Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 102



Gadis-gadis yang berniat untuk kembali mendekati Devan kini terlihat sangat ragu ditambah lagi batu yang Cia pegang di sana cukup besar dan mampu dipercayai jika kepala dihantam oleh batu itu maka tak ada mata selamat yang terjadi. Siapa yang tak takut dengan ancaman Cia yang selalu berbuat kasar kepada orang.


"Hahaha," tawa garing Cia terdengar licik setelah berhasil membuat mereka terlihat rakit dan tak ada lagi yang mendekatinya.


"Cia, motornya nggak mau nyala," aduh Devan sembari memaksakan mesin motor itu menyala.


"Lagian lo juga sih," kesal Cia tanpa menoleh menatap Devan yang masih berusaha untuk menyalakan motornya.


"Kok gue?" Tatap Devan menghentikan gerakan kakinya. Lagi-lagi ia yang disalahkan dalam masalah ini.


"Yah lo emang yang salah," ujar Cia semakin kesal.


"Yah kenapa harus gue?"


"Gue kan udah sering bilang sama lo, kalau lo nggak usah pake motor butut ini, udah tahu motornya udah lama pensiun masih aja di pake," oceh Cia kesal tanpa menatap Devan.  


"Heran deh gue, gue mulu yang disalahin."


"Yah udah cepetan nyalain!!!" teriak Cia.


"Iya ini udah mau dinyalain Ashia Akanksha!!!" teriak Devan juga.


Wajah Devan nampak cemberut sambil terus menstarter motor butut yang kini tak kunjung menyala. Ada apa lagi yang terjadi pada motor bututnya itu.


Cia menarik nafas panjang sambil berusaha menahan beban kresek hitam yang kini menggantung di sikunya sambil mengangkat batu ke arah gadis-gadis itu. Tatapan sorot matanya masih tertuju pada gadis-gadis itu.


"Ceo!!!" Suara teriakan itu terdengar dari gerbang sekolah membuat Cia dengan cepat menoleh menatap gerombolan gadis-gadis yang berteriak menyebut nama samaran Devan sambil berlari ke arah Cia yang masih memegang batu.


Mata Cia terbelalak, mulutnya nampak sedikit menganga menatap gerombolan itu bahkan di barisan palin depan ada Loli, Marisa dan Medika di sana. Bagaimana bisa mereka juga ada barusan itu?


"Van cepetan dong!!!" teriak Cia sambil memukul bahu Devan dengan cukup keras. Baru kali ini ia merasakan takut, cemas dan panik yang menyatu dalam satu. Mereka semua terlihat seperti zombi kelaparan.


Devan menoleh, ikut menatap ke sumber suara. Cobaan seperti apa yang akan Devan lewati dengan kedatangan gadis-gadis yang entah datang dari mana. Dengan penuh semangat Devan kembali menghentakkan kakinya ke starter itu berusaha membangkitkan mesin. Kali ini mesin motor itu harus menyala, apa pun caranya.


"Van cepetan dong!!!" teriak Cia lagi menatap gerombolan gadis-gadis itu yang kini semakin mendekat.


Wajah Devan terlihat pucat rasanya ia sangat takut jika mesin motor ini tak menyala dan membuat Devan kembali ditarik oleh mereka seperti halnya gerombolan gadis-gadis yang tadi. Memikirkannya saja sangat mengerikan, bagaimana jika hal ini terjadi lagi. Yang lebih parah lagi jumlah mereka jauh lebih banyak dibandingkan banyaknya jumlah gadis-gadis yang mengerumuninya tadi.


"Please, lo nyala dong!" bujuk Devan sambil mengelus pelan motor merah bututnya itu dengan penuh harap.


"Nyala yah, please! Gue mohon!" bisik Devan lagi dengan melembutkan suaranya.


Tak


Tak


Tak


Hentakan di starter itu tak kunjung membuat motor itu menyala, rasanya ucapan lembut Devan tak mampu membuat motor itu menyala. Harus apa lagi? Devan tak mungkin meninggalkan motornya di depan sekolah ini dan lari begitu saja.


Kedua mata Cia membulat sempurna ketika menatap gerombolan itu yang semakin mendekatinya.


