
Devan terdiam, ini bukan saatnya untuk mengatakan yang senarnya kepada Cia.
"Terus handphone siapa?"
"Nggak ada handphone!"
"Ada tadi, Cia liat."
"Udah sana makan!" pintah Devan lalu dengan cepat menutup pintu dengan rapat tak lupa juga Devan menguncinya dari dalam.
Cia menghembuskan nafasnya dengan kesal, sepertinya ada yang disembunyikan oleh Devan darinya. Cia kini melangkah memasuki kamarnya dan ikut menutupnya juga.
Cia tak berniat untuk memanggil Devan dan memaksanya untuk membuka pintu ataupun menjawab apa yang ia tanyakan mengenai handphone itu. Devan tentu saja tak akan menjawab pertanyaannya.
...____***_____...
Devan menghembuskan nafas berat lalu duduk ke pinggir kasurnya dan menoleh menatap jaket hitamnya yang ada di atas kasur. Devan meraihnya dan mengeluarkan handphone hitam yang kini berada di genggamannya.
Devan bangkit dari kasur dan melangkah sembari memasukkan handphone itu ke dalam jaketnya dan menggantungnya di gantungan bajunya.
Devan menoleh membuat kedua matanya membulat menatap lemari pakaiannya yang terbuka dan laci-laci tempat uangnya juga ikut terbuka serta juga pakaiannya yang terlihat berantakan.
Seketika detak jantung Devan terasa lenyap setelah melihat ini semua. Dengan cepat Devan melangkah mendekati lemarinya dan memeriksa apakah uangnya masih ada. Devan mengacak-acak semua pakannya dan melemparnya ke lantai berusaha untuk mencari uangnya. Devan ingat betul jika ia menyimpan uangnya di laci lemarinya dan di bawah pakaiannya.
Tak ada, lenyap!!!
Tubuh Devan gemetar hebat, ia merasa takut jika uang hasil bengkel yang selama ini ia simpan kini hilang.
Oh Tuhan, tolong perlihatkan uang itu!
Devan menoleh ke kiri dan kanan, ia masih berharap dapat segera menemukan uangnya. Devan kembali menarik laci lemari yang telah ia periksa dua kali itu. Devan kembali menoleh ke arah pakaian yang bertebaran di lantai dan dengan cepat mengangkat satu persatu pakaian itu, mungkin saja uangnya ada di sana.
Devan bangkit dan berdiri tegak dengan tubuh gemetar serta tubuhnya yang terasa mengigil di tempat. Devan kini terdiam sesaat, ia teringat dengan bayangan hitam yang ia lihat di jendela saat ia akan pergi untuk mencari pekerjaan. Apakah mungkin uangnya hilang diambil pencuri dan pencuri itu adalah bayangan hitam yang ia lihat.
Devan menyentuh kepalanya dengan kedua matanya yang kini memanas, yah ia ingin menangis sekarang. Mengapa banyak sekali cobaan yang harus ia hadapi kali ini.
"Aaaaa!!!" teriak Devan lalu menghajar lemari itu dengan sangat keras hingga lemari itu berlubang membuat tinju Devan tertanam di dalam sana.
"Aaaaa!!! Dasar brengsek!!!" teriak Devan lalu menarik lemari itu dengan keras hingga terhempas ke atas lantai membuat cermin di lemari itu pecah berhamburan.
"Ayah," ujar Cia yang kini berdiri di pintu dengan tangan kanannya yang masih memegang ganggang pintu.
Devan menoleh menatap Cia yang kini terlihat sangat terkejut. Yah tentu saja. Lemari yang kini sudah ada di lantai dan pakaian dimana-mana tentu saja membuat Cia terkejut.
"Ayah kenapa?" tanya Cia.
Devan membuang tubuhnya ke bawah begitu saja hingga kedua lututnya terbentur keras ke permukaan lantai.
"Aaaaaa!!!"
"Aaaaa!!!"
"Nggak mungkin!!!" teriak Devan yang kini sudah menangis.
Cia melangkah pelan menghampiri Devan dan menyentuh bahu Devan yang gemetar.
"A...Ayah kenapa?" tanya Cia.
"Cia, mereka mencuri uang kita," ujar Devan dengan tatapannya yang tak menentu, sesekali ia menatap Cia, lantai dan lemari.
"Uang apa?"
"Uang tabungan, mereka mencuri uang yang Ayah simpan untuk keperluan hidup kita," jelas Devan.
"Mereka siapa Ayah?" tanya Cia yang begitu sangat panik.
