
Abraham yang berada di samping kasya pun ikut terkejut. Darah yang mengalir itu berhasil membuat suasana menjadi panik.
"Kamu kenapa Nak?" tanya Firdha begitu sangat khawatir.
Naini kini menutup mulutnya yang menganga karena terkujut itu lalu segera mengangkat rok Kasya melihat sesuatu yang sejak tadi memenuhi pikirannya. Naini tak tahu mengapa ia berpikir buruk tapi dugaannya mengarah ke arah bawah Kasya.
Kedua mata Naini terbelalak menatap apa yang ia lihat.
"Nyonya." Tatap Naini dengan tatapan yang terbelalak menatap Firdha.
"Kenapa Bi?" tanya Firdha.
"Ma...ma...maaf Nyonya tapi sepertinya-"
"Apa?" tanya Firdha.
"Ka...Kasya mau melahirkan," ujar Naini.
"Apa? Tapi-" Tatap Firdha tak percaya lalu segera menatap perut Kasya yang memang terlihat agak besar.
"Jangan sembarang bicara kamu Naini!!!" bentak Abraham dengan sorot matanya yang tajam lalu melangkah berniat untuk memukul Naini karena telah berbicara yang tidak-tidak mengenai putrinya.
"Mas!" halang Firdha cepat.
"Aaaaaa!!!" jerit Kasya ketika sesuatu bergerak di perutnya membuatnya merasakan rasa yang semakin sangat sakit.
Abraham kini melangkah mendekati Kasya yang sedari tadi mengeluh dengan sakitnya.
"Kasya!!! Sekarang juga beri tahu apa yang terjadi dengan kamu!!!" teriak Abraham sambil berlutut di samping Kasya.
Kasya tak menjawab, sedari tadi ia hanya mampu meringis menahan rasa sakit itu, tubuhnya masih gemetar.
"Ayo jawab!!!" bentak Abraham.
"Mas!" tegur Firdha dengan bentakan Abraham. Firdha tak mau jika ada yang membentak putrinya.
"Sya!" panggil Firdha lalu mengelus rambut Kasya yang terasa basah karena keringat ketika ia sudah ada di samping Kasya yang masih menggeliat kesakitan.
"Kamu kenapa?" tanya Firdha dengan nada lembut.
"Ba...Ba...Bayi Ka...Ka...Kasya mau keluuuua...ar," ujar Kasya.
"Apa?!!!" teriak Abraham dengan kedua matanya yang terbelalak kaget setelah mendengar apa yang baru saja Kasya katakan.
Disatu sisi kini Firdha juga ikut terbelalak kaget. Apa yang baru saja dikatakan oleh Kasya.
Tanpa sadar Abraham kini melayangkan tamparan ke arah pipi Kasya begitu sangat keras hingga kepala Kasya terbentur di lantai.
Plak
"Mas!" tegur Firdha lalu bangkit dan mendorong Abraham. Baru kali ini Abraham memukul Putri satu-satunya itu.
Abraham yang masih dibelenggu amarah itu kini melangkah maju tak peduli dengan Firdha yang sedari mendorongnya, berharap Abraham tak mendekati Kasya.
"Jangan Mas!!!" teriak Firdha.
"Jangan halangi aku, Firdha!!!" teriak Abraham dengan sorot mata tajam.
Kasya mengigit bibir berusaha menahan rasa sakit. Tatapannya menatap takut kepada Abraham yang kini menatapnya dengan tajam.
"Tuhan, apakah Ayah akan membunuh Kasya?" pikir Kasya.
Abraham kini mendorong tubuh Firdha hingga Firdha terhempas ke lantai. Abraham tak peduli dengan Firdha sekarang. Abraham kini melangkah ke arah Kasya yang masih terbaring di lantai sambil meringis kesakitan. Abraham kini berlutut di samping Kasya dan mulai menarik kerah baju Kasya dengan keras dan kasar membuat Kasya kini menatap wajah Abraham dengan sorot matanya yang kini memerah karena marah.
Kasya gemetar menatap sangat takut pada Abraham. Kini entah mengapa Ayahnya terasa seperti orang asing bagi Kasya.
"Siapa yang sudah melakukan itu?!! Siapa?!!" bentak Abraham sambil mengguncang tubuh Kasya yang begitu lemas tak berdaya.
"Siapa?!! Cepat katakan!!!" teriak Abraham lagi.
Plak
Tamparan keras itu kini kembali menghantam pipi Kasya membuat Kasya terhempas ke atas lantai.
"Mas!!!" teriak Firdha.
"Diam!!!" teriak Abraham membuat Firdha bungkam begitu sangat takut.
