Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 156



Teriakkan Cia nampaknya tak berhasil membuat Ogi menghentikan tarikannya itu sambil terus menarik Cia dengan sekuat tenaga.


Dengan sekuat tenaga Cia menghempas tangan Ogi membuat pegangan yang kuat itu terlepas. Cia kini melangkah mundur sambil memegang pergelangan tangannya yang terasa sangat sakit.


"Lo jangan macam-macam sama gue, Gi!" Tunjuk Cia dengan nada yang menahan gemetar pada tubuhnya yang begitu sangat takut.


"Kenapa? Kenapa kalau gue mau macem-macem sama lo? Hah? Ok, Iya gue mau macem-macem sama lo, Cia!!!" teriak Ogi membuat Cia tersentak kaget.


"Lagian cowok mana sih yang nggak tertarik sama lo?"


"Lo cantik."


"Dan lo bisa kelihatan seksi."


"Dan menurut gue lo juga kelihatan-"


Ogi menghentikan ujarannya sambil menatap dari atas sampai kaki Cia.


"Lo kelihatan enak," sambung Ogi.


"Diem!!!" teriak Cia menutup kedua telinganya seakan tak sanggup untuk mendengar kalimat kotor itu.


"Jaga ucapan lo, Gi!!!" teriak Cia lagi.


Ogi terseyum sinis lalu melangkahkan kakinya mendekati Cia yang kini melangkahkan kakinya untuk mundur berusaha menjaga jarak dari Ogi.


"Kenapa? Hah kenapa ngejauh?" tanya Ogi sambil tersenyum manis.


"Lo nggak usah sok jual mahal sama gue deh, Cia!"


"Gue tahu kok kalau lo itu udah nggak perawan," ujar Ogi.


"Jaga ucapan lo, Gi!" Tunjuk Cia dengan sorot matanya yang tajam.


"Apa yang mau dijaga sih? Dah lah gue tahu kok, lo jelas-jelas pacaran sama Ceo dan gue tau kalau ke tua gang exoplanet itu orangnya berandal jadi dia nggak mungkin nggak pernah ngapa-ngapain lo selama lo pacaran sama dia."


"Em lo udah pernah kan lakuin hubungan intim sama si Ceo? Lo udah kan tidur sama dia?" tanya Ogi membuat Cia terbelalak kaget.


"Jaga ucapan lo, Gi! Ceo nggak seperti apa yang lo maksud" bantah Cia cepat.


"Kenapa sih lo selalu ngebelain dia? Lo nggak tahu dia kayak gimana! Rata-rata anggota geng motor itu perilakunya berandal."


"Udah lah Cia, lo ngaku aja!"


"Dia nggak seperti apa yang lo pikirin, Ogi!!? Dia nggak kayak lo yang b*jingan!!!" Tunjuk Cia kejam.


Ogi tersenyum sinis dengan tatapan tajam seakan tertampar dengan perkataan Cia yang baru saja Cia lontarkan.


"Udah lah Ci!" ujar Ogi lalu kembali melangkah mendekati Cia.


Cia kembali melangkah mundur, masih menjaga jarak kepada Ogi yang menatapnya dengan tatapan nafsu. Menatap tubuh Cia dari ujung kaki sampai terhenti menatap sorot mata Cia yang memburam dihalang air mata.


"Lo jangan macam-macam Gi sama gue!" harap Cia yang masih melangkah mundur.


Langkah Cia kini terhenti ketika tubuhnya menyentuh motor Ogi. Sorot mata Cia masih memantau pergerakan Ogi.


"Udahlah mending kita seneng- seneng, udah lama nih gue ngerasain yang enak-enak."


"Jangan Gi!" ujar Cia sambil menggeleng.


"Ayo sini sayang!" panggil Ogi dengan langkah yang semakin dekat.


Cia terdiam dengan nafas sesaknya menatap Ogi yang kini semakin mendekat, dengan cepat Cia berlari namun dengan cepat pula pergelangan tangannya di pegang oleh Ogi.


"Lepasin gue!!!" jerit Cia berusaha melepas genggaman tangan Ogi yang kini menjeratnya.


Ogi tersenyum sinis lalu segera memeluk Cia dengan erat dari belakang. Cia memejamkan matanya ketika hembusan nafas Ogi terasa berhembus mengenai lehernya.


"Tolooooooong!!!" teriak Cia.


"Hussst!" bisik Ogi tepat di telinga Cia membuat Cia menangis.


Rasanya Cia begitu sangat bodoh setelah dirinya di peluk dengan Ogi seperti ini. Cia sangat menyesal setelah membantah ucapan Devan kepadanya tadi, seharusnya Cia menuruti ucapan Devan untuk tidak ikut bersama Ogi.


Cia lupa jika kini ia sedang berhadapan dengan seorang pria fuckboy yang selalu mempermainkan wanita.


"Lo jangan kurang ajar sama gue, Gi!"


Ogi tak menjawab tapi pelukan itu semakin menjerat tubuh Cia membuat cia meringis.