"Aaaa!!!" jerit Cia segera berlari menaiki Jok motor itu ketika gerombolan gadis-gadis semakin dekatinya.


"Van cepetan dong, Van!!!" teriak Cia ketakutan penuh histeris sambil memukul keras bahu Devan yang nampaknya menghentikan gerakan kakinya.


"Ahhhh lo nyala dong!!!" teriak Devan sambil terus menstarter motor bututnya.


Devan menghentikan hentakan kakinya ketika ia mampu merasakan ngilu di bagian lututnya. Rasanya ia ingin menyerah tetapi situasinya tak mendukung.


Devan menarik nafas panjang lalu mengigit bibir bawahnya dan menatap motor bututnya itu dengan tajam.


Plak


Bruuuuuuuuuuuuuuuuuum


Suara mesin motor itu berbunyi setelah Devan memukukul cukup keras permukaan motornya menghasilkan teriakan yang cukup nyaring di knalpot motor yang dihiasi asap hitam yang membumbung membuat gerombolan gadis-gadis yang berniat mengejar itu terbatuk-batuk di belakang sana.


Dengan cepat Devan menancapkan gas meninggalkan gerombolan gadis-gadis itu. Hah, untuk yang kesekian kalinya Devan bangga dengan motor andalannya itu.


Rambut Cia nampak berayun-ayun ke belakang ketika angin menghembusnya melewati beberapa kendaraan yang berlalu lalang di jalan beraspal.


Nafas Cia kini benar-benar sangat legah telah bebas dari gerombolan gadis-gadis yang mengincar Ayahnya. Harusnya Devan tak punya wajah setampan itu jadi teman-teman sekolahnya tak perlu mengejar-ngejar Devan seperti tadi.


"Temen lo kok begitu semua?" tanya Devan.


"Yah gue mana tau," ujar Cia dengan nada judesnya.


"Di sekolah loh nggak ada cowok apa?"


"Ada kok, bahkan banyak, emang kenapa?"


"Yah Agresif banget kayak mau ngemakan gue tau nggak. Mereka kayak nggak pernah liat Cowok," oceh Devan sembari terus melajukan motornya.


"Enak aja, Heh!!! di sekolah gue punya banyak cowok. Lain kali lo masuk ke sekolah gue biar lo liat muka cowok-cowoknya," jelas Cia.


"Yah, terus kenapa mereka kejar-kejar kayak gitu ke gue?"


Cia terdiam tak memperdulikan ucapan Devan. Pria bodoh ini pasti sengaja berpura-pura tidak tahu apa-apa agar Cia mengakui jika gerombolan gadis-gadis itu melakukan hal itu karena wajah Devan yang terlalu tampan untuk di lepas begitu saja.


Pip Pip Pip!!!!


Suara klakson motor terdengar bergantian dari belakang sana, bukan hanya satu motor tapi suara klakson itu terdengar sangat ramai seperti puluhan motor yang mengantar jenasah.


Cia yang sudah lelah itu kini menoleh menatap ke sumber suara yang begitu menyakiti gendang-gendang telinganya dengan serbuan suara klakson motor. Mata Cia terbelalak menatap gadis-gadis yang tadi mengerumuni Devan mengejarnya dengan motor.


"Berhenti lo!!!" teriak Loli ganas sambil menunjuk Cia dengan kejam sembari mengeluarkan setengah tubuhnya di jendela mobil.


"Jangan kabur!!!" teriak salah satu dari mereka.


"Berhenti!!!!"


"Berhenti di situ!!!"


"Ceoooo!!!"


"Tunggu!!!"


"Van!!! Vaan!!!" panggil Cia sambil menepuk bahu Devan lagi.


"Em," sahut Devan malas.


"Itu cepetan mereka ngejar kita, Van!" Tepuk Cia cepat.


"Haduuuuh, Siapa lagi sih?" Kesal Devan.


"Itu Van, temen-temen sekolah Cia!!!" teriak Cia tepat di belakang telinga Devan.


Devan terkejut bukan kepala mendengar hal itu dari Cia. Gadis-gadis itu sepertinya memang tak kenal menyerah dan bahkan mengejarnya sambil membawa motor masing-masing.