Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 128



Cia menjambak rambutnya sendiri diiringi sebuah suara tangisan yang begitu memilukan. Untuk pertama kalinya Cia merasa sakit hati yang luar biasa di dalam hatinya hanya karena melihat mereka berpelukan di dalam sana.


"Kenapa?"


"Aaaaa!!! Kenapa?"


"Kenapa lo nangis, Cia?"


"Harusnya lo nggak nangis kalau mereka pelukan!"


"Ta...ta...tapi kenapa? Hah? Kenapa dada ini sakit melihat mereka berpelukan?"


"Gue nggak boleh cemburu, gu...gu...gue nggak boleh cemburu!"


Cia menghapus air mata yang mengalir membasahi pipinya. Cia harusnya tak menangis dan merasakan sakit di hatinya. Cia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya lewat ujung bibirnya.


Mungkinkan perasaan ini adalah rasa cemburu kepada Adelio. Cia bahkan tak tahu sejak kapan Cia mencintai Adelio pria pendiam yang berhasil membuatnya jatuh cinta.


...____***____...


Devan melangkah keluar dari kamar Fatima sambil membawa sebuah piring dan gelas kotor setelah menyuapi Fatima yang kini telah tertidur pulas. Demam Fatima tak kunjung redah dan Fatima juga menolak untuk dibawa ke rumah sakit.


Langkah Devan terhenti menatap Cia yang kini melangkah masuk ke dalam kamarnya tanpa menyapa Devan yang kini menatapnya dengan tatapan bingung. Baru kali ini gadis itu tak menyapanya, biasanya Cia selalu menyapa Devan atau mampir ke kamar Fatima.


Cia menghempas pintunya cukup keras membuat Devan tersentak kaget. Devan tak mengerti mengapa Cia bersikap seperti itu, apa gadis itu marah kepadanya? Atau dia punya masalah lagi dengan pak Yanto, gadis-gadis pemujanya atau pria ketua gang torak itu. Entah apa yang terjadi pada Cia di sekolah.


Sesampainya di dalam kamar Cia menghempaskan tubuhnya ke kasur, seakan tak lagi berguna di dunia ini. Usahanya untuk menerima kenyataan jika Adelio dan Fika mungkin telah berpacaran kini gagal total. Hatinya seakan memberontak kuat untuk menerima hubungan mereka.


Kini tubuh Cia menempel di kasur seperti seekor cicak yang putus asa dengan kehidupannya.


Devan membuka pintu dan terdiam di bibir pintu kamar Cia. Devan menatap Cia yang nampak tengkurap di atas kasurnya degan rok yang terlihat sangat kotor.


Devan mendecapkan bibirnya, apa gadis itu sedih karena darahnya mengenai rok sekolahnya. Devan kini melangkah mendekati Cia lalu dengan pelan menyentuh ujung jari-jari kaki Cia yang masih memakai kaus kaki berwarna putih dengan ujung kaki Devan.


"Cia," ujar Devan sambil menggerakkan kakinya menyentuh ujung jari-jari kaki Cia.


Cia tak menyahut sedikit pun membuat Devan terheran.


"Oi Ciaaa!!!" panggil Devan lagi.


Tak ada jawaban dari Cia lagi, ia tetap saja tengkurap di atas kasurnya tanpa memperdulikan Devan yang memanggilnya.


"Heh!!! Rok lo tuh," ujar Devan memberi tahu tapi tak membuat Cia bicara.


"Rok lu tuh ada darahnya," ujar Devan memberitahu.


Devan terdiam tak ada jawaban dari Cia yang kini tetap diam. Ada apa dengan putrinya yang pemarah itu hingga tak bicara sedikit pun. Devan melirik menatap jaket yang melingkar di pinggang Cia.


"Tuh jaket siapa tu yang lo curi?" tanya Devan memancing Cia agar segera bicara, namun sayangnya itu tak berguna. Cia tetap saja terdiam. 


Devan meghembuskan nafas berat lalu segera melangkah ke sisi lain tepat di hadapan Cia yang nampak menatap dinding kamarnya dengan tatapan kosong.


Devan berlutut mensejajarkan wajahnya ke arah wajah Cia yang nampak begitu sedih. Baru kali ini Devan melihat wajah Cia sesedih itu. Devan yang semula ingin menggoda Cia kini tertahan ketika menatap kelopak mata Cia yang bengkak.


"Lo nangis?" tanya Devan.


