Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 13



Suara komentator sepak bola itu kini menyita perhatian mereka. wajah seriusnya kini betul-betul terpampang di wajah mereka. mereka pasti yakin jika Makkasar akan kalah dengan Jakarta.


'yah pemain nomor lima menendang bola cukup dekat dari gawang dan apa yang terjadi ....... Ouh sayang sekali bola itu meleset dan gagal mencetak gol!'


"Yaaaaa!!!!" Teriak mereka kompak.


"Ih, monyet padahal udah mau masuk loh!"


"Ah, emang babi nih nomor lima, nggak ngerti main bola apa !!!"


"Emang anjing, ni!"


Dahi Adam kini mengkerut mendengar ucapan Tara, Jojon dan Mamat .


"Ini rumah apa kebun binatang sih ?, Isinya hewan semuan!" Tatap Adam serius sambil menatap montir-montir lain yang fokus menatap pertandingan sepak bola di tv.


Cia mencoret-coret kertas berusaha mencari jawaban dengan menjumlah apa yang menurutnya benar.


"Jawabannya 60, berarti jawabannya adalaaaah.... " Cia menujuk pilihan soal yang ada membuat cia nampak syok.


Bagaimana mungkin jawaban yang setengah mati cia kerjakan tak ada dalam pilihan yang telah di tentukan.


"Ini pak yanto yang salah hitung apa salah ketik sih ? Masa nggak ada ?"


'Yah kini pemain nomor tujuh dari Makassar mengiring bola dengan gesit ke arah gawang ......'


   


Cia yang dari tadi fokus menatap buku kini menatap ke layar tv setelah mendengar ucapan komentator sepak bola yang nampak penuh semangat di sana .


'yah apa yang terjadi ....... dan Gollllllllll !!!!!!'


"Yeeeee Goooollllll!!!!" teriak Cia berlari di depan tv seakan begitu bahagia melihat pemain sepak bola Makassar berhasil mencetak gol .


Para pendukung tim Jakarta kini menghembuskan nafas berat ketika tulisan 1- 0 itu terpampang di sudut layar tv.


"Lo liat nggak ?" Tatap cia semangat mengacukan telunjuk ke arah wajah montir-montir bobrok itu yang kini memasang wajah kecewa.


"Lo liat kan, Mat ?"


"Emmm," jawabnya mengiyakan ucapan cia yang nampak begitu kegirangan.


"Berarti duitnya punya gue kan ?"


"Belum ! enak aja" tatap Mamat sinis.


"Tunggu ! Entar Makassar juga kalah tu !" Tambah Haikal lagi.


"Ok, siapa takut !" Cia kini duduk paling depan menatap ke layar tv kini, harapannya adalah tim sepak bola Makkasar kembali mencetak gol dan membuatnya mendapatkan uang taruhan tersebut.


"Makassar pasti menang !"


"Nggak" jawab mereka kompak kecuali Adam yang kini sudah dari tadi tertidur lelap di atas karpet.


"Jakarta kalah !"


"Nggak ?" Jawab mereka lagi kompak.


2 jam kemudian...


Tv kini sudah dimatikan tak ada lagi permainan sepak bola yang sejak tadi membuat suasana ricuh karena pendukung tim Jakarta menolak kekalahan. Uang taruhan yang dikumpulkan tadi kini telah mendarat di saku baju tidur berwarna biru yang Cia gunakan.


Cia nampak berbaring di sebelah Devan sambil tertidur lelap di atas karpet tepat di belakang Devan ada Adam yang nampak tertidur dengan elegan mengunakan bantal Devan yang dialas dengan sarung batik.


Haikal yang tidur di samping Yuang nampak bertiarap mengambarkan sosok cicak yang menempel di dinding. Sementara Tara dan jojon yang kini tertidur lelap dengan mulut yang menganga tak lupa juga mereka yang nampak berpelukan.


"Neng Mita ohhh neng Mita!!" Suara Jojon kini terdengar membuat Mamat yang berbaring di lantai tanpa menutup kedua telinganya.


