
Devan melajukan motornya dengan kecepatan yang tinggi melintasi jalan beraspal yang kini sedang ramai. Para pengendara yang melihat motor yang Devan lajukan kini melongo dengan tatapan terkejut mereka. Sejujurnya Devan takut jika Jef dan Abraham mengejarnya. Ia masih sangat takut.
Sesampainya Devan langsung mematikan mesin motornya dan melangkah turun sambil memegang tangan Cia.
"Ayah-"
"Ikut Ayah! Nanti mereka mengejar kita," ujar Devan yang kini berhasil menghentikan ujaran Cia lalu membiarkan Devan membawanya masuk ke dalam rumah.
Para tetangga yang melihat kedatangan Devan dengan cepat berlari ke arah pagar rumah sambil tersenyum.
"Kak Ceooo!!!" jerit para gadis-gadis sambil tersenyum sok cantik.
"Kak Ceo!!!" jerit mereka lagi.
Devan tak menoleh walau sejujurnya ia bisa mendengar suara teriakan yang memanggilnya.
Bruak
Dengan keras Devan membanting pintu membuat para gadis-gadis yang masih berteriak itu tersentak kaget. Mereka baru kali ini melihat Devan membanting pintu dengan sangat keras.
"Loh kok buru-buru banget?" tanya salah satu wanita yang memiliki tubuh gemuk.
"Marah kali yah?"
"Pen berak kali," sahut gadis yang berdiri paling belakang.
Neng Mita yang berada di tempat Laudry dan melihat para gadis yang tengah berteger di pagar Devan langsung berlari dan menghampiri gadis-gadis itu.
"Teriak aja yang kenceng!"
"Kalau marah?"
"Yeeeeh Kak Ceo nggak akan marah, kita kan cantik-cantik. Iya kan Jeng?"
"Heh!!!" teriak Neng Mita sambil menopang pinggang dan melangkah mendekati mereka.
"Cari apaan lu?!!" geretak Neng Mita membuat para gadis dan beberapa Ibu-ibu itu menoleh sambil memasang wajah sinis ke arah Neng Mita.
"Hah?!! Mau ngapain lo gue tanya?"
"Ih apaan sih? Dateng-dateng udah marah, nggak jelas deh."
"Iya nih sih Mita."
"Betul tidak?"
"Betul," sahut mereka.
"Ih kalian semua itu yang nggak jelas!!! Heh mau ngapain kalian di depan pagar Mas Ceo Hah? Mau ngapain?" tanya Neng Mita dengan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat marah.
"Ih emang apa masalahnya buat situ?" tanya salah satu gadis dengan wajah kesalnya.
"Ih dasar norak. Heh!!! Mas Ceo itu punya saya dan asal kalian tahu, Mas Ceo itu cocoknya sama saya bukan sama kalian semua," jelas Neng Mita sambil menunjuk ke arah jejeran para gadis.
"Waduh, cocok dari mana?"
"Iya ih nggak ada cocok-cocoknya sama sekali."
"Iya nih."
"Yah masa pangeran sama centong nasi, yahahaha," tawa Ibu-ibu itu membuat para wanita yang berjumlah delapan orang itu tertawa.
"Heh!!! Enak aja. Ya iyalah Mas Ceo itu cocoknya sama saya. Janda yang bohay sama Duren," ujar Neng Mita.
"Duren?" tanya mereka tak mengerti.
"Yah iyalah Duren, Duda keren," jawab Neng Mita.
"Heh siapa yang duren, alias dude keren?" tanya mereka yang benar-benar tak tahu.
"Yah Mas Ceo lah yang duren."
Mereka yang mendengarnya langsung terkejut dengan apa yang telah Neng Mita katakan. Mereka saling bertatapan dan menanyakan apa yang mereka dengar adalah benar.
"Ah masa sih?"
"Siapa yang bilang Mita?"
"Iya kita nggak percaya."
"Heh sejak kapan sih Neng Mita bohong. Asal kalian tahu yah kalau Mas Ceo itu udah punya Anak," jelas Mita membuat semuanya terbelalak kaget.
"Hah? Anak? Yang bener lo, Mit kalau ngomong!" tegur salah satu dari mereka.
"Aduh hari gini Neng Mita mau bohong. Heh denger yah! Asal kalian semua tahu kalau sebenarnya Cia itu Anak dari Mas Ceo."
Mereka semua terbelalak kaget seakan tak menyangka jika Cia ternyata adalah Anak dari Devan, pria yang selalu mereka kejar-kejar.