Cia memalingkan wajahnya dan mengarahkan wajahnya ke arah sisi lain.


"Lo kenapa?" tanya Devan dengan suara kecilnya seperti orang yang berbisik.


Cia terdiam. Tak menjawab.


"Lo kenapa, Ci?" tanya Devan lagi sambil menyentuh lengan Cia.


"Lo digangguin lagi sama temen-temen lo?"


"Kan kita udah bohong kalau gue ini punya penyakit siluman monyet, masa mereka masih ngejar gue?"


"Cia."


"Lo kenapa sih?"


"Lo punya masalah lagi sama pak Yanto atau si Ogi?"


Cia meghembuskan nafasnya, lelah lalu segera bangkit dan kini duduk di kasurnya.


Sementara Devan tetap saja berlutut di sana.


"Apa?" tanya Devan cepat.


"Cia suka sama Adelio," ungkap Cia yang langsung meledakkan tangisannya sambil menatap Devan yang kini terbelalak.


"A...a...apa?"


"Cia suka sama Adelio," ulang Cia sambil terus menatap Devan dengan air matanya yang telah tumpah ruah membasahi pipinya.


"Hah?" Tatap Devan tak percaya dengan apa yang baru saja Cia ucapkan.


Cia masih terdiam menanti Devan angkat bicara. Tiba-tiba suara tawa Devan terdengar membuat Cia menatap Devan dengan tatapan heran.


"Hahaha lo... lo gila yah? Hahahaha. Apa tadi lo bilang? Lo suka sama Adelio? Hahaha. Jangan bercanda deh!" Tunjuk Devan diiringi dengan suara tawa.


"Lo... bocah ingusan yang tahunya ngamuk mana bisa jatuh Cinta sama cowok, hahaha."


"Apa lagi sama pria pendiam itu, hahaha. Ada-ada aja lo, hahaha." Tawa Devan lagi.


Cia terdiam menatap Devan dengan wajah datar.


Devan yang masih tertawa itu kini menghentikan tawanya menatap Cia yang terlihat sangat serius seakan sadar jika ucapan Cia itu nampaknya benar-benar serius.


"Lo beneran suka sama Adelao?" tanya Devan.


"Adelio, bukan Adelao," ujar Cia membenarkan.


"Yah, yah, yah." Devan mengangguk cepat lalu segera bangkit dari lantai sambil menopang pinggang.


"Terserah gue, gue nggak peduli mau namanya Adelao atau Adelia, terserah gue nggak peduli."


"Tapi lo beneran suka sama dia?"


Cia mengangguk.


"Dia?"


"Si pria pendiam yang jarang ngomong itu?"


Cia mengangguk.


"Tapi lo kenapa bisa suka sih sama... sama-" Ucapan Devan kembali terhenti ketika ia lupa dengan nama pria yang baru saja Cia ucapkan.


"Adelao," sebut Devan.


"Adelio, Van," ujar Cia kesal.


Untuk kesekian kalinya lagi dan lagi Ayahnya itu menyebut nama Adelio dengan sebutan Adelao. Sungguh meresahkan.


"Yah! Yah! Yah! Terserah."


"Lo kenapa harus suka sama dia?" tanya Devan dengan wajah serius.


Cia mendecapkan bibirnya lalu segera menghempas tubuhnya ke kasur seperti tadi. Lagi dan lagi ia tak menjawab pertanyaan dari Devan.


"Cia, di jawab dulu dong!"


"Terus kenapa lo nangis?"


"Kalau lo suka sama Adelao, yah terus kenapa lo harus nangis kayak gini?"


"Di ngomong apa sama lo sampai nangis kayak gini?"


"Cia, ayo ngomong!"


"Gue mau denger apa yang buat lo jadi nangis kayak gini."


"Van," ujar Cia yang kini bangkit kembali dari kasurnya dengan wajah sedih.


Devan terdiam lalu segera melangkah dan duduk tepat di samping Cia yang masih berusaha menahan tangisannya.


"Kenapa Cia?" tanya Devan perhatian, ini sepertinya sangat serius.


Cia tertunduk lalu memaingkan jarinya yang lentik itu seakan ragu untuk menceritakan semuanya kepada Devan. Tapi jika Cis tak menceritakan kesedihannya, entah dengan siapa Cia akan mencurahkan perasaannya ini.


"Kenapa Cia?" tanya Devan melembutkan suaranya.