
Cia kini hanya mampu menangis namun, ia berusaha tak mengeluarkan suaranya sedikitpun. Sesekali jari-jari lembut Cia mengusap pipinya yang basah berusaha tak memperlihatkan kepada Devan jika ia benar-benar menangis.
"Lo kenapa sih?" tanya Devan.
Cia terisak membuat Devan mengkerutkan alisnya.
"Lo nangis?" tanya Devan.
"Nggak!"
"Terus kenapa?"
Tak berselang lama Cia meledakkan tangisannya membuat Devan terbelalak kaget.
"Kenapa, Cia?"
"Cia suka sama Adelio," ujarnya terisak.
"Terus?" tanya Devan.
"Fi...Fi...Fika nyatain perasaanya sama Adeliooooi, Van," ujar Cia terisak lagi.
"Terus Cia liat mereka pelukan di... di dalam ke...ke ...kelas."
"Cia... Cia nggak tahu kenapa Cia bisa-" Cia menghentikan ujarannya, ia menarik nafas panjang sambil sesenggukan membuat Devan kini terdiam dengan tatapan sedihnya.
"Ci...Cia nggak tahu, Van kenapa Cia bi...bi..bisa sakit hati kayak gini waktu ngeliat mereka kayak gitu."
"Mereka kayak gitu?" tanya Devan.
Cia mengangguk seperti anak kecil.
"Hah? Kayak gitu-gitu?" tanya Devan.
"Ih apaan sih? Maksud Cia itu mereka pelukan di dalam kelas."
"Terus kenapa lo nangis kalau mereka cuman pelukan? Kan mereka cuman pelukan bukan akad nikah jadi masih bisa."
"Cia nggak tahu kenapa sama hati Cia kayak gini. Rasanya Cia sakiiiit banget ngeliat mereka, Van."
"Sekarang hah, Cia... Cia sadar kalau Cia punya rasa sama Adelio."
Cia menghentikan ucapannya lalu menoleh menatap Devan yang kini terdiam.
"Van, lo tahu kan apa maksud Cia?"
"Cia suka sama Adelio."
"Van." Tatap Cia dengan aliran air mata yang kini telah tumpah ruah membasahi kedua pipinya sembari terus menatap Devan yang mengangkat pandangannya menatap Cia setelah sejak tadi tertunduk.
"Vaaaan, Devaaan."
"Apa?"
"Cia beneran suka sama Adelio," ujar Cia lalu kembali terisak pilu.
"Udah! Udah!" ujar Devan menenangkan lalu bangkit dari lantai dan segera memeluk tubuh Cia.
Devan menyadarkan kepala Cia ke permukaan dadanya dan mengelus rambut Cia dengan lembut. Devan sama sekali tak pernah menyangka jika Cia begitu merasakan sakit hati hanya karena pria itu. Rasanya ia tak tega melihat putri kesayangannya itu disakiti oleh seorang pria asing.
Dari dulu Devan selalu berusaha untuk menciptakan senyum di bibir Cia namun kali ini putrinya itu menangis dan itu tak akan Devan biarkan. Jika dia berhasil membuat putrinya menangis, maka dia juga harus menangis.
"Cia." Suara pelan Devan terdengar membuat Cia mendongak menatap wajah Devan.
"Dia tinggal di mana?" tanya Devan dengan tatapan serius.
"Siapa? Fika?" tanya Cia.
"Bukan, tapi Adelao?"
"Adelio, Van," ujar Cia membenarkan.
"Iya iya terserah. Dia tinggal di mana?" tanya Devan tanpa basa-basi.
"Cia nggak tahu," jawab Cia diiringi gelengan.
Devan meghembuskan nafas berat setelah mendengar hal itu.
"Emang kamu nggak pernah ke rumah dia?"
"Kenapa?"
"Kan lo sendiri yang ngelarang gue buat pergi ke rumah orang."
Devan tersenyum malu, bahkan ia lupa dengan pintanya itu.
"Padahal Cia udah seneng banget waktu Cia berduaan di rumah sakit, yah walau nggak lama."
"Rumah sakit?"
"Iya, Ibunya Adelio itu masuk rumah sakit Bakti Negara. Kasian banget kan, Van," ujar Cia mengeluh.