"Lepasin gue!!!" Paksa Cia berusaha memberontak namun sayang tenaga Cia tak sebanding dengan tenaga Ogi yang dengan kuat memeluk tubuhnya.


"Tolooooooong!!!" teriak Cia. Cia tak peduli jika ada yang mendengarnya atau tidak.


"Tolooooooong!!!"


"Husst!!! Diem!!! Diem!!!" bentak Ogi membuat Cia terisak.


"Percuma lo teriak, sampe tenggoroakan lu berdarah pun nggak akan ada orang yang bisa denger lo," bisik Ogi tepat di telinga Cia membuat Cia merinding.


"Lo ke...ke...kenapa ngelakuin ini ke gue, Gi? Gue...gue....gue salah apa sama lo?" tanya Cia.


"Lo mau tau salah lo apa hah?"


Cia tak menjawab namun tangisannya terdengar.


"Salah lo adalah lo pacaran sama orang yang udah nolak buat masuk ke dalam geng motor gue."


Cia terkejut setelah mendengar hal itu. Jadi ini alasan mengapa beberapa hari ini Ogi berusaha mendekatinya.


"Jahat lo, Gi!!!" teriak Cia terisak.


"Hust!!! Nggak usah nangis sayang," bisik Ogi sambil menggerakkan kepalanya semakin mendekat ke arah leher Cia dan mengecup leher Cia debgan perlahan membuat Cia meringis.


Cia terbelalak ketika kecupan itu mendarat di lehernya. Entah bagaimana cara Cia lepas dari jeratan Ogi yang masih memeluknya dari belakang. Kini bola mata Cia bergerak memikirkan sesuatu.


...___***____...


"Hah!!!" teriak Cia memberikan gerakan meninju sambil memasang kuda-kuda.


"Ok," ujar Devan sambil mengangguk.


Cia tersenyum lalu segera berdiri tegak dan menatap Devan yang kini melangkah ke arahnya.


"Sekarang gue mau tes lo," ujar Devan yang kini melangkah ke arah belakang Cia.


"Tes?" tanya Cia tak mengerti. 


Devan tersenyum lalu tanpa sepatah kata ia memeluk tubuh Cia dengan erat dari belakang. Cia tersentak dengan tatapannya yang terbelalak kaget.


"Lepasin Gue! Lo itu apa-apaan sih?" Kesal Cia sambil menggeliat di pelukan Devan.


"Yah lepas sendiri!" ujar Devan.


Cia kini mengeliat berusaha melepas tangan Devan yang melingkar di dadanya.


"Lo jangan lepas tangan lo kayak gini, kalau lo lepas kayak gini tangan lawan lo bakalan bisa nyentuh p*yudara lo," Jelas Devan.


Pipi cia memerah saat Devan dengan santainya menyebut kata p*yudara itu tepat di telinganya.


"Sekarang anggap gue lawan lo dan bayangin kalau gue itu mau nyentuh payudara lo."


"Ih bisa nggak sih lo nggak nyebut p*yudara. Gue risih tau nggak." Kesal Cia setengah berteriak.


Devan memejamkan matanya ketika suara yang nyaring itu seakan menamparnya begitu bertubi-tubi.


"Kalau ada penjahat, lo nggak usah pukul, Cia! Mending lo teriak aja palingan penjahatnya kabur," oceh Devan membuat Cia cemberut.


"Nah sekarang lo pegang tangan gue kayak gini," jelas Devan lalu meletakkan jari-jari Cia di atas legan tangannya, menyuruh Cia untuk memegangnya dengan erat sementara Cia mengangguk .


"Terus lo tarik baju gue di bagian belakang!" ujar Devan menarik tangan Cia, membuat Cia menggenggam erat baju hitam Devan.


"Pegang yang kuat!" pintah Devan membuat Cia semakin menggenggam erat baju Devan.


"Terus lo banting!" pintah Devan membuat Cia mengkerutkan alisnya, tak mengerti.


"Banting?" tanya Cia heran.


"Iya, banting gue! Sekarang Ci!" pintah Devan.


Cia mengamgguk lalu mengumpulkan seluruh tenaganya untuk membanting Devan.


"Aaaaaaaaaa!!!" teriak Cia.


BRUK


Tubuh Ogi terhempas seperti Devan yang terhempas ke tanah seperti waktu itu. Ogi mengerang kesakitan sambil menatap Cia yang kini terdiam dengan wajah gugupnya.


Suara beberapa kendaraan serta cahaya lampu motor dari kejauhan terlihat menyorot tubuh Cia yang kini gemetar. Cia terbelalak ketika dua kendaraan bermotor itu kini semakin mendekat, mereka adalah sahabat Ogi, Bastian dan Dirga, Cia masih ingat dengan mereka.


Degan cepat Cia kini berlari meninggalkan Ogi yang kini berusaha bangkit dari tanah.


"Lo kenapa?" tanya Bastian menghampiri.


"Kejar si Cia!!!" teriak Ogi sambil menunjuk ke arah Cia yang masih berlari.