
Cia menelan ludahnya diiringi detakan jantung yang begitu mengetarkan tubuhnya yang kini sudah mengigil karena sangat ketakutan. Kini alis Cia mengkerut heran seakan merasakan keanehan di sini.
Rasanya ada yang benar-benar sangat aneh di sini, dengan tatapan yang masih menampung air mata Cia menengadahkan ke atas menatap cahaya handphone yang memantul di sana.
Cia mengigit bibir karena takut, bagaimana bisa ia tak menyadari jika cahaya handphonenya itu dapat memantulkan cahaya ke atas sana. Dengan cepat Cia kini menutup handphonenya hingga tak ada lagi pantulan cahaya di atas sana. Kini suasana Cia benar-benar sangat gelap.
Kedua mata Cia terbelalak saat mendengar suara langkah yang pelan serta halus itu dan semakin dekat dan mengarah ke tempat persembunyiannya. Cia kini menggerakkan kepalanya berusaha melihat apa yang ada di luar tembok.
"Bwaa!!!" teriak Bastian lalu tertawa.
"Hah!!" Kejut Cia.
Tubuh Cia kini terhempas ke lantai yang kotor itu ketika menatap tiga pria yang kini sudah berdiri di depannya. Handphone Cia kini ikut terhempas ke lantai menghasilkan retakan di layar handphone itu.
Cia bergerak mundur dengan kedua tagannya yang berusaha menghindari ketiganya yang kini masih tertawa.
"Mau kemana lo? Hah? Hahaha!!!"
"Ayo ke sini sayang, hahaha!!!"
Suara tawa mereka terdengar begitu nyaring. Cia tak tahu siapa yang tertawa di sana yang Cia tahu mereka semua adalah orang jahat.
Cia yang masih ketakutan itu segera merangkak berusaha untuk menghindari Ogi, Bastian dan Dirga.
"Tolooooooong!!!" teriak Cia ketika kakinya di tarik oleh Ogi dengan paksa.
Tubuh Cia kini terseret di permukaan tanah yang di penuhi dengan kerikil-kerikil kecil membuat celana hitam yang Cia gunakan sobek di bagian lutut dan kotor.
Jari-jari Cia kini merabah sesuatu berusaha berpegangan kuat dari apa yang ia gapai. Langkah Ogi yang masih menyeret Cia kini terhenti ketika Cia dengan kuat berpegangan di rerumputan tua.
"Toloooong!!!" teriak Cia lagi.
Ogi menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Cia.
"Aaa!!!" teriak Ogi menambah kekuatannya berusaha menarik Cia.
Cia meremas rerumputan itu cukup kuat berusaha tak lepas dari rerumputan yang kini perlahan mulai putus satu persatu dari akarnya.
"Toloooong!!!"
"Tolooooooong!!!"
"Aaaaaa!!!"
"Tolongin Ciaaaaaaa!!!"
Ogi yang menyerah itu kini melepas pegangannya dari kaki Cia lalu segera berteriak cukup menakutkan di sana.
Cia kini merangkak berusaha untuk lari dari Ogi yang masih mengamuk di sana. Wajah yang menyeramkan itu membuat Cia menangis ketakutan.
TAK
"Aaaaaa!!!" jerit Cia ketika dengan kuat rambutnya dijambak oleh Bastian.
"Eits, mau kemana lo?" tanya Bastian.
Dengan tatapan sinis Bastian mengarahkan wajahnya dengan wajah Cia yang kini terdapat banyak goresan berdarah di sana. Kulit Dagu Cia kini nampak terkelupas dan mengeluarkan darah karena gesekkan di tanah ketika Ogi menyeretnya dengan sangat kasar.
Cia kini terisak menatap Bastian yang masih menatapnya dengan tatapan yang begitu jahat. Ogi kini mengakhiri teriakannya lalu segera melangkah ke arah Cia dan ikut menjambak rambut Cia dengan sangat kuat hingga membuat Cia meringis kesakitan. Begitu sangat sakit hingga Cia mampu merasakan akar rambutnya itu seakan nyaris terlepas dari kulit kepalanya.
"Kenapa? Hah? Kenapa Cia? Kenapa lo nangis?!!!" tanya Ogi sambil mengguncang kepala Cia.
Cia tak menjawab namun ia terisak begitu pedih merasakan sakit dan takut yang berbaur menjadi satu
"Ayo nangis!" pintah Ogi lalu ia tertawa.
"Toloooong!!!" teriak Cia.