"Siapa yang bilang, Mit?"
"Lu pasti bohong kan?"
"Enak aja. Heh, Neng Mita dengar sendiri yah kalau Mas Ceo bilngnya gitu waktu pagi tadi. Orang saya dengar sendiri kok Mas Ceo bilang gitu."
"Serius Mit?" tanya mereka.
"Serius deh, Mita nggak bohong. Orang saya dengar langsung kok, pake telinga saya sendiri."
Mereka semua kini mendadak diam dan tak lagi ada yang bicara. Sepertinya mereka benar-benar terkejut setelah mendegarnya.
"Kalian yakin masih tetap mau ngejar-ngejar Mas Ceo? Ingat loh Mas Ceo udah punya Anak tuh terus Anaknya si Cia yang galaknya minta ampun banget. Ih Neng Mita aja ogah mau jadi Istri Mas Ceo," jelas Neng Mita.
Mereka semua saling berbisik seakan begitu sangat takut setelah mendengarnya. Rasanya mereka yang begitu sangat menginginkan Devan malah menjadi ragu. Mereka semua tahu bagaimana sikap Cia yang pemarah.
"Jadi gimana?" tanya Neng Mita yang kini tersenyum bahagia setelah berhasil membuat mereka semua takut.
"Aduh kalau begitu saya nggak mau ah," ujar salah satu dari mereka lalu beranjak pergi.
"Saya juga deh, yuk jeng kita pergi," ujar salah satu dari mereka dan pergi meninggalkan Neng Mita yang kini tersenyum puas.
"Yes, akhirnya saingan Neng Mita sisa sedikit. Biar aja deh punya Anak tiri kayak si Cia yang pemarah yang penting bisa jadi Istri Mas Ceo, uuhuy!!!" jerit Neng Mita lalu beranjak pergi dengan perasan yang begitu sangat bahagia.
...___**___...
... ...
Devan membuka sedikit kain gorden dan melihat Neng Mita dan beberapa para gadis yang kini tengah saling berbincang. Devan menghembuskan nafas legah, tak ada Tuan Abraham dann Jef yang mengikutinya.
"Ayah-"
"Jangan dulu!"
Devan kini kembali melangkah masuk ke dalam kamar setelah mengunci pintu utama dengan rapat. Ia tak mau sampai Tuan Abraham dan Jef masuk ke dalam rumah dan mengambil Cia darinya.
Devan terdiam dengan tubuh gemetarnya yang bersandar di dinding kamar Cia, sementara Cia kini hanya mampu duduk di pinggir kasur sambil meremas jari-jarinya. Cia mampu melihat wajah takut dari Devan yang kini masih bersandar. Setelah menutup pintu kamarnya dengan rapat dan menguncinya Devan tak pernah mengizinkan Cia untuk bicara.
"Cia harus tetap bersama Ayah!" ujar Devan.
Cia terdiam, ini kalimat yang sudah belasan kali Devan ucapkan kepadanya.
"Kamu dengar kan Ci?" tanya Devan membuat Cia mengangguk dengan cepat.
"Ingat! Jangan pernah pergi ke rumah itu lagi!!!" teriak Devan sambil menunjuk.
"Ayah nggak mau kamu diambil sama orang jahat seperti mereka!"
"Dengar Ayah tidak?"
Cia mengangguk cepat dengan kedua matanya yang kini memerah.
"Jangan menangis! Ayah nggak suka melihat kamu menangis!" larang Devan dengan nada menggeretak.
Devan melirik Cia pelan, rasanya ia ingin menangis sekarang tak mungkin. Devan tertunduk lalu tanpa ia sendiri duga tangisannya pecah begitu saja membuat Cia yang sedari tadi berusaha tak menangis langsung ikut menangis dan bangkit dari pinggir kasur. Ia berlari dan memeluk tubuh Devan yang terasa hangat.
"Ci...Ci...Cia mau sa...sa...sama Ayah," ujar Cia dengan suara tangisan yang terisak.
Devan mengangguk lalu segera mengelus rambut Cia.
"Ja...ja...jangan serahkan Cia sama me...me..mereka yah!" ujar Cia lagi.
"Nggak akan Cia! Cia tetap di sini sama Ayah," ungkap Devan lagi sambil mempererat pelukannya.
"Cia sayang sama Ayah."
Devan mengangguk cepat dan mengelus kembali rambut Cia.
"Ayah juga sayang sama Cia."