"Rumah sakit apa?" tanya Cia.
"Bakti Negara."
Devan melepas pelukannya lalu menatap Cia dengan serius.
"Di ruangan mana?" tanya Cia cepat.
"Cia lupa tapi beneran kok Ibunya itu dirawat di sana."
Devan terdiam sejenak membuat Cia mengkerutkan alisnya menatap Devan yang terlihat memikirkan sesuatu.
"Lo kenapa?" tanya Cia.
Tanpa pikir panjang Devan beranjak dari kasur lalu segera melangkah pergi. Cia mengkerutkan alisnya menatap Devan yang pergi begitu saja meninggalkannya.
Cia meghembuskan nafas berat, kali ini ia tak memanggil Devan yang kini pergi entah kemana, rasanya Cia memang ingin sendiri sekarang.
...____***____...
Kini jam telah menunjukkan pukul delapan malam, suasana bengkel masih ramai dikunjungi para orang-orang yang memiliki masalah dengan kendaraannya.
Para montir-montir itu kini nampak begitu sibuk mengerjakan pekerjaan sesuai dengan kerusakan kendaraan terutama Tara yang kini tengah mengobrak-abrik mesin motor andalan Devan yang baru sempat Devan ambil tadi di gang sempit itu bersama dengan tara.
"Udah, Tar?" tanya Devan menghampiri.
Devan kini tak tahu bagaimana kondisi motornya saat ini, setelah mengambil motornya dan menyimpannya di bengkel Devan langsung ke rumah untuk menjaga Fatima yang kini masi sakit.
"Belum bos!!!" teriak Tara.
Devan meghembuskan nafas berat lalu menatap para montir yang kini masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Devan kini melangkah menghampiri Mamat yang tengah sibuk menambal ban yang bocor.
"Masih lama nggak, Mat?".
Mamat menoleh menatap Devan yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Masih bos."
"Kalau udah ini lo kerja apa lagi?"
"Tuh bos." Tunjuk Mamat ke arah motor yang berjejer rapi di belakangnya.
Devan menghembuskan nafas berat lalu menoleh menatap montir-montir yang kini masih sibuk dengan urusannya.
Kini Devan menatap Deon dan Jojon yang juga nampak sibuk dengan urusannya masing-masing, kini entah siapa yang akan Devan bawa kali ini, semuanya terlihat sibuk.
"By By By panggil aku si Baby, Abang jarang pulang Dek Baby jarang dibhelay awwwww!!!" jerit Baby sambil merapikan masker di wajahnya.
Devan menghembuskan nafas berat, hanya Baby yang tak berguna di bengkel ini tapi rasanya tak ada gunanya jika Devan mengajak Baby pergi.
Beberapa menit kemudian Devan kini melangkah ke arah garasi lalu mengeluarkan motor hitamnya dari garasi setelah mengunakan jaket hitam dan helm hitam.
Motor Devan kini melaju meninggalkan bengkel yang nampak masih ramai. Cahaya lampu jalan nampak menerangi tubuh Devan yang masih terus melajukan motornya di jalan beraspal. Sorot mata Devan tajam menatap jalan beraspal yang kini ia lalui.
Lebih dari dua puluh menit Devan melajukan motornya kini motornya berhenti tepat di depan rumah sakit Bakti Negara yang nampak masih ramai yah mungkin jam besuk masih berlangsung.
Devan menarik nafas berat lalu segera menancapkan gas menuju area parkiran rumah sakit yang nampak dihuni oleh ribuan kendaraan bermotor serta puluhan mobil yang tempat parkirannya terpisah.
Devan kini menghentikan motornya tepat di area parkiran lalu segera melepas helm dari kepalanya. Devan kini terdiam lalu menatap ke arah pintu masuk rumah sakit yang ramai.
Kini tatapan Devan berpusat kepada pintu utama itu berharap pria yang telah menyakiti hati putrinya itu keluar. Rasanya Devan sangat kesal dengan pria itu, sapertinnya bocah itu harus diberi sedikit pelajaran.
Devan hanya butuh waktu untuk menunggu pria itu keluar atau masuk ke rumah sakit. Yah semoga saja Devan bisa bertemu dengan pria itu.