
Nafas cia sesak rasanya ia lemas tak mampu rasanya ia berdiri dengan tegak. Pandangannya kini nampak kabur di halangi genangan air mata yang nyaris menetes membasahi pipinya.
"Ayah," Suara kecil Cia terdengar namun jelas membuat air matanya tumpah ruah membasahi pipinya yang mulus.
Devan langsung menatap cia yang masih nampak tertunduk. bahu cia nampak bergetar ia tau jika gadis cerewet yang tak lain adalah anaknya, putri satu-satunya itu sedang menangis.
"Tapi, menurut aku dia bukan ayah. kalau, emang dia ayah aku kenapa akte kelahiran aku bukan nama devan tapi nama dokter yusuf ?"
"Kenapa ? hah ?" Cia menatap Fatima yang nampak terkejut dengan teriakan cia yang terlontar secara tiba-tiba.
"Pernah nggak devan ngakuin aku sebagai anak di hadapan teman-temannya ? nggak kan ?"
"Dia bahkan ngelarang cia buat ngomong ke orang-orang kalau cia anak dia. kenapa ? hah kenapa ?" Tatap cia sambil sesekali menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
"Kenapa lo diem ? kenapa ?"
"Gue ngerasa gue nggak diharepin di keluarga ini !"
"Ci gue-"
"Apa mau ngomong apa lo ?" Ujarnya cepat memotong ucapan Devan yang kini Kembali terdiam.
"Pernah nggak lo datang ambil rapor gue di sekolah ? pernah nggak ?"
"Enggak kan ! karena, lu malu punya gue-"
"Gue nggak tau apa yang salah dari gue sampai lo nggak mau ngakuin gue sebagai anak sama temen-temen lo ?"
"Dan lo nyuruh gue buat manggil orang yang seharusnya gue sebut nenek itu mama. biar apa hah ? biar gue ngerasa punya mama, iya hah ?"
"Sekarang gue tau kenapa gue nggak pernah ngeliat mama, karena dia malu"
"Dia malu punya gue, iya kan ?"
"Lo yang selalu nolak buat cerita tentang mama sama gue, kenapa ?"
Devan tetap terdiam tak menanggapi perkataan cia yang kini sedang memeriahkan suasana dengan amukannya.
"Jawab devan ! ceritain ke gue biar gue bisa kasi alasan sama-sama temen gue kalau gue bukan anak pungut dari dokter yusuf !"
Tangisan cia kini menjadi-jadi sambil menatap Devan yang terdiam tanpa sebuah ekspresi yang menunjukan jika ia peduli dengan ucapannya dan yang paling penting tanpa tangisan.
"Ayo jawab !!!"
"Lo nggak bakalan ngerti cia."
"Kenapa ?"
"Ceritanya panjang dan Lo nggak bakalan bisa ngerti."
"Gimana panjangnya devan ? cerita nabi adam aja yang umurnya 930 tahun bisa di ceritain, kenapa lo nggak ?"
"Gue ... Gue nggak bisa dan masalah puding Gue janji gue ganti," Ujarnya dengan dada yang rasanya sesak.
"Gue nggak butuh puding !"
Teriak cia lalu melangkah masuk kedalam kamar tak lupa ia membanting pintu membuat Fatima tersentak kaget.
Fatima mulai melirik devan yang kini nampak tertunduk. Ia mulai melangkah mendekat dan berlutut di hadapan putranya itu.
"Devan." Fatima mengelus dengan lembut rambut hitam putranya.
"Devan masuk dulu, yah !" Devan menyingkirkan tangan Fatima lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya dan menutupnya pelan.
Devan bersandar di balik pintu lalu perlahan ambruk di banjiri air mata. air mata yang ia sejak tadi tahan itu tumpah.
Semua yang di katakan cia memang benar ia tak pernah mengakui cia sebagai anaknya di hadapan orang-orang tapi, apakah yang dilakukannya ini salah, ia hanya ingin putrinya yang sekian lama ia lindungi tetap ada bersamanya dan tak merasakan gangguan dari orang jahat itu yang siap mengancamnya jika ia menceritakan semuanya kepada Cia.
Tapi, kini ia sadar bahwa caranya yang berniat melindungi kini menjadi kan sebuah tekanan bagi cia. Devan tau ia salah tapi, apakah kesalahan ini tak bisa dimaafkan tanpa sebuah alasan yang harus diucapkan.
...___***___...
