
"Ah mas Ceoo, pujaan hati Mita yang bohai." Tatap Mita berbinar.
Mata berbinar itu kini berubah menjadi tatapan tajam menatap gerombolan gadis-gadis sok cantik itu yang sedari tadi menatap Devan.
Langkah Mita cepat ke arah mereka. Ini tidak boleh dibiarkan gadis-gadis itu sepertinya harus diberi pelajaran.
"Heh ngapain kalian semua ngeliatin mas Ceo?" Tunjuk Mita kejam.
Para gadis-gadis itu menoleh menatap Mita dengan tatapan tak suka. Entah dari mana gadis degan tubuh bohay ini datang.
"Eh, jangan ngeliatin bos Ceoo ngerti nggak?" Tambah Mita lagi sambil menopang pinggang.
"Loh emang situ siapa?"
"Iya, situ pacarnya si Ceo?"
"Ih nggak punya malu."
Suara perlawanan itu terdengar dari mulut gadis-gadis itu membuat Mita mengangkat sudut bibirnya. Mereka mungkin tak tahu jika sedang berhadapan dengan janda bohai yang menguasai area ini.
"Berani lo ngelawan gue?" Mita memajukan dadanya yang bohai seakan mengancam gadis-gadis itu. Membuat mereka terbelakkan.
"Loh emang gue takut sama lo?"
"Apa ?"
"Apa lo?"
"Apa?"
Teriakan mereka dengan penuh amarah membuat para pengendara yang mendengar suara perlawanan itu menatap mereka, bahkan para ibu-ibu berdaster berlarian keluar rumah hanya ingin melihat pertengkaran itu.
Devan menghentikan jemurannya lalu menatap keributan dari kejauhan. Devan menggeleng pelan, lagi-lagi mereka yang membuat keributan itu. Yah mereka memang selalu bertengkar seperti itu sekali dalam seminggu.
Cia memeras kembali pelnya dengan penuh kekuatan setelah dengan susah
payah membersihkan kembali lantai bekas kaki Devan yang kini ia belakangi.
"Ci!" panggil seseorang membuat Cia menoleh.
Mata Cia terbelalak menatap Devan yang lagi-lagi menginjak lantai yang baru saja Cia pel. Ini sudah yang kedua kalinya.
"Ah Devan!!!" Jerit Cia histeris membuat Devan terbelalak kaget.
"Lo ngapain injak lantainya?" tanya Cia yang masih berlutut di lantai dengan pel di tangannya.
"Apa sih?" Tatap Devan tak tau.
"Itu yang lo injak." Tunjuk Cia kejam ke arah lantai yang diinjak Devan.
Devan menunduk menatap lantai yang kini ia injak dan terdapat bekas injakan kakinya di belakang sana.
"Jangan diinjak dong, Van!" Kesal Cia.
Devan menatap Cia penuh penyesalan karena telah menginjak lantai itu hingga meninggalkan jejak kakinya di sana. Tak lama Devan melangkah menjauhi lantai yang Cia tunjuk tadi.
"Aaaaaaa!!!" jerit Cia ketika Devan menginjak sisi lain lantai yang telah ia pel.
"Lo sengaja yah?"
"Apa sih, Ci?"
"Lo kenapa injak lagi?" Tatap Cia seakan ingin menangis.
"Yah masa gue harus terbang, Ci?"
"Ih minggir nggak!" Kesal Cia mengangkat pegangan pel itu cukup tinggi kearah Devan membuat Devan berlari masuk menghindari Cia yang berniat memukulnya.
Cia meghembuskan nafas berat sambil menatap lantai itu yang kini semakin kotor, banyak bekas jejak kaki Devan di sana. Kini Cia harus mengulang mengepel lantai itu lagi dan ini semua karena Devan.
...___***___...
Devan menyalakan kompor gas setelah menaikan panci ke kompor berisikan beras yang telah ia cuci dengan bersih.
Beras yang ia cuci dengan penuh teliti sesuai dengan petunjuk Fatima tadi, yah, Devan tak pernah memasak nasi sebelumnya.
Devan dengan cucuran keringat itu mulai menuangkan deterjen ke dalam mangkuk yang telah di isi dengan air lalu menggerakkan tangannya mengeluarkan busa dari mangkuk itu.
Devan meraih gelas lalu mengosoknya dengan spons khusus pencuci lalu membilasnya di bawa kerang yang mengalir sampai bersih.
"Van!" panggil Cia lalu duduk di kursi makan menatap Devan yang kini berdiri di wastafel.
Devan tak menoleh. Devan terus menggosok gelas kotor di wastafel walau ia telah mendengar ucapan Cia.
"Van, gue capek," ujar Cia mengeluh.
