu cepat melintasi pintu-pintu ruangan kelas yang semuanya telah diisi dengan guru masing-masing sesuai jadwal pelajaran. Cia baru tau jika, kelasnya ternyata lumayan jauh juga.
Adelio menoleh kembali ke jendela menatap gadis itu yang tak kunjung muncul.
"Ashia Akanksha !" Bu Lia menoleh menatap ke arah kursi Cia yang kini dihuni oleh pria dengan wajah tampan itu.
"Hadir, Bu !" Jawab Cia cepat sambil berdiri di pintu masuk kelas dengan wajah yang memerah serta bercucuran keringat.
Adelio menoleh setelah mendengar suara gadis yang mirip dengan suara gadis bernama Cia itu, gadis yang selalu marah-marah di setiap waktu. Adelio tersenyum pelan menatap Cia yang berdiri di pintu masuk.
"Dari mana kamu ?"
"Dari toilet, Bu," jawabnya cepat.
"Oh yah ? silahkan masuk !"
Cia melangkah masuk ke dalam kelas melintasi murid-murid dengan gagahnya. Murid-murid menatap Cia dengan serius, mereka pasti tau jika, Cia berbohong. Tatapan Cia kini menatap bangku Fika yang nampak kosong, entah kemana Fika sekarang sehingga selama dua hari Fika tak ke sekolah.
Cia duduk di samping pria yang gara-gara teriakannya membuatnya dihukum. Cia menatap meja tempat terakhir kalinya Cia meletakkan tasnya itu yang kini sudah lenyap. Cia menoleh ke dalam laci milik Fika memastikan tasnya ada di dalam laci.
Cia bangkit lalu terdiam. Seingatnya ia menyimpan tas itu di meja. Cia menatap laci mejanya yang kini telah ditempati oleh pria itu.
"Minggir !" Cia menyentuh bahu pria itu pelan berusaha menyingkirkan tubuh pria itu lalu merogoh laci itu cepat.
Adelio terdiam. Pasti Cia mencari tasnya yang sekarang ada di rumahnya itu. Jujur saja Adelio ragu untuk memberitahu Cia jika, tasnya yang masih basah itu ada di jemurannya.
"Loh tas gue mana ?" Tanya cia pada dirinya sendiri.
Cia menatap Yuna si ketua kelas itu, pasti Yuna tau dengan tasnya itu toh kan Yuna selalu datang ke kelas lebih dulu. Sebenarnya Cia tak tau siapa yang lebih dulu datang ke kelas setiap pagi karena, Cia tak pernah datang lebih awal ke sekolah setiap pagi.
"Reno !" Panggil Cia membuat Reno menoleh.
"Panggil si Yuna !" Bisik nya lagi membuat Reno mengangguk lalu menatap Yuna yang duduk paling depan itu.
"Zandi !" Colek Reno yang duduk di depannya. Zandi menoleh menatap malas Reno.
"Panggil Yuna !" Ujarnya lagi membuat zandi mengangguk.
"Yuna !" Panggil zandi.
"Apa ?" Tanya Yuna ketika menoleh menatap Zandi.
Cia melambaikan tangannya berusaha memperlihatkan dirinya kepada Yuna yang masih serius menatap Zandi. Cia sama sekali tak mengerti dengan Yuna yang tak melihat lambaiannya, huh kesalahan semua siswa saja bisa di lihat bagaimana bisa lambaiannya tak di lihat oleh Yuna.
"Si Reno mau ngomong !" Ujarnya membuat Yuna menoleh menatap Reno yang menggeleng cepat sambil menunjuk Cia yang melambaikan tangan.
"Apa ?" tanyanya tanpa mengeluarkan suara.
"Tas gue mana ? Lo liat tas gue, nggak?" Bisik cia mengerakkan bibirnya pelan seperti sedang mengeja.
"Nggak ! Gue nggak liat !"
Cia menghembuskan nafas berat, entah kemana tasnya itu berada. Cia tau betul tas itu adalah tas yang dibeli Devan untuknya ketika ia kelas XI SMA dan jujur Cia tak pernah mencucinya. Jika, memang tasnya itu hilang karena, dicuri ? siapa yang mau mencuri tas tua yang belum pernah dicuci itu. lagian di dalam tasnya tak ada uang atau barang berharga tetapi semua buku catatan dan tugas Cia ada dalam tas itu. Jujur saja Cia tak hapal jadwal mata pelajaran jadi Cia selalu membawa semua bukunya ke sekolah.
"Eh, Lo tau nggak Ayahnya si Syifa itu tenyata masih mudah loh dan nggak tua-tua banget," bisik siswi yang duduk di depan bangku Cia.
"Oh, ya ?".
"Iya, umurnya itu masih 4oan lebih dan mukanya masih lumayan ok".
"Parah, Lu. Lu embat lagi ?"
"Yah, soalnya ayahnya itu duda sih terus pilot gimana gue nggak embat ?"
Cia terdiam mendengar bisikan siswi-siswi di depannya jika, pria berumur 4oan saja diincar bagaimana dengan Ayahnya yang berumur 29 tahun dan memiliki wajah tampan. Jika, Devan mengantarnya ke sekolah pasti semua murid-murid akan mengincar ayahnya seperti Ayah Syifa yang diincar siswi di depan Cia.
"Itu murid baru, yah ?" Tanya Bu Lia membuat semua murid menoleh menatap Adelio. Adelio tersenyum menatap Bu Lia yang nampak tersenyum kearahnya, Adelio mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan bu Lia.
"Iya, Bu dia murid baru," jawab Loli cepat.
"Oh, murid baru. pindahan dari mana ?"
"Pindahan dari Makassar, Bu" jawab Loli cepat.
Adelio menatap loli dengan heran yang terus menjawab pertanyaan dari Bu Lia yang dilontarkan untuknya. Loli memaingkan sebelah matanya berusaha menggoda Adelio. namun, Adelio memalingkan wajahnya dengan cepat menghindari tatapan Loli.
Cia melipat bibirnya kedalam lalu mengangguk pelan jadi, betul pria yang dihukum bersamanya itu adalah murid baru dan pindahan dari Makassar, Cukup jauh juga.
"Nama kamu siapa ?" Tanya Bu Lia lagi.
"Adelio Dzaky Aruf, Bu" jawab Loli lagi.
Cia melirik pria yang duduk di kursinya itu jadi, nama pria ini adalah Adelio. Huh, pria pendiam yang tak banyak bicara ini punya nama yang bagus juga.
"Eh, yang di tanya Adelio bukannya elo yang di tanya !" Tegur Zandi.
"Eh, yang miskin diem !" Tatap Marisa tajam.
"Tuh, dengerin tuh !"
"Sudah-sudah sekarang kerjakan tugas di papan tulis !"
"Yang mana, Bu?" Tatap Cahaya heran sambil menatap papan tulis yang nampak bersih.
"Di papan tulis dong terus yang mana lagi ?" ujarnya lagi menjelaskan.
Reno menyipitkan kedua matanya berusaha memperjelas penglihatannya ke arah papan tulis. Reno melepas kaca matanya cepat, mungkin kaca matanya yang kotor sampai-sampai tak melihat tulisan di papan tulis.
"Maaf Bu tapi, papan tulisnya masih bersih, Bu." Faririn menunjuk.