Devan melangkah keluar kamar setelah seharian tertidur lelap di kamarnya. Devan akui ia sangat lelah.
Devan meraih botol air dari kulkas dan mulai meneguknya sampai habis lalu meletakkannya di meja makan. Devan menatap wastafel yang hanya terdapat satu piring putih beserta sendok dan gelas Kini, pikirannya tertuju pada cia. apakah Cia sudah makan atau belum ?.
"Makan, Van !" Ujar Fatima sambil melangkah keluar dari toilet.
"Cia udah makan?"
"Seharian dia itu belum keluar dari kamar," ujar Fatima.
Fatima mengangkat piring yang kotor lalu menggosoknya dengan sabun pencuci.
Devan kini terdiam. jika Cia tak makan malam ia pasti akan kelaparan di tambah lagi cia belum makan setelah pulang dari sekolah.
Devan bergegas meraih piring dari lemari lalu megambil nasi dari panci, tak lupa juga ikan goreng saus kecap yang di tumis dengan bawang merah.
"Sampai kapan kamu harus nyimpen rahasia ini nak?" Fatima menatap Devan yang mulai menuangkan air kedalam gelas.
"Yah, semuanya."
Devan menatap wajah Fatima sambil memegang piring dan segelas air di tangannya.
"Udahlah ma nggak usah ngungkit !"
Devan melangkah pergi meninggalkan Fatima yang masih berdiri di depan wastafel dengan raut wajah yang nampak sedih.
"Ci, cia !!!" Teriak Devan.
Devan menendang pelan pintu cia cukup keras yah, sebenarnya Devan tak berniat untuk menendang pintu kamar cia tapi, karena tangan kirinya memegang piring dan tangan kanannya memegang gelas jadi, yah terpaksa.
Devan terdiam sejenak tak ada jawaban dari cia, apakah gadis itu pingsan setelah marah-marah tadi sore atau dia bunuh diri ?. Devan menggeleng cepat menyingkirkan pikiran bodoh dari otaknya.
Devan yang kehabisan kesabaran itu menendang keras pintu kamar cia yang menjadi sumber halangan utamanya.
"Cia lo tidur yah ?" Teriak Devan lagi lalu mendekatkan telinganya ke permukaan pintu.
"Apa sih ganggu tau nggak !!!".
Teriak cia membuat senyum mengembang dibibir Devan, yang terlintas dipikiran Devan saat mendengar suara cia adalah cia masih hidup.
"Lo udah makan belum ?"
"Nggak penting !"
"Loh kok ngomong gitu sih ? yah emang sih nggak penting."
Syut
Cia dengan spontan bangkit dari kasurnya setelah mendengar ucapan ayahnya itu. Yah tuhan mengapa ia harus punya ayah yang seperti ini.
"Lo juga nggak penting !!!" kesal cia.
"Nggak gitu Cia, lo penting kok nih gue bawain lo makanan."
"Gue tau lo lapar."
"Gue nggak lapar," bantah cia lagi.
Tapi, jika boleh jujur ia sebenarnya sudah sangat lapar bahkan tadi, ia sudah berniat untuk mengambil makanan di dapur ketika jam 1 malam nanti tetapi, karena Masi jam 9 jadi, laparnya di tahan dulu.
"Gue masuk yah?"
"Nggak !!!" Teriaknya cepat membuat Devan terkejut.
"Jangan lewat pintu gue ! gue nggak suka !"
"Gue bener-bener nggak suka. awas aja lo kalau lo nyentuh pintu gue !!!" Celoteh cia.
Cia terdiam tak ada suara dari Devan dari luar kamarnya. apa dia sudah pergi tapi, mengapa harus pergi seharunya Devan memaksanya untuk makan di tambah lagi perutnya yang sudah kelaparan dan teriakan cacing-cacing yang sudah sejak tadi minta jatah.
Cia menghempaskan tubuhnya di kasur empuk bersprei biru dengan motif bunga mawar merah. Hidup ini tidak adil terutama tentang ayahnya, kini ia berfikir apakah disaat manusia diciptakan oleh Tuhan dan tiba pembagian ayah yang super dewasa, pengertian dan berwibawa ia terlambat dan dapat jatah ayah yang umurnya masi muda ditambah lagi tingkahnya yang jauh dari kata dewasa.
Cia menjambak rambutnya prustasi .
"Nggak mungkiiiiiiin !!!!!"
BRUK