"Mereka, mereka orang jahat."
Cia terkejut bukan main. Baru saja bengkel terbakar dan sekarang uang milik Ayahnya kini lenyap dicuri oleh orang jahat. Cia menoleh menatap Devan yang kini sedang menangis sesenggukan.
"Ayah tahu, mungkin ini karena ulah Tuan Abraham, dia yang pasti telah melakukannya."
"Apa?" kejut Cia yang seakan begitu tak menyangka jika Devan akan mencurigai Tuan Abraham.
"Ayah, Ayah nggak boleh tuduh Pak Brahmana!"
Kedua mata Devan kini membulat menatap Cia dengan tatapan tidak menyangka. Bagaimana bisa dia membela orang jahat itu.
"Em aku minta maaf hanya saja-"
"Cia, ingat! Dia bukan Brahmana tapi Abraham dan dia orang jahat. Dia yang telah membakar bengkel kita agar aku menyerah dan menyerahkan kamu pada mereka," jelas Devan.
Kedua mata Cia membulat sempurna setelah mengetahui semuanya. Apakah ini benar?
"Dia orang jahat!!!" teriak Devan.
"Dari mana Ayah tahu?"
Devan kini terdiam. Rasanya ia tak berniat untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Ayah."
Devan yang tertunduk itu langsung menoleh menatap Cia yang kini masih menanti jawaban darinya.
"Diam, Cia! Ayah tidak ingin kamu bicara dulu!" pintah nya membuat Cia mengganggukkan kepalanya dengan perlahan.
Suasana kini sunyi, kini Cia tak mau membuat Devan marah lagi karena ujarannya sementara Devan kini masih terisak menatap pakaian dan lemari secara bergantian.
Devan meremas rambutnya dan terbayang wajah Abraham yang terlihat sedang tertawa. Entah bagaimana bisa ada pria jahat sepertinya.
"Aaaaa!!!!" teriak Devan membuat Cia tersentak kaget.
"Ayah jangan nangis! Nanti kita bisa cari uang lagi."
Devan menghentikkan tangisannya lalu menoleh menatap Cia. Cia sedikit terkejut dan takut menatap sorot mata Ayahnya yang memerah dan tajam.
"Apa? Apa kamu bilang! Cari uang lagi?
Cia tak bergerak sedikit pun, ia bahkan sangat takut untuk bernafas kali ini. Devan untuk pertama kalinya terlihat mengerikan.
"Ini nggak mudah Cia!!!" teriak Devan membuat Cia terkejut.
"Asal kamu tahu, Ayah udah cari pekerjaan tapi nggak ada satupun orang mau terima Ayah kerja."
"Ayah nggak tahu kenapa mereka semua seakan sengaja menolak Ayah. Ini nggak gampang Cia!!!"
"Ini nggak gampang!!!" teriaknya lagi.
Cia mengangguk dan segera memeluk tubuh Devan.
"Jangan marah Ayah! Cia nggak mau Ayah marah sama Cia," ujar Cia membuat Devan menghembuskan nafas panjang dan mengelus rambut Cia beberapa kali dan melepas pelukan Cia.
"Ayah minta maaf," ujar Devan lalu menghapus air mata Cia yang mengalir di pipi Cia.
"Ayah minta maaf udah marahin kamu, Ayah hanya sedikit kesal," ungkapnya membuat Cia mengangguk.
Devan menghembuskan nafas berat lalu terdiam. Ia masih memikirkan tentang uang itu. Sekarang bagaimana caranya ia bisa menghidupi Cia, tak ada lagi uang yang ia punya.
"Besok Ayah mau lagi cari kerjaan."
"Cia bakalan bantu, Ayah."
"Nggak usah Cia! Ayah nggak mau kalau sampai Tuan Abraham ngeliat kamu berkeliaran di jalanan dan dia bahkan bisa aja nekat buat nyulik kamu dan ngerebut kamu dari Ayah. Ayah nggak mau," jelas Devan.
Cia menggangguk paham lalu kembali memeluk Devan.
"Ayah, jangan biarin mereka buat ngambil Cia dari Ayah! Cia nggak mau tinggal sama mereka."
"Ayah bakalan pertahanan kamu, apa pun yang terjadi."
Hay semuanya
Thor mau minta maaf soalnya udah dua hari Thor nggak up, maaf yah. Hehehe
:) : Iya nih soalnya lagi sibuk.
Ok Deh besok tunggu 5 bab yah
spesial untuk kamu yang sudah menunggu
Love you All