Tubuhnya terasa dingin disengat dinginnya lantai yah, Mamat tak kebagian karpet jadi terpaksa ia tidur di ujung karpet yang kini telah di kuasai oleh Jojon yang tengah mengigau sambil mengucapkan nama Mita si janda cantik itu.


"Nah, pisang gorengnya sudah siap !" Deon tersenyum bahagia sambil membawa pisang goreng di piring putih yang Deon goreng sejak tadi. 


Senyum Deon tertahan seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Semuanya telah tertidur tak ada lagi pertandingan sepak bola di tv. tak ada lagi mereka yang bersorak di depan tv.


Kini mereka sudah berbaring di karpet dan yang lebih jelasnya tak ada yang menunggu pisang goreng buatannya.


Apa ini ?!!!


...____****_____...


Mata Cia nampak terpana menatap wajah Ogi yang nampak begitu dekat dengan wajahnya. tatapan itu mampu membuat jantung cia terasa berhenti untuk berdetak.


Jarak wajahnya begitu amat sangat dekat dengan wajah Cia sehingga Cia mampu merasakan aroma khas dari nafas Ogi yang terasa merasuk di hati menembus ubun-ubunnya.


"Apakah aku boleh mencium mu ?"


"Apa ?" Cia terbelalak.


Apakah ia salah dengar atau Ogi yang salah bicara hingga mengatakan hal tersebut. Jika, memang benar Ogi sang pria tampan di sekolah SMA Garuda bangsa akan menciumnya berarti impiannya menjadi pacar Ogi akan segera menjadi kenyataan.


"Hussst!" Jari telunjuk Ogi nampak menyentuh lembut bibir mungil cia membuat cia diam seribu bahasa tak mampu berkata apa-apa di hadapan Ogi.


Detik berlalu kembali berlalu membuat wajah Ogi kini semakin mendekati wajah cia kali ini Cia tak mampu berbuat apa-apa ia hanya diam lalu secara perlahan menutup pelan matanya hingga wajah tampan Ogi kini perlahan demi perlahan menghilang dari pandangannya seiiring Cia yang menutup mata namun, cia masih bisa merasakan hembusan nafas Ogi.


"Ni dasar kampret !" Ogi menjewer telinga kanan cia cukup keras membuat cia yang dari tadi menanti ciuman Ogi kini membuka mata lebar. Cia terbelalak menatap wajah Ogi yang kini berubah menjadi tatapan benci entah apa kesalahannya.


"Aaaaaa sakit Ogi!!!!! Sakit !!!!"


"Ogi sakit!"


"Bangun, Ci bangun!!!"


"Aaaaaa!!!!!" Teriak cia yang masih berada di atas karpet. nampak pula wajah Fatima yang menatapnya dengan tatapan amarah.


"Aduuuuhhh ! Mama kenapa sih ?" Cia mengusap telinga kanannya yang terasa panas yang seakan-akan mengeluarkan asap.


"Bangun cia !"


"Iya, ini juga udah bangun" jawab cia kesal.


"jadi ini semua hanyalah mimpi ? dasar bodoh Lo cia ! goblok banget sih yah mana mungkin lah si Ogi cowok paling tampan di sekolah suka sama Lo ! apa lagi mau cium Lo dasar goblok Lo cia!!!".


"Ciaaaa!!!!!" Teriak Fatima yang nampaknya sudah dari tadi meneriaki cia.


"Apa sih, ma ?"


"Bangun ! Ingat ci ini hari Senin!"


Mata Cia terbelalak kaget. Bagaimana tidak ini adalah hari Senin dimana tugas pak Yanto akan dikumpul. sementara cia belum sama sekali mengerjakan tugas matematika tersebut. Entah bagaimana nasib cia di hari ini jika, harus berhadapan dengan guru botak yang super-super pemarah. apa lagi dengan kumisnya yang tebal membuat wajahnya tambah menyeramkan.


Cia menoleh ke sekeliling nya mencari para montir-montir yang nampaknya sudah tak berada di atas karpet. Entah kemana mereka semua pergi sepagi ini.


"Yang lain mana ?"