Tak ada jawaban dari Devan.
"Van!!! Cia capek!!!" teriak Cia dengan wajah lesuh.
Devan menghentikan gerakannya lalu menoleh menatap Cia yang kini menopang dagunya.
"Terus?"
Devan kembali membalikan tubuhnya dan melanjutkan cucian gelasnya.
"Van, gue laper," ujar Cia masih menopang dagunya.
"Gue baru masak," ujar Devan tak menoleh.
"Ahhhhh," keluh Cia meletakkan dahinya di pinggir meja makan. Jujur ia sudah lapar.
"Masi lama nggak?"
"Emm," sahut Devan membuat Cia semakin mengeluh.
"Yuhuuuuuuuu!!!" Suara Baby terdengar dari luar membuat Devan dan Cia menoleh.
"Yuhuuuuuuu." Baby mengintip memperlihatkan setengah tubuhnya di pintu masuk menuju dapur.
"Hay selamhat phwagi," ujar Baby semangat diiringi ******* manja.
Dengan kompak Cia dan Devan membalikkan kembali kepalanya membelakangi Baby. Cia terbelalak jika Baby masuk ke rumah berarti Baby menginjak lantai yang masih basah itu.
"Lo lewat di mana?" tanya Cia cepat.
"Ih ekye kaget deh."
"Yah lo lewat di mana tadi?"
"Ekye lewat di rhuang tamhu."
"Hah?!! Kok lewat di situ? Terus lantai lo injak?"
"Yah iya lah ekye injhak, masha ekye terbang sih? Hahaha emang ekye ini bhyurung bisa trbhang."
"Ahh si Baby." Tubuh Lemas Cia kini kembali meletakkan dahinya dimeja.
Baby hanya terdiam sambil menatap heran ke arah Cia. Dengan langkah centilnya Baby menarik kursi lalu duduk dengan wajah yang nampak dibuat sok manja.
"Ih yayang bhos Ceoo cuci phiring, gemhes deh ah." Tatap Baby berbinar.
Cia mengangkat wajahnya menatap Baby yang kini ada di hadapannya.
"Lo ngapain lagi ke sini? Kan Cia udah nggak di makeover lagi?"
"Ih ekye itu mau ngambil high heels ekye yang mwanja."
Cia terbelalak setelah mendengar ucapan Baby. Entah apa yang harus Cia katakan kepada Baby jika high heelsnya yang Baby pinjamkan itu jatuh di rumah Loli.
...___***___...
"Aaaaaaaaaaa!!!" jerit Baby menatap high heelsnya yang kini tersisa sebelah kiri di tangan Cia.
Cia hanya tertunduk. Kini terserah dari Baby jika Baby ingin marah, yah, Cia terima ini juga karena kesalahannya dan Devan.
"Ouh!!! Dasar jahanam ente!!!" kesal Baby melangkah mendekati Cia lalu meraih high heelsnya.
"Ih!!!" Kesal Baby berniat memukul kepala Cia dengan high heelsnya tapi dengan cepat Baby menarik nafas berusaha menahan amarahnya.
"Bikesss deh aahhh." Kesal Baby menghentakkan kakinya ke lantai meluapkan amarahnya.
Devan hanya terdiam di pintu sambil menyandarkan tubuhnya yang lelah itu.
"Yayang Bos Ceooo!!!" jerit Baby manja dengan wajah sedihnya sambil menjinjing high heelsnya itu.
Devan menarik nafas panjang sambil mengusap dahinya dengan pelan.
"Yah nanti gue ganti," ujar Devan.
"Ahhh makasih yayang bos Ceo." Baby terseyum kegirangan.
Baby kembali menoleh menatap Cia yang kini masih menunduk. Kini baby sangat kesal dengan Cia yang telah menghilang high heelsnya itu, yah, walaupun high heels itu tak muat di kakinya tetapi, Baby amat sangat menyayangi high heelsnya itu.
"Ih bikes deh," ujar Baby melempar high heels itu ke kasur lalu melangkah keluar dari kamar Cia.
Cia mengangkat pandangannya menatap Devan yang kini hanya terdiam tak menatapnya sambil bersandar di pintu.
"Gara-gara lo tuh."
"Kok gue?"
"Yah iya lah, terus siapa lagi?"
Devan terdiam. Memang betul yang dikatakan Cia jika ini adalah kesalahannya. Jika saja Devan mengijinkannya untuk mengambil high heels yang terjatuh itu, mungkin Baby tak akan semarah itu Kepada Cia.
Cia terdiam lalu mendengus mencium bau gosong yang seakan menghantam lubang hidungnya.
"Van, lo cium bau sesuatu nggak?"
"Apa?"
"Bau hangus!!!" teriak Cia dengan mata melotot.