Plak
Cia menjerit saat tamparan yang begitu menyakitkan itu menghantam pipinya begitu sangat keras.
"Ayo nangis! Semakin lo nangis maka semakin keras gue nampar lo," ujar Ogi dengan kedua rahangnya yang bergerutuh.
"Toloooong!!!" teriak Cia.
"Kalian jahat!!!" teriak Cia.
"Jahat? Hahaha!!! Oh yah?" Tatap Ogi.
"Toloooong!!!" teriak Cia.
"Stop!!! Percuma lo teriak Cia!!! Percuma lo teriak bahkan sampai tenggorokan lo berdarah karena lo teriak nggak akan ada yang nolongin lo di sini."
"Ayo teriak!!!"
"Ayo!!!"
"Bahkan pacar lo nggak bisa nolongin lo sekarang!!!"
Ogi, Bastian dan Dirga kini tertawa terpingkal-pingkal seakan sedang mendengar dan melihat lolucon.
"Jadi gimana Cia?" Tatap Ogi dengan penuh tatapan menyeramkan.
"Lo mau teriak lagi untuk meminta tolong atau lo mau gue buat teriak karena keenakan iya?" tanya Ogi sambil menekan pipi Cia hingga bibir Cia terlihat maju ke depan.
Ogi tertawa lalu mendorong tubuh Cia hingga tubuh Cia terhempas ke tanah dengan sangat keras membuat kepala Cia terbentur ke tanah.
Cia menjerit saat merasakan sakit pada kepalanya. Kedua mata Cia kini memburam merasakan pusing hingga suasana sekelilingnya terasa berputar.
"Ayo sayang!" panggil Ogi lalu tertawa.
Ogi yang masih tertawa itu kini segera membuka tali pinggang hitamnya membuat Bastian dan Dirga saling bertatapan dengan wajah yang kebigungan.
"Ogi!" panggil Dirga sambil menggenggam pergelangan tangan Ogi yang kini masih berusaha untuk menarik resleting celananya.
Ogi menghentikan pergerakan tangannya sambil menatap Dirga dengan sangat serius.
"Kenapa?" Tanya Ogi yang kini melempar tali pinggangnya ke tanah.
"Lo mau ngapain?" tanya Dirga.
"Mau ngapain? Lo nanya ke gue mau ngapain? Yah gue mau yang enak-enak lah," jawabnya santai lalu menarik turung resleting celananya.
Disatu sisi lain kini Cia meringis lalu bangkit dari tanah dan duduk sambil menyentuh kepalanya yang terasa pusing. Dirga menoleh menatap Cia dengan tatapan iba.
Ogi kembali melangkah maju berusaha untuk mendekati Cia namun dengan cepat Dirga menahan tangan Ogi.
"Ogi, lo nggak boleh ngelakuin itu." Tatap Dirga serius.
"Kenapa? Kenapa lo ngelarang gue?"
"Ogi, gue setuju bantuin lo buat gangguin Cia tapi bukan berarti gue setuju lo ngelakuin yang aneh-aneh kepada Cia," jelas Dirga.
"Emang kenapa? Gue jamin lo juga dapat jatah," ujar Ogi.
"Ogi gue nggak mau lo ngelakuin itu. Ogi lo mikirin Ceo?" tanya Dirga.
"Ogi?" Tatap Ogi membuat Dirga mengangguk.
"Lo takut sama Ceo?" Tatap Ogi serius.
Ogi tertawa lalu segera menarik resleting celananya dan kembali memasang tali pinggangnya. Ogi tertawa dan berjalan santai ke arah Cia dan kembali menjambak rambut Cia.
"Cia!!!"
"Panggil pacar lo ke sini!!!"
"Hahaha!!! Ayo panggil!!!"
"Panggil pacar lo sekarang!!!" teriak Ogi mengoyang-goyangkan kepala Cia.
"Panggil!!!" teriak Ogi.
"Ciaaaaaaaaaa!!!" Teriak seseorang dari kejauhan.
Cia menoleh cepat, Cia kenal dengan suara itu. Senyum Cia kini mengembang menatap pria yang kini tengah berlari menembus kegelapan.
Ogi yang masih terdiam itu kini terbelalak saat mendengar suara teriakan seseorang yang entah dari mana. Ogi menoleh sambil menatap ke arah kegelapan itu dengan tangannya yang masih menjambak rambut Cia. Ogi tak dapat melihat siapa yang berteriak di sana.