
Devan tersenyum lalu segera menurunkan tangannya. Ini lumayan lebay tapi yah ini lumayan mengasikkan ketika melambaikan tangan kepada seorang Anak sendiri, yah walaupun Cia tak membalas lambaian tangannya lagi dan pergi sudah cukup jauh darinya.
Devan tersenyum, bayi kecilnya kini sudah benar-benar besar sekarang. Salah satu hal kebanggaan yang Devan punya adalah telah berhasil membesarkan Cia.
Devan yang ingin melangkah masuk ke dalam pagar kini terdiam menatap Neng Mita, si janda tanpa Anak itu yang kini telah berdiri di hadapannya.
"Kenapa Neng Mita?" tanya Devan.
Neng Mita menggeleng cepat sambil tersenyum canggung.
"Em jadi bener itu si Cia Anak kandung Mas Ceo?" tanya Neng Mita seakan masih tak percaya dengan kenyataan ini.
"Cia memang Anak saya," jawab Devan lalu tertawa.
Neng Mita kini terdiam. Tatapannya penuh tanda tanya. Yah kini di pikiran Neng Mita adalah siapa Ibu kandung Cia. Apakah mungkin Ibu Cia adalah Fatima, wanita tua tukang jahit itu?
"Kok bisa Mas Ceo?"
"Bisa apa?" tanya Devan.
"Itu Si Cia, kok bisa Mas Ceo punya Anak?" tanya Neng Mita sambil menunjuk ke arah jalan tempat terakhir Neng Mita melihat Cia.
Devan tersenyum lalu ia tertawa tipis.
"Kok nanya sih? Yah bikin lah," jawabnya santai membuat Neng Mita melongo.
Devan kini melangkah masuk melewati pagar ia telah ia buka namun tak berselang lama Devan kembali menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap Neng Mita.
"Oh iya ngomong-ngomong kita kayaknya cocok lo sekarang," ujar Devan sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Aa?" Tatap Neng Mita dengan tatapan terkejutnya.
"Iya, kamu janda dan saya duda, Ih cocok banget kan? Tapi saya udah punya Anak dan Neng Mita belum. Tuh Anak saya udah gede." tunjuk Devan ke arah jalan yang di lalui Adelio dan Cia.
"Mau jadi Ibu Cia?" tanya Devan sambil menggerakkan kedua alisnya.
Neng Mita kini terbelalak kaget setelah mendengarnya.
"Boleh Mas Ceo?" tanya Neng Mita dengan tatapan tak menyangka nya.
"Yah boleh dong, masa nggak boleh."
"Wah yes yes yes!!!" sorak Neng Mita sambil melompat-lompat kegirangan membuat dadanya yang berisi itu bergoyang membuat Devan segera memejamkan kedua matanya dan berusaha membuang pandangannya dari tubuh Neng Mita.
"Beneran Mas Ceo?"
"Iya dong yah tapi kalau mau jadi Istri saya nah nanti minta restu sama Cia sendiri. Kalau Cia setuju nanti saya juga setuju."
"Minta restu sama Cia?" Tatap Neng Mita begitu sangat terkejut.
"Loh iya dong."
"Tapi-"
"Cia baik loh, dia nggak yaaah cuman sedikit nakal tapi nggak apa-apa. Oh iya ngomong-ngomong liat Bengkel kan yang terbakar itu?" Tunjuk Devan ke arah bengkel membuat Neng Mita menoleh.
"Hangus dan terbakar kan?" tanya Devan membuat Neng Mita menoleh menatap Devan dan ia mengangguk cepat.
"Tahu siapa yang bakar?" tanya Devan membuat Neng Mita menggeleng cepat dengan wajah takutnya.
"Itu ulah Cia," bisik Devan.
"Hah?!!!" teriak Neng Mita begitu sangat terkejut .
"Yang betul Mas Ceo?"
Devan mengangguk.
"Gara-gara apa Mas Ceo?"
"Yah masalah kecil. Aku minta izin buat nikah tapi Cia malah marah dan yah dia menolak lalu tadaaaa terbakar semua." Tunjuk Devan ke arah bengkel.
"Dibakar Mas Ceo?"
Devan mengangguk sambil memasang wajah yang dibuat sesedih mungkin.
"Em dan iya Cia juga bilang kalau dia nggak akan biarin Ayahnya ini menikah dan kalaupun ada yah mungkin dibakar dulu sama Cia," jelas Devan.
Kedua mata Cia terbalalak kaget dengan kedua bibirnya yang terbuka. Bagaimana bisa ia menjadi Ibu dari gadis pemarah seperti Cia itu mungkin ia sudah digantung dan dibakar oleh Cia jika ia menikah dengan Ayahnya. Ini masalah besar baginya.
"Jadi bagaimana Neng Mita?" tanya Devan sambil mengangkat kedua alisnya.
