
"Ok tahan! satu dua tiiiii-ga!"
Cekrek
Suara kamera itu terdengar beberapa kali menyorot Cia yang duduk di kursi kayu serta Devan yang nampak berdiri di atas karpet berwarna merah dengan sweater yang terpasang di tubuhnya.
Devan menatap kamera dengan malas, lagi-lagi Cia menjebaknya dalam kondisi yang membuatnya tak bisa menolak. Jika, saja Cia tidak menggeliat di lantai mall seperti bocah yang minta dibelikan mainan, pasti Devan tidak akan melakukan hal bodoh ini yang sama sekali belum pernah ia lakukan.
Berbeda dengan Cia yang nampak tersenyum bahagia berpose di depan kamera ditambah lagi sweater yang sudah terpasang di tubuhnya. Apalagi sweater ini tak mengeluarkan uang Devan sama sekali. Hanya dengan modal tampan Devan, Cia bisa mendapatkan sweater ini tanpa mengeluarkan dana sepeserpun.
Ini menguntungkan. Wajah Devan ada juga untungnya.
Pria berkepala plontos dengan tali kamera yang melingkar di lehernya itu mulai menatap foto di layar kamera setelah memotret.
"Ok, sekali lagi!" Pria itu mengacukan telunjuknya.
"Dari tadi nggak kelar-kelar!" Ujar Devan malas.
"Eh, udahlah ikutin ajah!" Cia membulatkan matanya berusaha mengancam Devan yang berdiri di sampingnya.
"Nggak senyum ajah ganteng, apa lagi kalau senyum."
"Iya, yah. Ganteng banget," bisik para karyawan berseragam hitam yang ada di dalam ruangan pemotretan menatap Devan dengan wajah malasnya itu.
...___***___...
Cia berlari pelan menyusuri lorong sambil menatap barang-barang yang dipajang rapih. Devan dengan wajah malas itu hanya mampu mengikuti Cia sambil memegang keranjang belanjaan berwana biru, masih dengan sweater kuning gratisan yang terpasang di tubuh keduanya dengan warna serta gaya yang sama.
Lari kecil Cia terhenti menatap gaun berwarna kuning emas yang terpajang dibalik kaca transparan berukurang besar. Cia ternganga di depan kaca itu, jari-jarinya nampak menempel di permukaan kaca seperti seekor cicak. Gaun degan kerah sunda itu nampak begitu indah dengan hiasan-hiasan taburan berwarna emas bersinar ditambah lagi saat terkena pantulan cahaya lampu yang menyinari gaun itu.
"Ci!" Panggil Devan menyentuh bahu Cia pelan, Devan ikut menatap gaun yang terpajang itu.
"Van, gue ma-"
"Nggak!" Ujar Devan cepat sebelum Cia menjelaskan apa kemauannya.
Cia cemberut, belum selesai Cia memberitahukan untuk meminta Devan membelikan gaun yang indah itu sambil menunjuk ke arah gaun malah Devan sudah menolak.
"Tapikan, Van."
"Ci, perjanjian kita cuman beli tas!"
"Tapi kan-"
"Udah dong, Ci!"
Cia terdiam sejenak lalu bersandar di permukaan kaca tepat di hadapan gaun indah yang dibatasi oleh kaca besar.
"Foto gue dong!" pintah Cia yang wajah cemberutnya berubah menjadi kegirangan.
Devan mengkerutkan alisnya mendengar perkataan Cia.
"Cepetan! Pake handphone lo ajah."
Devan menghembuskan nafas berat mendengar perkataan Cia. Dengan malas Devan meraih handphone dari sweater barunya itu lalu mengarahkan kamera handphone Devan ke arah Cia yang nampak berpose sambil tersenyum bahagia.
Cekrek
"Lagi-lagi!" Ujar cia mengganti gaya.
Devan hanya mampu menurut lalu kembali mengarahkan kamera handphonenya ke arah Cia.
"keren nggak?" tanya Cia.
"Em," sahutnya singkat.
Devan kini menekan layar handphonenya lalu memutar tubuhnya membelakangi Cia.
"Foto bareng Ci!"
Devan tersenyum menatap kamera memperlihatkan lesung pipinya sementara Cia ikut tersenyum di belakang sana dengan wajahnya yang penuh keceriaan. Sakin asiknya mereka tak memperdulikan orang-orang yang berlalu-lalang melintasi mereka sambil menatapnya dengan heran.