Kasya kini hanya mampu menangis dengan teriakkan itu membuat Abraham berdecak kesal dan kembali menampar pipi Kasya hingga kepala Kasya kembali terbentur di lantai dengan sangat keras.
"Ayo katakan!!!" teriak Abraham.
Firdha yang tak tega dengan perilaku kasar yang telah dilakukan Abraham kini mendekati dan menarik Abraham agar tak kembali memukul Putrinya itu.
"Mas sudah Mas!" bisik Firdha sembari berusaha menarik Abraham, namun dengan cepat Abraham menangkisnya lalu kembali meremas kerah baju Kasya dan mengguncangnya.
"Katakan siapa yang sudah menghamili kamu?!!" teriak Abraham lagi.
Kasya kini menarik nafas yang cukup panjang dan menatap wajah Abraham yang begitu sangat menyeramkan.
"Ma...ma...maafin Ka...Ka...Sya, Yah," ujar Kasya terbata-bata sambil berusaha menahan sakit pada perutnya.
Abraham berdecak kesal, ini bukan kalimat yang ia minta dari mulut Anaknya itu. Abraham ingin nama, nama yang telah merusak Putrinya.
"Siapa yang telah menghamili kamu? Kasya!!!"
"Hah?!! Katakan!!!"
"Jagan sampai aku membunuhmu Kasya!!! Ayo cepat katakan!!!" teriak Abraham.
Suara teriakkan itu kini terdengar bergema di dalam ruangan rumah yang hanya ada mereka berempat.
Kasya kini menarik nafas panjang, mungkin sudah saatnya Kasya memberitahu hal ini kepada Ayahnya itu. Kasya sangat takut sekarang.
"Maa...fi...fin Ka...Kasya, Ya...Yah. Ya..ya..yang su...dah menghaaaaaaaah!!! jeritan Kasya kembali terdengar ketika bayi yang masih ada di dalam perut Kasya itu kini sedang mencari jalan untuk keluar hingga mampu membuat rasa sakit itu terasa menyiksa Kasya.
"Katakan!!!" teriak Abraham.
"De...De...Devan!!! Aaaaaaaaah!!!" jerit Kasya lagi lalu meremas Perutnya.
Mata Abraham terbelalak setelah nama itu terdengar di telinganya, membuat darah Abraham terasa mendidih. Abraham kenal dengan pria bernama Devan itu, bocah yang ia temui di halte sembilan bulan lebih yang lalu. Abraham kini bangkit dengan tatapannya yang kosong, ternyata pria miskin itu yang telah mengotori dan merusak masa depan Putrinya.
"Aaaaaaaaa!!!" jerit Kasya lagi sambil sesekali mengedan ketika bayi itu seakan memaksakan diri untuk keluar.
Naini yang melihat keadaan Kasya kini kembali mendekati Kasya dan berlutut.
"Tuan, Nyonya, kita harus bawah Kasya ke rumah sakit!" ujar Naini.
Firdha yang mendengar ucapan Naini segera berlari mendekati Kasya berniat untuk mengangkatnya.
"Tidak!!!" teriak Abraham yang kini berdiri membelakangi mereka.
"Kasya tak boleh dibawah ke rumah sakit!" ujar Abraham penuh tekanan membuat Firdha kini terbelalak kaget.
"Mas, Anak kita mau melahirkan," ujar Firdha gelisah.
"Yah, itu sebabnya dia tidak boleh ke rumah sakit!!!" teriak Abraham yang kini sudah membalikkan tubuhnya dan menatap Firdha yang sudah menangis.
"Tapi kenapa Mas?!!" teriak Naini yang kini telah menangis.
"Kelahiran bayi haram ini akan menjadi aib bagi keluarga besar Brahmana!" Tunjuk Abraham kejam.
"Tapi Mas bayinya-" ujar Firdha seakan melemah lalu menatap wajah Kasya.
"Mas, Kasya bisa meninggal kalau bayinya tidak keluar!!!" teriak Firdha.
"Memangnya kenapa kalau dia meninggal?!!" bentak Abraham.
"Mas!!! Kasya adalah anak kita!!!" teriak Firdha.
"Dan bayi yang ada di dalam perut Kasya adalah anak haram!!!" teriak Abraham.
Abraham kini terdiam. Jujur ia juga tak tega jika sesuatu terjadi apa-apa dengan putrinya ditambah lagi jika hal ini mengancam nyawa Putrinya.
"Naini!!!" teriak Abraham.
"Iya Tuan," sahut Naini cepat.
"Bawah dia ke kamar dan keluarkan bayinya!" pintah Abraham.