Neng Mita tersenyum sejenak dan tanpa sepatah kata kini Neng Mita berlari pergi meninggalkan Devan yang kini tertawa karena telah berhasil mengerjai Neng Mita.
Tatapan serius Devan kini beralih menatap sebuah mobil mewah yang nampak berhenti tepat di hadapan Devan. Entah siapa pemilik mobil mewah ini, membuat Devan terdiam di dalam pagar rumahnya menanti pemilik mobil itu turun.
Pintu mobil itu akhirnya terbuka, memperlihatkan sepatu mengkilat mendarat di tanah. Devan terbelalak kaget ketika melihat orang itu, dia adalah Tuan Abraham dan disusul oleh Jef yang kini keluar di balik pintu sebelah.
Tuan Abraham kini merapikan kerah jas hitamnya yang begitu terlihat sangat berwibawa. Tuan Abraham kini tersenyum menatap Devan yang kini terlihat menatapnya. Tak lama Tuan Abrahan kini melangkah kan kakinya untuk mendekatkan dirinya dengan Devan yang masih mematung di dalam pagarnya.
Devan menelan salivanya saat menatap Tuan Abraham dan Jef yang kini mendekatinya. Devan ingin melangkah mundur dan lari masuk ke dalam rumah tapi ini tak mungkin, jika ia melakukannya maka Tuan Abraham akan tertawa dan merasa jika dia kuat.
Devan tetap bertahan walau tubuhnya bergetar karena takut. Devan melirik Jef yang kini ikut melangkah di belakang Tuan Abraham, Devan menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Jef, Devan hanya ingin memastikan jika Jef tak membawa pistol. Devan takut jika Jef akan menembaknya seperti Jef yang telah menembak Bapaknya dan juga Dokter Yusuf.
"Selamat pagi," sapa Tuan Abraham lalu ia tersenyum hangat ke arah Devan.
Devan terdiam rasanya ia tak berminat untuk membalas sapaan Tuan Abraham yang kini terlihat sangat menyebalkan dengan wajahnya yang terlihat mencaci-maki Devan.
"Ah kenapa kamu terdiam? Aku mengucapkan selamat pagi kepada kamu tapi kenapa tidak dibalas? Hah? Kenapa? Em Jef."
"Iya Tuan."
"Kenapa dia tidak membalas sapaan saya?" tanya Abraham.
"Mungkin dia tidak mendengarnya Tuan."
"Oh yah?" tanya Tuan Abraham lalu melirik Devan.
"Oh kalau begitu mari saya sapa lagi, ehem, selamat pagi, Devan," sapa Tuan Abraham.
Devan masih terdiam.
Abraham yang tak mendapat respon dari Devan kini tersenyum sinis lalu tertunduk dan kembali menatap Devan.
"Cuaca kali ini lumayan cerah yah" ujar Tuan Abraham sembari menatap ke seluruh pekarangan rumah Devan dan sesekali menoleh menatap tempat bengkel yang sudah terbakar.
"Wah, apa yang sudah terjadi dengan bengkel kamu hingga hangus seperti itu? Waktu saya melintas, bengkelnya baik-baik saja tapi kenapa bisa seperti ini?"
"Hoh nasib buruk apa yang kamu alami Devan?"
"Bagaimana bisa terbakar? Hah?"
"Kamu bermain api di dalam sampai bengkelnya terbakar seperti itu?"
Tuan Abraham menghela nafas panjang dengan perasaan senangnya. Ia bisa melihat wajah sedih dari Devan yang kini bungkam.
"Em kenapa tidak menelfon tim pemadam kebakaran?"
"Harusnya kamu menelfon jadi bengkelnya masih bisa di selamatkan atau kamu-"
"Apa yang Anda mau?" tanya Devan tanpa basa basi membuat Abraham menghentikan ujarannya.
Abraham tersenyum setelah Devan berhasil menghentikan ucapannya lalu melirik ke arah bengkel yang ke dua kalinya.
"Apa yang terjadi dengan bengkel mu? Terbakar Iya kan?" tanya Abraham.
Devan ikut melirik ke arah bengkel. Devan tahu jika Abraham merasa senang dengan hal ini.
"Kau tahu Devan, sekarang kamu tidak punya penghasilan lagi. Bengkel milik kamu sudah lenyap jadi, bagaimana caranya kamu bisa menghidupi Cia?"
Devan terdiam. Perkataan Tuan Abraham ada benarnya. Jika sudah seperti ini, entah bagaimana caranya ia bisa menghidupi Cia. Sekarang sumber penghasilannya telah hancur lalu bagaimana bisa ia mendapatkan uang.
Tuan Abraham terdiam, sepertinya ucapannya itu sudah berhasil menghasut Devan hingga terdiam seperti itu.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Tuan Abrahan.
Devan masih terdiam dengan sorot mata sedihnya yang menatap ke arah bengkel.
"Berikan Cia untuk saya!" minta Tuan Abraham.