Mungkin dipikiran mereka adalah mereka sungguh kasihan, tidak mampu membeli maka numpang foto sajah.
"Permisi silahkan masuk!"
Pria berseragam hitam yang nampaknya karyawan mall itu nampak tersenyum sambil membuka pintu kaca mempersilahkan Cia dan Devan untuk masuk.
"Ci!" Tatap Devan kesal dengan mata melotot nya berusaha mengancam Cia.
"Cia cuman mau liat-liat doang kok," ujar Cia.
"Nggak!" Jawab Devan cepat.
"Cuman liat ajah."
"Nggak!"
"Tapi-"
"Nggak!"
Cia memonyongkan bibirnya, begitu kecewa dengan perkataan Devan. Cia terdiam lalu kembali menatap gaun itu dengan tatapan kecewa.
Devan kini ikut terdiam juga sambil menatap gaun itu, apa istimewanya gaun ini bagi Cia sehingga Cia, si gadis kecil pemarahnya ini nampak sangat sedih.
"Itu harganya murah kok, Mbak!" Ucap karyawan pria itu lagi.
Devan menghela nafas. Disaat Cia diam, pria ini malah berujar. Jika, tidak ada Cia di sini mungkin pria ini sudah dicekik oleh Devan.
Cia masih terdiam tak mempedulikan ucapan karyawan itu walaupun Cia mendengar jelas ucapannya.
"Berapa?" Tanya Devan.
"Lima juta itupun sudah diskon."
"Ha!!!" Teriak Cia dan Devan kompak.
"Gila! itu baju atau motor bekas mahal banget!" Gerutuh Cia kesal menghentakkan kakinya secara bergantian ke lantai.
Devan mengaruk kepalnya yang tak gatal di belakang Cia sambil tetap membawa keranjang biru yang masih kosong sambil mengikuti langkah Cia.
"Ci!"
"Apa?!!!" Bentak Cia.
"Apaan sih? kesalnya ke gaun imbasnya ke gue! Tuh tempat tas di sana, ayo!"
Devan meraih pergelangan tangan kanan Cia lalu menariknya ke arah tas-tas yang nampak berjejer rapi dengan berbagai jenis merek, warna serta ukuran yang berbeda.
"Tuh, lo pilih cepetan terus kita cari obat demam buat mama!" Devan melepas pegangannya menatap Cia yang menghempas tangan Devan kesal.
Cia melangkah menyusuri jejeran tas sekolah dengan ribuan warna serta model yang berbeda, sementara Devan mengikut di belakang seperti ekor.
"Yang ini ajah, Ci!"
Cia menoleh menatap Devan yang melipat bibirnya ke dalam berusaha menahan tawa sambil memegang tas Dora Emon berwarna biru.
"Hahaha, Dongo." Cia tertawa lalu kembali melangkah membelakangi Devan.
Devan tertawa pelan lalu memasang tas berukuran kecil khusus untuk anak usia satu sampai tiga tahun itu ke punggungnya lalu berlari melintasi Cia.
"Pagi ku cerahku matahari bersinar," nyanyi Devan berlari sambil melompat seperti anak kecil.
Cia menganga melihat tingkah konyol Devan yang berlari di depannya itu sambil bernyanyi.
"Hahaha, Goblok." Cia kembali tertawa mengejar Devan yang semakin menjauh.
Para pengunjung mall menatap heran Devan dan Cia yang saling tertawa sambil berlarian di lorong tempat tas.
Langkah lari Cia terhenti dengan nafas ngos-ngosan menatap kesekelilingnya berusaha mencari sosok Devan dengan tas Doraemonnya itu.
"Van! Devan!!!" Teriak Cia menatap kesekelilingnya.
Mata Cia menatap wajah satu persatu pengunjung yang menatapnya heran memastikan salah satu pengunjung yang Cia tatap adalah Devan.
"Devan!!!" teriak Cia gelisah.
"Door!!!" Teriak Devan tepat di depan Cia yang nampak terkejut.
"Gila lo, yah!!!" Pukulan keras mendarat di tubuh Devan yang nampak tertawa sangat puas setelah mengagetkan anaknya itu.